Awell duduk melamun di atas rumah pohonnya. Dia sedang memikirkan mamanya yang tak pernah menyayanginya.
“Ia, itu mama kandungku, tapi kenapa sikapnya selalu kasar padaku?” Tanya Awell dalam hati. Setiap saat pertanyaan ini selalu muncul menghantui fikirannya. Memang keluarga Awell orang yang kaya raya, papa Awell adalah seorang manager di sebuah perusahaan. Rumahnya bagaikan istana, tapi Awell lebih senang menyendiri di rumah pohon yang terletak di belakang rumahnya. Rumah pohon itu dibuat oleh papanya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-10, sekarang dia berusia 15 tahun, seorang anak remaja yang selalu berharap mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu.
“Awell… Awell…” Teriak teman-temannya di depan rumahnya.
Awell bangun dari lamunannya dan langsung menemui teman-temannya.
“Nasya, Fahmi, Sauqi, Dirla ada apa?” Tanya Awell penasaran.
“Kamu lupa ya Well? Kita kan mau bikin tugas IPA, masa lupa sih?” Jawab Dirla.
“Oh iya ya, kita ngerjain tugasnya di mana?” Tanya Awell lagi.
“Di rumah kamu aja.” Jawab teman-temannya serentak.
“Iya Well, rumah kamu kan bagus.” Kata Fahmi.
“Tapi kan…” Kata Awell agak takut.
“Tapi apa Well? Kamu pasti nggak mau bawa kita-kita ke rumah kamu, kamu takut ya kita bakalan maling barang-barang kamu, iya kan? Tenang aja kali Well, kita nggak maling kok.” Ujar Nasya.
“Bukan begitu teman-teman, tapi ntar mama aku marah.” Jawab Awell.
“Ya udah Well, kamu jangan masuk kelompok kita kalo jadi orang tu sombong banget, dasar anak mama.” Ujar Nasya marah.
Merekapun pergi meninggalkan Awell, padahal Awell cuma nggak mau kalo mamanya marah karena mamanya tak pernah mengizinkan Awell membawa teman-temannya masuk ke rumah.
Awell sedih dia tak punya teman lagi, padahal selama ini hanya Nasya, Dirla, Sauqy dan Fahmi yang mau berteman dengannya. Tiba-tiba mamanya datang.
“Well, mana papamu?” Tanya mamanya.
“Gak tau ma.” Jawab Awell.
“Anak macam apa kamu? Di mana papamu aja kamu gak tau, ya udah mama pergi dulu, jangan lupa beresin rumah.” Kata mamanya.
“Mau ke mana ma? Kan mama baru saja pulang.” Tanya Awell sedih.
“Gak perlu tau anak bawel.” Ucap mamanya dan pergi.
“Mama..” Teriak Awell sambil nangis. Tapi mamanya tak menghiraukan dirinya.
Tak lama kemudian papanya pulang.
“Well, mana mama?” Tanya papanya.
“Mama pergi pa, papa dari mana?” Tanya Awell pula.
“Dari rumah teman, hari Minggu ini kok sendiri aja Well, kamu nggak pergi main ke rumah teman kamu?” Tanya papanya lagi.
“Awell nggak punya teman lagi pa, nggak ada yang mau teman sama Awell.” Jawab Awell sambil nangis.
“Sabar Well, kan masih ada papa, kamu tu anak papa satu-satunya, kalo kamu sedih ntar papa ikut sedih.” Jawab papanya.
Papanya pun menghibur Awell dengan bermain piano, dengan alunan melodi yang sangat indah, nada yang merambat pelan kala jemari menari di atasnya. Dari kecil Awell suka sekali mendengar piano yang dimainkan papanya. Bagi Awell papanyalah orang yang paling mengerti perasaannya tidak seperti mamanya yang berhari-hari sibuk dengan arisan bersama teman-temannya.
Dengan sering melihat dan mendengarkan papanya bermain piano, lama-kelamaan Awell pun akhirnya mahir bermain piano. Karena itu papanya sangat senang dan bangga terhadap Awell.
Keesokan harinya saat di sekolah, Awell dijauhi oleh teman-temannya. Awell hanya tertunduk diam di bangku di depan kelasnya. Gurunya Bu Fatwa merasa aneh dengan sikap Awell itu, Awell yang biasanya riang dan heboh bersama teman-temannya, kini ia hanya menyendiri tanpa ada berbicara sepatah kata pun pada orang-orang di sana.
