Hanif, sosok wanita yang sangat cantik. Tidak hanya cantik dia juga baik dan tutur bahasanya sangat lembut. Saat ini dia masih duduk dibangku Sma kelas 3.
Karena sosoknya yang lembut dan cantik dia menjadi bunga desa, banyak sekali yang ingin menjadikan dia istri atau menantu dikeluarganya.
" Ndok... kalau sudah lulus nanti, mau kah kamu menikah dengan nak dimas?" kata bapaknya.
Perkataan bapaknya itu sungguh menyayat hatinya. Dalam hatinya dia belum ingin menikah, dia sangat ingin melanjutkan sekolahnya agar bisa mengangkat derajat orang tuanya.
" Bagaimana ndok?"
Hanif hanya diam, bahkan dia tidak berani mengangkat kepalanya melihat wajah bapaknya.
" Aku masih ingin sekolah lagi pak." kata Hanif lirih.
" Kamu itu gimana sih ndok, kamu tidak kasihan sama bapakmu yang sudah tua ini terus bekerja siang dan malam buat sekolah kamu. kalau kamu mau kuliah uang dari mana kita ndok." kata ibu Narti
" Sudah buk, sudah." kata bapak sugiyo
Hanif hanya diam, melihat sang bapak beranjak pergi meninggalkan ruangan makan sambil sesekali batuk terdengar darinya.
Dimas adalah anak tertua dari keluarga terkaya didesa Ringinangung, tempat Hanif dan keluarganya tinggal. Bapak Sugiyo adalah buruh tadi di kebun milih bapak Wisnu dan ningsih orang tua Dimas.
Dimas sangat menyukai Hanif dia sangat ingin menikahi Hanif bagaimanapun caranya. Dia sudah mendekati orang tua Hanif yang menjadi kelemahan Hanif.
Hanif tidak bisa tidur dia terus terbanyang perkataan bapaknya. Kalau dia menolak lamaran Dimas mungkin keluarga Dimas akan marah kepada keluarganya. apalagi bapak dan ibunya pasti akan mendapat imbas dari perbuatannya.
Beberapa hari berlalu, bapak Hanif tidak lagi membicarakan soal lamaran. Tapi terlihat jelas wajah khawatir ada di wajah bapaknya.Dan Hanif memberanikan diri bertanya kepada bapaknya.
" Pak... kalau Hanif menikah dengan mas Dimas, apakah bapak dan ibu akan senang?" tanya Hanif polos
" Tentu saja ndok... dengan menikah dengan nak Dimas derajat kamu dan kami akan terangkat." Celetus ibu Hanif yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.
" Sudah buk... begini lo ndok, sudah banyak pria yang melamar kamu, tapi selalu saja kamu tolak. Dan sekarang nak Dimas yang melamar kamu, kalau kamu tolak juga bagaimana kami menghadapi gunjingan para tetangga. Apa yang sebenarnya kamu cari to ndok." kata Bapak Hanif sambil duduk disamping putrinya itu.
" Aku tidak mencari apapun pak... kalau itu terbaik untuk Hanif, bapak dan ibuk baiklah, Hanif mau menikah dengan mas Dimas." kata Hanif pelan sambil menunduk menahan air matanya.
" Yang benar ndok... Kalau begitu aku langsung kerumah pak Wisnu ya. Bilang sama dia kalau kamu mau menikah dengan nak Dimas." Kata bapak Sugiyo yang terdengar bahagia.
Setelah mengabarkan kabar bahagia itu kepada keluarga pak Wisnu, pak Sugiyo pulang dengan wajah yang berseri-seri dia sangat bahagia karena anaknya akan menjadi menantu dari keluarga terhormat. Tidak uang yang dia pikirkan tapi kehidupan yang akan Hanif nikmati. Dia tidak ingin anak semata wayangnya itu hidup susah sepertinya. Itulah yang ada dipikiran pak Sugiyo selama ini.
