Namaku Harumi. Aku adalah salah satu siswi di SMA XXX. Sekarang aku kelas 12 IPA 1 dan aku adalah ketua kelas nya. Padahal, aku adalah murid termuda di kelas. Mungkin sedikit aneh. Beberapa orang mengatakan bahwa aku terlalu dini untuk masuk sekolah. Ya, ada benarnya juga. Aku masuk sekolah dasar saat usiaku masih lima tahun sembilan bulan. Dan, aku juga adalah mantan wakil ketua OSIS tahun lalu.
Setiap hari, aku menjalani hidupku seperti biasanya, normal-normal saja. Tetapi, itu berubah ketika di kelasku kedatangan murid baru. Dia laki-laki yang lumayan sulit diajak bersosialisasi.
....................
"Aku dapat tugas dari wali kelas buat mengenalkan fasilitas sekolah buat kamu." ucapku saat aku berdiri di depan meja nya. Dan setelah itu, dia menatapku dengan wajah datar. Dia juga tidak menanggapi apa-apa.
"Siapa nama kamu?" aku bertanya padanya, supaya dia mulai berbicara.
"Hiroki, kamu siapa?"
"Aku Harumi, ketua kelas ini. Ayo ikut aku.
.................
Akhirnya tugasku sudah selesai. Sekarang, jam istirahat sudah selesai. Semua murid kembali ke kelas masing-masing. Tak terkecuali aku.
Hari-hari berikutnya masih seperti biasanya. Hanya ada sedikit perubahan sejak sekolah kami kedatangan murid baru itu.
Ada yang sedikit aneh. Hampir tujuh puluh persen murid perempuan di kelas 12 IPA 1 mencoba untuk mendekati murid baru itu. Sepertinya dia menjadi topik perbincangan hangat di berbagai kelas. Ada yang bilang ganteng, keren, cool, dan lain sebagainya.
Aku sendiri tidak terlalu mempermasalahkannya. Aku menganggapnya sama seperti yang lain. Karena aku adalah ketua kelas, aku harus memberi contoh yang baik, salah satunya adalah memperlakukan semua teman-teman dengan adil.
Satu bulan kemudian, dia sudah mendapatkan beberapa orang teman laki-laki. Begitupun setelah beberapa teman sekolahku yang mengajaknya berteman.
.....................
Pada suatu hari, entah apa yang aku mimpikan semalam, aku datang ke sekolah terlalu pagi. Tepatnya pukul enam pagi. Ketika sekolah masih sangat sepi, aku berjalan sendiri ke kelas melewati koridor sekolah yang sangat sepi. Belum ada seorangpun murid yang terlihat olehku saat perjalanan ke kelas.
Ketika sampai di kelas, aku melihat seorang laki-laki yang duduk sendiri. Dia memakai headset sambil membaca buku. Aku berpikir untuk menyapanya.
"Selamat pagi!" sapa ku saat masuk ke kelas. Tapi tidak ada jawaban. Kupikir karena dia menggunakan headset, jadi dia tidak mendengarku, aku tak ingin membuat masalah, jadi aku mewajarkan nya saja.
Kemudian, aku berjalan keluar kelas dan duduk di depan kelas. Sambil menyapa teman-teman yang baru datang. Tanpa aku sadari, dia melihatku secara diam-diam. Aku tau karena aku diberi tau salah satu temanku.
.....................
Sebelum pulang sekolah tadi, kami diberi tugas kelompok. Tugas kelompokku adalah membuat tabel yang berisi tentang reaksi kimia. Tugasnya dapat dicari dari berbagai sumber, seperti internet, buku, ataupun praktik. Dan kebetulan atau tidak anggota kelompokku laki-laki semua selain aku. Yaitu aku, Takayuki, Kichiro, dan Hiroki.
Kami memutuskan untuk mencari informasi dari buku di perpustakaan kota. Sengaja tidak mencari di internet, supaya mereka tidak beralih ke ponsel daripada mengerjakan tugas. Kalau praktik, kurasa itu akan membutuhkan waktu yang agak lama, dan membutuhkan biaya. Sedangkan tugasnya harus dikumpulkan dua hari lagi.
....................
Sore harinya, kami berkumpul di perpustakaan kota untuk mencari informasi yang kami perlukan. Semuanya, terkendali. Tidak ada yang spesial. Saat pulangnya, terjadi sesuatu yang tidak terduga.
