Hari itu adalah hari pertama aku masuk SMK sebenarnya aku gak suka di sekolah itu karna di pedesaan bukan karna sekolah itu di pedesaan tapi karna pundennya yang angker, katannya desa itu angker akan pundennya sedangkan jalan menuju sekolah hanya ada satu yaitu melewati samping punden itu bukan karna aku takut tapi aku gak pengen di ganggu aja.
Awalnya aku gak begitu peduli dengan gosip yang beredar tentang punden itu meski sudah lama tapi gosip itu cukup kuat jadi selalu di bahas oleh orang sekitarnya katannya punden itu dulunya selalu ramai di malam jum'at tepatnya tanggalan jawa awal.
"Eh sekarang bukannya jum'at keliwon ya katannya nanti malem desa mau narok sesajen" ucap seseorang yang sedang duduk di samping kelasnnya.
"Loh katannya awal kliwon, ini kan masih belum" sahut temannya.
Aku berlalu melewati kedua seniorku yang sedang membicarakan acara di punden di desa samping sekolah.
Karna aku gak begitu paham dengan adat di sana jadi aku gak begitu ikut campur karna menurutku gak penting aja dan aku gak begitu percaya sama hal² kayak gitu meski aku tau hal kayak gitu ada, tapi selagi kita gak gagu mereka juga gak bakal ganggu kita menurut gue gitu.
"Apa yang bikin punden itu jadi serem ya aku jadi penasaran tapi yaidah lah itu bukan urusanku, aku di sini kan buat sekolah" ucap ku masabodoh sebenarnnya aku lumayan kepo.
Sebenernya desa itu masih satu kabupaten sama desaku tapi jaraknnya lumayan jauh dari desaku ya bisa dibilang desaku sudah lebih moderen dan gak mengikuti nenek moyang kayak gitu.
Pagi itu aku berjalan menuju kelas yang sudah di tentukan dari pembagian kelas saat itu aku merasa sedari aku melewati punden sudah tidak nyaman seperti ada yang mengawasiku tapi aku tidak memedulikannya karna ku pikir itu hal yang wajar karna aku memang sering mangalaminnya bisa di bilang aku indigo hanya saja aku tidak bisa melihatnnya tapi bisa merasakan kehadirannya.
Tapi ini berbeda seperti berat dan tak nyaman sama sekali ingin rasannya aku pulang bukan hanya perasaanku saja tapi juga hembusan angin disana sangat tidak sedap karna aku mencium bau anyir yang entah datangnya daeimana waktu itu padahal sudah jam 7 tapi matahari masih enggan untuk menampakkan sinarnnya dan disana juga masih lumayan sepi karna hanya terdapat beberapa orang saja entah itu kakak kelas atau satu angkatan denganku aku hanya berjalan menuju kelasku dengan tatapan lurus karna memang aku orangnya cuek dan pagi itu perasaan tak yang membuat mood ku tak enak untuk menyapa siapapun.
"Kelasku dimanaya, mau tannya tapi gak mood huuff.. " ucapku mengeluh.
Beberapa menit kemudian aku melihat kelas yang masih tertutup aku melihat angka yang tertulis di atas pintu itu tertulis XB dan saat aku akan membuka pintu terdengar suara dari kejauhan seperti memanggil namaku dengan lantang
"Raraaa.." teriak seseorang.
Aku yang mendengar itu langsung menoleh ke arah kanan karna aku yakin suara itu berasal dari sebelah kanan,tapi saat aku menoleh ke kanan nihil tidak ada orang sama sekali.
Setelah itu aku memutar hendel pintu kelasku dan saat kudorong.. ternyata terkunci aku mencoba mendorong nya lagi untuk memastikan tapi tetap tidak bisa itu artinya pintu itu benar² terkunci jadi aku memutuskan untuk menunggu di tempat duduk di depan kelasku hemm.. ya tempat dududk yang di buat dari semen dan di atasnnya di kasih paving gitu yah pokoknya tempat duduk di depan kelas lah.
"Huuff.. tau gini aku tadi berangkat siangan aja" ucapku mengeluh.
Karna bosan menunggu tukang kebun membuka pintu kelas aku memainkan ponselku sesaat sebelum mengambil ponsel aku melihat ada pohon besar di samping kanan kelasku tepat di depan kelas XC.
