“Gak usah kuliah, toh nanti kamu ke dapur-dapur juga, Sar,” kata Emak Erum ketika mendengar Sari berbicara soal kuliah pada Abah Salim. Sari mengungkapkan keinginannya untuk berkuliah jurusan keguruan. Menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil.
“Abah usahain ya, Sar, kamu sekarang belajar saja biar lulus tes masuk di perguruan yang kamu mau,” ucap Abah sambil bangkit berdiri dari duduknya. Ia lalu keluar rumah dan mengendarai motornya menuju gerbang Cibubur Compark. Di sanalah Abah Salim mangkal menunggu penumpang yang hendak menuju kawasan perumahan elit dan pusat pertokoan di Cibubur.
Sari membantu Emak Erum mencuci piring kotor yang menumpuk bekas makan siang.
“Ya, Mak, izinin Sari buat kuliah," rengek Sari. Tangannya sibuk membilas gelas dan piring yang penuh busa.
“Abah kamu teh cuma tukang ojek, Sari. Emak juga udah gak jualan nasi. Warung nasi kita kan udah bangkrut. Emak udah gak bisa biayain sekolah kayak dulu. Adik kamu juga masih SMP. Masa iya kamu mau kuliah juga, biaya dari mana?” keluh Emak sambil mengelap meja makan.
Sari menghampiri Emak Erum lalu memeluknya dari belakang. “Sari kan bisa cari kerja, Mak, secepatnya. Jadi, Sari kuliah sambil kerja. Boleh ya, Mak?"
“Kamu yakin, kuliah sambil kerja?” tanya Emak.
“Yakin, Mak," seru Sari sambil melerai pelukannya. Ia lalu berdiri di hadapan Emak dan memegang tangan wanita paruh baya itu. "Emak doain aja, agar Sari cepat dapat kerja ya, Mak,” lanjutnya.
“Ya sudah, semoga kamu berhasil ya, Sar,” doa tulus emak.
“Aamiin… Makasih ya, Mak.” Sari kembali memeluk Emak.
* * *
Sari sudah rapi dengan setelan kemeja putih dan bawahan rok panjang hitam juga pasmina yang menutupi kepalanya. Ia bersiap untuk melakukan interview di perusahaan tempatnya melamar pekerjaan.
“Selamat kamu diterima bekerja di sini. Kamu mulai bekerja hari ini dan sekarang silakan ke Pentry, temui Pak Amir, kepala OB. Nanti beliau yang akan menjelaskan pekerjaan kamu," kata ibu personalia yang mewawancarainya.
Terpancar rona bahagia dari wajah Sari walaupun ia hanya diterima sebagai office girl. Karena memang hanya bagian itu yang kosong. Waktu bekerjanya pun sangat mendukung kuliahnya, karena di hari Sabtu dan Minggu ia libur bekerja sehingga bisa pergi kuliah.
Setelah mengucapkan terima kasih, ia pun bergegas menemui Pak Amir di pentry yang ruangannya berada di lorong belakang kantor itu. Ia sempat kebingungan mencari ruangan yang bertuliskan pentry, namun beruntung ada seorang OB yang tengah membersihkan ruangan HRD mengantarnya untuk menemui Pak Amir. Sari sudah menerima tugasnya hari itu juga Ia bekerja dengan sangat giat.
“Saya duluan ya,” ucap Sari pada dua rekan kerjanya. Diambilnya tas dari dalam loker lalu menyampirnya di pundak.
“Iya, Sar, hati-hati," jawab Asih, teman yang baru ia kenal.
“Iya, Sih," sahutnya lalu bergegas keluar ruangan.
* * *
Sari berdiri menunggu angkutan umum. Sore itu, lalu lintas cukup padat karena orang-orang baru pulang bekerja. Tiba-tiba seorang pengendara motor matic menghampirinya.
“Sari, ayo pulang bareng!” Suara berat lelaki menawarkan tumpangan. Pengendara itu membuka helmnya.
“Rendi?” sahut Sari.
“Ayo naik!” suruh Rendi.
“Memangnya rumah kamu di mana, Ren?”
“Rumahku satu arah sama kamu.”
“Dari mana kamu tau, kalau kita searah? Kita kan baru ketemu tadi di kantor?” tanya Sari heran.
“Ayo, naik saja dulu, nanti kita ngobrol sambil jalan,” ajak Rendi lagi.
Sari pun menerima tawaran Rendi dan naik ke motor. Sepanjang jalan mereka mengobrol. Rupanya, Rendi tahu alamat rumah Sari dari Pak Amir, kepala OB.
Sudah satu bulan Sari bekerja. Ia menerima gaji pertamanya. Sebagian gaji ia berikan kepada Emak Erum untuk bantu biaya sekolah Dewi, adiknya, juga kebutuhan sehari-hari. Sebagian lagi, ia kumpulkan untuk biaya kuliahnya. Sari sudah mengikuti kuliahnya beberapa minggu lalu di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Abah yang membayar uang pendaftaran masuk kuliah sebelum ia bekerja.
Waktu berlalu begitu cepat. Kuliah Sari sudah memasuki semester 4. Namun, kontrak kerjanya sebagai office girl sudah habis. Sudah satu bulan ini, ia belum mendapatkan pekerjaan lagi, sedangkan ia harus segera membayar uang semester sebelum ujian dilaksanakan.