“Well, kenapa duduk sendiri di sini? Nggak main ama Nasya? Biasanya kamu akrab sekali dengannya.” Ujar Bu Fatwa yang tiba-tiba datang mendekati Awell.
“Oh tidak Bu, Nasya nggak mau temanan sama Awell Bu.” Ucap Awell dengan nada yang pelan sekali.
“Kenapa begitu Well, apa alasannya?” Tanya Bu Fatwa heran.
“Nggak kok Bu, cuma salah paham, ntar lagi bakalan baikan lagi Bu.” Ucap Awell dengan senyumannya yang membuat Bu Fatwa lega dan tidak bertanya lagi. Bu Fatwa pun pergi dengan langkah kakinya sepertinya menuju ke kantor majelis guru. Awell hanya diam tanpa beranjak dari tempat duduknya.
Nasya dan Dirla yang baru saja dari kantin mencoba mendekati dan mengajak Awell bicara.
“Kenapa Well? Kok dari tadi kamu cuma diam?” Tanya Dirla yang tiba-tiba duduk di samping Awell. Awell tak bicara sedikit pun, lalu Nasya berkata,
“Well, tugas IPAmu sudah siap ya? Sepertinya kamu bisa sendiri ya Well, gak butuh teman, kalau gitu kita ke kelas dulu ya, bye.”
Nasya menggenggam jemari Dirla dan membawa Dirla pergi meninggalkan Awell.
Saat bel masuk telah berbunyi, Awell tetap saja duduk di tempat itu sampai gurunya Bu Lasmi datang dan menyuruhnya masuk. Awell masuk kelas dengan langkahnya begitu lambat seperti tidak ada semangat sedikit pun. Dia cuma diam di bangkunya, tak sedikit pun bicara.
“Murid-muridku, besok pagi akan diadakan lomba bermain musik antarkelas, ya karna berhubung waktu persiapannya sedikit, ibu minta siapa yang benar-benar bisa bermain musik, dia yang akan ikut mewakili kelas kita.” Ucap Bu Lasmi pada murid-muridnya.
Awell hanya diam membisu seolah-olah dia benar-benar tidak tau apa yang terjadi di kelasnya.
“Awell Bu.. Dia pandai banget main piano Bu.” Ungkap salah seorang teman Awell yang bernama Nada.
“Benarkah Awell, kamu bisa?” Tanya Bu Lasmi.
Awell hanya diam, sepertinya tak sadar Bu Lasmi bertanya padanya, sampai Fahmi memukul mejanya dan berkata,
“Bangun Awell!! Bu Lasmi bertanya.” Awell benar-benar kaget apalagi Bu Lasmi sudah ada di depan matanya.
“Well, kamu bisa bermain piano?” Tanya Bu Lasmi lagi.
“Bisa Bu.” Jawab Awell dengan lemahnya.
“Kalau begitu kamu besok yang akan mewakili kelas kita untuk lomba bermain musik.” Ucap Bu Lasmi pelan padanya. Awell cuma mengangguk pelan.
Saat jam sekolah selesai, Awell menunggu mamanya menjemput di gerbang sekolah.
Tapi sudah dua jam ia menunggu mamanya menjemput, namun tak jua ada tanda-tanda kedatangan mamanya, ia pun memutuskan untuk berjalan kaki pulang ke rumah dengan jarak rumahnya yang cukup jauh dari sekolah.
Setibanya di rumah Awell melihat mamanya asyik membaca majalah dan tiba-tiba berteriak,
“Ini harus kubeli, rugi kalau tak ku beli.” Ucap mamanya dengan volume suara yang begitu keras.
“Mama, kenapa gak jemput Awell?” Tanya Awell.
“Oh iya lupa.” Jawab mamanya.
Awell pun langsung ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya, karena letih ia tertidur. Tak berapa lama kemudian mamanya datang dan langsung marah,
“Anak gadis pulang sekolah langsung tidur, bangun!”
“Mama, maaf Awell tertidur, maaf ya mama.” Ucap Awell dengan wajah sedikit takut.
“Sini, biar mama jelasin kerja kamu.” Ucap mamanya sambil menarik tangan Awell membawanya ke dapur.
“Kamu beresin semua ini, itu piring di cuci.” Ungkap mamanya.
“Baik ma.”
“Lain kali kamu itu jangan lalai seperti ini!” Ujar mamanya yang tiba-tiba mendorong Awell dan mengenai rak piring, hingga piring-piring itu pecah.
“Aduh mama, tangan Awell sakit ma.” Tangis Awell saat pecahan piring itu mengenai tangan kirinya dan membuat darah yang cukup banyak.
