Tepi senja adalah waktu di mana kedua insan dipertemukan. Aku tak pernah
menyangka akan secepat itu. Di bawah senja aku dapat melihat wajahmu bersinar.
Di bawah langit aku dapat melihat betapa tulusnya cintamu padamu. Di batas tepi
senja aku berdiri, bertatapan denganmu. Di batas senja pula kita dipertemukan
dalam keadaan yang sama.
Banyak rasa dari sekian rasa yang tak pernah kau pahami dan rasakan.
Adakalanya hati akan tetap menjadi hati yang tak pernah menjadi jantung
sekalipun. Bersama malam yang tak akan pernah menjadi pagiku. Bersama hatiku
nantikan sejatinya hati yang akan tetap menjadi hati. Andai nafas ini akan tetap
menjadi nafasmu. Andara bahkan tak akan mengetahui ini akan terjadi padanya.
***
Di tepi batas senja kita di pertemukan. Dipertemukan oleh hari yang tak
sengaja hadir. Dara, Fina, Tisya adalah jawaban dari kesemua pertanyaan yang
akan hadir. Pertanyaan yang hadir adalah kenapa mereka harus terpisah oleh
sebab yang tak biasa. Mereka sudah terbiasa dengan hari yang hadir di hadapan
mereka. Mereka sudah terbiasa melakukan segala hal bersama. Dara, Tisya, dan
Fina adalah jawaban dari semua pertanyaan.
Ada rasa yang berbeda tiba-tiba hadir memeluk ketiganya. Rasa yang dapat
mengubah takdir mereka. Dara lah yang mengubah semua cerita ini. Daralah
penyebabnya. Tidak ada yang salah dari semuanya. Hanya kehancuran dan
keadaanlah yang membuat semua bahagia menjadi kelabu.
Ketiga sahabat itu dipertemukan sang waktu dan keadaan. Keadaan di mana
mereka tak dapat menampik Ya sekali lagi keadaan yang membuat pertemuan
indah itu terjadi.
“Dara, di manakah engkau saat ini, adakah hatimu merasakan rasa rindu
yang aku dan Fira rasakan?” tanya Tisya sambil memeluk foto sahabatnya.
“Dara, tak tahukah engkau betapa dua sahabatmu ingin memelukmu?” tanya
Fina dalam hati.
“Dara tak ingatkah kau, pada batas senja yang pernah kita lihat di tepian
danau”
“Sudahlah, jangan kalian risaukan semua ini, ikhlaskan dan pasrahkan saja
kepada sang Pencipta, doakan saja semoga dara baik-baik saja” kata mama Fina
“Kak, jangan-jangan kak dara menghilang karena foto itu?” kata adik Tisya.
“Maksudmu legenda tiga dunia itu, tidak mungkin dek, it’s impossible
dek?” kata Tisya.
Aku seolah tak percaya dengan cerita itu. Mana mungkin legenda tak masuk
akal itu memisahkan persahabatan kita.
Persahabatan yang telah kita jalin selama ini putus tanpa sebab hanya karena
cerita tak masuk akal. Seperti apa dia saat ini? Apakah seharusnya aku
melepaskan ikatan ini? Apakah harus ku melupakan semua kenangan manis di
antara kita? Tidakkah berharga kenangan kita saat itu? Kita memang tidak
memiliki ikatan darah, namun kita ibarathati, jantung dan empedu yang tak akan
terpisah selamanya. Kita tak perlu ikatan darah untuk memahami perasaan, karena
sejatinya hati, jiwa dan rasa kami telah terpaut. Bahkan satu jeda dalam kehidupan
kami tak berarti apa-apa.
Tiba-tiba ada ketakutan-ketakutan yang tak masuk akal hadir dalam
kehidupanku. Ketakutan yang membuatku merasa bahwa semua tak masuk akal.
