Pagi itu suasana agak mendung, sekitar pukul 06.30 aku mengawali hari untuk berangkat kuliah, jarak rumahku dengan kampus itu sekitar 20 km, aku berangkat kuliah selalu menggunakan motor, aku terpaksa menggunakan motor untuk laju, karena kurangnya angkutan umum arah ke kampus, kalau boleh memilih, lebih baik aku naik angkutan umum karena lebih santai dan tidak kepanasan tentunya.
Sebelumnya, perkenalkan, namaku Ismi Ayu Khairunnisa, aku berumur 20 tahun, panggilan aku adalah Ismi, banyak juga yang memanggilku Nissa, tetapi aku lebih suka dipanggil Ismi. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Solo, banyak yang bilang aku ini adalah wanita yang cantik, tapi aku biasa biasa saja, dan kuanggap itu adalah rejeki dari Allah, aku mengambil jurusan kebidanan, kisah ini bermula ketika aku semester 3, ketika itu aku melihat sosok laki-laki yang begitu sederhana sosoknya. Wajahnya begitu manis, dan ternyata dia adalah salah satu mahasiswa satu kampus denganku, dia mengambil jurusan farmasi, arah satu kampus sama, sehingga aku sering melihatnya, dia begitu sederhana, dia ternyata jalan kaki ketika berangkat ke kampus.
Aku melihatnya, dia adalah sosok pria yang dewasa, ketika berangkat ke kampus, tiba-tiba handphoneku berbunyi, langsung saja kuangkat ternyata dari sahabatku, namanya Ruri Aulia Sari, “Assalamu’alaikum Ismi, aku boleh ya bonceng kamu, motor aku lagi dipakai kakakku nih.” Tanyanya, “walaikumsalam Ri, hadehh, iya deh gak apa apa, aku jemput kamu ya di rumah”. Jawabku, “iya deh Is, makasih banget ya hehe”. Jawabnya riang. Memang rumah Ruri satu arah ke kampus, jadi dia sering bonceng aku. Setelah kujemput sahabatku itu, aku melanjutkan perjalanan ke kampus, tanpa disangka, aku melihat Dia lagi, Dia jalan kaki menuju kampus.
Mataku terus saja melihatnya, kupelankan laju dari motorku, sontak saja Ruri menjadi agak bingung, “Is, kenapa pelan sih, ayo cepetan, keburu telat entar.” Perintahnya, “bentar to Ri, aku mau lihat cowok itu, kok Dia jalan kaki ya?”, tanyaku, “cie cie cie, kamu naksir ya sama tu cowok?”, jawabnya sambil tertawa, “ah bukan gitu juga kali Ri, kasihan aja, kok jalan kaki melulu.” Jawabku sedikit jengkel. “Kamu itu ya Is, terserah dia dong, mau jalan kaki, mau naik mobil, mau pakai helikopter, terserah dia dong, ngapain juga ngurusin kayak gitu, kamu itu aneh banget.” Jawabnya sambil tertawa. “Ya udah deh, terserah kamu Ri.” Jawabku.
Setelah masuk kelas, aku terus saja melamun, melamun siapa cowok tersebut, bisa bisanya aku tertarik kepadanya, padahal dia sepertinya bukan orang yang kaya, dia begitu sederhana, pada saat enak enaknya melamun, tiba tiba, “Ismi, Ismi, kamu maju ke dapan coba jelaskan kepada teman kamu, apa itu yang dimaksud Askeb.” Tanya dosenku, “ba.. ba.. baik bu.” Jawabkku dengan kaget, tapi dengan sigap, aku mampu menjawab pertanyaan dari dosenku dengan lancar. Setelah waktu istirahat, sekitar pukul 12.05, aku mendengar suara Adzan yang begitu indah, suara adzan tersebut berasal dari masjid dekat kampusku, seketika itu aku san teman teman termasuk sahabatku Ruri menuju ke masjid untuk menunaikan Sholat Dhuhur.
“Eh Ri, itu suara adzan kok enak dan merdu ya, baru kali ini aku mendengarkannya, kira kira siapa ya yang jadi muadzinnya?”, tanyaku kepada Ruri, “ehmm, mungkin Pak Ustadz, atau mungkin jodoh kamu kali Is.” Jawabnya sambil bercanda, “hus.., kamu itu lho Ri, bercanda melulu.” Jawabku sambil tertawa kecil. “ya biarin to hahaha.” Jawabnya sambil tertawa, memang, Ruri adalah sahabatku yang humoris. Setelah sampai di teras masjid, aku dan Ruri melepas sepatu, tiba tiba aku lagi lagi melihat sosok itu, sosok yang begitu sederhana, dia sedang Sholat Sunnah, hatiku begitu senang, entah mengapa, jantung ini berdegup kencang, “ah, mungkin karena guyonan dari Ruri tadi yang membuat hatiku riang”. Gumamku dalam hati.
