Namaku Rio aku bekerja di salah satu perusahaan ternama di kotaku, sejak aku menduduki jabatan sebagai CEO semua waktu ku, ku habiskan di pekerjaan sampai-sampai kebahagiaanku pun ku kesampingkan di otakku hanyalah bekerja bekerja dan bekerja.
Saat ini aku menjalin hubungan dengan seorang gadis yang bernama violine ia gadis yang cantik, baik, dan sabar kami menjalin hubungan selama 5 tahun dan kami menjalaninya dengan baik-baik saja.
Sehingga suatu ketika petaka itu datang menghampiri hubungan kami.
"Rio.. apakah kita bisa bertemu nanti malam di Caffe biasa..? Suara seseorang dari speaker HP Rio.
" Ada apa Vi kok tiba-tiba mengajak ketemuan, kenapa tidak di bicarakan lewat Hp saja...? Tanya Rio.
"Tidak bisa di bicarakan lewat telfon Rio, ini hal yang sangat penting. Jawab Violine.
"Baiklah nanti aku menjemputmu di rumah. Jawab Rio sambil mematikan layar Hp nya, Rio penasaran. Kira-kira hal penting apa yang akan di bicarakan Violine padanya.
Tidak terasa langit sudah mulai berubah jadi gelap Rio masih berada di kantor dengan setumpuk pekerjaan yang harus di selesaikannya. Rio melirik jam yang melingkar di lengannya.
"Astagaaa... aku ada janji dengan Violine malam ini... sambil menepuk jidatnya Rio buru-buru menyelesaikan pekerjaannya lalu bergegas menjemput Violine.
Rio pun sampai di depan rumah Violine tapi kali ini Rio tidak sempat masuk ke dalam rumah Violine karena Violine sudah keburu menghampirinya.
" Bagaimana kabar ayah dan ibu apakah mereka sehat-sehat saja? Tanya Rio pada Violine.
"Mereka baik-baik saja. Jawab Violine dengan singkat tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Rio.
"Ada apa dengan kamu hari ini? Kamu kelihatan berbeda. Tanya Rio dengan wajah bingung.
"Nanti aku beritahu jika kita sudah sampai di Caffe. Jawab Violine dengan ekspresi dingin.
Setelah melewati padatnya kemacetan jalan akhirnya mereka sampai di sebuah Caffe favorite mereka, mereka selalu mengambil meja yang view nya menghadap ke laut. Mereka pun memesan makanan dan minuman untuk mengisi perut mereka.
"Ada hal penting apa yang ingin kamu ceritakan padaku. Tanya Rio memulai pembicaraan dengan perasaan penasaran.
"Sejauh ini kamu menganggapku apa..? dan hubungan kita ini kamu mau bawa sampai kemana? Tanya Violine dengan serius.
"Kenapa kamu menanyakan itu? Bukannya sudah berkali-kali aku katakan kalau aku ingin kamu menjadi istriku tapi untuk saat ini belum bisa aku wujudkan karena aku masi sibuk dengan pekerjaanku. Jawab Rio sambil menggenggam kedua tangan Violine yang berada di atas meja.
"Hubungan kita sudah menginjak 5 tahun Rio bahkan sebentar lagi sudah masuk tahun ke 6 tapi kamu masi saja menggunakan alasan yang sama pekerjaan pekerjaan pekerjaan jika kamu selalu berpatokan dengan pekerjaan itu artinya kamu tidak serius dengan hubungan kita ini. Suara Violine agak meninggi.
"Hei kenapa kamu emosi begini.. ada apa dengan kamu,? biasany setiap kita membahaskan soal hal ini kamu tidak pernah sampai se emosi ini.. tanya Rio yang masi kebingungan dengan sikap Violine.
"Orang tua ku sering kali menanyakan soal hubungan kita dan mereka bosan mendengarkan alasan-alasan yang ku berikan pada mereka.
"Apakah kamu tidak bisa membuat merek lebih yakin lagi kalau aku akan menikahimu nanti?
"Sudah beribu alasan yang aku sampaikan pada mereka namun mereka sudah lelah mendengarkan alasan-alasanku, Dan akhirnya... kata-kata Violine tiba-tiba terputus.
