Awan yang menggantung di langit tampak berwarna kehitam-hitaman. Matahari bersembunyi di antara awan-awan itu. Bumi ini sedikit gelap karenanya. Tapi, aku menyukainya.
Aku yang berdiri di halte bus memeluk tubuhku sendiri. Aku kedinginan. Tapi aku menyukainya. Aku suka hari ini. Aku juga sengaja naik bus ke sekolah hari ini, rela repot-repot menunggu bus di halte.
“Geo!” Panggilan itu membuatku menoleh. Berdecak kesal karena ada seseorang yang mengganggu pagiku ini. “Lo sudah buat PR belum? Sebelum bus datang, gue catat dulu deh!” Laki-laki berperawakan besar itu menyerangai kecil. Wajahnya terlihat bertambah seram. Tapi kenyataannya, dia baik kok. Namanya Ivan, sahabatku dari kecil.
“Nggak! Nggak! Kemarin lo sudah pinjam PR gue. Jangan lagi hari ini. Kita sudah mau lulus SMA, Van. Mulai rajin dong. Buat menghidupi keluarga lo kelak.” Aku menepuk pelan pundak Ivan dengan santai. Sifat sok bijakku sepertinya mulai keluar. Sedangkan Ivan, laki-laki itu bertambah murung. Ayolah, di hari sebagus ini, masa cemberut.
Kendaraan beroda empat menepi di dekat kami. Kakiku sudah melangkah masuk ke bus, mencari bangku yang kosong. Ivan juga mengikutiku dari belakang.
Mataku melirik ke arah langit yang hitam. Aku sudah siap untuk menjalani hari ini.
~ Kau dan aku tercipta oleh waktu. Hanya untuk saling mencintai. ~
Aku memandang ke arah luar melalui jendela kelas. Tersenyum manis saat seorang gadis lewat di sana. “Halo, Aryn.”
Gadis dengan rambut lurus itu berhenti. Menoleh dengan mulut cemberut dan pipi bersemu merah. “Apaan sih, Geo?”
Aku terkekeh pelan. “Kalau orang nyapa, juga dibalas sapaan, gitu. Halo, Aryn.”
Mulut Aryn tambah cemberut. “Halo, Geo,” ucapnya seraya memutar kedua bola matanya malas.
“Ya sudah. Kamu ke kelas, ya. Belajar yang baik-baik. Jangan ngebayangin aku terus. Nanti istirahat kita bisa bertemu lagi.” Aku melempar senyum paling manisku ke arah Aryn. Aryn berdecak sebal, sedikit berlari kecil ke arah kelasnya.
“Jangan lari, Ryn. Nanti jatuh. Aku nggak sanggup melihat kamu terluka.” Aku berteriak kencang. Walaupun aku tidak tau Aryn mendengarnya atau tidak.
“Geo sedang melakukan aksinya. Aryn harus peka!” Borny berteriak heboh sambil memukul meja guru. Sialnya, nih cowok!
“Geo ngode. Kode keras, teman-teman!” Mulai deh, teman-teman cowokku yang kepalanya gesrek ini mulai beraksi. Berkoar-koar tanpa mempedulikan wajahku yang sudah berubah menjadi tidak senang ini.
Masa bodo, deh. Aku mengambil mengambil earphoneku, dan memasangnya ke telinga. Lagu kesukaanku dari marron five mulai terdengar di telinga.
Dengan jantung yang berdegup kencang, aku menatap wajah Aryn. Sedangkan gadis pujaanku itu, memandangku dengan alis berkerut. “Mau apa panggil aku ke sini, Geo? Ada sesuatu? Kalau nggak, aku pergi deh.” Aryn merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Aku menelan ludah, menatap Aryn dengan ragu-ragu. “Jangan pergi dulu, Ryn. Ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu.”
Gadis dengan mata hitam pekat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ngomong aja. Nggak masalah, kok.”
“Selama ini, aku suka sama kamu. Ah, nggak, bukan suka. Aku sayang sama kamu. Pengen ngelindungin kamu selalu, pengen ngeliat senyum kamu yang seperti penyemangat bagiku setiap hari.”
Aku dapat melihat kilatan kaget di wajah Aryn. Tubuh Aryn menegang. Matanya melebar. Aku rasa, semuanya tidak sebaik yang aku harapkan.
