Cerpen Bersambung oleh Scary Black. Izinkan kisah romansa berbalut misteri pemanas otak, sentuhan horor, dan jeritan thriller merasuki jiwamu.
♡¡♡¡♡
[Bella Belvis]
Sudah sepuluh tahun lebih kuil itu kosong tak berpenghuni. Hingga suatu malam, jeritan memekakkan telinga muncul dan mengagetkan penduduk desa berkabut.
Di dalam kamar, seorang gadis penakut malas-malasan beranjak dari kasurnya. Ia berjalan ke jendela, mendapati jutaan bintang menghiasi cakrawala. Namun sesaat kemudian, ia meringis sambil menyilangkan kaki.
"Miku! Tolong temani aku ke kamar mandi!" Ia menggoyang-goyang tubuh gadis kecil yang masih terlelap di kasur. Adiknya yang berumur 10 tahun itu seolah tuli, dan tidak menanggapi permohonan sang kakak.
Karena tidak mendapatkan respon, Bella mengumpat kesal dalam hati. Mustahil jika dia mendatangi kamar orang tuanya yang ada di sebelah, cuma untuk menemaninya ke kamar mandi. Yang ada malah Bella akan dibawa ke gudang untuk menginap di sana.
Tidak ada pilihan lain, dia terpaksa menelan rasa takut itu mentah-mentah.
Drrtt ... drrtt ....
Atensi Bella teralihkan menuju ponsel canggih yang ada di atas meja belajar. Ia segera mendekat, lalu tersenyum cerah begitu tahu siapa yang mengirim pesan. Ternyata, kekasih yang hampir setahun menjalani hubungan dengannya masih terjaga.
'Kau sudah tidur, sayang?'
Tanpa pikir panjang, Bella langsung meneleponnya. Beberapa detik kemudian, suara yang akrab menyapa lembut. "Adhy, tolong temani aku ke kamar mandi, yah?" ucap Bella tergesa-gesa, karena panggilan alam itu tidak lagi bisa ditunda. Setelah tertawa kecil, pria manis yang ada di telepon mengangguk bersedia.
Selama berjalan menuju kamar mandi, Bella sibuk mengoceh untuk memastikan bahwa pacarnya masih ada di seberang panggilan. Tanpa dia sadari, pihak ketiga sedang memperhatikannya dengan hati terpanggang api cemburu.
[Dewi Tyasari]
Bella yang sama sekali tidak mengetahui hal itu hanya meneruskan kegiatannya di kamar mandi, tanpa jeda berceloteh.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar mandi. Mulut Bella langsung mengatup rapat, gadis penakut itu langsung berpikiran yang tidak-tidak.
"Mi-mi-miku? Jangan bercanda!" ujar Bella sembari memperbaiki celana piamanya. Dia langsung mengambil ponselnya yang sengaja di letakkan di dekat cermin kamar mandi.
"Ad—"
Tut ... tut ... tut!
Ponsel Bella mendadak mati. Beberapa kali gadis itu mengetuk-ngetuk tombol dan layarnya, agar bisa kembali menyala. Tetapi nihil, usahanya sia-sia.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu kembali terdengar.
"Miku ...?" panggilan Bella hanya di jawab oleh keheningan. Gadis itu menghela napas panjang, dan perlahan memberanikan diri untuk membuka pintu.
Ceklek!
Bella membuka pintu dengan cepat. Saat tidak melihat siapa pun di depan pintu, perasaan gadis itu langsung berkecamuk. Ada rasa lega dan juga rasa takut. Tanpa pikir panjang, Bella berlari secepat kilat menuju kamarnya. Malam itu, dia nyaris tidak sanggup menutup mata.
♡¡♡¡♡
"BELLA! .... BANGUN!" Whidie—ibunya Bella—memekik keras. Dia tidak pernah melewatkan hari tanpa memarahi anak gadisnya itu. Whidie sontak geleng-geleng kepala melihat putrinya masih berbaring di atas kasur.
"Sudahlah! Aku biarkan kamu bersantai hari ini!" ketus Whidie.