Namun berbeda dengan pak Sugiyo, Hanif menahan kesedihannya, dia tersenyum tapi hatinya menangis. Bukannya dia tidak menerima Dimas sebagai pendampingnya. Dia seharusnya menikah dengan orang yang dia cintai. Tapi melihat bahagianya orang tua Hanif, dia mencoba untuk ikhlas menerima semua ini
Hari dan tanggal pernikahan sudah ditentukan bahkan sebelum Hanif lulus sekolah. Ya begitulah orang desa, selalu memilih tangan dan hari yang baik untuk sebuah pesta pernikahan. Kabar itu tersebar keseluruh desa bahkan teman-teman Hanif banyak juga yang mendengarnya. Sebagian dari mereka menyayangkan hal itu karena Hanif termasuk siswa yang pandai sayang sekali kalau dia harus buru-buru menikah.
Hari kelulusan telah tiba, Hanif lulus dengan nilai terbaik di sekolahnya. Dan selang 1 bulan setelah kelulusan Hanif, akan diadakan pesta pernikahan yang sangat mewah. karena ini adalah pernikahan dari anak ternama didesa ini. Semua pengeluran ditanggung oleh keluarga bapak Wisnu karena mereka sangat bahagia bisa mendapatkan Hanif menjadi menantunya.
Pesta pernikahan berlangsung sangat meriah. Hanif terlihat sangat cantik, dia begitu anggun mengenakan kebaya putih yang senada dengan baju yang dipakai oleh Dimas.
Seperti yang sudah menjadi kesepakatan sebelum menikah, Hanif akan tinggal di rumah keluarga Wisnu. Dua hari setelah menikah Hanif dan Dimas kembali kerumah pak Wisnu. Dia melangkah masuk dan disambut dengan senang oleh ibu ningsih yang sudah menanti kehadiran mereka.
Beberapa bulan berlalu, Hanif telah hamil anak pertamanya. Semua keluarga sangat bahagia. Apalagi Dimas, dia sangat bahagia karena didalam perut Hanif telah hidup sosok bayi yang akan menjadi buah cinta dari mereka. Hanif hanya tersenyum sambil mengelus perutnya.
" Hari sudah malam, kalian istirahatlah. jaga baik-baik calon cucu ibuk." kata Ningsih.
" Iya bu..." kata Hanif dan Dimas lalu beranjak menuju kamar mereka.
Setelah sampai dikamar, Dimas duduk disamping Hanif dan menatap Hanif dalam-dalam.
" Ada apa mas?" tanya Hanif
" Harusnya aku yang bertanya, ada apa? apa kamu tidak suka. Dari tadi kamu diam saja."
" Tidak apa-apa mas, hanya lelah saja." kata Hanif sambil tersenyum manis.
" Yan sudah, sekarang istirahatlah." kata Dimas sambil kemudian mencium kening hanif.
Beberapa bulan berlalu, usia kehamilan Hanif sudah berusia 7 bulan. orang jawa biasanya mengadakan syukuran rujakan. Begitu pula dengan keluarga Dimas dan Hanif. mereka juga mengadakan acara rujakan agar Hanif dan bayi yang ada di dalam rahimnya selamat sampai nanti lahir kedunia.
Setelah Hanif masuk kedalam keluarga Wisnu, Hanif menjadi menatu kesayangan disana. dia bahkan dilarang mengerjakan apapun, meskipun begitu dia tidak ingin merepotkan dia berusaha mengerjakan semuanya sendiri.Tapi setelah hamil ini dia dibantu oleh bibik disana. Dia hanya kadang-kadang mengantar makanan ke ladang tempat suami dan para pekerjanya.Hanif selalu senang melakukan itu karena kadang dia bisa berjumpa dengan bapak dan ibuknya.
Suatu hari ketika Hanif mengantarkan sarapan keladang, dia sangat bahagia karena disana ada bapak dan ibuknya yang sedang beristirahat digubuk bersama Dimas. Karena sangat bahagai Hanif berjalan sedikit lebih cepat agar dia segera sampai di tempat bapak, ibuk dan suaminya berada.