“Aku- aku- maaf, Geo. Aku nggak tau harus gimana. Aku nggak bisa jadi orang itu. Aku nggak sebaik yang kamu bayangkan.” Aryn menggigit bibir bawahnya. Terlihat frustrasi.
Aku memandang Aryn dengan wajah pias. Rasanya, badanku ini tidak bertulang lagi. Hatiku terasa ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum. “Nggak apa-apa, Ryn.”
“Maaf, maaf.” Sekali lagi, dia mengucapkan kata-kata itu dengan wajah bersalah. Aku memandangnya pahit.
“Satu hal yang harus aku tau. Kamu suka sama aku, atau nggak?” Walaupun sangat susah mengatakan ini, aku harus menanyakannya. Aku harus tau kenyataannya.
Mata Aryn terpejam selama beberapa detik. Dia menggeleng. Aku membuang muka. Aku saja yang terlalu berharap di sini. Aku seperti lelaki bodoh pasti di mata Aryn.
“Okeh kalau begitu. Kita jadi teman dekat saja mulai saat ini.” Aku tersenyum kecut. Meninggalkan Aryn di taman belakang sekolah sendirian.
Matahari yang bersinar terik siang hari ini membuat kulitku seperti terbakar. Sudah dapat kupastikan, kulitku yang warnanya tidak putih ini pasti akan berwarna makin hitam. Dan aku, sama sekali tidak peduli. Yang ingin aku lakukan saat ini, mengalihkan pikiranku dari wajah Aryn, atau perkataannya yang menolakku. Pikir deh, cowok mana yang nggak sakit hati saat ditolak cewek. Dan aku yakin, pasti nggak akan ada.
Napasku mulai terengah-engah. Lapangan yang cukup besar ini sudah kuputari entah berapa kali. Kakiku sudah mulai melemas. Aku mengambil botol air minum yang kutaruh di kursi, dan meneguknya dengan sadis.
Aku melirik teleponku yang sengaja kubiarkan tergeletak begitu saja di kursi. Ada sepuluh panggilan tidak terjawab dari ibuku. Dan ini nggak biasanya.
Aku segera berlari ke arah rumah dengan sisa tenaga yang kumiliki. Seenggaknya, pikiranku sedikit teralihkan.
“Mama.” Suara beratku mengalun dengan indah. Aku membanting pintu rumah, sehingga menimbulkan bunyi yang luar biasa besarnya. Dapat kupastikan adikku yang perempuan bawel itu akan mengoceh panjang lebar.
“Geo! Ya ampun, Geo! Kenapa baru datang sekarang?” Ibuku yang baru dari dalam langsung mengoceh. Aku duduk di meja tamu sambil melipat tangan di depan dada.
“Ada apa, ma? Aku lagi olahraga tadi. Ada sesuatu yang terjadi?” Aku bertanya dengan alis bertaut. Ibuku duduk tidak jauh dariku. Menatapku dengan raut wajah gelisah.
“Falisa belum pulang dari tadi. Kamu tolong cari ke sekolah, atau ke mana pun lah, Geo. Mama udah telepon sekolah, katanya adik kamu sudah pulang. Tapi belum sampai juga.”
Perkataan ibu sukses membuatku terdiam. Menatap ibu sambil melebarkan kedua mata. Falisa belum pulang? Ada apa dengan adikku?
“Mama mau ikut? Ayok, kita cari, ma.” Ibu langsung mengangguk dengan wajah gelisah yang kentara. Aku mengambil kunci mobil, dan langsung masuk ke dalam.
Kendaraan beroda empat ini kukendarai dengan perasaan gelisah. Ayolah, adikku satu-satunya itu sedang hilang. Dan ini kedua kalinya terjadi. Seharusnya aku yang disalahkan di sini, karena terlalu asik dengan perasaan galauku, aku sampai menitipkan Falisa ke tukang ojek untuk menjemputnya. Bodoh, memang.
Falisa, tolong baik-baik saja demi kakak. Aku menggenggam setir dengan keras. Otakku sudah tidak terkontrol lagi rasanya. Ibuku di samping sedang memainkan jemarinya dengan gelisah.
Aku tau, sesuatu yang buruk akan terjadi. Persis seperti kejadian beberapa tahun yang lalu.