"Mah! Kita berangkat sekarang?" Miku tiba-tiba menghampiri Whidie dengan pakaian rapi. Dia tidak sabar untuk pergi ke taman bermain bersama kedua orang tuanya.
"Ayo kita berangkat! Biarkan Kak Bella jaga rumah!" ucap Whidie sambil menutup pintu.
Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya Bella terbangun dari tidurnya. Saat melihat waktu sudah pukul 10.13 siang, dia refleks terperanjat.
Bella sangat ingat bahwa hari ini dia dan keluarganya akan pergi ke taman bermain. Ia pun segera mencari keluarganya di seluruh penjuru rumah. Namun, Bella langsung meneteskan air mata ketika sadar, dia ditinggalkan sendirian di rumah. Dan ini bukanlah kali pertama.
[🍒 Ma Wati 🍒]
Perlahan Bella menghapus air matanya. Ia sudah tahu hal ini akan terjadi. Bella menundukkan kepala seraya berkata, "Tidak apa-apa Bella. Tidak apa-apa ...." Sejujurnya, dia sangat menginginkan kasih sayang kedua orang tuanya. Namun, dia seolah tak pernah dianggap ada.
Bella pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya, lalu berbaring di atas kasur. Drrtt ... drrt ....
Bella melirik ponsel yang bergetar di atas bantalnya. "Halo."
"Keluarlah, aku ada di bawah!" seru seseorang di ujung panggilan. Bella sontak berdiri, kemudian berlari ke arah jendela untuk mengintip. "Adhy?" gumam Bella, refleks tersenyum cerah. Dia melambaikan tangan, lalu bergegas turun.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Bella ketika Adhy sudah berdiri di hadapannya. "Menjemput seseorang yang sangat aku cintai selama setahun ini untuk pergi jalan-jalan," ucap Adhy disertai senyuman manis. Bella mengangguk dengan wajah tersipu malu.
Tiba-tiba Adhy meraih lembut kedua tangan Bella. "Aku sangat mencintaimu Bella, aku akan selalu ada untukmu. Jadi, jangan pernah merasa bahwa kau sendiri. Mengerti?"
Mendengar pengakuan kekasihnya itu, Bella meneteskan air mata dan langsung memeluk Adhy. "Terimakasih.. terimakasih," ucap Bella. Dirinya sangat beruntung mendapatkan kekasih seperti Adhy. Meskipun kedua orang tuanya tak pernah mempedulikan Bella, setidaknya Bella memiliki Adhy yang selalu setia padanya.
Namun disisi lain, seseorang tengah mengepalkan tangannya geram. "Mungkin saat ini kau masih bisa bahagia, Bella, tapi tidak dengan nanti. Kau akan tau seperti apa rasanya dilupakan."
[Miku Mizhunashi]
Adhy dan Bella berjalan bersama. Sesekali, candaan yang dilontarkan oleh Adhy, berhasil membuat gadis manis itu tertawa. Bella dan Adhy pergi berjalan-jalan ke pasar malam. Senyuman lebar tampak terlukis di wajah Bella. Bella memandangi suasana pasar malam yang ramai itu. Ia kagum sekaligus takjub, karena ini adalah kali pertamanya pergi ke pasar malam.
Biasanya, dia hanya disuruh menjaga rumah oleh Whidie, ibu angkatnya itu.
“Hei! Ayo kita coba bermain lempar bola itu!" ajak Adhy seraya merangkul Bella dari belakang. Mendadak, pipi Bella berubah menjadi merah merona.
“Ta-tapi ...."
“Ssstt ... Gak usah tapi tapian. Ayo!" Adhy langsung menarik tangan Bella menuju tempat permainan lempar bola itu.
“Pak, saya mau coba," ucap Adhy seraya menyodorkan uang.
“Oh ya mas, silakan," ucap sang pemiliki tempat permainan.
“Hei sayang! Coba lihat ini! Aku akan menunjukkanmu cara melempar layaknya Michael Jordan," ujar Adhy percaya diri.
Bella hanya memperhatikan Adhy dengan serius. Adhy mulai mencoba melempar bola, namun saat percobaan pertama dia gagal.
“Ah, ini tadi cuma pemanasan. Kali ini pasti kena!" Adhy mencoba melempar bola yang kedua kalinya. Namun, tetap saja gagal.