"Aneh kenapa di sekian bannyaknnya pohon harus pohon kamboja yang di tanam di depan kelas" ucapku heran menatap pohon itu yang terlihat sangat besar menandakan bahwa pohon itu sudah lama di tanam.
Kling klung kling dung..
"Disini emang ada ya exstra karawitan?" ucapku kembali mengingat exstrakurikuler di sekolah.
"Ada kok tapi gak bannyak yang daftar" ucap perempuan berjalan ke arahku dengan senyumnnya aku terdiam sejenak.
"Hayy.. aku di kelas sebelah namaku Ajeng" ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangan.
"Hay aku Rara" ucap ku singkat memang aku orangnya agak susab untuk bergaul karna kemampuanku yang bisa merasakan mereka yang gak terlihat, saat aku memegang tangannya.
"Tanganmu dingin kamu kedinginan?" tannya ku karna memang matahari belumjuga menampakkan sinarnnya.
"Dingin? enggak tuh" ucapnnya lalu memegang tangannya sendiri.
"Hemm.. mungkin tanganku aja yang terlalu senaitif, eh berarti kita seangkatan dong" ucapku mengganti topik karna menurutku Ajeng orang yang cukup baik.
"Iya aku di kelas sebelah, tadi kayaknya kamu tanya di sekolah ini ada exstra karawitan atau gak" ucap Ajeng.
"Eh iya, emang ada ya exstra karawitan di sekolah kita?" tanyaku.
"Dulusih ada tapi sekarang udah jarang yang mau ikut karawitan, padahal kan kita harusnnya bangga sama budaya kita ya kan" ucap Ajeng.
"Iya juga sih tapi dengan seiring berkembangnnya zaman makin lama makin jarang di temui adat jawa kayak wayang, ludruk dan karawitan di desaku udah gak ada soalnnya mungkin karna otw jadi kota mungkine heheee.." ucapku sambil berguraw tapi Ajeng sama sekali tidak tertawa bahkan pandangannya kosong.
"Hemm.. iya juga kamu mau ikut exstra karawitan? aku juga ikut loh" ucapnnya dengan senyum.
"Hemm.. kayaknnya gak deh aku males ikut kayak gitu dulu sih pernah bukan karawitan tapi tari karna suatu alasan aku gak di sukai sama temen se nari jadi lebih baik aku keluar" ucapku menceritakan masalaluku.
"Hah? kok kamu keluar? padahal kan kamu suka nari?" tannyanya, lalu aku kaget bagaimana dia bisa tau aku suka nari padahal aku gak pernah kasih tau kalok aku suka nari.
"Kok kamu tau?" tannyaku heran.
"Ya kan keliatan dari struktur badan dan tinggi kamu kayaknnya pas banget gitu buat nari" ucapnnya, awalnnya aku agak ragu tapi memang kalok di bilang fisik ku memungkinkan untuk nari bahkan guru tariku dulu juga bilang gitu.
"Hemm.. yahh.. mau gimana orang aku paling males ngeliat pandangan orang yang terlalu miring jadi lebih baik aku mundur" ucapku karna teman² tariku seperti iri dengan pencapaiyan yang kudapat mulai dapat perhatian dari guru tari, guru sekolah sampai orang tua murit membandingkan anaknnya denganku, kalok gak ada yang di banggain sama di bandingkan kan jadi gak ada masalah maka dari itu aku memilih berhenti.
"Kamu terlalu memikirkan pendapat orang lain tanpa memikirkan perasaanmu ra" ucapnnya tanpa menoleh.
"Ada kalannya mengalah lebih baik dari pada cekcok yang gak jelas kedepannya" ucapku dengan santai.
"Jadi kamu gak mau ikut karawitan" ucapnya lagi.
"Egak, menurutku aku lebihnyaman dan tenang dengan diriku yang sekarang" ucapku.
"Aku bisa membantumu untuk bisa sukses dalam menari" ucap Ajeng menoleh padaku tapi pandangannya aneh.
"Tidak perlu lagian juga badanku udah kaku karna gak pernah latihan" ucapku tapi tiba² Ajeng menarik tanganku dan berjalan menuju belakang kelas yang ternyata ada ruangan alat karawitan.
"Ini ruang karawitan" ucapku dan melihat satu persatu alat yang berada di dalam ruangan itu.