“Kamu bagaimana sih Awell? duh.. mama pusing, pokoknya kamu beresin semua ini.” Ucap mamanya dan langsung pergi meninggalkannya.
Dengan kepiluan hatinya Awell menangis melihat piring-piring itu dan terus memegang tangannya yang berdarah. Sedikit demi sedikit pecahan itu ia kumpulkan dan mulai membereskan semuanya.
Setelah selesai ia pun ke kamarnya, namun ia merasakan tangannya semakin sakit, saat itu ia sadar bahwa ia tak akan bisa bermain piano untuk mewakili kelasnya.
Di sekolah teman-temannya begitu marah padanya, dengan air matanya Awell cuma bisa diam dan terus terdiam. Sepertinya ini benar-benar kesalahan dirinya, ia telah mengecewakan harapan teman-teman dan gurunya. Hingga kelasnya tidak jadi mengikuti lomba itu.
“Sudahlah Well, tak apa kalau kelas kita tak jadi ikut.” Ucap Bu Lasmi melihat Awell yang dari tadi menangis.
“Maafin Awell Bu, Awell tak bisa menjaga kepercayaan ibu terhadap Awell, ibu begitu percaya bahwa Awell akan mengikuti lomba itu, tapi nyatanya Awell benar-benar mengecewakan hati ibu.” Jawab Awell.
Bu Lasmi terus menenangkan Awell supaya dia tidak memikirkan tentang hal itu lagi, hingga Awell akhirnya memberikan sedikit senyumannya pada Bu Lasmi.
Saat ingin pulang sekolah, Awell meminta maaf pada semua teman-temannya, teman-temannya pun memaafkannya.
Awell seorang gadis manis yang suka sekali mengarang, tak beberapa lama lagi mamanya berulang tahun. Awell membuat sebuah karangan tentang isi hatinya untuk mamanya tercinta sebagai kado ulang tahun mamanya.
“Awell buka pintunya!” Teriak mamanya di luar kamar Awell.
“Ada apa ma?” Tanya Awell keluar dari kamarnya.
“Ke mana saja kamu hari ini, piring nggak dicuci, rumah nggak disapu, ngapain aja kamu?” Marah mamanya dengan suara keras.
“Maafin Awell ma.” Jawab Awell sambil nangis.
Papa Awell tiba-tiba muncul dan berkata,
“Ada apa ma? Kok baru pulang marah-marah?”
“Lihat pa anakmu ini, kerjaan main-main saja.” Jawab mamanya sambil mendorong Awell sampai jatuh. Mamanya lalu pergi.
“Well… Well.. jangan nangis Well, biar papa saja yang ngerjain pekerjaanmu itu.” Ungkap papanya.
Awell hanya terdiam, ia lalu masuk kamar dan menguncinya. Awell melanjutkan karangan meski hatinya terasa gundah.
Keesokan harinya Awell berangkat ke sekolah diantar mamanya dengan mobil. Sesampai di depan sekolah, mamanya langsung keluar dari mobil.
“Well cepat!” Teriak mamanya.
“Iya ma.” Jawab Awell.
Mamanya langsung menyeberang tanpa memperhatikan kendaraan.
“Mama awas!” Teriak Awell. Awell pun mendorong mamanya hingga jatuh di pinggir jalan. Awell berteriak saat mobil mendekatinya.
“Awell…” Teriak mamanya.
Sebuah mobil menabrak Awell sehingga Awell meninggal, mamanya pun memeluk Awell.
“Awell bangun sayang!” Teriak mamanya.
Itu ucapan sayang dari mamanya yang pertama kali untuk Awell. Namun sayang, Awell telah tiada. Seandainya dia masih hidup, pasti dia sangat senang sekali.
Hari ultah mamanya kali ini adalah hari pemakaman Awell. Mamanya sangat sedih, dia menyesal telah berbuat kasar pada anak kandungnya.
Sepulang dari pemakaman, mamanya langsung ke kamar Awell, air matanya berlinang mengenang anak semata wayangnya itu. Lalu ia melihat sebuah kado di atas meja belajar Awell. Tertulis di kado itu,
“Untuk mama tercinta, Happy Birthday Mama, dari Awella Sarrah.”
Lalu ia membuka kado itu, ternyata isinya hanya lembaran kertas putih berisi rangkaian kata-kata. Itulah sebuah karangan indah dari Awell yang di persembahkan untuk mamanya tercinta. Tangisan mamanya langsung meledak saat selesai membaca karangan itu.
“Awell maafin mama.” Sesal mamanya.
❀END❀