Dari kasus anak hilang, berbuntut menjadi kematian yang di rahasiakan. Ketika, segala sesuatu itu terungkap ke udara, melalui bangkai yang terendus.
***
Selebaran, postingan dan berita yang menghias layar kaca dengan tajuk '𝘍𝘪𝘯𝘥 𝘚𝘩𝘢𝘬𝘢 𝘮𝘺 𝘴𝘰𝘯, 𝘑𝘢𝘬𝘢𝘳𝘵𝘢'𝘴 𝘮𝘪𝘴𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥.' Berita ini menggegerkan dengan sejumlah foto bocah yang hilang dalam satu pekan.
Bagian 1
By. @乇𝕠𝕦ᑎ¥ 𝔧𝐞𝒿𝑒 вσвᵒ 💤 OFF!
Kannaya Abigail, seorang wanita paruh baya dengan raga yang bergetar menghadap layar Facebook di monitor. Setiap ujung matanya terlihat berkedut dan jika dia mengatupkan kelopak matanya, maka segulir air matanya akan jatuh membasahi pipinya.
Setiap jemarinya menari-nari dengan tergesa-gesa di atas papan keyboard, dan dia menuliskan, '𝘍𝘪𝘯𝘥 𝘚𝘩𝘢𝘬𝘢 𝘮𝘺 𝘴𝘰𝘯, 𝘑𝘢𝘬𝘢𝘳𝘵𝘢'𝘴 𝘮𝘪𝘴𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥.' Setelah mengetik kalimat tersebut, dia pun mengirim postingan satu photo anak lelaki berusia sekitar enam tahun, berkulit putih, hidung kecil, dengan bibir merah penuh, dan anak kecil tersebut terlihat ceria dalam photo. Naya telah kehilangan puteranya, lebih dari satu pekan.
Dalam hatinya, Naya hanya berharap sang penculik meminta uang tebusan bukan berlaku diam seperti ini. Berapapun sang penculik minta, jikapun harus menjual sepasang ginjal miliknya ataupun mencabut jantungnya, Naya bersedia menjual dan menebus kehidupan puteranya, Shaka. Dia hanya ingin kehidupan puteranya di temukan.
Postingan terkirim. lalu, Naya terlihat mengatur napasnya yang terasa pendek, cepat, dan menguras seluruh energi batinnya. Lalu,dia segera merogoh ponsel dan Menyalakan ponselnya.
𝑩𝒆𝒆𝒑-𝒃𝒆𝒆𝒑-𝒃𝒆𝒆𝒑!
Ketika layar terlihat putih dan menerangi wajahnya suram Naya, terdapat 113 pesan, dan 120 panggilan tidak terjawab. Semua terlihat dari nomor asing. Setiap jemarinya bergetar membuka satu pesan demi satu pesan. Lalu, dia meruntuk menangis membenamkan wajahnya di atas meja. Semua pesan hanyalah pesan dukungan dan pemberitahuan, bahwa mereka turut sedih atas berita kehilangan putera tunggalnya. Tidak ada satu pesan, yang merujuk akan penemuan puteranya, atau satu pesan ancaman meminta uang.
Naya tenggelam dalam tangis, membuat dia bertekad kembali bangun. Mencari puteranya, menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Dia segera bangun berdiri. Keluar dari kamarnya yang telah menjadi persembunyian dukanya. Dia turun menapaki tangga yang melingkar menuju lantai pertama.
Mencapai lantai pertama. Naya terlihat menarik napas jengah akan setiap orang yang terlihat duduk berkumpul melingkar di depan televisi. Bastian, suaminya terlihat menggenggam remote TV dengan tatapan kosong. Lalu, sepasang matanya beralih pada dua pembantunya yang terlihat duduk melipat kaki di sudut dinding. Erika, gadis muda berusia 20 tahun yang merupakan baby sister yang merawat Shaka, dan Nana, wanita setengah paruh baya, berusia 35 tahun yang merupakan pelayan yang telah mengabdi dalam rumah tangga ini, lebih dari sepuluh tahun. Lalu, terminal terakhir pandangan Naya jatuh pada Roni yang merupakan supir dari rumah tangga ini. Setiap orang dalam posisi melingkar itu terlihat menatap suram dan menyiratkan kesedihan.
