Alarm berbunyi keras dari ponselku, yang dengan sengaja aku pasang agar aku terjaga tepat waktu. Hal ini telah aku lakukan sebulan lamanya, mengingat, sejak kedua orang tua dan seisi rumahku tak lagi peduli padaku. Mereka melakukan semua itu padaku, bukan tanpa sebab. Sejak menolak perintah papa untuk meneruskan bisnisnya, aku tak lagi mereka anggap keluarga.
Aku segera bangun, dengan kondisi belum sepenuhnya tersadar, aku melangkah menuju kamar mandi, aku mulai mengguyur tubuhku dengan air hingga rasa kantukku berangsur-angsur menghilang.
Usai mandi dan berkemas, aku segera berangkat kerja. Tidak ada sarapan atau apa pun di meja makan, hal ini seharusnya juga sudah terbiasa bagiku, namun entah mengapa, aku masih saja berharap, hari ini lebih baik dari kemarin.
Aku meneguk segelas air putih hangat, ini bisa menunda rasa lapar ku untuk sesaat. Kemudian aku segera berangkat kerja.
Aku berjalan kaki menuju halte bus, dari sana aku akan segera berangkat ke galeri. Aku tidak mungkin naik taksi lagi hari ini, mengingat lukisanku belum ada satu pun yang terjual, tabunganku sedikit demi sedikit mulai habis.
Namun ada yang berbeda hari ini, jika biasanya orang seusia atau lebih tua dariku yang menunggu bus, akan tetapi hari ini ada seorang siswi Sekolah Dasar yang berdiri di ujung. Aku memutar pandanganku, barangkali ia bersama ibu atau ayahnya, namun tidak ada, ia benar-benar seorang diri.
Aku melangkah mendekatinya, ia tampak menundukkan kepalanya padaku. Aku usap kepalanya sembari bertanya, “Adek sendirian?” tanyaku, ia hanya membalas dengan anggukan.
Aku tidak puas dengan jawabannya, aku masih penasaran. Untuk kawasan kota seperti ini, sangat dikhawatirkan anak-anak berkeliaran tanpa bimbingan orang tua, mengingat cukup sering terjadi penjualan manusia akhir-akhir ini.
“Adek sekolah di mana?” tanyaku lagi.
“Di Sekolah Suka Damai,” jawabnya dengan suara yang sangat kecil, aku hampir tidak bisa mendengar karena suara kendaraan yang berlalu lalang.
Tak sempat bicara panjang lebar, bus yang kita tunggu-tunggu pun datang. Gadis itu berlari kecil menaiki bus itu. Bus pun segera berangkat, dan benar saja, tak lama sekolah yang disebutkan anak kecil itu tiba, ia segera turun di sana. Aku mendengar beberapa orang di sana mengatakan iba padanya, bagaimana bisa orang tuanya membiarkan ia berangkat seorang diri. Aku hanya terdiam, karena komentar mereka telah mewakili keresahan dariku.
•••
Keesokan harinya, aku kembali menemukan anak kecil itu di ujung jalan. Hari ini ia berdiri lebih jauh dari kemarin, aku semakin bingung. Aku mendekatinya, ia menundukkan kepalanya, semakin aku mendekat ia menunduk semakin dalam.
Aku berdiri di dekatnya, hari ini aku tidak bertanya apa-apa, aku tidak ingin membuatnya takut, aku hanya ingin menjadi temannya agar ia tak sendiri. Tak lama bus pun tiba.
Hari ini tidak ada lagi yang peduli padanya seperti kemarin, tidak ada yang berkomentar apa pun. Gadis kecil itu berdiri di depanku. Sekali-kali ia mencuri pandang padaku, namun saat aku menatapnya balik, ia buru-buru membuang pandangannya.
•••
Tanpa terasa, seminggu sudah berlalu. Dan kegiatanku masih saja seperti ini, setiap hari aku berangkat pagi dan pulang malam. Setahun sudah aku menggeluti dunia seni, namun tidak ada perubahan apa pun dalam hidupku. Terkadang aku ingin menyerah, namun jiwaku menolak untuk melakukan itu.
Hari semakin gelap, perutku sudah sangat lapar. Aku meraih dompet dari saku celanaku. Uangku tersisa 50.000 ribu saja. Aku menarik nafas panjang, kemudian segera merapikan alat lukis dan bersiap-siap untuk pulang.
