Namaku Rossa, gadis malang yang kini hidup sebatang kara. Aku duduk di kursi teras rumah peninggalan nenek, memandangi sebuat potret lama yang sangat bahagia. Dalam potret itu hanya terlihat kebahagiaan dan cinta yang tulus satu sama lain. Hingga akhirnya semua berubah. Aku mulai mengingat satu persatu kejadian yang menyebabkan hidupkuku menjadi seperti ini.
Sebelumnya, aku memiliki sebuah keluarga yang lengkap, dan kehidupan keluarga kami sangat harmonis. Ayah, ibu, aku dan kedua adikku, kami semua hidup bahagia. Kami saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain.
Hingga suatu hari, aku mendapati adik bungsuku yang tergeletak tak bernyawa di dalam kamar miliknya.
"AAAKKH!" Aku masih mengingat betapa terkejutnya aku saat melihat itu, hingga tak sadar bahwa lisan ini bergerak dengan sendirinya.
Mamaku yang datang mendekat, langsung berteriak histeris dan meraih tubuh adik laki-lakiku yang saat itu masih berusia 5 tahun.
Para tetangga terus berdatangan menguatkan hati mama. Namun diantara support mereka, aku tak sengaja mendengar bisikan beberapa tetangga tentang kematian adik bungsuku.
"Buk, tadi saya lihat waktu jenazah Erwin dimandikan, ada bekas cakaran gitu di dada Erwin," ungkap salah satu tetangga yang saat itu ikut melayat kerumah kami.
"Iya buk, saya juga lihat. Kasihan si Erwin. Lagian Pak Gatot sama Bu Anis kenapa gak bawa Erwin kerumah sakit ya." Salah satu tetanggaku ikut menimpali.
Jujur hatiku saat itu merasa sedih dan sempat berfikir seperti mereka.
'Mengapa ayah tidak membawa adikku, setidaknya untuk mengetahui penyebab kematiannya, dan untuk memastikan luka apa yang ada di dada Erwin,' batinku.
Pikiran-pikiran itu terus bermunculan di kepalaku. Namun aku menepisnya dan berfikir, mungkin ayah sudah mengihklaskan Erwin, adik bungsuku.
Kematian Erwin masih sangat membekas di hati kami. Namun 6 bulan sejak kematiannya kami kembali berduka. Untuk kedua kalinya, aku kehilangan saudaraku. Naina dia adik pertamaku.
Naina mengalami demam selama satu minggu menjelang kematiannya. Dia terus mengeluhkan sakit di bagian dada dan perutnya.
Naina yang menjadi tempat curhatku saat aku jatuh cinta pada seseorang, kini dia terbaring lemah di atas kasur. Aku tak bisa mendengar lagi candaanya yang selalu menggodaku.
"Laki-laki mana sih yang gak tertarik sama kakakku yang cantik ini." Aku mengingat jelas ucapannya yang sambil terkekeh geli, sebelum ia akhirnya jatuh sakit dan meninggal.
Para tetangga yang datang melayat kerumah kami, mereka bertanya-tanya mengapa kasus kematian dua adikku meninggalkan bekas cakaran yang sama-sama menggores dada mereka? Dan lagi-lagi banyak dari para pelayat yang mempertanyakan mengapa ayah dan mamaku tidak pernah memeriksakan Naina ke rumah sakit, seperti kematian Erwin dulu.
Aku seakan terusik dengan sikap ayah dan mama, yang seolah bersedih namun tetap tenang. Aku merasa ada pertanyaan besar dalam kepalaku yang tidak bisa ku lontarkan kepada mereka. Ada apa ini sebenarnya?
Baru 1 minggu Naina meninggal, berhembus kabar tidak menyenangkan tentang keluarga kami. Itu semua bermula dari kematian dua adikku yang mereka rasa tidak wajar dan sangat janggal.
Mereka terus berspekulasi dan membicarakannya dari mulut ke mulut. Hingga pembahasan mereka mengenai keluarga kami, bermuara pada satu tindakan kotor yang mereka yakini telah dilakukan oleh ayah dan mama, yaitu 'PESUGIHAN'.