Adakalanya aku merasa semua tak harus begini. Pada akhirnya ketakutan itu
membuat diriku menjadi hilang rasa. Semua terasa hambar rasanya. Kenangan
manis terhapus begitu saja oleh legenda tida dunia dan semuanya berawal dari
kisah kasih yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Tiga dunia adalah jurang pemisah ikatan antara ketiga seorang sahabat. Tiga
dunia adalah jurang pembatas ikatan antara aku, kamu dan dia. Tiga dunia
berawal dari kisah ini dan kisah ini pun dimulai. Awal dari sebuah makna angka
tiga. Angka tiga merupakan angka sial bagiku. Rasanya kepalaku pusing ketika
aku melihat angka tiga. Perut mual, berasa ingin muntah melihat angka tiga.
Bukannya aku tak suka angka tiga, namun rasanya anggapan orang lebih penting
bagiku. Anggapan penting tentang dibalik makna angka tiga.
Semua hal yang berawal dengan angka tiga akan terputus, baik itu
persahabatan ataupun pertemanan. Bahkan ketika ketiga sahabat ingin
mengabadikan wajah mereka melalui sebuah tustel, hal itu tidak akan terjadi.
Tiba-tiba datanglah seorang kakek tua.
“Ingatlah jangan sekali-kali foto bertiga, karena akan ada satu dari kalian
yang menghilang dari muka bumi ini!” kata seorang kakek tua.
Keesokan harinya aku berpikir, nampaknya yang kakek katakan ada
benarnya. Memang tidak masuk akal, bila dipikirkan, namun tak ada salahnya aku
menanyakan pada kakek itu. Apakah ada jalan keluar dari masalah ini. Otakku
berputar, bersamamu aku mencarinya. Dia, daralah yang kami cari
keberadaannya. Ku tahu tak akan semudah membalikkan tangan ketika kami
mencari keberadaannya, namun ku tetap yakin pasti dapat menemukan Dara.
Tak mudah memang tuk mencari kakek tua dan tiba-tiba tak kusangka
beliau lewat tepat di depan mata kami. Di saat itu kami sedang berhenti di sebuah
halte bis tua, tepat di jalan bunga sakura. Gurat wajah kakek yang teduh tiba-tiba
berubah menjadi berkerut tatkala kami mencoba menanyakan maksud kalimat
kakek kemarin. Kakek bilang ada satu hal yang bisa menyelamatkan keberadaan
Dara.
“Bila kalian ingin Dara diketemukan, maka kalian harus menemukan bunga
mawar yang telah dibuang oleh Dara” kata sang kakek.
Ku ingat waktu itu kakek pernah memberikan Dara setangkai mawar merah
untuk hadiah ulang tahunnya, namun Dara membuangnya hanya karena Dara tak
suka akan mawar merah. Setelah itu kami berpisah masing-masing, Dara dengan
usaha kuenya, Tisya dengan pekerjaannya di sebuah bank swasta, dan aku dengan
kuliahku. Pikirku tak kan jadi masalah, karena kita akan sering bertemu setiap
minggu. Kita bertiga berjanji untuk tidak akan melepas ikatan sahabat ini.
Janji hanya sekedar janji. Dan dia pun mengkhianati semua janji yang telah
kita ucapkan. Bukan seperti dia sepertinya. Ketika aku dan kamu mencoba
mencarinya, yang ku dapati hanyalah jalan buntu belaka. Ku coba untuk
mempersatukan ikatan ini, hanya jalan buntulah yang ku dapatkan. Ku coba untuk
mencarimu melalui nomor telepon genggam, namun yang ku dapati hanya nihil
belaka. Firasatku bertambah tidak baik adanya.
Tak kusangka aku dapat bertemu denganmu secepat itu. Nampaknya engkau
baik-baik saja saat itu. Tubuhmu nampak terlihat lebih berisi dengan wajah yang
bersinar. Sejuk rasanya ketika memandang wajahmu saat itu. Ku bertanya apakah
hal yang membuatmu begini? Kemudian kau hanya menjawabku dengan senyuman terindah itu. Atau engkau telah membenciku?, tanyaku padamu. Lalu
kau hanya menggelengkan kepalamu dan tiba-tiba ku terbangun. Tak ku sangka
itu hanya sebuah mimpi belaka, dan ku bertanya dalam hati. Mungkinkah ini
sebuah firasat ataukah hanya bunga tidur semata? Ah entahlah dan sampai saat ini
ku masih memikirkannya.
