Sepuluh tahun sudah berlalu sejak kelulusanku dari sekolah ini, baru sekarang lagi aku menginjakkan kakiku disini. Disini aku akan menghadiri reuni akbar.
Sekolah yang luas dengan luas 3,4 hektar. Gerbang sekolah yang masih sama, jalan membentang lurus kearah belakang sekolah, pohon-pohon besar dan rimbun, gedung-gedung kelas yang masih terlihat sama. Workshop setiap program studi masih terlihat sama, berada di bagian belakang sekolah.
Banyak terdapat pohon tanjung disini. Bunganya harum bahkan katanya bunganya bisa dimanfaatkan sebagai pengharum pakaian, ruangan atau sebagai hiasan. Buah tanjung juga dapat dimakan. Saat masih muda, buah tanjung berwarna hijau dan jika sudah masak akan berwarna kuning kemerahan. Rasanya manis dan agak sepat. Dan pohon ini juga punya khasiat sebagai obat penguat, obat demam, obat sakit gigi.
Aku masih berjalan lurus ke gedung program studi elektronika industri tempat dulu menimba ilmu. Gedungnya masih terlihat sama, hanya pemandangan didepannya yang berbeda, dulu didepannya terdapat tempat duduk dari semen yang menghadap ke arah lapangan. Disitu tempat aku dan teman-teman bersenda gurau sebelum bel masuk atau saat istirahat.
Disini aku bertemu dengan orang yang telah menjadi cinta pertamaku, yang telah menjalin hubungan selama lebih dari tiga tahun. Ia yang telah menorehkan luka begitu dalam dihatiku.
-flashback on-
"Sinta, kamu udah punya teman untuk ngerjain laporan perakitan?" Indra bertanya padaku. Tadi Pak Tedi memang memberikan tugas untuk membuat laporan praktek perakitan. Satu laporan dikerjakan oleh dua orang.
"Belum Ndra".
"Dengan aku aja ya?! Soalnya aku juga belum punya partner".
"Oke, no problem... mulai kapan kita ngerjainnya?" tanyaku.
"Kalau pulang sekolah gimana?"
"Oke".
***
Sepulang sekolah Indra sudah menungguku. "Hei... Sinta, kita mau bikin laporannya di rental yang mana?"
"Kalau yang di Cimindi bagaimana?" kataku.
"Iya, aku ikut aja"
Selama seminggu itu, aku dengan Indra selalu bersama setiap pulang sekolah, untuk mengerjakan laporan. Mungkin karena kebersamaan itulah telah menumbuhkan benih-benih cinta diantara kami.
***
"Sinta kamu mau ikut tidak? Kelas kita mau kemping ke Gunung Puntang liburan nanti", kata Manan sang ketua kelas.
"Iya, aku mau ikut, kita kumpul dimana nanti?" tanyaku.
"Di Tegallega aja, disitu ada terminal angkot jurusan Tegallega - Banjaran, kita mau naik angkot itu", jawab Manan.
"Kapan kita berangkat?", tanyaku kemudian.
"Kita tuh dibagi raport hari Jumat, berarti kita kumpul di Tegallega hari Sabtu pagi jam tujuh ya?!"
"Oke bos!" kataku sambil tersenyum.
***
Hari Sabtu pagi, aku datang ke titik kumpul teman-temanku di Tegallega dengan diantar ayahku.
Saat melihatku, teman-teman malah mentertawakanku ketika melihat barang bawaanku.
"Sinta kamu tuh mau kemping atau arisan ibu-ibu?" kata Budi.
"Memang kenapa?" tanyaku merasa tak ada yang salah.
"Tuh lihat panci yang kamu bawa!"
"Lho aku kan kebagian tugas bawa panci".
"Iya tapi bukan panci begitu maksudnya Neng... panci alumunium aja buat ngerebus mie"
Saat itu, aku memang bawa panci besar dengan tutup kaca, karena kupikir aku akan memasak untuk teman-teman sekelas jadi kubawa panci besar saja.
***
Ternyata angkot jurusan Tegallega - Banjaran itu berakhir di pasar Cimaung. Dan untuk ke Gunung Puntang harus naik lagi oplet.
Ternyata oplet itupun tidak sampai ke pos pembelian tiket masuk. Cuma setengah jalan, dan setengah jalannya harus berjalan kaki. Dan ternyata lagi nih, jalan kaki sampai pos pembelian tiket itu lebih dari satu jam.