Mama mulai merasa terganggu dengan pembicaraan warga sekitar. Hingga akhirnya tepat setelah 100 hari Naina meninggal, ayah menjual rumah lama kami dan memboyong kami bertiga, untuk pindah dan menetap di sebuah rumah baru yang dibeli dari seorang temannya.
Aku ingat saat itu dalam perjalanan menuju lokasi rumah baru kami, tak ada satupun perbincangan penting yang terdengar dalam mobil.
Aku hanya memandangi Foto ku dengan Erwin dan Naina, saat kami berlibur ke Bali tahun lalu.
Kemudian aku kembali terngiang dengan ocehan para tetangga yang menganggap peristiwa ini hasil dari pesugihan orangtuaku.
It's okay, aku mengakui dulu keluarga kami sempat hidup dalam kesederhanaan. Rumah yang kami tempati biasa saja, dan kami hanya memiliki sebuah motor sebagai satu-satunya kendaraan pribadi.
Saat itu ayahku masih memiliki warung makan kecil di dekat pasar. Semakin hari usaha ayah semakin meningkat dan akhirnya mengharuskan ayah untuk mempekerjakan seorang karyawan waktu itu. Karena semakin hari jumlah pembeli semakin banyak, mama memutuskan untuk membantu ayah.
Keberuntungan terus menghampiri keluarga kami. Berselang 5 tahun ayah sudah memiliki empat cabang rumah makan di kota ini. Dari situlah kehidupan kami mulai berubah menjadi lebih baik. Ayah mulai membangun rumah dan mampu membeli sebuah mobil dan motor baru.
Ketika mamaku sedang hamil adik bungsuku Erwin, mama tidak pernah lagi datang untuk membantu ayah. Akhirnya ayah membuka lowongan pekerjaan sekaligus mencari karyawan untuk bekerja di Cafe and Resto yang baru saja didirikannya.
Keberuntungan selalu datang, dan keluarga kami tidak kekurangan uang sedikitpun. Tapi walau begitu, aku tak pernah berfikir bahwa ayah akan bersekutu dengan Iblis untuk kejayaannya saat ini. 10 tahun untuk mencapai semua ini menurutku wajar, karena itu bukan waktu yang singkat. Mungkin saja Tuhan ingin keluarga kami mengalami nasib baik.
Selama 30 menit perjalanan menuju rumah baru yang dibeli ayah, akhirnya kami sampai. Aku menurunkan koperku untuk memasuki rumah baru kami. Aku memilih menempati kamar di lantai 2, karena dari balik jendela aku bisa melihat hamparan padi yang luas dan pemandangan gunung yang indah di balik kabut. Sungguh suasana khas pedesaan yang sangat menenangkan jiwa.
~~
Sejak kepindahan kami, aku, ayah dan mama kembali mencoba membangun hubungan yang bahagia dan harmonis. Hingga suatu hari kondisi ayah mulai menurun. Ayah sering sakit-sakitan dan dua diantara empat cabang rumah makan miliknya harus ditutup karna tak ada lagi pelanggan.
Hal ini yang membuat ayah sering merasa emosi dan melampiaskannya padaku dan mama.
Ditambah lagi 'Cafe and Resto' yang ayah bangun untuk menambah penghasilannya, kini harus ikut-ikutan dijual untuk membayar hutang biaya pembangunan Resto itu sendiri.
"Usahaku, semua hasil kerjaku lenyap. Aaaaaaaaaahhhh!" keluhnya.
Mendapati ini, Ayah merasa tak terima kerja kerasnya selama 10 tahun lenyap dalam hitungan waktu dua bulan saja. Hal ini membuat ayah semakin jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Lagi-lagi bekas cakaran di dada ayah menjadi perbincangan warga di desa tempat yang baru kami tinggali.
Berselang 40 hari kematian ayah, seperti sebelumnya mama memilih untuk melarikan diri dari gosip-gosip yang disebarkan oleh para tetangga. Akhirnya kami memilih pergi dan tinggal di rumah peninggalan nenek.
Aku dan mama, kami berdua hidup mengandalkan penghasilan dari usaha rumah makan almarhum ayah yang masih tersisa.
