Kesal! Tiap kali pulang ke rumah kenapa sih yang di ceritain Ita lagi-Ita lagi. Siapa yang enggak kesel ya yang cerita ini kan suami sendiri. Ita ini, Ita begitu, Ita baik, Ita perhatian, huuuh...!!
Seperti hari ini, Pulang-pulang ganti baju, makan terus langsung tiduran. Peluk-peluk cium-cium eeh ujungnya ngomongin Ita mulu. Enggak peka banget ya jadi suami?
" Sayang, tolong ambilin handuk ya? Aku mau mandi nih!" titah mas Bram saat aku sedang duduk sambil menyuapi anakku yang bungsu. Anakku kebetulan ada dua. Yang pertama berusia sepuluh tahun, yang kedua umur tiga tahun.
" Ambil saja sendiri, mas. Aku lagi sibuk nyuapi adek makan." sahutku.
" Kamu tuh ya, di suruh suami ambilin handuk saja malas. Lihat tuh Ita, asisten mas. Dia enggak di suruh pun langsung inisiatif sendiri. Jadi berasa aku punya isteri dua." jawabnya selalu ngelantur dan menjurus ke Ita.
Mendengar suamiku berkata demikian, aku beranjak dari tempat dudukku. Kemudian mengambil handuk untuknya, menyiapkan sabun, sampo, dan odolnya. Tak lupa juga sikat giginya. Karena kalau cuma odolnya doang tanpa sikat gigi, dia pakai apa untuk membersihkan giginya, hahaha.
" Nih, gitu saja kok sampai ngomong ngelantur. Pakai nyamain sama si Ita. Ita itu siapa kamu mas? Isteri bukan, sodara bukan tapi, kamu malah membanding-bandingkannya sama aku?!" kataku sambil menyuapi anakku.
" Asisten aku," jawabnya ngeloyor pergi.
Ku tekuk wajahku, ada setitik airmata jatuh saat dia bilang 'Asisten' . Kalau memang dia asisten, kenapa dia malah mengagul-agulkan Ita terus?
Pernah aku saking keselnya, aku diemin tuh orang. Sampai-sampai makan pun aku suruh masak dan makan sendiri. Kalau sudah marah dan kesel, aku jadi malas untuk melayaninya. Meski aku tahu, aku ini isterinya, bisa jadi dosa besar. Namun, hati ini rasanya sakit saat suami tiap detik tiap menit yang di bicarakan hanya Ita.
Namaku Vani, aku isteri dari mas Bram. Bramantyo tepatnya. Ia sebenarnya suami yang engga pernah membandingkan isteri dengan wanita lain. baginya, wanita yang ada di hatinya cuma aku, tapi setelah dia bekerja dengan temannya, dan mendapatkan asisten wanita bernama Ita Purlara hati, rasanya dia agak berubah.
" Mas, kok aku enggak pernah lihat kamu merokok ya? Tumben nih?" sindirku, saat kedapatan ia tidak merokok.
" Iya nih sudah sebulan engga merokok. Kata Ita itu engga bagus buat kesehatan, 'yang. Jadi aku berhentiin aja. Lumayan juga ya kan, uang gajian aku kalau engga merokok, bisa hemat?" jawabnya, senyum-senyum gimana gitu. Aku yang lihatnya dan mendengarnya langsung muak, sumpah muak.
Kenapa aku muak? Karena selama aku menikah dengannya tiga belas tahun lamanya, aku menyuruh dia untuk stop merokok, dia bilang engga bisa. Sudah mendarah daging, pokoknya alasannya banyak banget. Bikin aku rada gedeg juga, malas jadinya nyuruh dia stop rokok.
Tapi, pas Ita nyuruh stop merokok, dia bisa berhenti gitu saja. Tanpa harus bisa beradu argumentasi terlebih dahulu. Aku muak dengannya.
🍁🍁🍁
Pagi itu, saat hendak melaksanakan salat ied. Aku melihatnya memakai jaket hitam. Yang aku juga belum pernah melihatnya. Aku penasaran juga dan bertanya.
" Mas, itu jaket siapa? Aku belum pernah lihat loh. Kamu beli baru ya?" tanyaku penuh selidik.
Eeh, dia jawab seenaknya saja, " Ini jaket yang beli Ita loh, ' Yang. Bagus kan? Enak loh jaketnya anget jadi udara dingin engga bisa masuk. Berasa di peluk sama Ita, eh kamu ' Yang." tuturnya terkekeh-kekeh. Aku langsung ilfeel dengar omongannya. Apa-apa Ita, mau ngapain Ita. Lagi tidur juga nama Ita di sebut.
Pernah aku ngobrol dari hati ke hati, apa maksud dia selalu membicarakan asisten pribadinya itu. Apakah karena suka atau gimana. Dia jawab, Ita itu asisten. Oke, aku iyakan saja lah ya, daripada harus mendebat dia.
Sore itu dia pulang dengan wajah sumringah. Besok adalah ultahku yang ke tiga puluh lima tahun. Dia membawakan kado untukku. Aku seneng dong, secara dia engga pernah ngasih kado selama tiga belas tahun menikah, cuma aku yang memberinya kado untuk ultahnya. Namun, kali ini beda. Aku buka kadonya, isinya tas bermerk terkenal. Uuh makin cinta aku sama dia. Aku cium dia, aku peluk dia. Aku ucapkan terima kasih padanya.
" Mas makasih ya, udah ngasih kado ultah buat aku." ucapku sambil memeluknya.
Dia tersenyum dan berkata, " Iya, Ita bilang sebagai suami haruslah ngasih kado ultah ke isteri biar makin di sayang isteri."
Aku terkejut, menatap raut wajah tak bersalahnya, kemudian aku banting tasnya dan berkata, " Mas, nikah gih sama Ita! Aku udah cape nih denger kamu ngomong Ita mulu! Maaf mas, aku pergi dulu! Urus tuh si Ita kalau perlu nikahin Ita!"
Aku bangun dari tempat tidur, langsung membereskan baju-bajuku dan baju-baju anakku, kemudian pergi tanpa merasa kasihan padanya. Pergi ke rumah orangtuaku, biar tahu rasa dia kalau aku pergi.
Dia memohon-mohon padaku agar tidak pergi dan dia berbicara tentang Ita karena pengen melihat aku cemburu atau tidak. Engga segitunya juga kan pengen lihat istrinya cemburu, tapi di banding-bandingin sama yang lain.
Namun, aku sudah tidak perduli lagi pada suaranya yang memohon untuk tetap tinggal bersamanya.
" Sorry mas, aku memang cemburu, tapi sorry aku sudah muak. Maaf anak-anak aku bawa. Hiduplah bersama Ita, selamanya!"
Aku pergi membawa anak-anak. Enak saja pengen bikin aku cemburu. Ya aku cemburu, tapi untuk kali ini aku katakan I'am sorry good bye.
Tamat
🍁🍁🍁