Aku mengunci pintu ruangan segi empat yang luasnya hanya 3x6 itu, sebelum pergi. Ini satu-satunya milikku, aku membangunkannya dari uang hasil tabunganku selama kuliah, aku menyisakan uang saku setiap hari yang diberi papa.
Aku melangkah gontai dengan perut kosong, tiba di ujung jalan aku membeli satu botol minuman dan dua butir telur, untuk makan malam dan sarapan pagi besok.
••••
Seminggu berikutnya.
Usai sarapan dengan dua lembar roti dan telur dadar. Aku segera berangkat kerja. Hari ini tampak sepi di halte, entah mengapa aku pun tak tahu. Aku mencari-cari gadis kecil yang biasanya berdiri di ujung jalan, hari ini ia tidak tampak di sana. Namun tak lama, ia tiba dengan berlari kecil dari arah barat.
Aku mendekatinya. “Dek, kenapa terlambat?” tanyaku. Nafasnya terengah-engah karena lelah berlarian. Ia tidak menjawab pertanyaan dariku, aku melihatnya dari atas sampai bawah, hari ini ia tampak lusuh dan kotor. Aku merapikan pakaiannya, namun ia menolaknya.
“Tidak apa-apa, Bang,” ujarnya.
Baru kali ini aku mendengar suaranya dengan jelas. Sudah cukup lama aku berinteraksi dengannya, namun ia tampak menghindar dariku.
Tak lama pun bus tiba, kita berdua segera naik. Hari ini ia mulai berani menatapku balik, ia juga menampakkan gigi gingsulnya padaku. Aku tersenyum lebar, akhirnya aku berhasil menjinakkannya setelah cukup lama ia tak membuka diri.
“Mas, silakan, dibaca-baca aja dulu, siapa tau berminat,” ujar seorang pria muda, ia memberi selembar kertas padaku.
Pameran dan lomba lukisan, itu kata paling atas yang ditangkap oleh indera penglihatanku.
“Jika berminat, silakan daftarkan diri ke kantor kami, Mas,” ujar pria muda itu lagi.
Aku bingung, bagaimana dia tahu aku seorang pelukis. Ah, sudahlah, Aku tersenyum padanya, dalam hati aku sangat yakin, kali ini adalah kesempatanku. Aku melipat brosur itu dan tersenyum penuh harapan.
Bus berhenti di depan sekolah anak gadis itu, sebelum turun ia melemparkan senyumannya padaku sembari berkata, “Abang semangat!”
Aku masih tak percaya, rupanya ia mendengar pembicaraan aku dan pria muda itu. Aku melambaikan tangan padanya, dan bus kembali berangkat.
•••
Keesokan harinya.
Dengan penuh keyakinan, hari ini aku berangkat menuju kantor pusat pagelaran seni itu. Aku membawa lukisan yang paling bagus untuk aku pertunjukan pada mereka. Tiba di sana, setelah mengisi formulir dan segala macam, aku dipersilahkan masuk oleh panitia. Dengan penuh percaya diri aku memantapkan diri masuk.
Setelah sepuluh menit kemudian. Aku keluar dari ruangan yang dipenuhi lukisan-lukisan orang terkenal itu, aku merasa sangat malu, aku bukan siapa-siapa hari ini. Karya yang aku pikir terbaik, merupakan karya terburuk yang pernah mereka lihat. Aku sangat malu pada diriku sendiri, aku lulusan seni, namun mereka mengatakan, aku pendaftar paling jelek yang pernah mereka lihat. Banyak pelukis yang tanpa sekolah namun mereka bisa menghasilkan lukisan yang jauh lebih baik dariku.
Aku melangkah dengan kaki yang terasa sangat berat. Aku keluar dari sana dengan lukisan yang mereka tolak di tanganku. Aku tak bersemangat, aku hilang kepercayaan diri. Ini untuk yang ke sekian kalinya dalam setahun aku berkali-kali di tolak oleh pagelaran seni. Namun hari ini merupakan hari terberat bagiku, belum pernah aku menerima kritikan seperti ini. Aku memutuskan pulang saja ke rumah, percuma saja aku ke galeri hari ini, pikirku.
••
Keesokan harinya, aku kembali bekerja. Dengan wajah lesu dan tak bersemangat, aku duduk di halte menunggu bus lewat. Hari ini sepi, jika orang-orang memilih berlibur di hari Minggu, akan tetapi itu tidak berlaku untukku.
"Abang tidak libur hari ini?” tanya seseorang padaku. Suara itu tidak asing di telingaku. Aku menoleh pada sumber suara.