Naya merasakan ada kepalsuan dari salah satu orang-orang yang melingkar tersebut. Kelalaian mereka menjaga puteranya Shaka membuat dia kehilangan puteranya. Tetapi, Naya adalah wanita lembut yang tidak pernah ingin menuduh ataupun mencaci setiap orang dalam rumah tangganya, hanya untuk mencari kehidupan puteranya. Walau dia mengendus sesuatu yang janggal dari setiap gestur Erika yang terlihat dekat dengan suaminya. Padahal Erika, hanyalah pengasuh yang baru bekerja tiga bulan dalam rumah tangga ini. Tetapi, rasa curiga cemburu menyelinap hati Naya. Mengingat Erika sosok gadis masih muda belia dengan penampilan terawat dan terlihat memiliki tubuh yang berisi.
Naya memendam rasa curiga dan cemburu pada Erika, setiap gesturnya yang terlihat akrab dengan suaminya dalam satu pekan ini, keakraban mereka terlihat terjalin lebih dekat semenjak Shaka hilang. Tian terlihat selalu melindungi dan mendukung alibi pengasuh baru tersebut. Naya menjadi semakin mencurigai Erika.
...
Bagian 2
By. @Nia jeje
Dengan perasaan hati yang hancur, Naya mendekati Erika yang saat itu sedang menangis. Naya mulai menguatkan hati untuk bertanya pada Erika tentang apa yang dilakukan Erika kala itu, karena Erika adalah orang yang diberi tanggung jawab penuh oleh Naya untuk menjaga putranya, Shaka.
"Erika, apa yang kau lakukan sehingga Shaka bisa terlepas dari pantauan mu?" tanya Naya kepada Erika.
Dengan mata berkaca-kaca Erika menjawab pertanyaan Naya.
"Bu Naya, Saat itu Shaka meminta dibuatkan susu, dan saya menyanggupinya," ucap Erika terbata-bata.
"Saat saya mulai membuatkan susu untuknya, Shaka meminta izin kepada saya untuk bermain petak umpet bersama pak Tian," ucap Erika kepada Naya.
Setelah mendengar penjelasan dari Erika, Naya mulai menatap suaminya Tian yang saat itu terduduk dengan pandangan kosong.
"Apakah benar semua yang diucapkan oleh Erija mas Tian?" tanya Naya kepada Tian suaminya sendiri.
"Benar Naya, waktu itu aku bermain petak umpet bersama Shaka."
"Saat Shaka bersembunyi, aku mencari Shaka."
"Namun aku mulai resah ketika Raka tak menyahut panggilanku setelah 10 menit bersembunyi," ucap Tian dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar ucapan dari suaminya dan Erika baby sisternya, Naya hanya bisa diam tanpa kata.
Naya menyesal telah pergi meninggalkan Shaka sendirian.
Saat itu, Naya pergi keluar kota karena menerima undangan reuni dari teman semasa SMP nya dulu.
𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘚𝘩𝘢𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘬𝘶, ucap Naya dalam hati.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Naya hanya menyesali nasib nya yang sungguh sangat buruk.
"Baiklah, aku akan menenangkan pikiranku dulu," ucap Naya sambil meninggalkan Erika dan Tian yang saat itu juga larut dalam kesedihan mereka masing-masing.
𝙈𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙖𝙧 𝙉𝙖𝙮𝙖
Naya tak bisa memejamkan matanya. Malam ini adalah malam yang benar-benar sangat menyusahkan hatinya. Naya belum sempat bertanya kepada Nana pembantunya dan Roni sopir pribadinya karena hatinya masih belum kuat untuk menerima kenyataan jika jawaban yang mereka ucapkan tidak membuahkan hasil.
Sambil berusaha memejamkan matanya, Sayup-sayup terdengar suara anak kecil yang memanggilnya dengan panggilan
"Mama... Tolong aku...."
Dengan keringat yang mengucur deras, Naya berusaha mencari sumber suara itu
....