"Akhirnya apa Violine..? Tanya Rio cemas dengan kata-kata Violine yang menggantung.
"Akhirnya orang tuaku memutuskan menjodohkan ku dengan pria lain.. Violine menutup matanya dengan kedua tangannya sambil menangis terisak. "Pria itu anak dari sahabat ayahku, aku sudah berusaha menolak namun ayahku tidak menerima tolakanku,tapi ayah tetap memaksaku untuk menikah dengan pria itu dan keluarga pria itu akan datang melamarku bulan depan dan pernikahan kami akan di selegarakan bulan depan.
Bagaikan di sambar petir di siang hari, hati Rio hancur mendengarkan perkataan Violine. Hubungan yang selama ini ia jalani bersama Violine akhirnya selesai karena ulahnya sendiri yang selalu menunda-nunda pernikahannya dengan alasan pekerjaan. Rio menangis dan bersimpuh di hadapan Violine, Rio sangat mencintai Violine namun Rio juga mencintai pekerjaannya ia tidak bisa melangsungkan pernikahan tahun ini karena perusahaan yang ia pegang sedang membuka cabang baru di 2 negara yang mewajibkan Rio bolak balik untuk mengeceknya
"Tidak bisakah kamu membujuk ayahmu untuk menunggu sampai tahun depan, kali ini aku berjanji akan menepatinya Vi. Rio memohon pada Violine untuk memberinya kesempatan.
"Sepertinya tidak bisa Rio ayah sudah terlanjur dan menerima lamaran orang tua pria itu, bahkan aku sudah mencoba meminta untuk berfikir pun ayah tidak menerima permintaanku. Air mata Violine tidak henti mengalir membasahi pipinya, hati Violine perih harus mengatakan ini semua Violine sangat mencintai Rio namun karena tuntutan orang tua yang mengharuskan segera menikah Violine rela menghancurkan kebahagiaannya bersama Rio.
"Maafkan aku Vi.. ini semua salahku yang lebih memikirkan pekerjaan dan karir di banding kebahagiaan kita. Rio semakin tidak kuasa menahan air matanya.
"Mungkin ini sudah jalannya kita tidak di takdirkan untuk bersama Rio, mungkin ada seorang wanita lain di luar sana yang sedang menunggu cinta mu. Violine menangis di hadapan Rio.
"Bolehkah aku meminta satu permintaan untuk terakhir kalinya Vi..?? Kata Rio dengan wajah sendu.
"Boleh..." jawab Violine sambil menatap wajah Rio dengan raut sedih.
"Izinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya sebelum kamu menjadi istri pria itu.
Violine pun mendekati Rio dan memeluk Ri dengan erat, Violine menyembunyika wajahnya di dada Rio dengan tangisan air mata Violine membasahi kemeja putih Rio. Rio menatap langit dan berusaha untuk tegar menerima kenyataan kalau sebentar lagi ia akan kehilangan masa-masa bahagia bersama Violine.
Rio pun melepaskan pelukannya dan memandang wajah cantik Violine untuk terakhir kalinya. Ia tidak percaya kalau hubungan mereka berakhir dengan cara seperti ini. Rio mengusap bulir-bulir air mata Violine yang semakin deras membasahi pipinya.
Sambil menarik nafas panjang Rio mengajak Violine untuk pulang. "Sebaiknya kita pulang Violine malam semakin larut tidak baik untuk kesehatanmu.
"Kamu tidak usah mengantarku Rio, aku bisa pulang naik taxi. Violine menolak ajakan Rio untuk mengantarnya pulang.
"Tapi Vi.. ini sudah malam mana mungkin aku membiarkanmu pulang sendiri naik taxi. Rio mencoba memaksa untuk mengantar Violine.
"Tidak apa-apa Rio aku bisa pulang sendiri, sebaiknya kamu pulang dan beristirahatlah. Violine mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan Rio seorang diri.
Rio menjatuhkan tubuhnya ke pasir dan berteriak sekencang-kencangnya.
"Ini tidak adi.i.i.i.ill.....
Rio menunduk sambil menangisi kisah cintanya bersama Violine hancur dan berakhir karena ke egoisannya sendiri.
END