Aku pulang naik kereta, supaya lebih cepat. Ketika aku baru naik dan duduk di salah satu bangku, pemandangan yang tidak asing terlihat olehku. Di samping ku adalah.. Hiroki.
"Eh, kebetulan. Rumah kamu searah?" tanya ku.
"Iya mungkin."
Suasana menjadi canggung. Aku hanya duduk disampingnya tanpa banyak bergerak. Sedangkan dia, sedang melamun atau sedang melihat pemandangan kota dari jendela kereta. Aku tidak tau.
..............................
Beberapa hari kemudian. Ketika tugas kami sudah dikumpulkan dan dibagikan hasilnya. Kami mendapatkan nilai yang lumayan.
Kali ini, aku sedang bersama kedua temanku, Keiko dan Yuka. Kami berada di ruangan perpustakaan untuk baca-baca buku. Itulah yang biasa kami lakukan ketika jam istirahat.
Beberapa bab telah terbaca olehku. Tiba-tiba bel masuk telah berbunyi. Rasanya, waktu berlalu begitu cepat saat aku berada di perpustakaan.
Kemudian, aku, Keiko, dan Yuka kembali ke kelas. Saat dalam perjalanan ke kelas, aku tidak sengaja tertabrak oleh seseorang.
BRUK!
"Maaf, kamu nggak apa-apa?" tanya seseorang yang baru saja menabrak ku sambil mengulurkan tangannya. Seorang teman sekelasnya, yang dikenal paling dingin, yaitu.. Hiroki.
"Iya, aku nggak apa-apa?" aku menjawab pertanyaannya sambil mencoba berdiri tanpa menatap wajahnya. Kemudian, aku membersihkan debu-debu yang menempel pada pakaianku.
"Psst! Lihat kedepan mu!" perasaanku mengatakan kalau aku harus melihat ke depan. Kemudian, aku melihat ke depan dan ada seorang laki-laki yang lebih tinggi daripada aku.
Dan ketika aku memandang wajahnya, pandangan ku menyatu dengan pandangannya. Akhirnya, kami menjadi bertatapan.
Saat menyadari aku yang ada di depannya, dia langsung memalingkan wajahnya. Tak lama kemudian, dia berjalan pergi sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya.
Setelah itu, kedua temanku menghampiriku.
"Harumi, kamu nggak apa-apa?" tanya Yuka menyadarkan lamunanku.
"Eh, iya, aku nggak apa-apa."
"Kenapa? Kamu suka?" tanya Keiko.
"Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti.
"Nggak, nanti kamu akan tau sendiri." kata Keiko sambil tersenyum padaku.
........................
Keesokan harinya, aku pulang sekolah yang paling terakhir. Jam setengah enam sore aku baru pulang. Itu dikarenakan aku diminta untuk mengikuti pelatihan simulasi untuk ujian. Saat aku sedang berjalan menuju gerbang sekolah, aku menyadari bahwa ada siswa lain di sekolah selain aku. Dia sedang duduk sambil memegang botol air mineral pada tangan kanannya. Kemudian, aku menyapanya. Dia Hiroki.
"Kok kamu belum pulang?" tanyaku sambil berdiri di hadapannya.
"Habis ekskul." jawabnya singkat sambil mendongakkan kepalanya.
"Teman-temanmu kemana?" tanyaku lagi.
"Pulang."
"Ooh, yaudah aku duluan ya." kemudian, aku melangkahkan kakiku untuk pulang. Tapi baru beberapa langkah...
"Tunggu," suara Hiroki terdengar dari belakangku. Aku menghentikan langkahku dan melihat ke belakang.
"Pulang bareng yuk." ajaknya. Tanpa basa-basi lagi, aku mengangguk pelan.
Dan akhirnya, kami pulang bersama-sama. Aku hanya diam selama perjalanan. Setelah beberapa ratus meter berjalan, air turun dari langit. Awan mendung menghiasi langit sore itu. Kota menjadi sepi di saat-saat senja seperti ini.
"Hujan?" ucapku sambil melihat ke langit.
"Jangan hujan-hujanan, nanti sakit." ucap Hiroki. Aku mengerti maksudnya. Dia mengajakku untuk berteduh. Dia mengajakku berteduh di salah satu halte bis. Kemudian, dia memulai pembicaraan.
"Kamu pasti punya banyak teman." ucapnya sambil sedikit menatapku.
"Kok tau?"
"Kamu tidak pernah sendiri kan?"