" Hanif hati-hati ndok." kata pak sugiyo
Hanif hanya tersenyum, dan tiba-tiba kakinya terpeleset oleh lumpur dan dia pun terjatuh.
" Haniiiif....." Teriak Dimas sambil berlari menghampiri Hanif yang terjatuh.
Hanif menahan perutnya yang sakit. Terlihat darah keluar dari selangkangan Hanif.
" Ada darah keluar, cepat bawa Hanif kerumah sakit nak Dimas." kata Narti
Dimas langsung mengendong Hanif kedalam mobil dan membawanya kerumah sakit, sambil berjalan Dimas mencoba mengajak Hanif berbicara agar tetap sadar.
" Mas.... Sakit sekali." kata Hanif
" Iya Dek... sebentar lagi kita sampai." Kata Dimas, nafasnya tampak tidak beraturan karena takut terjadi sesuatu kepada Hanif.
Setelah sampai rumah sakit, Hanif segera di tangani oleh dokter. Dokter mengatakan kalau anak didalam rahim Hanif harus segera dikeluarkan kalau tidak itu akan berbahaya bagi keduanya.
Dimas menyetujui operasi itu meskipun sebenarnya dia sangat takut karena operasi sesar adalah hal yang jarang terjadi didesa bahkan belum pernah sama sekali terjadi didesa Ringinagung.
Hanif dibawa masuk kedalam ruang operasi. Dokter meminta Dimas ikut bersama mereka, Dimas pun masuk namun dia taerlihat gemetar, tapi demi istri dan anaknya dia harus kuat. Beberapa saat kemudian lahirlah bayi pertama mereka. Wajahnya sangat cantik dengan kulitnya yang putih sangat mirip dengan ibunya.
Hari itu adalah hari yang menakutkan bagi Dimas, dan juga hari yang membahagiakan bagi Dimas. Hanif telah memberinya anak yang begitu cantik yang akan melengkapi keluarga kecil mereka.
Bayi kecil itu diberi nama Salwa Az zahra. Dengan sekejap dia menjadi pusat perhatian dikeluarga besar mereka. Mertua Hanif sangat bahagia dan berterima kasih kepada Hanif.
Hanif berdiri disamping Dimas melihat keluarganya mengendong sang buah hati dengan begitu bahagianya. Dimas merangkuk bahu Hanif dan mencium kepala Hanif dan dibalas senyuman oleh Hanif.
Beberapa tahun berlalu, Hanif dan Dimas telah menjadi orang tua yang sangat baik untuk Salwa. Dan Salwa sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik sama seperti ibunya dulu. Usianya baru 6 tahun tapi dia sudah menjadi pusat perhatian didesanya. Dia tumbuh menjadi anak yang baik hati, lembut dan sopan kepada semua orang.
Suatu hari Hanif pergi kekota bersama Dimas untuk membeli beberapa alat pertanian. Mereka tidak mengajak Salwa karena Dimas ingin menhabiskan waktu bersama Hanif.
Mereka masuk kedalam sebuah toko elektronik untuk membeli traktor. Dimas meninggalkan Hanif untuk memilih barang. Hanif menunggu disebuah kursi yang disediakan oleh toko.
Dengan sabar Hanif menunggu suaminya sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba seseorang berlari dan jatuh tepat didepannya.
" Anda tidak apa-apa?" tanya Hanif yang khawatir.
" Iya terima kasih." kata pria itu.
Mereka saling pandang. Sepertinya Hanif mengenal pria itu, Iya dia adalah teman SMA nya dulu namanya Ridho.
" Hanif?...."
" Ridho ya....?"
Mereka saling menunjuk dan tersenyum. Mereka saling menanyakan kabar, kira-kira sudah 8 tahun mereka tidak bertemu.