—
Aku mengusap rambut Falisa dengan penuh kasih sayang. Aku tersenyum sendu. Bau ciri khas rumah sakit menyeruak memasuki indera penciumanku.
Kata-kata dokter tadi, teringat lagi di otakku. Aku mengacak rambutku frustrasi. “Penyakit Falisa semakin parah. Ginjal dua-duanya sudah mengalami kerusakan. Saya, sebagai dokter di sini, sudah tidak bisa lagi menanganinya. Saya minta maaf sebesar-besarnya.”
Kata-kata ibuku juga masih terekam dengan jelas di otakku. “Kalau tidak ada lagi di sini yang bisa menyelamatkan Falisa, mama akan membawanya ke manapun tempat yang bisa menyelamatkan adik kamu. Minggu depan, kita pergi ke Cina. Di sana, ada paman kamu yang pasti bisa menyembuhkan Falisa.”
Aku meneguk air ludahku dengan gusar. Tanganku kembali mengelus rambut Falisa dengan kasih sayang. Aku sangat menyayangi Falisa. Dia seperti malaikat kecilku yang sangat berharga.
“Kak Geo.” Mata Falisa mengerjap-ngerjap. Aku langsung tersenyum sumringah.
“Iya, kakak di sini, Lis. Kamu gimana? Ada yang sakit?” Aku bertanya dengan nada lembut. Tanganku menggenggam erat tangan mungil Falisa.
Perlahan, adikku menggeleng pelan. “Aku baik-baik aja, kak, kalau ada kak Geo di sini.”
Aku merasakan hatiku menghangat mendengar perkataan Falisa. Bibirnya tersenyum kecil. Aku menyukai senyum itu.
“Ya sudah, kamu istirahat ya. Mama lagi beli makanan buat kakak.”
Falisa mengangguk, bersamaan dengan aku yang berjalan ke luar dari kamar. Aku duduk di kursi depan kamar. Menutupi wajahku dengan tangan.
Banyak hal yang aku pikirkan, berhasil mengobrak-abrik perasaanku. Kalau mama dan Falisa pergi ke luar negeri, tentu saja aku juga harus ikut. Meninggalkan kota Bandung tercinta ini dengan berat hati.
6 years later
Beijing
“Kakak! Kak Geo!” Seorang perempuan manis berlari-lari ke arahku dengan senyumnya yang lebar.
Aku merubah posisi dudukku. Menatap perempuan manis yang sekarang berada di depanku dengan saksama. “Ada apa, Lis?”
Falisa mengacungkan kepalan tangannya tinggi-tinggi. “Aku diterima di universitas favorit impianku.” Nada bicaranya terdengar sangat bahagia, wajahnya berseri-seri.
Aku juga ikut tersenyum senang. Memeluk tubuh mungil adikku dengan penuh kasih sayang. “Selamat ya, Lis. Kakak ikut senang. Kamu harus belajar lebih baik lagi.”
Dalam pelukanku, Falisa mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pasti, kak. Aku mau seperti kakak, menyembuhkan banyak orang. Atau seperti paman, yang telah menyembuhkanku.”
“Apapun impian kamu, kakak akan selalu dukung kamu.”
“Makasih, kak. Selalu ada di sisiku selama ini. Aku sayang kakak.” Falisa melepaskan pelukan kami. Tersenyum lamat-lamat sambil menatapku teduh. Rambutnya yang berwarna hitam legam sedikit bercahaya terkena sinar matahari.
“Makasih juga, sudah bertahan selama ini untuk kakak dan mama, Lis.”
Aku tersenyum ramah pada pasienku. Seorang perempuan dengan wajah yang teduh. “Halo dede, di sana yang baik-baik saja, ya.” Aku mengusap perut yang sudah sedikit membesar itu dengan perlahan. “Bayi di dalam baik-baik saja. Berjenis kelamin perempuan.”
Perempuan yang menjadi pasienku tersenyum tipis. Mengusap-usap perutnya dengan penuh kasih sayang. “Terimakasih ya, dok.”
Aku mengangguk takzim, bersamaan dengan perempuan tadi keluar dari ruangan praktekku. Aku merenggangkan otot-otot. Mengusap peluh di dahi dengan punggung tangan.