"Hmm iya mungkin. Kamu mau jadi teman dekatku?" aku mengajaknya berteman dekat, supaya lebih akrab.
"Terserah,"
"Jadi mulai sekarang, kalau kamu ada masalah, kamu boleh cerita ke aku, jangan dipendam sendiri, siapa tau aku bisa bantu."
"Aku boleh nanya nggak?"
"Boleh. Mau nanya apa?"
"Kamu.. sudah punya pacar?"
Pertanyaan dari Hiroki barusan membuat perasaanku menjadi agak aneh. Aku hanya menjawab, "Belum, kenapa tanya begitu?"
"Nggak," jawabnya singkat.
Beberapa menit kemudian, hujan rintik-rintik sudah berhenti. Kami melanjutkan perjalanan pulang. Kami berpisah di persimpangan gang.
............................
Hati ini tanggal 14 Februari. Kalian tau kan, 14 Februari itu hari apa? Hari Valentine. Dan kebetulan juga, aku piket hari ini. Jadi, aku memutuskan untuk berangkat ke sekolah lebih awal. Saat di sekolah belum banyak murid yang datang.
Saat aku baru masuk ke kelas, aku melihat sebuah benda terbungkus rapi dengan kertas berwarna merah. Benda itu ada di atas meja tempat dudukku. Dan pada benda itu juga terdapat sebuah surat yang bertuliskan: "Dari H untuk Harumi. Semoga kamu menyukainya."
Belum sempat aku membaca keseluruhan isi surat itu, Kichiro sudah datang. Dia salah satu teman yang hari piketnya sama sepertiku.
"Harumi, dari tadi?" tanya Kichiro saat melihatku berada di dalam kelas.
"Aku barusan datang kok."
"Apa itu? Dari H untuk Harumi?" kata Kichiro setelah membaca sekilas surat yang kupegang. Kemudian, aku menyembunyikannya.
"Bukan apa-apa."
"Itu mungkin dari Hiroki. Di kelas ini kan yang berinisial H itu kamu dan Hiroki."
"Hiroki kan belum datang."
"Hiroki sudah datang, sekarang dia ada di kantin bersama Takayuki."
"Mungkin benar yang dia katakan. Apa itu yang dimaksud oleh Keiko waktu itu. Tapi, kenapa Hiroki tiba-tiba memberiku benda ini?" pikirku.
.....................
Beberapa bulan telah berlalu. Sekarang adalah hari kedua setelah kelulusan. Rencananya, aku akan melanjutkan sekolah ke luar negeri bersama kakakku. Dan beberapa bulan terakhir, aku menjadi semakin akrab dengan Hiroki. Kali ini, aku yang mengajaknya ke pantai yang berada tidak jauh dari tempat tinggalku.
Sore hari, sekitar jam lima sore, aku dan Hiroki pergi kesana. Di tempat itu, tidak ada siapapun. Rencananya, kami mau melihat pemandangan matahari terbenam. Kami duduk di atas sebatang kayu yang cukup besar.
"Jadi, kamu mau bilang apa?" tanya Hiroki.
"Hmm, perpisahan. Jadi, mungkin setelah ini, kita tidak akan bertemu untuk beberapa tahun."
"Kenapa?"
"Aku.. akan lanjut sekolah di luar negeri. Jadi-"
"Kenapa kamu baru mengatakan nya sekarang? Kapan kamu berangkat?" kata Hiroki memotong perkataan ku.
"Nanti malam, jam setengah tujuh. Aku masih punya beberapa waktu lagi."
"Tetaplah disini selama lima belas menit lagi ya." aku hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi perkataan Hiroki.
Tak terasa, waktu lima belas menit kami berjalan dengan cepat. Sekarang sudah waktunya aku berangkat ke bandara.
"Baiklah, kurasa sudah cukup. Sayonara." ucap ku, kemudian aku berbalik hendak meninggalkannya. Tetapi, Hiroki menarikku ke pelukannya. Rasanya.. kalian pasti tau yang kurasakan saat itu. Hangat dan nyaman.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Dan.. jangan lupakan aku ya." kata Hiroki sambil melepaskan pelukannya.
"Baiklah, aku tidak akan melupakanmu." kemudian, aku melambaikan tanganku, kemudian berlari meninggalkannya.
"Sayonara, Harumi. Semoga kau selalu sehat dan bahagia." ucap Hiroki terdengar sangat pelan, sehingga hampir tidak terdengar olehku.
~Tamat~