“Adek, mau ke mana?” tanyaku sembari menyunggingkan senyuman.
Gadis kecil yang biasanya berseragam lusuh hari ini tampak berbeda, ia memakai pakaian compang-camping dengan karung dan sebuah tongkat kayu di tangannya.
Tanpa menjawab, ia hanya terus tersenyum padaku seperti tanpa beban. Hari ini aku tahu apa pekerjaannya, lalu ke mana orang tuanya? Aku bertanya-tanya dalam hati.
“Ayo ikut Maria, Bang. Maria ajak Abang ke tempat favorit Maria,” ucapnya sembari menunjuk ke sebuah tempat. Aku tersenyum mendengar gaya bicaranya yang menyebutkan namanya sendiri. Ah, namanya Maria.
Aku mempertimbangkan ajakannya, kebetulan hari ini aku tidak bersemangat, jika tiba di galeri pun, aku tidak akan melakukan apa-apa selain duduk berdiam diri dan merenungi nasib.
Aku mengikutinya menuju tempat yang ia maksud, kita berdua berjalan kaki menyusuri gang sempit perumahan warga. Semakin jauh kita melangkah aku semakin mencium bau tidak sedap, namun aku enggan bertanya padanya yang sedang asyik bersenandung riang. Semakin jauh, aku semakin tidak tahan dengan bau itu.
“Tadaaa, kita sampai,” ucapnya dengan nada seperti bernyanyi.
Aku kaget sekaligus jijik, tempat yang ia maksud adalah tempat pembuangan sampah terbesar di kotaku. Aku hampir saja muntah, namun melihat tingkahnya yang sangat periang, rasa itu menghilang. Ia mulai menaiki gundukan sampah itu dan mengais-ngais satu persatu sampah, barangkali ada barang yang bisa ia ambil untuk ia jual nanti.
“Setiap hari Minggu Adek kemari?” tanyaku.
“Tidak,” sahutnya singkat.
Aku membantunya mencari barang-barang apa saja yang bisa ia bawa nanti. Aku mengambil ranting kering kemudian mulai mengais.
“Aku datang hanya saat sedih saja,” ujarnya sambil tersenyum.
Aku terdiam. Dia berkata hanya datang ketika sedih, tapi wajahnya menyunggingkan senyuman yang begitu tulus, bagaimana bisa itu terjadi?
Pikiranku masih saja terngiang-ngiang dengan kata-katanya, bahkan saat tiba di rumah aku masih tidak bisa lepas darinya. Bagaimana bisa seorang anak kecil mempunyai pikiran dan sikap seperti itu. Apa kabar denganku? Aku merasa malu padanya.
••
Keesokan harinya, aku menunggu bus di halte. Sudah sepuluh menit aku di sana namun gadis kecil yang aku tunggu belum juga tiba, sudah dua bus lewat namun aku lebih memilih tidak naik. Aku khawatir padanya, apa dia sakit? Aku bahkan tidak tahu rumahnya. Aku bingung, kenapa aku sangat khawatir pada gadis itu.
Setelah seharian dipenuhi perasaan cemas, akhirnya siang pun berganti malam. Aku memutuskan pulang dan segera tidur, aku berharap besok gadis kecil itu akan hadir di halte.
Dan benar saja, keesokan harinya aku tiba di halte, gadis kecil itu berdiri di ujung jalan. Aku tersenyum sembari mendekat padanya, namun ia menunduk sangat dalam.
Sebelum memulai obrolan, aku sangat terkejut melihat tubuhnya penuh dengan lebam dan biru-biru.
“Siapa yang melakukan ini?” tanyaku bersuara keras.
“Abang,” sahutnya dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Aku baru sadar semua mata melihat ke arah kita berdua.
Hari ini aku memutuskan membawanya ke galeri. Aku tidak sampai hati ia bersekolah dalam keadaan seperti itu. Tiba di sana aku mengompres lebam di badannya dengan air es.
Dia tidak berhenti berkedip melihat semua lukisan yang ada di ruangan sempit itu. Aku mulai merasakan, ada sesuatu pada gadis kecil ini, aku merasa Tuhan sengaja mengirimkannya untuk mengubah hidupku.
“Siapa yang melakukannya?” Aku mengulangi perkataan yang sama.
“Ibu dan Ayahku,” sahutnya.
“Bagaimana mungkin?” tanyaku, tak percaya.
“Mereka melarangku sekolah,” jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi kenapa, bukan seharusnya mereka bangga padamu?” tanyaku lagi belum usai dengan pikiran-pikiranku yang tak aku mengerti.