Bagian 3
By. @✨SasShi❣️
Naya melangkahkan kakinya untuk mencari suara itu. Berusaha menajamkan pendengarannya. Tetapi, sayang sudah tak terdengar lagi. Air mata menetes dari pelupuk mata Naya..., rasa bersalah serta ketakutan akan kehilangan putra yang sangat disayanginya,Shaka.
Naya merasa haus,dia pergi ke dapur. Tampak Erika duduk termenung. Naya tepuk pundaknya,Erika terlonjak. Namun, dia hanya mampu menatap sendu pada nyonya nya,dia tampak menyesal karena tidak menemani tuan mudanya bermain. Naya hanya diam, lidah serasa kelu untuk sekedar berkata, dia pun kembali ke kamarnya, mencoba memejamkan mata hingga tak terasa diapun terlelap.
Dalam tidurnya, Naya seolah bermimpi, Shaka memegang tangannya dengan menangis.
𝘔𝘢𝘮𝘢 ... 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 .... 𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘢𝘬𝘢 ... 𝘮𝘢𝘮𝘢...
Naya tersentak, dia bangun menjerit histeris.Tian,suaminya berlari ke kamarnya, memeluk berusaha menenangkan. Dengan isak tangis,Naya berkata, "Mas...kemanakah putra kita? Aku memimpikan Shaka,Mas ... dia menangis meminta tolong. Hiks... hiks... Shaka putraku...."
Tian membaringkan tubuh istrinya, menarik selimut untuk menutupi tubuh Naya, sambil mengelus rambut istrinya, dia berkata kalau akan berusaha menemukan Shaka secepatnya, "Tenanglah Naya,kita akan segera menemukan putra kita."
𝙆𝙚𝙚𝙨𝙤𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙜𝙞
Naya bergegas bangun.Dia tidak mau membuang waktu untuk segera mencari informasi tentang putra semata wayangnya.Dia mencari Nana dan Roni,karena kemarin Naya belum bertanya pada mereka.
"Nana ... Roni... Nana ... Roni...."
Dengan tergopoh mereka menemui nyonyanya.Naya menepis air matanya, berusaha kuat agar bisa mencari Shaka,putranya.
"Roni... Nana ...taukah kalian dimana Shaka?"
Mereka hanya menunduk tak tau harus berkata apa karena kemarin mereka tidak ada dirumah, mereka tampak menyesal akan hilangnya tuan muda.
Naya merasa buntu, hilangnya Shaka seolah misteri. Tetapi,dia tidak akan menyerah untuk mencari putranya. Dengan langkah gontai,dia berjalan ke halaman belakang rumah.Tempat dimana Shaka biasa bermain. Naya duduk melamunkan putra kesayangannya. Sayup-sayup, dia mendengar suara rintihan.
𝘔𝘢𝘮𝘢... 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨... 𝘔𝘢𝘮𝘢... 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵...
Naya menajamkan pendengarannya berusaha mencari darimana asal suara itu. Dia berlarian di taman itu. Samar-samar dia melihat sosok Shaka di atas ayunan,dia berlari dengan berderai air mata.
Tetapi, ketika sampai di ayunan,sang putra tidak ada. Naya terduduk menangis pilu.
"Shaka..putraku.... Kemana mama harus mencarimu,nak?"
...
Bagian 4
By. @Lɛɑ Cσͨᴍͥεͨʟͥ💕 ϛᷨʟͦυᷨʙͦ🌜
Sebagai seorang ibu, tanpa sadar setiap saat intuisi Naya selalu menuntunnya pergi ke halaman belakang rumahnya. Halaman belakangnya memang sangat besar. Ada sebuah pondok peristirahatan berukuran 4x4 di sana, ada kolam ikan yang besar, kandang sapi, kandang ayam dan kebun pisang di belakang sana.
Menatap kolam ikan yang jauh di pandangan matanya, membuat hati Naya berdegup kencang. Sepasang matanya terlihat berembun segera, kala menatap kolam ikan tersebut. Ada perasaan sedih menyelinap jiwa raganya, dan raganya di tuntun melangkah ke sana.