Mama sering pergi bolak-balik dari rumah nenek ke rumah baru peninggalan ayah yang kami tinggalkan. Bahkan terkadang larut malam mama baru kembali. Entah apa yang dilakukannya seorang diri di rumah itu.
Saat aku bertanya, mama selalu menjawab, "Iya, Sa. Mama harus sering kesana karena ada orang yang tertarik membeli rumah peninggalan Ayah itu. Tapi ya gitu deh, belum ada yang cocok."
"Mungkin belum rejeki, Ma." Begitulah aku menjawab saat itu.
Aku berfikir, mungkin mama menjual rumah peninggalan ayah karena untuk menutupi hutang-hutang ayah dan untuk mencukupi kebutuhan kami berdua. Pasalnya, semakin hari omset rumah makan kami selalu menurun. Mama terpaksa menutupnya. Dan nihil, sekarang kami benar-benar tak memiliki apa-apa lagi.
Aku dan mama mencoba memulai usaha makanan melalui penjualan online. Alhamdulillah, pintu rejeki kembali dibukakan untukku dan mama. Kami selalu menerima pesanan setiap harinya.
Hingga suatu ketika saat aku berada di kampus, aku mendapati sebuah panggilan telpon masuk dari rumah sakit, yang mengatakan bahwa Mama meninggal akibat kecelakaan. Saat itu mama sedang mengantar makanan pesanan orang.
Seketika aku merasa kepalaku pusing. Badanku pun terjatuh karena seluruh tubuhku serasa lemas dan tak mampu lagi untuk berdiri.
Aku menangis histeris mengingat mama adalah harta terakhir yang kupunya saat ini. Beberapa orang mulai menghampiriku dan membantuku untuk bangun. Kemudian mereka juga ikut mengantarku kerumah sakit tempat mama berada sekarang.
Dirumah sakit, dokter memanggilku keruang mayat untuk melihat jasad mama. Aku tak kuasa menahan kesedihan karena harus terus-menerus kehilangan anggota keluargaku satu persatu.
Aku bejalan di lorong rumah sakit bersama dokter dan seorang perawat wanita. Di depan kamar mayat terlihat dua orang polisi sedang menunggu kami.
Aku berjalan dibelakang perawat itu, kemudian dia membuka kain penutup jasad mama dan menyibakkan sedikit baju dibagian dada mama.
Aku terkejut, mataku tak berkedip sedikitpun.
Goresan itu, seperti Cakaran.
Apakan itu goresan yang sama dengan yang dialami ayah dan kedua adikku? Aku mendapati banyak pertanyaan untuk diriku sendiri.
"Apakah adik ini betul anak dari ibu Anis?" tanya salah seorang polisi waktu itu.
"Iya pak." Aku menjawab dengan singkat.
"Ibu anda mengalami kecelakaan tunggal, yang menyebabkan sepeda motor yang ditumpanginya rusak parah dan beliau terpental hingga menyebabkan korban tewas di tempat kejadian. Namun kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Karena kami menemukan bekas cakaran di dada korban. Kami khawatir dibalik kecelakaan ini ada kasus pembunuhan berencana, yang sewaktu-waktu bisa membahayakan nyawa dari keluarga korban." Begitulah yang polisi itu katakan saat itu.
"Baik, Pak. Saya percayakan kasus ini pada Bapak." Aku menjawab pasrah.
Saat itu aku merasa seperti antara terbantu dan terbebani.Aku takut ini akan kembali memunculkan spekulasi orang-orang tentang keluarga kami, seperti dulu.
Selama sebulan kepergian Mama, aku tenggelam dalam buaian akan kerinduan dan ingin mengingat masa-masa bahagia keluargaku. Namun seolah selalu terkalahkan oleh ingatan, tentang kejadian naas yang terus-menerut menimpa kami waktu itu.
TUUUTTT!
Ponselku bergetar. Aku menatap layar yang seketika menyala dan menampilkan sebuah nomor baru yang sedang melakukan panggilan untukku.
"Halo, dengan siapa saya berbicara?" tanyaku saat menjawab telepon.
"Halo, saya Mukti. Apa benar ini dengan Rossa, pemilik rumah nomor 15 di desa Mulya," ucap orang itu.
"Ya betul, saya Rossa. Ada apa Pak Mukti?" Aku kembali bertanya pada laki-laki itu.