Pintu berwarna putih kusam kembali terbuka, pertanda akan ada pasien lagi. Aku mendongak, tersenyum ramah. Tapi, senyumku langsung memudar, berganti menjadi kerutan di dahi. “Aryn?”
Perempuan dengan mata hitam pekat itu menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa terbaca. Bibirnya gemetar, perlahan-lahan cairan bening meleleh jatuh.
Aku terperangah. Tidak menyangka akan bertemu gadis pujaanku dulu di tempat seperti ini. Di Cina, negara orang lain. Dan setauku, tidak pernah ada orang lain yang mengetahui keberadaanku.
“Geo,” ucapnya lirih. Mengusap air matanya di pipi, lalu tersenyum manis. Duduk di hadapanku dengan cepat. “Itu kamu, kan?”
Aku tidak sanggup berkata-kata. Wajah Aryn sudah semakin bertambah dewasa. Dan perasaanku selama ini padanya, masih tetap ada.
“Maaf, Geo. Aku nggak tau lagi harus cari kamu ke mana. Dan nyatanya, kita bertemu di sini. Aku rindu kamu. Sangat.”
Aku masih tetap diam. Tidak yakin apakah ini nyata atau hanya sekadar mimpi belaka. Tapi, rasanya ini terlalu nyata. Aku mengangguk pelan. “Ini aku, Geo. Aku juga rindu kamu.”
“Gimana keadaan kamu?” tanyanya Aryn.
Aku tersenyum tipis, “Sangat baik. Apalagi sampai bertemu kamu di sini.”
Pipi Aryn bersemu merah. Kenapa dia sangat menggemaskan di mataku? Ya ampun. “Aku mau minta maaf tentang dulu. Aku benar-benar menyesal. Ucapan aku itu sama sekali nggak sesuai dengan kenyataan. Aku bohong sama diri aku sendiri.”
Aku menggigit bibir bawahku dengan perasaan aneh yang perlahan-lahan membuncah. “Aku selalu maafin kamu, karena aku juga mempunyai banyak kesalahan.”
“Kalau semua bisa diulang lagi, kamu mau nggak mengulangnya bersamaku?” Aku mengernyitkan dahi, bingung. “Eh, lupakan saja ucapanku tadi.” Aryn membuang muka dengan cepat.
Aku tersenyum jahil, menarik tangan Aryn dan menggenggamnya erat. “Jadi, kamu baru saja nembak aku? Atau melamar aku gitu?”
Mata Aryn bergerak-gerak gelisah, membuatku senyum usilku bertambah lebar. “Katanya, cewek yang nembak cowok itu aneh loh.”
Mata hitam Aryn menatap tepat di mataku. Membuat jantungku berdetak tidak karuan. Tanganku semakin menggenggam tangan Aryn dengan erat. “Ryn, kamu mau nggak, jadi pendamping aku di sisa hidupku?”
Mulut Aryn terbuka sedikit. Tampak tidak percaya dengan kata-kataku. Beberapa detik kemudian, dia mengangguk.
~ Berada di pelukanmu, mengajarkanku apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta. ~
Angin mempermainkan rambut perempuan cantik itu dengan usil. Gaun berwarna putih yang ia pakai ikut bergerak-gerak. “Sayang, ke sini, yuk! Enak banget anginnya.” Teriakan itu membuatku tersenyum lebar. Mempererat gendongan pada anak laki-lakiku satu-satunya. “Iya, tunggu sebentar.”
Tangan mungil Aryn menelusup ke antara jemariku. Aku menikmati sensasi hangat yang aku rasakan setiap kali aku bersama Aryn. Tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu.
“Sini, Abi biar aku yang gendong.” Aryn menatap bayi yang berada di gendonganku dengan gemas. Mengecupnya dengan penuh perasaan. Ah, Aryn memang sangat cocok menjadi seorang ibu. “Mengapa melihatku seperti itu?”
Aku terkekeh pelan, mendengar pertanyaan Aryn. “Kamu soalnya menggemaskan, Say. Seperti anak kita ini.” Aryn juga ikut tersenyum. Menatap Abi dengan tatapan kasih sayang.
Takdir yang Tuhan berikan kepadaku, sudah lebih dari cukup. Aku mensyukuri semua ini. Aku sangat menyayangi mereka. Aryn sudah seperti tempat untuk aku pulang.
Love you, Baby.
~Tamat~