Banyak orang bilang surga itu di telapak kaki Ibu. Ya benar, aku pun mengakuinya, karena Ibu adalah orang yang paling berharga dalam hidup ku.
Aku Fara, dan aku mempunyai dua adik kembar. Rini dan Riki.
Seperti biasa, sebelum berangkat sekolah kami terlebih dulu sarapan pagi hanya bersama Ibu. Aku dan kedua adik kembarku pun berangkat bersama ke sekolah.
Biasanya pulang sekolah aku menjemput si kembar, tapi hari ini sudah terlalu siang untuk menjemput mereka, karena mereka pasti sudah dijemput oleh Ayah.
Sudah lama rasanya aku tidak mengunjungi rumah nenekku yang berada dekat dengan sekolah si kembar. Akupun memutuskan untuk mampir ke rumah nenek. Hari sangat terik, akupun percepat langkahku menuju rumah nenek.
Pintu rumah nenek terbuka, aku langsung masuk, seketika itu aku ingat bahwa ini hari jumat, nenek selalu pergi ke makam kakek.
Tapi kenapa pintu rumah terbuka? Gumamku dalam hati.
Setelah berjalan di bawah matahari, tenggorokanku serasa ingin disiram dengan seteguk air. Ketika aku hendak ke dapur untuk mengambil air minum, kamar belakang yang dulu menjadi kamar ibuku setengah terbuka. Saat aku mendekat ke kamar dan melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu, aku pun terdiam, tercengang dan tak karuan.
Betapa tidak, aku mendapati Ayahku dan seorang perempuan bukan ibuku bertel*njang bulat di atas ranjang, melakukan hal yang tidak pantas untuk aku lihat.
Astaghfirulloh Ya Alloh,
Jantung ini hampir terlepas dari penopangnya, hati ini bagaikan kaca yang remuk berkeping, raga ini seolah tidak lagi sanggup berdiri, darahkupun seakan mendidih sampai ubun-ubun, tidak kuat lagi aku menahan amarah dan air mata kekecewaan. Orang yang selama ini aku banggakan, ternyata tega berbuat zhalim.
Tanpa berpikir panjang aku langsung keluar dari rumah nenek dan aku berlari pulang ke rumah dengan hati yang teramat sedih.
Aku tak henti menangis dalam setiap langkahku. Memikirkan perasaan Ibu, memikirkan si kembar yang masih kecil.
Dulu aku sangat bangga pada Ayah, ketika Ayah mengajariku bersepeda, menolongku saat jatuh dari pohon, hujan deras menggendong Rini sampai ke Puskesmas saat Rini sedang sakit, menemani Ibu lomba masak, dan hal lain yang mencerminkan Ayah seorang pemimpin keluarga yang baik. Tapi kini semua itu musnah terkikis oleh kelakuan buruk Ayah.
Sampai aku di rumah, semakin tidak bisa aku tahan kekecewaan dan kesedihan yang hebat ini saat aku melihat foto pernikahan Ayah dan Ibu. Ingin aku menjerit sekeras-kerasnya untuk menghilangkan kemarahan di dada yang menyala.
Di rumah nampak sepi, tidak ada satu pun orang. Muncul rasa khawatir, di rumah memang tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba telepon rumah berbunyi.
“halo, selamat sore” kata penelpon,
“sore” jawabku singkat,
“apa benar ini Mbak Fara, anak Ibu Jihan?” Tanya penelpon itu,
“iya benar saya Fara, apa ada yang penting?” Tanyaku dengan sedikit bingung,
“sebaiknya Mbak Fara ke rumah sakit karena Ibu mbak Fara sedang dirawat di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi” kata penelpon menjelaskan,
Mendengar berita itu, keadaan batinku semakin buruk tersiksa, dan semakin besar pula kebencianku pada Ayah yang menghianati Ibu dan keluarga ini.