" Kamu masih sama seperti dulu, ceroboh." kata Hanif
" Kamu juga masih sama seperti dulu. Masih cantik." kata Ridho.
" Oh ya kamu kesini sama siapa?"
" Sama suami aku." kata Hanif lalu mereka terdiam untuk sesaat.
Ridho menhela nafas panjang lalu tersenyum mencoba mencairkan suasana. Ya dulu mereka pernah dekat, ada sebuah perasaan selain persahabatan waktu itu. Tapi perasaan itu harus dikubur dalam-dalam ketika Hanif memutuskan menikah dengan Dimas.
" Bagaimana kabar teman-teman?" tanya Hanif
" Kamu tidak pernah menghubungi kami, kamu tahu kami sangat merindukanmu." kata Ridho. padahal dalam hati Ridholah yang sangat merindukan Hanif.
Hanif memberikan nomer ponselnya kepada Ridho agar teman-temannya bisa menghubunginya. Ridho sangat senang, dengan cepat dia mencatat nomer Hanif dan menyimpannya. Tidak lama setelah itu Dimas datang menghapiri mereka, untung saja mereka sudah menyimpan ponsel mereka masing-masing.
" Mas...sudah selesai, sini perkenalkan. Ini Ridho teman SMA ku dulu." kata Hanif
" Oh... hallo nama saya Dimas." kata Dimas sambil menjulurkan tanganya.
Ridho menjabat tangan Dimas, dia kaget Dimas yang ada didepannya berbeda dengan Dimas yang dibicarakan teman-temannya. Dimas yang ada dihadapannya tampan dan masih muda. Sedangkan dulu yang diberitakan Dimas adalah pria tua. Orang tua Hanif menerima lamarannya karena dia kaya.
Setelah hari itu, Ridho sering menghubungi Hanif sekedar tanya bagaimana kabar hari ini. Dia juga memasukkan Hanif kedalam grup Sma. Mereka sering Vc dan banyak yang tidak menyangka kalau Hanif masih sangat cantik seperti waktu SMA bahkan ini lebih cantik lagi.
Beberapa bulan berlalu, Hanif tidak menceritakan kepada Dimas kalau dia menyimapan nomer teman-temannya dan saling berhubungan bukannya dia ada sesuatu yang disembunyikan tapi dia tidak ingin ada kesalah pahaman diantara mereka.
Sikap Hanif mulai berubah, dia selalu asik dengan ponselnya, tersenyum sendiri dan kadang saat dia menerima pangilan dia pergi menjauh dari Dimas membuat dimas merasa curiga.
Kejadian itu terjadi beberapa kali sampai akhirnya Dimas merasa kesal dan menegor Hanif. Hanif tahu dia salah tapi dia tidak bisa membohongi hati kecilnya yang ingin selalu bersama teman-temanya. Hingga suatu hari Ridho mulai mengirim puisi-puisi kepada Hanif. Dia tahu kalau Hanif sangat menyukai puisi. Bahkan puisi yang dibuatnya saat masih SMA pun dia kirimkan juga. Membuat Hanif menitikan air matanya ketika dia membaca puisi itu. Dimas mengitip dari cela pintu. Dia merasa jengkel melihat Hanif menangis untuk pria lain, bahkan selama dia menjadi suaminya dia belum pernah membuat Hanif menitikan air mata.
Dimas sangat marah, lalu dia menghampiri Hanif yang masih menitikan air matanya. Melihat Dimas masuk kedalam kamar dia buru-buru menghapus air matanya dan meletakkan ponselnya. Dimas merebut ponsel Hanif dan membaca semua pesan yang Ridho kirimkan. Amarah Dimas memuncak ketika dia membaca kalau Ridho masih menyimpan perasaan kepada Hanif. Dimas membanting ponsel Hanif lalu meninggalkan Hanif. Dia tidak ingin berbuat lebih jauh lagi kelada Hanif karena tidak bisa menahan amarahnya.