"Iya nanti malam aku ada acara jadi hari ini aku mau latihan kamu sekalian ikut ya" ucapnya tapi aku masih enggan untuk menerimannya di tambah hawa di sana membuatku tak nyaman dan ingin muntah.
"Ti tidak perlu aku ada perlu dengan wali kelasku aku harus kembali" ucapku tapi Ajeng menahan tanganku.
"Sebentar saja ra aku tau kamu bisa menari kan" ucap Ajeng dengan senyumnya kali ini exspresinnya mulai berubah seperti bukan Ajeng yang ku temui di awal aku mulai merasa merinding.
"Sekali saja aku ra" ucapnya lagi.
"I i iya.." ucap ku terbaya meng iya kan permintaan Ajeng.
"Siapa ini?" tannya laki² yang usiannya tak jauh berbeda denganku mungkin kita hannya beda satu tahun.
"Dia Rara, dia yang jadi hari ini" ucap Ajeng dengan senyum mengembang sangat lebar aku sampai takut melihat senyumnnya.
"Hemm.. jadi dia yang kau pasangkan denganku? menarik juga" ucap laki² itu dengan senyumnya aku yang merasa tidak nyaman mulai mundur ke blakang berharap bisa kabur tapi saat aku berbalik di blakangku ternyata sudah ada perempuan dengan sanggul dan selendang di tangannya.
"Maj kemana? ayo nyai ajarkan menari" ucap wanita itu menyebut dirinnya nyai.
"Ti tidak aku ada kelas emm.. aku harus pergi" ucapku berjalan melewati wanita itu namun dengan cepat wanita itu memegang tanganku dengan erat.
"Mau kemana kamu orang yang tepat yang bisa meneruskan ilmuku" ucapnnya menarik ku dan menyentuh wajahku.
"Nyai persiapannya sebentarlagi selesai, apa lebih baik saya cepat memulai meriasinnya" ucap Ajeng membungkuk memberi hormat pada wanita itu.
"Iya mulailah meriasnnya dan jangn lupa kan bunga kantilnnya" ucap wanita itu.
"Aku akan menunggumu di pesta, aku ingin melihat seberapa lihai tarianmu" ucap wanita itu sambil menyentuh wajahku, aku yang merasakan tangannya yang berbau melati mulai sadar kalau aku sudah di bawa oleh para mahluk tidak kasap mata.
"Ajeng apa kamu bisa mengantarku pualang?" tannyaku pada Ajeng.
"Tenang lah sayang nanti setelah kamu selesai menari kamu akan pulang tapi kalau kamu gak bisa menari emm.. akan ku pertimbangkan kamu untuk jadi permaisuriku" ucap laki² yang berdiri di samping Ajeng lalu berlalu pergi
"Ajeng apa yang terjadi dimana ini aku mau pulang" uvapku dengan tegas.
"Kau sudah masuk Rara jadi kalau kau ingin kembali layanilah pangeran terlebih dahulu" ucap Ajeng lalu menggandengku menuju ruangan yang entah diaman.
"Lepaskan aku ingin pulang Ajeng lepaskan.." ucapku meronta tapi nihil sulit di percaya Ajeng bahkan tidak bergemih sama sekali lalu iya membawaku ke kamar dan menduduk kanku di depan cermin besar.
"Apa yang mau kau lakukan padaku" ucapku dengan was².
"Aku akan meriasmu dan dengan begitu tarianmu akan lebih sempurna dan pangeran akan lebih tertarik padamu" ucap Ajeng mulai memberikan mex up kepadaku sekarang tinggal ganti pakaian.
"Gantilah dengan baju ini" ucap Ajeng dengan ketus .
" Sebenarnya apa maumu" ucapku menanyai Ajeng.
"Mauku? mauku kau menikah dengan pengeran dengan begitu aku akan terbebas dari sini dan bisa pulang hahahaaaa.." ucapnya dan tertawa terbahak² matannya memaerah dan wajahnnya mulai keriput membuatku jijik.
"Dimana aku harus berganti pakaian" ucapku bertannya.
"Di sana.. pintu coklat" ucap Ajeng menunjuk keluar.
Aku langsung keluar dan menuju pintu itu, aku kembali merasa panik bingung dan seketika dadaku sesak karna saking paniknya, aku mulai berfikir untuk melarikan diri tapi percuma saat aku akan pergi melalui cendela ada penjaga yang sedang berjaga di belakang kamar mandi.