“Pftt..." Bella menahan tawa karena tingkah lucu Adhy.
“Tunggu, kali ini pasti kena!" Adhy mencoba kesempatan yang terakhir, namun tetap saja gagal.
“Loh kok gak kena sih? Padahal udah tepat tadi?" Adhy masih tidak menerima kegagalannya itu.
“Hahahaha!" Bella tidak bisa membendungnya lagi. Bella tertawa lepas karena Adhy.
“Hahaahahaa!" Adhy juga ikut tertawa.
Mereka tertawa bersama-sama. Namun, seseorang menatapnya dengan tatapan kesal.
“Huhhh Bella benar-benar telah melupakanku! Lihat saja nanti!" gumamnya.
["?!.]
Bella dan Adhy memilih rumah hantu untuk hiburan selanjutnya. Tapi ditengah-tengah wahana, Bella terpisah dengan Adhy dan bertemu wanita bernama Wulan. Bola matanya hitam pekat. Dan dia mengatakan sesuatu seperti, "hey, apa kamu ingat aku, Bel-la?" Namun entah bagaimana, wanita itu hilang tanpa jejak.
Ditengah perjalanan pulang, Bella melihat kuil kuno dan ingin berkunjung ke sana.
Adhy hanya bisa mengiyakan permintaan kekasihnya.
Bella menarik lengan Adhy dengan antusias ke arah kuil. Ia memasuki bangunan kuil tua itu, walaupun sudah Adhy larang. Sedangkan Adhy yang berhasil di tipu Bella, hanya berdiri menunggu di pekarangan kuil.
Sudah 10 menit berlalu. Adhy tetap menunggu. 15 menit. 20 menit, dan akhirnya setengah jam.
Adhy membalikkan badannya menuju kuil. Namun tiba-tiba dia berhenti, tubuhnya bergetar hebat.
"Hai, Adhy!" sapa seorang wanita bersuara parau.
"K-k-kau ...!" seru Adhy terkejut.
"Ya, ini aku."
"W-Wu-Wulan?! Apa yang kau lakukan disini?!!"
"Oh? Begitukah reaksimu? Aku sudah membantumu menyingkirkan orang tuamu yang menjengkelkan itu. Ingat pada janjimu? Aku boleh meminta apapun 'kan?"
"A-apa yang kau bicarakan?! Aku sudah bukan diriku yang dulu lagi! Ambillah apapun dariku, tapi segera pergi dari sini!" sergah Adhi bercucuran keringat.
"Wahh ... aku senang kau menepati janjimu. Tak perlu imbalan lagi, aku sudah mengambilnya kok!"
"Eh? Apa maksudmu?"
"Tentu saja. Menurutmu, kenapa gadis itu belum muncul setelah sekian lama penantianmu di pekarangan kuil ini? Apa kamu pikir—"
Adhy mengabaikan perkataan Wulan, dan langsung menerobos masuk ke kuil. Dia membuka puluhan pintu dan tirai di dalam kuil. Tetapi dia tidak menemukan Bella. Pandangan Adhy terkunci pada sesuatu. Terlihat untaian rambut indah di pinggir waduk buatan pada halaman kuil.
"Bella? BELLA?! BELLAAAAAA!!!!" Adhy berteriak panik, lalu bergegas menghampiri kekasihnya. Namun, hawa dingin mendadak hinggap di tengkuk lehernya. Ia menoleh ke belakang, tersentak tatkala melihat siapa yang datang.
♡¡♡¡♡
[Leni Latifah]
Naluri bertahan hidupnya sontak memberi peringatan waspada. Ia berbalik, lalu berdiri siaga, hendak melindungi tubuh Bella yang terkulai lemas di belakang. Raut wajah kebencian bercampur takut terpampang di setiap inchi wajah Adhy.
"Begitukah reaksimu padaku setelah semua ini?!" Mata Wulan memerah termakan amarah, kukunya memanjang, taring giginya keluar, wajah yang semula halus menjadi seseorang buruk rupa yang menyeramkan.
"Tolong jangan sakiti kami!!" pinta Adhy, berharap Wulan mengerti.