Gadis kecil itu mulai bercerita satu persatu padaku. Rasanya aku tak percaya mendengar semua ucapan-ucapannya. Kedua orang tuanya masih utuh, bahkan sebelumnya aku berpikir ia yatim piatu. Keduanya melarangnya bersekolah karena merasa pemulung tidak layak sekolah. Memiliki uang untuk makan sehari-hari lebih pantas untuk mereka.
Bajunya yang lusuh kemarin, itu karena diinjak-injak oleh ayahnya, dan lebam-lebam di tubuhnya hari ini disebabkan oleh pukulan dan cubitan dari ibunya. Bahkan semua buku-buku pelajarannya telah dibakar.
“Kemarin ibu menemukan seragam yang telah lama aku sembunyikan,” ujarnya lagi dengan air mata yang mulai tumpah.
Bahkan ia menyembunyikan pada mereka bahwa ia bersekolah. Aku begitu tersentuh dengan ceritanya, anak kecil ini sangat berminat untuk sekolah, sepertinya ia juga pintar, namun kedua orang tua yang mempunyai pikiran yang kolot dan tak beralasan menghambat mimpinya.
Kisahnya tak jauh beda denganku, itu yang membuat air mataku tidak bisa tertahan. Kita memiliki nasib yang sama, namun berbeda dengannya, aku sudah dewasa, sementara ia belum seharusnya menerima perlakuan seperti itu. Aku mengusap pipinya.
“Aku akan membuktikan bahwa aku bisa, Bang. Pemulung juga berhak mendapatkan ijazah dan bersekolah tinggi,” ucapnya penuh percaya diri, ia menyeka air mata dengan punggung tangannya.
Aku tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut anak usia 9 tahun. Aku malu padanya, aku hampir saja menyerah karena lelah berjuang namun belum membuahkan hasil. Maria benar, aku harus berjuang dan menunjukkan pada orang tuaku, aku bisa sukses tanpa iming-iming harta mereka. Inilah aku dan mimpiku, aku harus bisa menunjukkan pada mereka, aku bisa.
Malam harinya, aku tidak bisa tidur. Aku masih merekam obrolan aku dan Maria di ingatanku.
“Bahkan jika Ayah dan Ibu membunuhku, aku masih tetap akan bersekolah,” ucap Maria dengan mata berbinar.
Kata-kata itu seperti alkohol yang memabukkan bagiku. Aku tidak sabar menunggu hari esok, aku dan Maria akan kembali ke tempat pembuangan sampah, aku juga yakin, itu akan menjadi tempat favorit kita berdua. Aku tersenyum kecil kemudian menarik selimut dan memejamkan mataku.
Keesokan harinya kita berdua berangkat, aku membawa semua peralatan lukis dan Maria membawa karung dan tongkat ajaibnya. Kita berdua bersenandung kecil melewati gang-gang sempit.
“Aku sudah cantik belum, Bang?” tanya Maria yang membuat aku tertawa lepas.
Ia duduk menghadap padaku dengan senyum menghiasi wajahnya. Aku sedang melukisnya dengan penuh semangat, namun ia berkali-kali menggodaku.
Setelah satu jam, akhirnya aku menyelesaikan lukisanku. Maria berlari padaku, tampaknya ia sudah sangat bosan, sejak tadi ia berdiam diri menunggu aku selesai.
“Wow,” ucap Maria satu kata.
Aku tersenyum manis, rasanya ini lukisan terikhlas yang pernah aku buat. Aku benar-benar merasa jiwaku ada di sana dan benar-benar menyaksikan bagaimana perjalanan hidup Maria yang penuh lika-liku. Namun ia tidak pernah patah semangat.
Lukisan gadis kecil dengan karung dan tongkat di tangannya, duduk di atas gundukan sampah, akan tetapi senyuman menghiasi wajahnya. Aku ingin, siapa saja nanti yang akan melihat lukisan ini, bisa memahami maksud yang tersirat di dalamnya, kenapa ia masih tersenyum dengan kondisi hidupnya yang memprihatinkan.
“Bang ayo daftarkan lagi, pasti kali ini mereka gak akan nolak,” pinta Maria dengan menggoyangkan lenganku.
Aku melihat tanggal di ponselku. Hari ini hari terakhir pendaftaran, kantor tutup jam lima sore, sekarang waktu menunjukkan pukul setengah lima. Jarak ke tempat tujuan membutuhkan waktu satu jam. Bagaimana mungkin aku bisa tiba di sana?