Sesudah membeli tiket, kami berjalan masuk untuk mencari tempat mendirikan tenda, melewati warung-warung kecil, ada gua kecil yang ketika akan dimasuki ternyata banyak kotoran kelelawarnya, akhirnya tidak jadi masuk.
Sesudah berjalan agak lama, sampai di sebuah padang rumput yang cukup. Disini terdapat reruntuhan kolam, yang dinamai Kolam Cinta karena kolamnya berbentuk hati. Orang Sunda bilangnya 'lope' mungkin maksudnya 'love'.
Kolam Cinta dulunya adalah sebuah kolam dari Stasiun Radio Malabar. Stasiun ini didirikan Belanda pada tahun 1923. Pada saat itu, radio ini diklaim sebagai radio terbesar se-Asia Tenggara.
Dari lokasi reruntuhan Kolam Cinta, kami masih berjalan lagi ke lokasi perkemahan. Teman-teman pria yang mendirikan tenda, sedang aku dan teman perempuan lainnya beristirahat.
Sungguh melelahkan perjalanan menuju kesini. Ranselku sepertinya paling berat. Ibuku memberi bekal yang luar biasa banyak, nasi bungkus dengan lauk pauknya, mie, beras, kue-kue, susu sachet, kopi sachet, dan ini mungkin paling luar biasa pindang telor 1 kg.
***
Aku sungguh beruntung dikelilingi teman-teman yang baik, walau disini di alam terbuka seperti ini, ada beberapa teman pria yang membawa tikar plastik, sehingga walau acara kemping, kami masih bisa sholat berjamaah didepan tenda kami.
Selesai sholat kami membuat api unggun dan duduk mengelilinginya. Tiba-tiba Indra datang dengan membawa gitar, ia duduk disampingku, ia tersenyum padaku.
"Boleh aku duduk disini?" Indra bertanya padaku dan aku hanya mengangguk.
Ia mulai memainkan gitarnya, bukan seorang yang ahli kadang nadanya terdengar salah. Ia mulai menyanyikan lagu Seputih Melati, dulu yang pertama menyanyikannya adalah Dian Pramana Poetra.....
Kau bunga di tamanku
Di lubuk hati ini
Mekar dan kian mewangi
Melati pujaan hati
Bersemilah sepanjang hari
Mewarnai hidupku
Agar dapat kusadari
Artimu bagiku
Kau melati putih dan bersih
Kau tumbuh di antara belukar berduri
Seakan tak peduli lagi
Meski dalam hidupmu kau hanya memberi
Kau tebar harum sebagai tanda
Cinta yang telah kau hayati
Di sepanjang waktu
O-o-o-o-oh ...
Mekar dan kian mewangi
Melati pujaan hati
Bersemilah sepanjang hari
Mewarnai hidupku
Agar dapat kusadari
Artimu…
Selesai menyanyi, Indra berbisik didekat telingaku.
"Sinta, aku suka kamu, maukah kamu jadi pacarku?"
Saat itu dadaku terasa berdesir, pipiku terasa menghangat. Aku hanya menatapnya kemudian menganggukkan kepalaku.
"Ah, berarti hai ini hari pertama kita ya?!", Indra tersenyum lebar.
"Eh, kalian jangan bisik-bisik saja... mencurigakan", suara Budi ku. Aku berbalik dsn terlihat ia sedang cengengesan. Tanpa pikir panjang aku berdiri dan pindah tempat duduk dengan teman-teman perempuanku.
***
Di Gunung ini terdapat sebuah sungai dengan pemandangan yang indah. Sungai Cigeureuh namanya. Aliran sungai ini mulai dari arah tenggara menuju barat laut. Sungai ini akan bersatu dengan Sungai Cisangkuy yang mengalir di kawasan Banjaran dan bermuara di Sungai Citarum.
Kami sedang bermain air disini. Ada yang saling menyiramkan air. Ada yang menyusuri bstua-batuan besar yang terdapat disepanjang sungai.
"Ihh... ada ular!" Juned berteriak.
"Itu ular air... semuanya hati-hati... tetap waspada.. kalau terdengar suara gemuruh dari hulu... kita semua segera naik ya... takutnya itu banjir bandang", suara Manan sang ketua kelas menggema. Ia memang cocok jadi pemimpin, tidak hanya bermain sendiri, ia memperhatikan kami semua.