"Dik Rossa, saya melihat papan kecil yang bertuliskan bahwa rumah itu dijual. Saya tertarik dan ingin mengeceknya lusa. Apa dik Rossa tidak keberatan?" tanya orang itu padaku.
"Baiklah pak, 2 hari lagi saya akan tunggu kabar selanjutnya dari Bapak." Aku merasa lega, akhirnya ada orang yang kembali menawar rumah peninggalan papa, toh rumah itu tidak ada yang menempati.
Dengan sedikit rasa bahagia, aku beranjak dari kursi meninggalkan teras. Memasuki kamar dan tidur dengan memeluk semua anggota keluargaku yang kini hanya tinggal sebuah potret.
~~
Keesokan harinya sekitar pukul 3 sore, aku mengendarai mobil menuju rumah peninggalan ayah untuk sekedar mengecek kondisi rumah dan membersihkannya. Karena besok akan ada orang yang datang melihat rumah ini, aku harus merapikannya dulu, pikirku.
Aku mulai memasuki rumah yang sudah sebulan tak terjamah. Aroma debu mendominasi udara di dalam ruangan. Sarang laba-laba menggantung hampir di setiap pojok sudut rumah. Aku segera mengambil sapu dan kemoceng lalu mulai membersihkannya dari lantai atas.
Aku melirik jam tangan yang ku kenakan ternyata sudah menunjukkan pukul 5 sore. Membersihkan rumah yang tak terjamah selama sebulan ternyata butuh waktu 2 jam untuk membersihkannya, pikirku.
Sebelum pulang, aku bergegas untuk kembali meletakkan sapu dan kemoceng ke tempat semula yang letaknya dekat dengan kamar mandi dan dapur. Dari sana aku tak sengaja melihat sebuah pintu ruangan yang ada di paling belakang bagian gedung rumah ini. Jarak ruangan itu dengan posisiku saat ini dipisahkan oleh lorong sempit. Lorong yang tercipta dari sekat dapur di bagian kanan dan sekat kamar mandi untuk tamu di bagian kiri.
"Aneh, aku tak pernah tau ada ruangan itu selama tinggal di sini. Hemm, iya sih wajar selama disini aku cuma berdiam diri di kamar." Monologku sembari terus berjalan.
Aku membuka pintu ruangan tersebut. Ganggang pintu ini sangat sulit terbuka. Aku harus menarik dengan keras sembari mendorong daun pintu untuk bisa membukanya.
Krakk...
Pintu itu pun berhasil terbuka dan menimbulkan suara kasar dari engsel yang mulai berkarat. Atensiku terfokus menatap ruangan asing itu. Dinding kamar didominasi warna merah maroon pekat hampir seperti warna darah. Hiii ... aku begidik seketika.
Di dalam ruangan itu ada sebuah ranjang besi tua, lukisan-lukisan yang tak aku mengerti maksudnya, dan sebuah lemari kayu yang mungkin sudah sangat lama. Sehingga bagian tengah cermin telah retak dan membentuk sebuah lubang sebesar uang koin, hingga bagian dalam lemari itu sedikit terlihat.
Aku membuka pintu lemari tersebut dengan sangat hati-hati, karena takut retakan kaca itu akan pecah dan berantakan. Perlahan aku melihat ada sebuah benda yang tersimpan di dalamnya. Aku menambah ruang untuk bisa melihat dan mengeluarkan benda tersebut.
Aku berhasil membuka pintu lemari. Di dalam sana terdapat sesuatu yang dibungkus kain putih. Aku mengernyitkan dahi dan mulai memperhatikan benda tersebut.
"Benda apa yang disimpan dengan kondisi seperti itu?" Aku melayangkan pertanyaan pada diriku sendiri.
Kusentuh benda tersebut, bagian bawahnya terasa bulat dan sangat keras. Tanganku mulai menjalari seluruh bagian benda tertutup kain putih tersebut. Bagian atasnya juga keras, namun bentuknya lebih kecil dan lonjong.
Aku mulai mengeluarkan benda itu dari dalam lemari. Hatiku diliputi rasa was-was saat harus membuka tujuh lapis kain putih yang membungkus benda tersebut. Setelah semua kain terlepas aku mengangkat benda itu.