𝘕𝘢𝘬, 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢? batin Naya bertanya dan terguncang sesaat menatap kolam ikan yang tidak pernah dia kunjungi sebelumnya. Biasanya hanya Tian, suaminya atau Nana, pembantu kepercayaan yang pergi membersihkan dan mengelola peternakan sapi, ayam, dan ikan di belakang sana. Dia tidak pernah menginjakkan kakinya disana, karena dia tidak terbiasa dengan baunya peternakan.
Raga Naya berjalan di atas jalan setapak yang terlihat becek karena beberapa malam sering hujan. Dia melangkah mendekat dan makin mendekat menuju kolam ikam dengan pagar kawat mengelilingi kolam ikan.
Bau anyir tercium segar menusuk hidung Naya. "Bau sekali," endus Naya dengan batin yang menerka-nerka di mana bau bangkai tersebut.
"Bu Naya." Satu suara yang tiba-tiba datang mengejutkan Naya. Dia menoleh segera ke asal suara. Tampak Nana datang tergopoh-gopoh mengejar langkah majikkannya.
"Ya, Nana," sahut Naya dengan jemari tangan yang menjepit hidungnya.
"Jangan kemari,Bu ...," peringat Nana.
Naya mengerutkan keningnya. Hari ini adalah pertama kalinya dia kemari setelah sepuluh tahun yang lalu dia pernah terlibat membantu suaminya merancang kandang peternakan. Semenjak kehadiran Nana sebagai asisten rumah tangga, Nayapun mempercayakan peternakan di urus oleh Nana dan beberapa buruh kerja yang hanya akan datang pada waktu membersihkan dan membuang kotoran binatang.
"Di sini bau,Bu. Karena ikan banyak mati, oleh itu baunya anyir sekali," lanjut Nana dengan nada hati-hati.
Nana terlihat mengikuti dengan menjepit hidungnya, dan tidak lama perutnya terasa mual, dan dia segera berlari memuntahkan isi perut ke bawah pohon pisang, yang berada di sisi kolam ikan.
"Owekk ...." mual Nana.
Naya mengerutkan keningnya, dan menjepit hidungnya lebih kencang, berjalan mendekati Nana, dan berkomentar.
"Kau tidak apa-apa?"
Nana terlihat berwajah seputih kertas, menutup mulutnya seketika, dan berbicara di balik mulut yang tertutup tangannya, "Saya hanya masuk angin, bu. Apalagi bau bangkai ikan, belum di bersihkan, memancing mual, bu."
Naya hanya menganggukkan kepalanya, bau bangkai ikan terasa sangat menusuk hidung sekaligus menusuk hatinya. Sekelabat pandangannya tetap merasa sedih akan kolam ikan di depannya. Serasa bau bangkai ini tergolong bukan bau bangkai biasa. Tetapi, dia menepis rasa curiganya. Karenan, dia lebih berharap Sakha hanya di culik, bukan tenggelam di kolam ikan.
𝘓𝘢𝘨𝘪𝘱𝘶𝘭𝘢, 𝘬𝘰𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘬𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘱𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘵. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯, 𝘚𝘢𝘬𝘩𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯-𝘮𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, pikir Naya. Selanjutnya, pandangannya menatap pondok peristirahatan yang berada di tengah-tengah pertenakkan. Deg! intuisinya menuntun raganya untuk pergi ke sana.
"Bu," panggil Nana seraya memegang pergelangan tangan majikkannya, mencegah dia berjalan menuju pondok, "Ada tamu menunggu di depan."
...
Bagian 5
By: @dva
Nayapun membatalkan rencana untuk melihat ke dalam pondok peristirahatan. Naya bergegas berjalan menuju ke arah rumah, sementara Nana mengikuti langkah Naya pergi meninggalkan halaman belakang. Baru saja beberapa langkah mereka berjalan, Nana merasa kakinya berat dan sulit untuk digerakkan, seolah ada sesuatu yang menahan pergelangan kaki Nana yang membuatnya tidak bisa berjalan.
Sekilas Nana menundukkan pandangannya untuk memastikan apa yang sedang terjadi dengan kakinya, dan seketika jantung Nana berdegup kencang dan tubuhnya gemetar ketika ia malah melihat seorang bocah berusia sekitar enam tahun dengan sepasang mata yang mengeluarkan darah, menyeringai sedang memegang kakinya seolah-olah bocah itu menahan agar dia tidak melanjutkan langkahnya.