Indra mendekatiku, "Airnya dingin ya?!"
"Iya", kataku. Sekarang aku kalau berdekatan dengan dia kok jadi deg-degan begini sih.
"Hmm... Sinta yang tadi malam itu beneran kamu mau jadi pacarku?"
Aku menatapnya sambil tersenyum, "Iya, betul... kenapa memang?"
"Rasanya tidak percaya... kamu mau jadi pacarku", ia tersenyum lebar.
Setelah berbulan-bulan kemudian aku baru tahu kenapa Indra bertanya hal ini lagi... katanya di kelas kami itu banyak yang menyukaiku, jadi ia merasa tak percaya ketika aku menerimanya jadi pacarku, ia merasa beruntung karena lebih dahulu menyatakan perasaannya padaku dibanding teman-teman lainnya yang menyukaiku.
***
Sudah lima hari kami disini, akhirnya kami berkemas untuk pulang.
Sesudah melewati pos tiket, Anwar berkata, "Bagaimana kalau kita melewati perkebunan penduduk, sepertinya ada jalan pintas menuju jalan raya".
Teman-teman yang lain setuju karena membayangkan bagaimana jauhnya kami berjalan kaki menuju kesini. Yang berarti jalan pulang pun akan sejauh itu pula.
Mulailah kami berjalan melalui pematang diantara kebun-kebun. Indra selalu ada didekatku. Teman-teman sudah terlihat mencurigai kami berdua yang selalu terlihat berduaan.
Ternyata sesudah berjalan lama, jalan raya masih belum terlihat. Aku melihat seorang petani sedang bekerja di kebunnya.
"Pa, punten bade tumaros... upami ka jalan ageung sabaraha lami deui? (Pak, maaf mau bertanya... kalau ke jalan raya berapa lama lagi?)", aku memberanikan bertanya pada petani itu.
"Oh, tos caket Neng mung dua gunung deui (Oh, sudah dekat Neng hanya dua gunung lagi)", katanya sambil tersenyum ramah. Aku melongo.
"Hatur nuhun, Pa (Terima kasih, Pak)", aku tersenyum padanya sambil menganggukkan kepalaku.
Sesudah berjalan agak jauh dari petani itu. aku dan teman-temanku yang mendengar percakapan kami tertawa terbahak-bahak.
Bayangkan jarak satu gunung itu berapa panjangnya? Dan petani itu bilang untuk mencapai jalan raya itu berjarak dua gunung. Wah, pasrah deh.
"Anwar ini sih gara-gara kamu ngajak jalan pintas ke perkebunan", kata Budi.
"Ini sih bukan jalan pintas, ini menambah panjang jalan pulang", Wildan menimpali.
"Weh, jangan nyalahin, coba kenapa kalian tadi setuju denganku... berarti tadi kita udah mufakat kan... berarti resiko ditanggung bersama... hehehe", Anwar membela diri sambil terkekeh.
Akhirnya setelah berjalan sangat lama, kami sampai juga dijalan raya, kemudian naik angkot untuk kembali pulang.
***
Sejak saat itu Indra mulai sering berkunjung ke rumahku. Di sekolah kami sering bersama. Teman-teman mulai tahu kami pacaran dan sering menggoda kami.
Wah, kalau menggoda kami berdua, kadang-kadang teman-teman kami sangat keterlaluan. Tapi aku tidak terlalu menghiraukannya, aku selalu menanggapinya dengan tersenyum. Tapi sepertinya tidak begitu dengan Indra.
"Sinta, kamu masih mau meneruskan hubungan kita?" Indra bertanya padaku ketika teman-teman sedang gencar menggoda kami.
"Kamu tahan dengan godaan teman-teman? Kalau aku merasa diplonco berkepanjangan, sekarang sudah hampir dua bulan dan kita masih diolok-olok", katanya seperti mau menyerah.
"Sabarlah, masa mau menyerah diawal hubungan kita, kasih senyum aja yang gangguin kita, jangan diambil hati", aku menguatkan Indra untuk tidak menyerah.
Sungguh kalau saja aku tahu bagaimana kelanjutan dari hubunganku dengan Indra, aku akan menyetujui untuk mengakhiri hubungan kami pada saat itu, sebelum perasaanku menjadi sangat mendalam padanya.