Beberapa hari berlalu, Hanif masih mencoba menjelaskan kepada Dimas kalau dia tidak pernah menyimpan perasaan kepada Ridho. Dia telah menganggap Ridho sebagai masa lalunya namun Dimas tidak mempercayainya. Dia mulai memutar waktu selama dia menikah dengan Hanif, Dimas tidak pernah melihat cinta untuknya dimata Hanif. Dari itu Dimas berfikir benar selama ini Hanif tidak pernah mencintainya dan hanya menjalani hubungan kosong.
Hanif sangat menyesal. Dia hanya bisa menangis sambil memeluk Salwa yang sudah tertidur dalam dekapannya. Dia melihat wajah Salwa yang teduh, air matanya menetes kepipi Salwa yang membuat Salwa terbangun karenanya.
" Bu...ayah mana, kenapa dia tidak tidur bersama kita. Dan kenapa ibu menangis?"
" Tidak apa-apa sayang...Ayah sedang sibuk. nanti dia akan kesini kalau sudah selesai." kata Hanif pelan.
Tidak tahu harus bercerita kepada siapa, Hanif menulis isi hatinya kedalam sebuah buku, agar hatinya merasa sedikit lebih lega.
Beberapa setelah hari itu, Dimas masih marah kepada Hanif. Dia berencana menceraikan Hanif tapi tidak jadi karena melihat Salwa yang akan menjadi korbannya.
Seperti biasa Hanif mengantarkan sarapan kepada Dimas dan pekerja lain dilandang. Hanif terlihat melamun disisi jalan. Dia menghela nafas panjang dan mulai melangkahkan kakinya. Tiba-tiba truk dengan kecepatan tinggi sedang melaju.
" Haniiiiif......" teriak Dimas dan berlari menghampiri Hanif yang sudah terkapar dijalan dengan tubuh yang berlumuran darah.
" Ya allah Hanif....bertahanlah..." kata Dimas sambil memeluk tubub Hanif yang hampir dingin.
" Seseorang tolong aku, bawa kami kerumah sakit."
Seorang buruh dan juga orang kepercayaan Dimas segera mengambil mobil dan mengantar mereka kerumah sakit. Dimas terus memeluk tubuh istrinya itu sambil terus berteriak kepada paijo agar lebih cepat mengemudikan mobilnya.
Sampai dirumah sakit, Hanif terus mengenggam tangan Dimas.
" Jangan tingalkan aku mas..." kata Hanif pelan.
" jangan bicara lagi, dokter akan segera menyelamatkanmu. kamu akan baik-baik saja."
" Mas...aku minta maaf... jaga baik-baik salwa." kata Hanif palan."
Karena luka yang dialami Hanif begitu parah. Dia tidak dapat bertahan dan akhirnya meninggal dunia sesaat setelah masuk ruang operasi. Dimas tidak dapat menerima kenyataan itu. Dia terus memeluk tubuh istrinya yang sudah terbujur kaku.
Setelah Hanif dimakamkan, Dimas menemukan sebuah buku dimana Hanif mencurahkan semua isi hatinya. Disana Hanif bercerita kalau awalnya dia memang tidak menyukai Dimas apa lagi mencintainya. Dia menerima lamaran Dimas semata-mata karena orang tuanya. Tapi seiring berjalannya waktu Hanif mulai mencintai Dimas dan menerima dia sebagai teman bahagianya. Masalah perasaan dia kepada Ridho sebenarnya hanya sebatas teman saja tidak lebih.
Dan saat ini dia baru tahu kalau Hanif sedang mengandung anak kedua mereka. Betapa menyesalnya Dimas saat ini mengetahui kalau Hanif pergi bersama calon anak mereka. Dia terus menangis sejadi-jadinya hingga Salwa masuk dan memeluk ayahnya itu. Kini tinggal Salwa yang memberi kekuatan kepada Dimas untuk terus berjuang demi masa depan Salwa. Dengan keikhlasan semuanya akan menjadi indah.
TAMAT