“Mawar itu, harus kutemukan”, kataku. Ketika aku terbangun aku langsung
menelpon Tisya dan jawabannya adalah dia tak percaya akan hal itu.
Ketika hari berganti hari tak kudapatkan mawar dan jawabannya. Hari kita
mungkin telah berubah, namun tetap ku yakini pada Tuhan bahwa perasaan kita
tak akan berubah. Rasa sebagai sahabat sejati tak akan berubah ketika kamu pergi
meninggalkanku. Aku tetap percaya bahwa suatu saat nanti kita akan
dipertemukan. Hari demi hari tetap ku jalani, ku tahu hati dan perasaan ini tetap
sama, bahkan aku tetap memikirkanmu. Adakah kamu tahu perasaan apa yang ku
rasakan setelah dirimu pergi menghilang tanpa kabar?
Bagaimana dengan mawar? Mawar tetaplah akan jadi mawar. Mawarnya
telah ku ketemukan. Bagaimana ku menemukannya? Aku telah mencari di semua
pekarangan dekat dengan rumah Dara, sesuai petunjuk kakek. Tisya tak ikut
mencarinya karena dia tak akan percaya dengan hal tak masuk akal itu. Sesuai
petunjuk kakek, bahwa mawar itu ada dekat dengan kalian. Tak jauh dari rumah
Dara. Mawar itu akan terlihat berbeda ketika kalian menyentuhnya dengan tulus.
Dara menyebut namaku dan namanya. Dia menyebut batas tepi senja. Iya itu
merupakan tempat pertemuan pertama kita bertiga, dan aku pun langsung
berangkat menuju tempat itu. Ku lihat Dara di batas tepi senja. Akhirnya, kami
beriga dapat berkumpul, namun tak ku sangka jika pertemuan itu merupakan
pertemuan terakhir kita. Iya, hal itu merupakan pertemuan terakhir kita. Demikian
dia mengatakannya padaku dan padamu. Dirinya bilang bahwa ada suatu saat, kita
akan dipertemukan selamanya dan dirinya berjanji untuk selamanya. Tiba-tiba
senja telah mencapai batasnya dan dia bilang kalau dirinya harus pergi mengikuti
senja yang hilang secara perlahan.
Batas tepi senja tetaplah jadi waktu terindahku bersamamu dan bersamanya.
Waktu terakhir di mana kita dipertemukan oleh hari dan keadaan yang salah.
Waktu terakhir di mana kau harus meninggalkanku, walaupun kita harus terpisah oleh legenda tak masuk akal itu. Hanya aku, kamu dan dia yang akan tetap
bersama. Kita tak akan terpisah bahkan oleh sebuah legenda.
“Jangan sekali-kali foto bertiga, karena akan ada satu dari kalian yang
menghilang dari muka bumi ini!” kata seorang kakek tua.
Aku masih terngiang-ngiang akan hal itu. Akankah legenda itu benar
adanya. Akankah hal ini terjadi karena legenda itu. Di mana masuk akalnya ketika
tiga hati dipersatukan oleh takdir dan tiba-tiba dipisahkan oleh takdir pula. Di
batas senja kenangan kita terukir indah, di batas senja pula kita berjalan menapaki
tangga persahabatan, walaupun kehadiranmu tak kurasakan secara nyata.
Akhirnya, aku tetap yakin bahwa cinta dan kasih yang tulus akan mampu
mempersatukan tali persahabatan yang putus.
Aku berterimakasih pada senja, karena telah mempertemukan kita di dalam
situasi yang apik. Terimakasih matahari, karenamu senja tak akan pernah ada.
Terimakasih batas tepi senja, karenamu aku telah mengenal Dara dan Tisya. Tak
akan pernah ku lupakan pertemuan indah ku ini. Ku berharap suatu saat nanti kita
bertiga akan dipertemukan kembali dalam dimensi waktu yang berbeda.