"Hahh ... aku sudah menunggu janjimu terlalu lama, Adhy. Inilah saat yang tepat bagiku!" Wulan maju mendekati Adhy yang masih berdiri diam. Karena merasa terancam, Adhy mundur beberapa langkah.
"Kau sudah melanggar janjimu!!"
Brak!
Wulan menerbangkan sebuah pot tua ke tubuh Adhy yang tak bisa menghindar. "Aarghh ...!" Benturan keras terjadi, Adhy terjatuh, kepalanya berdarah.
Wulan mendekati tubuh Adhy yang roboh di tanah. Adhy menggeser tubuhnya pelan mendekati sebuah batu, lalu melemparnya ke tubuh Wulan. Tetapi batu itu malah menembus tubuhnya.
"AHAHAHAHA!" Wulan tertawa kekeh, mengejek usaha Adhy yang sia-sia. Adhy seketika panik, karena Wulan semakin mendekat dengan tangan mengarah ke lehernya.
Adhy mendadak teringat akan cincin sakti yang pernah dia dapatkan dari seorang kakek. Kala itu, sang kakeklah yang menolongnya keluar dari jeratan Wulan. Dia berusaha mengingat mantra, sementara Wulan terus mendekat.
Setelah menggumamkan sebuah kalimat dalam bahasa asing, Adhy mengacungkan tangannya ke arah Wulan. "AARRGHH! PANAAASS!" Gadis hantu itu menjerit kesakitan dengan tubuh bermandikan api. Perlahan tapi pasti, bayang-bayangnya lenyap seiring angin berhembus.
[ig:(@Whidie Arista)🦋]
Adhy tersenyum puas karena dia telah berhasil mengusir Wulan dari hadapannya.
Sementara Bella belum sadarkan diri, karena terlalu banyak menelan air dari kolam itu.
♡¡♡¡♡
"Bella. Bangunlah!" suara itu lirih terdengar di telinga Bella. Akhirnya, mata Bella mulai terbuka.
"Aku di mana?" Bella mengedarkan pandangan ke seluruh arah, tetapi hanya ada kegelapan.
"Si-siapa itu?" Bella gelagapan seraya beringsut mundur.
Sosok bergaun putih dan berambut panjang itu perlahan mendekat.
"Kakak?!" pekik Bella ketika dia mengenali sosok kakaknya yang meninggal beberapa tahun lalu.
"Bella ... kau masih mengingatku ...." ucapnya datar.
"Bagaimana bisa aku melupakanmu? Saat semua orang membenciku, hanya Kak Dewi yang menyayangiku ...," lirih Bella dengan mata memanas.
"Entah mengapa Ibu begitu membenciku dan lebih menyayangi Miku," lanjut Bella. Hatinya terasa begitu perih ketika Ibu yang dicintainya tak pernah sekali pun peduli padanya.
"Ada sebuah rahasia yang ingin kakak katakan padamu Bella. Itulah sebabnya kakak mendatangimu saat ini."
"Rahasia? rahasia apa kak?"
"Rahasia masa lalumu," terang Dewi. Bella mengerutkan kening dalam diam, menunggu kakaknya melanjutkan.
"Kau bingung kan, kenapa Ayah dan Ibu tak pernah menyayangimu selama ini? Karena ... kau bukanlah anak kandung mereka. Kau diadopsi dari panti asuhan saat berumur 12 tahun. Namun tiga tahun kemudian, Miku lahir."
Air mata seketika meleleh di pipi mulus Bella. Dadanya terasa benar-benar sesak. Kenyataan pahit berhasil menghajarnya dengan telak.
"Bella ... bangun Bella ...." Seseorang mengguncang bahu Bella. Seketika dia terbangun, dan mendapati dirinya masih di kuil bersama sang kekasih, Adhy.
"Syukurlah! Kau sudah sadar sayang. Aku begitu khawatir memikirkanmu," ucap Adhy seraya mendekap tubuh mungil Bella.
"Kenapa kau menangis? Katakan padaku ...," tanya Adhy sambil menangkup kedua pipi Bella dengan tangannya, menatap lekat wajah sembab itu.