"Ooh, kendi. Aku kira apa, tapi kok ditutupi kain, kenapa ya? Ah yasudahlah, aku balikin lagi. Mungkin ini milik teman ayah yang punya rumah ini sebelumnya," ucapku setelah melihat kendi tersebut.
Tak lama setelah kendi itu ada di tanganku, awalnya aku berniat kembali melapisinya dengan kain putih tadi dan mengembalikan kendi itu di tempat semula.
Namun kendi itu terasa sangat-sangat panas di tanganku. Aku pun terkejut dan tak sengaja menjatuhkannya hingga kendi Itu pun pecah berkeping-keping.
"Aduh, aku gak sengaja ngejatuhin kendinya. Gimana nih?" ujarku panik.
Dengan segera kedua tanganku berusaha memunguti pecahan kendi itu satu-persatu dan meletakkannya di atas kain putih yg membungkus kendi tadi. Tak sampai selesai aku memungutnya ...
BRAAKK!
Tiba-tiba, pintu ruangan ini menutup dengan sendirinya. Aku mulai mencium bau amis darah memenuhi seluruh ruangan misterius ini. Tak butuh waktu lama, atmosfir di sekitarky mulai terasa sangat mencekam. Perasaan takut seketika muncul dan membuat bulu romaku meremang. Dengan sekuat tenaga, aku membuka pintu ruangan ini dan berlari menuju pintu depan.
Krek, krek, krek!
Aku berusaha mencoba membuka pintu depan namun tak bisa. Suara ganggang pintu terdengar menggelegar dalam rumah yang seketika berubah menjadi sangat sunyi. Aku mencari kuncinya, namun tetap tak kutemukan. Jendela dirumah ini juga dilindungi teralis. Jika tidak aku pasti bisa kabur dari sini, pikirku.
Sraaaaaatttt!
Tiba-tiba terdengar seperti suara benda robek. Aku semakin panik, dan berusaha mendobrak pintu untuk dapat keluar.
"Hiks, hiks, tolong! tolong!" Aku berteriak sambil mendobrak pintu dengan keras, namun tak ada satupun yang mendengar dan menolongku disini.
Sraaaaattt!
Suara itu terdengar lagi. Semakin lama semakit mendekat. Dan aku mulai merasakan disekujur tubuhku terdapat sensasi dingin yang menusuk tulang.
"Tolong! tolong! tolong aku!" Aku berusaha untuk kembali berteriak sekeras mungkin seraya mendobrak pintu dan jendela berulang kali, berharap ada yang bisa mendengarku.
"HAHAHA ... Aku senang, mangsaku sendirilah yang membebaskanku dari kendi itu."
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang sangat besar dan menggelegar. Tawa menakutkan itu berhasil membuatku terkejut. Badanku reflek berbalik mencari asal suara itu.
"Aaaaaaaaaahhhhhhhh!" Aku berteriak seketika.
Terlihat sesosok makhluk bertanduk menyeramkan yang sedang menggantung di atas langit-langit rumah yang tinggi. Badannya sangat besar berwarna merah kecoklatan dengan urat yang menonjol di seluruh bagian tubuhnya. Matanya merah dan melotot kearahku. Ia juga mengeluarkan liur dan bau yang sangat menjijikkan.
Makhluk itu memiliki sayap yang kokoh dan mengatup seperti sayap kelelawar. Cakar dibagian kaki dan tangannya sangat lancip. Bahkan dinding langit-langit yang dipijaknya menciptakan lubang dari cakarnya yang tajam.
"Aaaaaaaaa! Aaaaaaaa!" Aku menjerit sejadi-jadinya dan menangis secara bersamaan. Aku sungguh sangat-sangat takut melihat makhluk menyeramkan yang sedang bergelayut di atap rumahku itu.
"Aku ingin mengambil imbalan atas apa yang aku berikan pada keluargamu." Liurnya menetes saat makhluk itu berbicara. "Jika ayahmu tidak melakukan perjanjian dengan Iblis sepertiku, apakah kau pikir keluargamu bisa menjadi kaya? HAHAHA ...." Iblis itu tertawa memperlihatkan taring panjangnya yang hitam.