"Mba, telah bunuh Shaka. Shaka di bunuh mba." Tiba-tiba bocah berwajah seram itu mengeluarkan suaranya lirih.
"Kyaaaaaaaaaaaa!" Nana menjerit histeris dan menjadi takut setengah mati.
Naya yang berjalan beberapa langkah di depan Nana terkejut dan segera membalikkan badan.
"Kamu kenapa, Nan?" Tanya Naya sambil keheranan karena melihat wajah Naya yang pucat pasi dengan tubuh yang gemetaran.
"Saya tidak apa-apa, Bu." Jawab Naya dengan suara bergetar sembari mencoba menggerakkan kakinya kembali, dan anehnya kali ini kakinya dapat digerakkan seperti semula.
Meskipun Naya merasa ada yang aneh dengan Nana, akan tetapi Naya yang tidak mau membiarkan tamunya menunggu lebih lama akhirnya memilih tidak menggubrisnya dan melanjutkan langkahnya.
Di dalam ruang tamu, Naya melihat dua orang berseragam polisi sedang duduk di sofa. Kedua petugas negara itu langsung berdiri ketika melihat Naya berjalan menghampiri mereka.
"Selamat sore Bu, kami kemari lagi untuk melanjutkan penyelidikan."
"Selamat sore Pak, silakan duduk dulu, maaf, saya tinggal ke belakang dulu untuk membuat minum ya." Setelah melihat anggukan kepala dari tamunya, Naya segera ke dapur untuk membuat minum. Sebelum sampai dapur, langkah kaki Naya terhenti di depan kamar Nana yang terbuka pintunya. Entah apa yang menggerakkan hatinya hingga kakinya ia langkahkan masuk ke dalam kamar asisten rumah tangganya itu.
Naya mengedarkan pandangannya di dalam kamar berukuran 4x3 meter itu. Tidak ada yang mencurigakan, hanya saja Naya tidak tau kenapa hatinya selalu merasa ada yang tidak beres dengan asisten rumah tangganya itu. Ketika hendak keluar dari kamar, tiba-tiba saja ada hembusan angin kencang yang berasal dari jendela kamar yang terbuka. Hembusan angin itu menjatuhkan sebuah bungkusan plastik yang tadinya terletak di atas lemari di pojok ruangan.
Naya terkejut bukan kepalang, seperti ada yang menggerakkan, Nayapun menggambil bungkusan itu dan membukanya. Betapa terkejutnya Naya ketika ia mengeluarkan benda yang ada di dalam bungkusan itu. Matanya terbelalak dan jantungnya berdegup kencang.
"Positif...," ucap Naya lirih sambil menggenggam erat test pack yang ada di tangannya.
...
Bagian 6
By. @suho lee .
Naya pun semakin curiga kepada pembantu nya. Sampai akhir nya menyelidikinya diam-diam. Setelah Naya bertekad dengan rencananya, Naya pun menyuguhi minuman kepada polisi dan menceritakan bagaimana anaknya bisa hilang. Polisi pun berjanji akan menemukan kebenaran nya.
Setelah polisi pergi untuk penyelidikan Naya semakin curiga sama tempat kolam yang di kunjunginya tadi, Naya pun memutuskan untuk pergi ke sana seorang diri dengan hati yang berdebar-debar.
Semakin Dekat, Naya dengan kolam itu semakin tercium bau anyir. Naya curiga bagaimana mungkin bau anyir itu berasal dari kolam tersebut. Naya melangkah hati hati dan Naya melihat sepasang sepatu milik Shaka di dalam kolam tersebut, dan bercak-bercak darah. Sampai akhir nya Naya tiba di pondok, alangkah terkejutnya Naya melihat seorang anak kecil tak bernyawa di dalam pondok itu.
"Shakaaaaa .... Bangunn nakkkk, akhirnya mama menemukan mu nak.. Bangunn sayang...." Sambil memeluk Shaka, Naya menangis terisak-isak.
Polisi pun datang ke tempat Naya berada dan melihat Shaka dalam pelukan Naya.