“Ah, sudahlah Maria, belum rejeki Abang,” jawabku tersenyum kecut.
“Ayolah, Bang. Sekali lagi saja, ayo?” pinta Maria merengek padaku.
“Tapi Abang gak akan sampai dia sana dalam waktu setengah jam,” sahutku, kecewa.
“Percaya pada Maria, kali ini kesempatan Abang. Ayo lari Bang,” jawab Maria lagi.
Tanpa pikir panjang lagi, aku meraih lukisan yang baru siap itu, kemudian memasukkannya ke dalam amplop coklat. Sebelum pergi, aku mengecup kening Maria.
“Abang lari!” teriak Maria.
Aku pun berlari kencang melewati gang-gang sempit menuju halte untuk segera pergi ke kantor pagelaran seni. Dalam perjalanan aku terus memanjatkan doa kepada Tuhan, aku berharap ini benar-benar hari keberuntunganku. Peluh membasahi keningku.
Tiba di sana, kantor sudah tutup. Aku menghela nafas dalam-dalam, entah kenapa, aku tidak merasa kecewa kali ini. Seperti kata Maria, kali ini saja, aku merasa telah berusaha keras, namun hasilnya bukan lagi tugasku. Aku berlutut di depan kantor itu dengan senyuman menghiasi wajahku.
“Kenapa terlambat, kantor dan pendaftaran sudah tutup,” ujar seorang pria mengagetkanku.
Aku mendongakkan kepala. Pria yang kemarin mengkritik diriku berdiri di depanku.
“Kamu,” ujarnya, sama halnya terkejut denganku.
Aku tersenyum dan mempersilahkannya pergi. Aku tidak ingin mengganggunya.
“Coba saya lihat,” pintanya yang membuatku sangat terkejut. Namun aku kembali bersikap biasa saja. Mungkin kali ini kritikannya akan lebih pedas, aku harus siap.
Pria itu cukup lama melihat lukisan itu tanpa berkomentar apa pun. Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu terdiam membisu.
“Besok acara mulai jam 10:00 pagi, datanglah tepat waktu,” ucapnya sembari memasukkan kembali lukisanku ke amplop coklat tua itu. Kemudian ia melangkah menuju mobilnya.
“Maksud Anda, Pak?” tanyaku masih tak mengerti.
“Saya menyukai lukisan ini,” sahutnya singkat.
Aku masih terpaku di sana. Apa semua ini nyata? Aku melompat kegirangan, hari ini benar-benar hari keberuntunganku.
••
Keesokan harinya, aku dan Maria berangkat menuju pagelaran seni. Aku mengajaknya untuk menyaksikan bersama-sama, lukisan indah itu juga tercipta karena dirinya.
Sejak acara dimulai, semua orang menyukai lukisan itu, pesan yang aku maksudkan juga tersampaikan dengan baik untuk semua yang melihatnya. Aku sangat bangga melihat semua orang mengapresiasikan karyaku. Benar kata Maria, kita harus bertekad untuk mencapai sesuatu dengan sempurna.
Acara ini juga diliput oleh media massa. Banyak kamera dan wartawan di sana, Maria tersenyum lebar ketika sekali-kali kamera tertuju pada kita.
Dan, akhirnya acara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sebentar lagi akan diumumkan siapa pemenang lomba dan siapa saja yang berhak masuk ke pameran seni.
Hari ini, semuanya menjadi saksi bagaimana bahagianya aku. Maria bertepuk tangan paling meriah untukku, ketika namaku disebut oleh pembawa acara. Hari ini, aku telah membuktikan pada dunia, terutama kepada kedua orang tuaku, aku bisa. Inilah mimpiku, aku menemukan jati diriku di dalam lukisan ini.
Seorang siswi berbaju lusuh telah membuat hidupku berubah. Terima kasih Tuhan, telah mengirimkannya untukku. Maria, tetaplah menjadi Mariaku sampai kau dewasa dan sukses nanti, aku akan menjadi orang pertama yang akan memberikan tepuk tangan paling meriah untukmu, seperti yang kau lakukan hari ini untukku.
“Yeay, Abang hebat!” teriak Maria keras usai aku berpidato di depan orang banyak dan juga media.
Usai berpidato, aku dan Maria menerima piala uang tunai yang cukup besar. Semua orang bertepuk tangan.
Aku memeluk erat Mariaku dengan air mata yang tak tertahankan.