"Tidak! Ayahku tidak melakukan pesugihan." Aku masih memberanikan diri menjawab perkataan Iblis itu, sembari tak henti hentinya mendobrak pintu.
"Apa kau pikir ayahmu sebaik itu? HAHAHA." Makhluk itu tertawa lagi, sehingga air liurnya yang kental dan menjijikkan terus menetes deras membasahi lantai.
"Aku meminta kedua adikmu menjadi tumbal, ayahmu menyanggupinya. Tapi saat aku meminta ibumu menjadi tumbal, ayahmu menolaknya. Membuatku marah. Hhhrrrrrrrrr! Aku menjadikan Ayahmu sebagai gantinya, dan kemudian ibumu sebagai tumbal selanjutnya. HAHAHA! Namun ibumu mengirim Seorang dukun yang mengurungku dalam kendi yang kau pecahkan tadi." Iblis itu berbicara sambil berjalan berputar-putar di langit-langit rumah.
Tak dapat dipungkiri, batinku sakit mendengar pengakuan makhluk itu. Tapi iblis tetaplah Iblis. Dia bisa saja berbohong. Namun, mengapa yang dikatakannya masuk akal?
"Kau, menjemput ajalmu sendiri."
Iblis itu lalu merentangkan sayap kelelawarnya yang sangat besar. Kemudian ia terbang dan melompat kearahku. Kini makhluk itu berdiri 1 meter tepat didepanku.
Dari jarak yang sangat-sangat dekat, mataku membelalak menyaksikan dengan nyata makhluk besar dan mengerikan sepertinya. Jantungku memompa sangat cepat. Aku bisa melihat akhir nasibku yang tragis dengan kebringasannya.
"Aaaaa ... tolongg ... tolong aku!" Aku berteriak sekeras mungkin hingga akhirnya kakiku seolah mati rasa dan tak sanggup lagi untuk berdiri lagi.
Kini tubuhku hanya bisa terkulai lemas dengan kedua penglihatanku yang masih dapat melihat dengan jelas. Aku sangat ketakutan melihat wujud iblis menyeramkan itu dari jarak yang sangat dekat. Bau busuk tubuhnya membuat perutku mual dan air liur itu benar-benar sangat menjijikkan.
Iblis itu mendekati tubuhku yang setengah telentang di dekat pintu. Air mataku mulai berjatuhan dan tubuhku tak sanggup bergerak sedikitpun. Air liurnya yang menetes mengenai kaki, perut dan hampir seluruh tubuhku. Karena makhluk itu terus mendekat dan memutari tubuhku yang sudah tidak berdaya lagi.
Dia merentangkan sayapnya yang kokoh, mulutnya yang penuh liur itu menyeringai menampakkan taring hitamnya. Iblis menakutkan itu mengangkat sebelah tangannya, dan ...
Sraaaatttttt!
Cakar tajamnya menggores dadaku, dia melakukannya dengan sangat beringas.
Aku merasakan sakit dan perih yang tak tertahankan. Namun bibirku tak mampu bergerak sedikitpun walau hanya untuk mengatakan 'sakit'.
Di dalam pandanganku yang semakin buruk, aku masih menyaksikannya menyeringai kejam dan menghirup aroma darah yang menguar dari tubuhku. Sekujur tubuh ini mulai terasa panas, hingga akhirnya aku tak bisa merasakan apa-apa lagi selain mendengar umpatannya.
"Manusia-manusia serakah seperti kalianlah yang akan menjadi temanku di neraka Tuhan. HAHAHA!" Iblis itu mendekatkan wajahnya dan menghisap darah yang mengucur di dadaku.
Tubuhku terasa ringan. Perlahan aku menghembuskan nafas terakhir di tangan Iblis ini, sebagai tumbal terakhir perjanjian Ayah dengannya.
✨Catatan :
Karya ini dibuat bukan untuk menyinggung pihak manapun dalam hal apapun.
Semua tokoh dalam cerita tidak nyata dan semua murni sebuah imajinasi penulis guna memberi sebuah bacaan untuk hiburan semata.
Semoga kita bisa mengambil makna positif dari kisah diatas.
Terima kasih 😊
-TAMAT-