Setelah mengambil air wudhu dan melaksanakan Sholat, tidak kusangka, ternyata cowok itu tadilah yang menjadi muadzinnya, lagi lagi jantung ini berdugup begitu kencang. Ketika Sholat sudah usai, aku memanjatkan doa kepada Allah, “Ya Allah jika dia memang tercipta untuk hamba, aku ikhlas, jika dia memang pemilik tulang rusuk ini, dekatkan kami berdua ya Allah, dalam ikatan suci nan indah suatu hari kelak, aminn.” Setelah berdoa, aku keluar dari masjid dan terus berfikir, “lho.., kenapa tadi aku berdoa begitu ya, aneh, baru kali ini aku berdoa seperti itu.” Gumamku.
Ketika mau memakai sepatu, aku melihat ada sepatu laki laki, yang sudah bisa dikatakan jelek, dan bagiku sudah lama dipakai, “kira kira siapa pemilik sepatu itu.” Gumamku, tiba tiba cowok itu mengambil sepatu itu di dekatku, “Asalamualaikum mbak, maaf, permisi mbak, saya mau mengambil sepatu saya.” Pintanya, “Wa.. walaikumsalam mas, oh iya mas, silahkan.” Jawabku gugup, “Subhanallah, ganteng dan manis banget nih cowok.” Dalam hatiku berkata,” ternyata, dia adalah cowok yang selama ini aku lihat, dia begitu sederhana, dan manis pula, dan pastinya begitu memikatku.”
Tanpa aba aba, langsung saja, naluriku sebagai wanita muncul, “maaf mas, boleh minta alamat facebook atau pin bb nya mas?”, tanyaku dengan gugup, “oh, maaf ya mbak, saya tidak punya, maaf mbak buat apa ya?”. Jawabnya sambil menundukkan kepala, “hehehe, buat tambah temen aja kok mas.” Jawabku sambil senyum malu. “oh gitu, aku hanya punya nomor hp aja kok mbak, hp saya belum secanggih itu, tidak bisa buat chat atau bbm an.” Jawabnya dengan sederhana dan lugu. “nomor hp juga enggak apa apa kok mas, hehehe.” Jawabku dengan riang. Begitu sederhananya dia, di saat era modernisasi jaman, yang sekarang bahkan hampir seluruh mahasiswa memiliki hp yang canggih, masih ada cowok yang tidak memiliki facebook dan pin bb.
Akhirnya dia memberikan nomor hpnya dan langsung bergegas kembali ke kampus, tapi kurang beruntung, aku belum tau namanya, “ah, gimana sih aku nih, kok tadi enggak tanya namanya, ehmm, entar aja deh, aku sms.” Gumamku dalam hati. Sejak saat itu entah kenapa aku selalu memikirkannya, sudah satu bulan ini aku tidak berjumpa dirinya, apa dia pergi atau pindah tempat kuliah?, pertanyaan itu selalu ada di benakku, hampir saja lupa, waktu itu adalah hari ahad, sekitar pukul 08.23, aku beranikan diri untuk telepon dia, “wah, kesambung nih.” Batinku, “Asalamu’alaikum mas, ini saya dulu yang minta nomor hpnya mas.” Ku mulai pembicaraan, “walaikumsalam mbak, oh, iya, salam kenal ya mbak.” Jawabnya santai.
“Iya mas, maaf, kalau boleh tau nama mas siapa? Nama saya Ismi mas, Ismi Ayu Khairunnisa, salam kenal ya mas.” Sambungku, “oh iya, sampai lupa mbak, perkenalkan mbak, nama saya Farhan mbak, Farhan Furqoni mbak, iya salam kenal juga mbak.” Sahutnya, “maaf mas sebelumnya, akhir akhir ini kok saya jarang lihat kamu di kampus ya?” tanyaku keheranan, “oh, ini saya sedang praktek kerja mbak, di rumah sakit di Solo, emang kenapa ya mbak, kok nyariin saya, ada perlukah?” tanyanya heran. “Oh begitu ya, maaf mas cuma tanya saja kok hehe.” Jawabku gugup, Alhamdulillah, betapa senang hati ini, bisa berkenalan dengan cowok yang sederhana, kalem, dan pastinya soleh.
Singkat cerita, waktu itu adalah waktu yang ditunggu tunggu oleh semua mahasiswa, ya benar, hari wisuda telah datang, tak lupa aku menelpon dia, karena seringnya kami berhubungan lewat telepon, menjadikan kami semakin akrab, “Asalamu’alaikum mas Farhan?”, tanyaku, “walaikumsalam mbak Ismi, ada apakah? Oh iya selamat ya, kamu lulusan terbaik tahun ini.” Jawabnya dengan gembira, “wah, mas farhan tau ya, makasih banget ya, oh iya, setelah lulus, kamu mau kerja dimana?” tanyaku penasaran.