***
Selama masa sekolah, hubungan kami bisa bertahan, hingga akhirnya tiba masa kelulusan. Ia mendapat pekerjaan di Cilegon, sedang aku mendapat pekerjaan di Bandung.
Aku dan Indra masih sering bertelepon dan ia masih menemui aku setiap sebulan sekali. Hal ini berjalan selama setahun setelah kami bekerja.
Ada yang bilang kalau intuisi wanita itu sangat tajam... itu pasti benar adanya. Saat-saat terakhir Indra mengunjungi aku, ada perasaan aneh dihatiku. Indra ada didekatku tetapi hatiku merasa ia jauh. Indra menggenggam tanganku ketika kami berjalan-jalan, tapi hatiku terasa hampa.
Hingga pada akhirnya ia tidak pernah datang lagi ke rumahku. Aku telpon, tidak diangkat. Aku kirim surat, tidak dibalas.
Sampai suatu ketika aku mendapat berita dari teman sekelasku dulu kalau Indra sudah lama berpacaran dengan anak yang punya kost-an. Hatiku sakit sekali ketika mendengarnya dan merasa hampa, ada sesuatu yang hilang. Aku ditinggalkan tanpa kata 'putus'.
Pada bulan Oktober, tahun kedua sesudah aku bekerja, aku menerima telpon di tempatku bekerja.
"Hallo"
"Hallo... aku Indra," kata suara di seberang sana. Saat itu aku mungkin sedang tidak konsen, kupikir orang yang menelpon itu ingin bicara dengan yang namanya Indra yang sekantor denganku.
"Oh, mau bicara dengan Indra... tunggu sebentar saya sambungkan...", aku sudah siap-siap mau teriak memanggil si Indra teman kerjaku, tetapi orang yang diseberang sana terdengar berbicara lagi.
"Sinta tunggu... ini aku Indra".
"Indra?...", itu nama dari orang yang dengan susah payah aku lupakan. Aku sudah berhasil melupakan suaranya dan kini aku jadi mengingatnya kembali.
"Ya, aku Indra... aku mengundangmu untuk datang dipernikahanku bulan depan, surat undangannya akan aku kirimkan ke alamat rumahmu", deg... hatiku merasa sakit kembali. Untuk apa ia mengundangku. Ia sudah meninggalkan aku tanpa pernah keluar kata putus dari mulutnya ... dasar pengecut.
Aku menutup teleponnya, tidak ingin menjawab atau mendengar lagi apa yang akan dikatakannya. Aku lalu pergi ke toilet dan menangis didalamnya.
-flashback off-
***
"Sinta".
Aku membalikkan badan ketika ada yang memanggil, "Aida.... apa kabar?" Aku memeluknya.
"Kabar baik... bagaimana denganmu?", Aida balik bertanya sambil menggandeng tanganku.
"Kabarku baik juga... sudah bertemu dengan teman yang lain?"
"Aku baru tiba dan melihatmu dari kejauhan, jadi aku menghampirimu... kamu masih terlihat sama... malah tambah cantik", Aida memujiku.
"Ah ada yang kamu lupa... kita sudah bertambah tua sepuluh sejak terakhir bertemu", kataku sambil tertawa.
"Ayo kita berkeliling, disini sudah banyak yang hadir tapi kebanyakan tidak aku kenal", kata Aida.
"Iya karena ini reuni akbar dari angkatan pertama sampai yang baru lulus kemarin, tentu saja banyak yang tidak kita kenal".
"Hei ibu-ibu... apa kabar?", Aida dan aku melongo, mengingat-ingat siapa lelaki yang ada didepan kami, dia gemuk dan berkumis tebal.
"Oh ya ampun... kamu Anwar yah?!" dia mengangguk sambil tertawa.
"Kamu pasti sukses ya? Kamu pasti sudah punya perusahaan sendiri ya?", Aida memberondongnya dengan pertanyaan.
"Yang pasti aku sudah sukses menaikkan berat badanku dan sukses menumbuhkan kumisku", ia tertawa sambil mengusap-usap kumisnya.
"Tadi aku lihat Manan dan Wildan sedang ngobrol di taman depan aula", kata Anwar kemudian.