"Tidak ada apa-apa! Aku hanya mimpi buruk Adhy," dalih Bella, berusaha tersenyum.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Ayo kuantar pulang!" Adhy sigap memapah tubuh Bella yang masih lemah.
BRAK!
Sebuah pot besar melayang, lalu pecah membentur lantai tepat di hadapan mereka.
"KALIAN MAU KE MANA HAH?! HIHIHIHI!" Adhy nampak terkejut, entah mengapa hantu sialan ini masih saja muncul.
"Wu-wulan!" pekik Bella.
"HIHIHIHI! Akhirnya kau mengenaliku Bellaaaa ...," gumamnya di telinga Bella, membuat gadis itu merinding ngeri.
"Pergilah Wulan, alam kita berbeda. Aku tau dulu kau adalah temanku. Tapi sekarang ... aku sudah memiliki Adhy dalam hidupku. Jadi, pergilah dengan tenang," ucap Bella hati-hati.
"Bella benar, Wulan. Pergilah, dan meninggallah dengan tenang. Kami akan mendoakanmu," timpal Adhy.
"Hihihihi! Dasar manusia tidak tau diri! Ketika kau butuh aku, kau lari padaku dan meminta pertolonganku. Lalu ketika kau bosan, kau mau membuang ku!" hardik Hantu itu dengan suara melengking.
Aura di dalam kuil seketika terasa mencekam. Hawa dingin menusuk kulit, daun-daun beterbangan, dan dinding seolah bergetar.
"RASAKAN ... KEMARAHANKUUU ...!"
Tiba-tiba tubuh Adhy melayang bak sebuah layangan putus, terombang-ambing kesana kemari. Bella menjerit panik ketakutan, "A-adhy...!"
Tubuh Adhy dihantamkan ke tembok. Bella berlari menghampiri Adhy yang terkapar dengan mulut dialiri darah. Namun, Wulan seketika muncul dan mencekik leher Bella.
"Ja-jangan sakiti Bella, Wulan! Ji-jika kau mau ... ambillah nyawaku saja ... uhuk! uhuk!" lirih Adhy, memegangi dadanya yang nyeri.
Wulan tersenyum miring. "Benarkah kau mau ikut denganku? Hihihihii!"
"Iya! Asal kau lepaskan Bella!" tegas Adhy.
"Tidak! Jangan tinggalkan aku ... hiks ...," lirih Bella, tak sanggup menahan tangis. Karena cuma Adhy yang mencintainya di dunia ini.
BUGH!
Wulan menghempaskan tubuh Bella cukup jauh, hingga jatuh membentur dinding. Kemudian dia menghampiri Adhy yang tengah duduk sambil meringis kesakitan di ujung ruangan.
"Jangan, Wulan! jangan sakiti Adhy! JANGAAANN!!" Namun, Wulan justru tersenyum lebar.
Wulan mencengkram leher Adhy dengan satu tangan, lalu mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Mata Adhy terpejam, lelehan air mata membanjiri kedua pipinya.
"I Love You Bella ...."
"AARRGHH!!!" Jeritan keras bergema dari mulut Adhy, ketika lehernya diputar hingga patah begitu saja. Seketika lelehan darah segar mengalir bagaikan sungai dari sela-sela leher Adhy.
Bugh!
Wulan menjatuhkan tubuh Adhy yang telah terpisah dari kepalanya.
Pupil Bella membesar total. "ADHYYY!" jerit Bella. Terhuyung-huyung dia mendekati tubuh sang kekasih yang sudah tak bernyawa. Isak tangis terus keluar dari bibir mungilnya.
"Adhy, sayang ... kenapa kau mengorbankan nyawamu? Sekarang aku sendirian ... aku sendirian .... Akan lebih baik aku saja yang mati. Bawa aku bersamamu Adhyyy!!!"
♡¡♡¡♡
Scary Black :
1. Bella Belvis
2. Miku Mizhunashi
3. "?!.
4. Leni Latifah
5. Dewi Tyasari
6. 🍒Ma Wati🍒
7. ig:(@Whidie Arista)🦋
Terima kasih sudah membaca cerita ini;)
Salam,
All Members Scary Black.