Aku pun segera pergi ke Rumah Sakit. Sampai aku di ruang di mana Ibu ku terbaring lemah, dan si kembar menangis di samping Ibu. Raga ini benar-benar tidak mampu berdiri lebih lama, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.
Tidak tahan lagi melihat Ibu dan si kembar, air mata ku pun tumpah tak tertahan lagi.
“sini nak, dekat Ibu” pinta Ibu padaku,
“bu apa yang terjadi bu, lebih baik aku yang merasakan ini semua, jangan Ibu” kataku sambil merintih,
“sudah jangan sedih, Ibu tidak kenapa-kenapa, hanya saja tangan kiri Ibu tidak dapat berfungsi seperti biasa” kata ibu
Akupun kaget
“aku membenci Ayah bu, harusnya Ayah yang merasakan kesakitan hidup Ibu, Ayah bu, aku benci Ayah” kataku seraya menangis
Ibu langsung menarik tanganku, dan aku langsung memeluk Ibu, kami pun menangis. Tangisanku mulai keras, diiringi dengan tangisan si kembar yang terlaulu kecil untuk menerima kenyataan ini.
“Ibu tidak apa jika Ayah memilih untuk pergi bersama perempuan itu, asalkan jangan kalian yang pergi dari hidup Ibu, karena Ibu tidak akan sanggup jika tidak ada kalian yang selalu membuat Ibu semangat dari penghianatan ini, kalian yang membuat Ibu kuat kehilangan cinta dari Ayah” jelas Ibu.
Kini sudah satu bulan Ibu aku rawat Ibu di rumah, selama satu bulan itulah Ayah memilih untuk hidup bersama istri barunya, rupanya Ibu telah mengetahui penghianatan Ayah, tapi kebencian Ibu pada Ayah tidak sebenci aku pada lelaki jahat itu.
Setiap aku membantu Ibu mandi, aku teringat ketika kecilku dulu, Ibu tidak pernah lelah satiap pagi dan sore memandikan ku, ketika aku membantunya mengambil makanan akupun teringat dulu, aku yang selalu dia suapi dengan penuh sabar setiap aku membantah.
“Ibu, sekarang orang yang selalu membuat onar di rumah ini sudah tidak ada lagi bu,“ kata si kembar Rini
“memang siapa yang selalu mebuat onar?” Tanya Ibu pada Rini
“Ayah kan bu, dia selalu membuat Ibu sedih dan menangis, sekarang Ayah tidak ada, jadi sekarang Ibu tidak boleh menangis-menangis lagi” kata Riki mengahrukan suasana,
“Iya Rini senang Ayah tidak ada di sini, karena Ibu jadi sering tertawa” tambah Rini
“jangan salahkan Ayah kalian” kata Ibu menjelaskan,
“dulu Ayah sangat mencintai Ibu, dan Ibu pun begitu, tapi kini tidak seindah rencana ketika Ayah dan Ibu masih saling setia, sekarang hanya cinta kalian yang Ibu harapkan” kata Ibu sambil menangis
Si kembar menangis, Ibu menangis dan akupun menangis.
Kali ini tak akan aku biarkan Ibu menderita melihat ku terpuruk karena keluarga yang berantakan ini. Akan kami jaga malaikat dalam hidup kami, Dulu kami kecil, Ibu yang susah payah merawat kami, kini giliran kami yang mengabdikan diri meskipun tidak akan pernah cukup membalas kasih dan perjuangan Ibu terhadap hidup kami.
Sesederhana cerpen di atas, pesaannya pun sederhana, jika kita yang masih memiliki Ibu dan jika ini terjadi dalam hidup kita, betapa menyesal kita tidak menjaga Ibu ketika beliau masih sehat dan masih bisa menasehati kita, masih tersenyum dalam hidupnya.
Tentunya kita akan lebih bahagia melihat kedua orangtua kita bahagia dalam kesetiaan.
Yuk sama-sama belajar menjaga kedua orangtua kita.
~Tamat~