Kami melangkah ke taman depan aula untuk menemui Manan dan Wildan.
Benar saja, ada Manan dan Wildan disana. Bahkan sudah ada teman yang lainnya, Budi, Juned, Feri dan itu adalah... Indra.
Indra... orang yang membuat aku mempertimbangkan ribuan kali antara datang atau tidak datang ke reuni ini. Aku sungguh tidak berharap untuk bertemu dengannya lagi. Tapi Manan terus menelponku, katanya aku harus hadir, Manan akan memastikan semua teman sekelas dulu, akan hadir semua. Biar rame katanya.
"Assalamualaikum", Aida menyapa semua yang ada disitu.
"Wa'alaikumsalaam", mereka yang sedang ngobrol menengok ke arah kami.
Manan menyalami kami semua, "Udah ketemu sama yang lain?"
"Kami baru menemukan kalian saja", Aida tertawa.
Aku hanya tersenyum pada semua yang ada disitu.
"Wow... Sinta! kamu masih terlihat sama... " Juned tersenyum kearahku.
"Iya aku masih sama ... seorang perempuan ... tidak berganti jadi laki-laki" aku mencoba berkelakar.
"Sinta, apa kabar?", Indra yang tadi seperti tersentak melihatku, berbasa-basi menanyakan kabarku.
"Baik", jawabku pendek, tanpa tersenyum hanya menganggukkan kepalaku.
"Sinta kita keliling lagi yuk?! Aku ternyata kangen sama sekolah kita ini" Aida menarik tanganku.
"Aku mau ikut Aida keliling dulu ya?!", aku melambai pada temanku yang lainnya.
"Aku sengaja menarik tanganmu, aku tahu kamu tidak nyaman disitu karena ada Indra. Kami semua sudah lama tahu kamu putus sama Indra", kata Aida.
Kata orang cinta pertama itu sulit dilupakan... mungkin benar...
Aku sangat membenci Indra, aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, aku tidak ingin bicara dengannya lagi. Tapi... tanpa bisa aku kendalikan aku menggumamkan namanya setiap hari, kadang hanya didalam hati, kadang bibirku menggumam tak bersuara... Indra.
Aku sendiri tak mengerti, kenapa aku bisa begini?! Kadang aku takut kalau dalam tidurku aku mengigau. Aku takut ... jikalau aku menyebut ... Indra.
"Sinta... Sinta tunggu!", rupanya Indra malah mengikuti kami.
Aku menoleh padanya, masih tak berkata.
"Aku mau bicara sebentar saja, ... aku pinjam dulu Sintanya ya?!", Indra menoleh pada Aida, isyarat ingin bicara berdua saja denganku.
***
Sekarang Indra yang berjalan di sampingku, Aida akhirnya kembali lagi ke taman depan aula untuk berkumpul dengan Manan dan yang lainnya.
"Sinta, cukup dengarkan aku saja... aku ingin minta maaf padamu atas perlakuanku padamu... aku minta maaf telah membuat kamu begitu sakit hati".
"Aku maafkan", kataku cepat. Mudah untuk mengeluarkan ucapan itu tapi tidak merubah apa yang aku rasakan di hatiku. Teman-teman bilang aku pendendam.... tapi dari yang aku baca di internet, orang pendendam itu cenderung orang yang setia... orang yang setia itu cenderung orang yang pendendam....
"Tapi kamu tidak perlu bersikap seolah kita ini teman, karena aku pun tidak akan memperlakukanmu sebagai seorang teman, kalau suatu saat nanti kita bertemu lagi, kamu tidak perlu berusaha menyapaku, pura-pura saja tidak melihatku, karena aku akan pura-pura tidak melihatmu. Kamu tidak perlu berusaha menelponku seperti yang kamu lakukan selama ini, karena kalau tahu itu telepon darimu, aku akan langsung menutupnya....
Kita jalani saja hidup kita masing-masing, kamu dengan orang disamping kamu dan aku dengan orang disampingku", aku bicara panjang lebar mengeluarkan semua yang aku rasakan sepuluh tahun terakhir ini.
Lalu aku berbalik kembali menuju taman depan aula untuk berkumpul lagi dengan Aida, Manan dan kawan-kawan.
**************************************************
terima kasih sudah membaca cerpen ini, mohon beri dukungan author dengan hati, comment n like ya 😘😘😘
**************************************************