“Insya Allah ini mau kerja di Rumah Sakit di kota Semarang mbak, lha kamu rencananya bagaimana mbak?”, imbuhnya, seketika itu hatiku sakit, sedih dan tidak tau harus bagaimana lagi, lalu langsung saja aku tutup pembicaraan itu,
“oh, begitu ya, selamat ya, semoga sukses terus mas Farhan, wasalamualaikum.” Jawabku sedih, lalu sejak saat itu aku sudah sangat jarang sekali menelponnya, entah mengapa, dia juga begitu, mungkin sudah disibukkan dengan urusan masing masing yang begitu padat.
Selang 5 tahun, banyak sekali pria yang dekat dengan saya, bahkan sudah beberapa yang telah menyatakan cintanya padaku, tapi tetap saja aku tolak, karena hatiku masih milik Dia, ya, Dia yang begitu sederhana, di yang begitu bersahaja dan soleh, jarang sekali aku menemukan tipikal pria seperti itu. Pada suatu hari, aku dipindahkan oleh Rumah Sakit di Solo, pindah ke Rumah Sakit kota Semarang, setelah melakukan persiapan, aku berangkat dari Solo ke Semarang, aku tiba disana malam hari. Waktu tempuh itu kira kira 1 jam, setelah itu, pagi harinya aku langsung mulai bekerja sebagai bidan disana, entah mengapa sudah 5 tahun ini aku kurang semangat, apa lagi jika mengurusi pendapat Ayah dan Ibu yang ingin cepat aku menikah.
Aku ingat betul pada waktu itu, pria dengan baju putih, dan celana putih, datang ke masjid, lagi lagi kudengar suara Adzan yang merdu yang sudah sekian lama tidak aku dengarkan, ya, aku yakin betul, itu adalah suara adzan dari Farhan, pria yang telah luluhkan hati ini, Subhanallah, Allah telah mempertemukan aku dengannya lagi, bagaimana ini, apakah dia sudah menikah, ataukah sudah mempunyai calon?, pertanyaan itu selalu hadir di pikiraku, tak lama kemudian, di tempat pasien, kita tak sengaja berpapasan, Dia ada di depanku,
“ini mbak Ismi ya?, Subhanallah, cantik sekali kamu mbak.” Katanya dengan penuh semangat, sontak saja perkataan itu membuatku malu dan salah tingkah, bagaimana tidak, orang yang aku sukai, memujiku sedemikiannya,
“oh, mas Farhan, ketemu lagi, saya tidak cantik kok, jangan memuji begitu, pujilah Allah yang manciptakanku.” Jawabku tegas, “Masya Allah, iya mbak maaf hehe, saya khilaf.” Jawabnya santun, “iya, enggak apa apa mas Farhan, eh iya, mas sudah menikah ya, punya anak berapa mas?” tanyaku memulai pembicaraan,
“weh weh, saya belum nikah kok mbak, siapa juga yang mau denganku haha.” Jawabnya sambil tertawa, sontak, pernyataannya membuatku kagum, dan pastinya membuatku senang, berarti masih ada kesempatan untuk mendapatkan calon imamku itu.
Tak lama berselang, waktuku di Kota Semarang telah usai, aku kembali ke kota Solo, tak lupa betapa sedih hatiku harus berpisah dengannya lagi, serta tak lupa aku ucapkan salam perpisahan kepadanya dan menyatakan cintaku kepadanya, waktu itu ketika di lorong kamar rumah sakit, “mas farhann..” teriakku, “iya mbak, ada apakah?” jawabnya tenang, “maaf mas, aku sebantar lagi mau kembali ke Solo, maaf mas sebenarnya selama ini aku menyukaimu, aku mengagumimu, aku juga mencintaimu.” Jawabku sambil menangis, “oh begitu ya, Insya Allah, jika jodoh, kita akan bertemu kok, maaf ya, ini aku lagi sibuk, saya tnggal dulu ya.” Jawabnya santai dan tenang, itu sontak membuatku sakit, sejak saat itu aku sudah tidak memikirkannya lagi.
Singkat cerita, aku telah dijodohkan dengan seorang pria, kata ibu, dia juga bekerja juga di bidang kesehatan, waktu pun berlalu, mungkin ini sudah takdirku, terpaksa aku harus menerimanya, tak disangka sangka, waktu lamaran, ternyata pria itu adalah Farhan, ya, pria sederhana itu telah melamarku, betapa terkejutnya aku, betapa bahagianya aku, sontak aku langsung terharu, bagaimana bisa dia melamarku, aku sama sekali tidak tahu. Aku langsung saja bertanya kepadanya, “kenapa kamu melamarku, sepertinya kamu tidak mencitaiku.” Tanyaku heran, “aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di masjid kampus, aku selalu berdoa untukmu di setiap sepertiga malamku, agar kamu bisa menjadi jodohku kelak.” Jawabnya begitu tegas dan menyakinkan, membuatku terharu dan meneteskan air mata. “Aku mencintaimu mas Farhan, aku mencintaimu karena Allah.” Jawabku sambil menangis,
Setelah 2 tahun pernikahan, aku bersyukur sekali, dapat memiliki 1 anak laki laki dan memiliki rumah juga, keluarga kami memang sederhana, sesederhana dia, pemimpin dan imam keluargaku.
TAMAT