"Apa kau masih lama? butuh bantuan?" tanya seseorang dari luar kamarmandi suara itu tak asing seperti suara laki² yang tadi berada di samping Ajeng aku mulai panik bagai mana kalau dia menyerangku atau melakukan hal yang tidak².
"Apa aku boleh masuk" tannyanya.
"Ja jangan pak.. eh om.. eh kak.. maaf saya bisa sendiri" ucapku gelagapan karna tak tau harus memanggil apa.
"Panggil saja aku mz, karna kan sebentar lagi kamu akan menjadi permaisuriku" ucap laki² itu dengan senang.
"Apa hanya menari saja?" tannyaku kepadannya.
"Iya hanya menari tapi kalau kau gagal bersiaplah menikah denganku dan menjadi permaisuriku" ucap laki² itu dari depan pintu toilet.
Sesaat kemudian aku memutuskan untuk bersiap dan mulai berlatih di dalan kamar mandi meski lupa² ingat tapi sepertinnya badanku masih lentur untuk menari aku mulai bersemangat agar aku bisa menari dengan benar dan lalu pergi dari tempat itu.
"Keluarlah kau sudah terlalu lam di dalam sayang" ucap laki² itu dengan manja, aku mendengarnnya merasa ingin muntah karna memang aku belumpernah pacaran dan aku gak tertarik untuk pacaran bukan karna aku BL tp karna aku memlunnyai banyak tujuan dan hal yang harus kuraih sehingga membuatku malas untuk berurusan dengan cinta.
"Iya kau keluar" ucapku membuka pintu dan terlihatlah laki² yang tadi berada di samping Ajeng aku muak dengan wajah laki² itu tapi harus kutahan.
"Kau cantik sekali memang tidak salah nyai memilihmu" ucap laki² itu, aku langsung tersentak mendengar kata² nyai? berarti nyai yang menyuruh Ajeng untuk membawaku katampat itu.
"Biar ku antar ke tempat pesembahan untuknnyai" ucap laki² itu memegang tanganku dan menarik tanganku menuju suatu tempat.
Beberapa menit kemudian aku terkejut melihat dimana tempat itu berada dan benar saja ternnyata tempat itu adalah punden di desa sebelah sekolah di sana terdapat sesajen dan bannyak orang yang duduk melingkar.
Alat² musikpun mulai berbunbyi dari gong angklung dan alat² karawitan lainnya lalu aku di minta untuk segera menari dan aku hanya bisa menurutinnya aku mulai menari sebisaku entah kenapa tapi aku seperti di kendalikan untuk menari karna mendengar alunan musik itu.
Saat aku menari tiba² laki² tadi mendekatiku dan ikut menari bersamaku aku pun mengimbangi tariannya seperti sedang berduel aku mulai merasakan keringat yang bercucuran dari keningku sampai pada akhir lagu.
Bruukk..
Aku pingsan dan di saat itu juga aku sudah kembali ke dunia nyata dan orang² desa yang melihatku langsung mengendongku ke tempat ternga dan mencoba membangunkanku.
Perlahan aku membuka mataku dan melihat sekelilingku banyak orang aku bahagia akhirnnya aku kembali aku langsung duduk dan ada wanita paruhbaya memegang tanganku dan berkata.
"Kamu sudah pulang nak" itu kata² yang membuatku semakin yakin kalau aku sudah benar² pulang aku langsung memeluk nenk itu aku langsung menangis dalam pelukan itu semua orang yang melihat itu langsung mengerti kondisiku.
Dan setelah itu aku di berikan minuman yang membuatku semakin lega dan mereka menghubungi keduaorang tuaku, seketika orang tuaku langsung datang dan berterima kasih kepada orang² di situ setelah itu aku pulang bersama orangtuaku dengan masih memakai kebayak saat akan pulang wanita paruh baya itu kembali memanggilku.
"Nak banyak kanlah berdo'a dan bersolawat agar hal seperti ini tidak terulang kembali" ucap wanita paruhbaya yang tadi memegang tanganku.
Setelah kejadian itu aku tidak pernah mengalami hal ganjil lagi dan yah aku lebih mendekatkan diri kepada Allah karna segala sesuatu berada tangannya.
🌹🌹🌹 Tamat 🌹🌹🌹
Terimakasih sudah membaca cerpen ini good luck dan jangan pernab sendirian👀👀