"Bu naya sebaiknya kita melakukan olah TKP. Naya pun mengangguk-angguk kepalanya dan menyetujuinya.
"Pakk. Sebaik nya tkp nya dilakukan diam-diam , apakah bisa, saya curiga nanti tersangka nya hilang, saya mencurigai salah satu tersangka di dalam rumah saya...."
"Baikk bu Naya, kami akan melakukan nya diam-diam."
Setelah Naya menenangkan diri, Naya teringat akan tespack itu.
𝘖𝘩... 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘊𝘊𝘛𝘝 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘰𝘭𝘪𝘴𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘚𝘩𝘢𝘬𝘢 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨, kata Naya dalam hati.
Setelah mereka melihat CCTV-nya. Alangkah terkejutnya mereka melihat Nana dan Shaka di halaman belakang, Nana membawa pisau di tangannya, dan menusuk Shaka di bagian perutnya. Melihat itu polisi langsung mencari Nana yang diam-diam ingin kabur dari rumah, dan membawa Nana pergi ke kantor polisi.
Keesokannya Naya pun datang menjenguk Nana, dan bertanya mengapa dia melakukan itu semua.
"Ituu semuaa karna Erika menyuruh saya melakukan nya buk.. Kalau saya tidak melihat nya, keluarga saya akan kena imbas nya, maaf kan saya bukk...,'" kata Nana sambil menangis.
Setelah Naya pulang. Naya melihat kamar Erika. Naya mendengar suara suara aneh dari dalam kamar erika. Sampai akhirnya Naya membuka pintu nya. Alangkah terkejutnya, Naya melihat suaminya bercumbu dengan Erika.
𝘗𝘭𝘢𝘬𝘬𝘬𝘬𝘬𝘬.. 𝘗𝘭𝘢𝘢𝘢𝘬𝘬𝘬𝘬....
Naya menampar wajah suaminya dan Erika.
"Tega kamu ya mas, kau memang bajingan mas. Apakah kau tidak tau Erika telah membunuh anak kita mas" kata Naya smbil menangis.
"Apa yang kau katakan, bagaimana mungkin erika membunuh anak kita, aku tidak mempercayai nya."
Suaminya bertanya pada Erika. Tetapi Erika menyakalnya. Naya pun memanggil polisi dan menyuruh polisi menangkap Erika.
Sampai akhirnya Naya pun bertanya kepada Erika mengapa dia melakukan itu.
"Haaah... Kau tanya kenapa ... apakah kau tau aku telah hamil anak dari suami mu. Dan ku ingin dia menceraikan mu dan menikahi ku, supaya anak ku bisa jadi satu satu nya pewaris rumah ini...."
𝘗𝘭𝘢𝘢𝘢𝘢𝘬𝘬𝘬𝘬𝘬𝘬.. 𝘗𝘭𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢𝘬𝘬𝘬𝘬....
Naya memukul Erika.
...
Bagian 7
By.S𝐚𝐍Ⓝу 🐄
Erika mengangkat wajahnya. Dia menatap pada Tian, sang majikan sekaligus pria yang telah menidurinya. Karena, dia percaya sang majikan telah tegila-gila padanya. Dia pun tak segan-segan, bersikap membabi buta pada sang majikan perempuan.
Erika menjambak Naya, dan perseteruan terjadi di antara mereka. Tian bangkit dari ranjang, terlihat bingung memihak yang mana.
"Hentikan!" Tian mendorong Naya, agar tidak melukai Erika.
Mendapatkan dukungan sang majikan pria, Erika segera membentur kepala sang majikan perempuan ke dinding, dan membuat Naya dalam hitungan menit, tidak sadarkan diri.
Tubuh Naya merosot ke lantai, dan bercak darah merah segar tercetak pada dinding.
"Naya ...," jerit suaminya akan membangunkan isterinya. Namun, Erika segera menahan pergelangan tangan pria paruh baya itu.
"Mas, kau pilih aku atau dia sih? Kau memihak siapa? demi cinta, aku bahkan menyamar menjadi pengasuh anak wanita sialan ini. Hubungan kita sudah terlampau dalam, dan telah 3 tahun bersama."
Tian mematung. Erika mendorong bahu pria itu, dan membangunkan pria itu dari lamunannya.
"Mas, jangan ragu. Ingin hartanya, kita sudah dapatkan peternakan dan rumah ini. Kita habisi saja dia, dan kita rekayasa dia stress, dan bunuh diri karena kematian Sakha. Lagipula, kau sudah tidak cinta padanya."
Tian mengangguk tanpa sadar, hatinya serakah menyetujui rencana Erika. Merekapun mulai bergerak menghapus jejak darah dari dinding. Menyeret tubuh Naya ke kamar lantai dua.
Di sana, Tian mengaitkan sebuah jerat tali bergantung di lampu hias, dengan simpul lingkaran untuk menjerat leher, dan sebuah kursi yang di sediakan sebagai penunjang bukti kasus bunuh diri Naya.
Erika tersenyum nyengir menatap majikan perempuannya, "Pembunuhan Sakha, sudah kami rekayasa pada Nana. Nana, adalah wanita kampung yang bodoh, dia telah aku atur menjadi kambing hitam perselingkuhan kami. Sekarang kematianmu akan kami rekayasa pula. Kau bunuh diri karena tidak menerima kematian anakmu, dan sakit hati karena dikhinati."
Erikapun melingkarkan ujung simpul tali yang melingkar ke leher Naya. Setelah tali itu menjerat leher, Tian dan Erika segera membopong tubuh Naya berdiri di atas kursi.
"Jerat sampai mati, mas!" perintah Erika.
Tian mengangguka, akan bersiap menarik ujung tali. Tetapi, tiba-tiba suara blam terdengar dari daun pintu kamar, dan jendela membentur kusen berkali-kali, dan suara angin kencang berhembus kuat, mengirim hawa dingin mulai dari ujung kaki.
"JANGAN BUNUH MAMA!"suara seorang bocah terdengar serak dan menakutkan mengisi kamar.
Tian dan Erika berkedip sesaat, dan saling bertukar pandang. Menoleh bersama-sama ke arah sang suara.
Tampak seorang bocah dengan tubuh yang mengambang di udara, berdiri tepat di garis pintu, dengan sebuah pisau yang menancap di perutnya, dan lubang di dadanya terus mengucurkan darah segar bewarna merah.
"APA KALIAN BELUM PUAS MENGAKHIRI HIDUPKU?"
Tian dan Erika bergindik ketakutan. Mereka segera memutuskan untuk berlari. Namun, pintu kamar telah di hadang Shaka. Tidak ada pilihan lain, mereka pun berlari ke pintu Balkon.
"Aku tidak berani melompat, mas. Di sini sangat tinggi!" rengek Erika.
"Aku juga sangat takut!" balas Tian menelan ludah.
Sakha menyeringai dari garis pintu. Dalam hitungan tiga detik, sekejap dirinya telah berdiri di belakang Erika, "AKU BANTU MENDORONG KALIAN KE BAWAH!"
Erika dan Tian terkejut, seketika kehilangan keseimbangan, dan terjungkal melewati pagar balkon.
"Kyaaaaa!" Erika dan Tian histeris bersamaan di udara, dan mulut mereka terkunci rapat ketika kepala mereka membentur tanah berbatuan tersebut, dan sepasang mata mereka terlihat kosong dalam hitungan menit selanjutnya.
Tamat ❤️
***
𝑲𝒆𝒎𝒂𝒕𝒊𝒂𝒏 𝒀𝒂𝒏𝒈 𝑫𝒊 𝑹𝒂𝒉𝒂𝒔𝒊𝒂𝒌𝒂𝒏
Dibuat dan di susun oleh:
1 @乇𝕠𝕦ᑎ¥ 𝔧𝐞𝒿𝑒 вσвᵒ 💤 OFF!
2 @Lɛɑ Cσͨᴍͥεͨʟͥ💕 ϛᷨʟͦυᷨʙͦ🌜
3 @S𝐚𝐍Ⓝу 🐄
4 @suho lee .
5 @dva
6 @Nia jeje
7 @✨SasShi❣️
❤️Terimakasih sudah membaca❣️