“Bah, Sari harus bayar uang semester ini supaya bisa ikut ujian,” ucap Sari sambil menyodorkan surat tagihan dari kampus.
Abah Salim menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Lelaki itu sudah tampak tua. Terlihat banyak kerutan di wajahnya juga rambut yang hampir memutih. Wajahnya begitu lelah.
“Nanti Abah cari pinjaman dulu ya, Sar, uang simpenan Abah belum cukup. Dewi juga butuh uang buat study tour,“ ucap Abah.
“Kalau gitu, Sari berhenti aja ya, Bah."
“Eh ... jangan, Sar! Kamu harus tetap kuliah, Abah mau kamu jadi orang yang bermanfaat kelak. Insya Allah, Abah masih sanggup biayain kuliah kamu. Nanti Abah cari dulu uangnya.” Abah bangkit dari duduknya lalu bergegas pergi mengendarai motornya.
Sari hanya menatap kepergian Abah Salim dengan wajah sendu. Hatinya merasa sesak. Di saat orangtua lain berbahagia di hari tuanya, Abah masih harus berjuang membiayai sekolah anak-anaknya.
* * *
“Sari, ini untuk bayaran semester kamu dan ini buat study tour Dewi, Mak.” Abah memberikan amplop coklat berisi uang kepada Sari dan Emak.
“Dewi, kamu harus belajar yang serius biar dapat nilai bagus kayak teteh kamu," ucap Abah lagi menasehati Dewi. Ia sangat menginginkan kedua anaknya menjadi orang sukses.
“Iya, Abah," jawab Dewi singkat, lalu melanjutkan menikmati sarapannya.
“Abah dapat pinjaman dari mana?” tanya Emak.
“Abah gadaikan BPKB motor ke bank. Emak doain Abah ya, biar Abah ada rezeki buat bayarnya," jawab Abah.
“Abah, maafin Sari ya, Bah. Kalau Sari gak kuliah mungkin Abah gak sampai gadaikan motor," kata Sari sedih.
Abah mengulas senyum. “Tidak apa-apa, Sari, yang penting putri-putri Abah bisa sekolah tinggi dan jadi orang sukses. Jangan seperti Abah sama Emak. Kehidupan kalian nanti harus lebih baik dari kami," tuturnya bijak.
“Aamiin,” ucap Sari dan Dewi kompak. Kemudian mereka memeluk lelaki itu hangat.
“Makasih ya, Abah, semoga Abah sehat terus," ucap Sari.
“Sama Emak enggak?” Emak Erum terlihat cemburu, karena tidak mendapat pelukan dari kedua putrinya. Sontak keduanya berhambur memeluk Emak Erum dan memberikan kecupan di kedua pipi Emak di masing-masing sisinya.
“Sari berangkat kuliah dulu ya, Mak, Abah.” pamit Sari sambil mencium tangan Abah dan Emak.
“Iya, hati-hati, Sari!” pesan Emak.
“Teh, tunggu bareng!" Dewi setengah berlari menyusul kakaknya. Mereka naik angkutan umum dan berpisah di perempatan kerena tujuan mereka berbeda.
Hari berganti hari-hari. Bulan berganti tahun. Sari menjalani kuliah dengan sangat serius. Ia tidak ingin mengecewakan Abah Salim yang susah payah mencari uang untuk biaya kuliahnya dan sekolah Dewi. Ia tidak memikirkan untuk berpacaran walau ada seorang mahasiswa ekonomi yang menaruh hati padanya. Saat ini, ia hanya ingin fokus pada kuliahnya yang tinggal satu semester. Itu artinya sebentar lagi ia akan menyandang gelar sarjana dan mewujudkan impian Abah.
* * *
Brakk
Satu kejadian malang menimpa Abah Salim. Abah mengalami kecelakaan di jalan raya karena motornya ditabrak dari belakang oleh minibus dengan sangat kencang hingga abah terpental jauh dari motornya.
Tubuh Abah Salim terkapar di jalanan yang nampak ramai. Semua kendaraan berhenti dan orang-orang mengerumuni tubuh abah yang bersimbah darah. Seseorang tampak menelepon ambulans.
Langit terlihat mendung, terdengar gemuruh di atas sana, seolah memberi pertanda. Suasana hati Sari mendadak kalut. Ia tampak tidak tenang saat mengikuti mata kuliah siang itu. Dadanya terasa sesak. Berulang kali ia menghela napas dan menghembuskannya perlahan mencoba menghilangkan ganjalan di dadanya yang entah apa.
“Kenapa kamu, Sari?” tanya Winda yang duduk di sampingnya.
“Gak tau, perasaan aku gak enak,” jawab Sari.
Ia melirik jam di ponsel kecilnya, kenang-kenangan sewaktu ia masih bekerja jadi office girl dulu. Sengaja gaji terakhirnya ia belikan ponsel agar ia bisa menghubungi teman-teman kuliahnya dan mempermudahnya dalam mendapat info penting dari kampus. Bukan ponsel mahal, karena memang ia tidak mampu membelinya. Ponsel seharga tiga ratus ribu, yang hanya bisa melakukan panggilan dan mengirim pesan.
Waktu menunjukkan hampir pukul 12 siang, sebentar lagi istirahat. Mungkin setelah ini ia akan pulang saja karena hatinya semakin tidak tenang.
“Baiklah kita akhir perkuliahan hari ini. Sampai bertemu di perkuliahan berikutnya. Selamat siang,” ucap dosen yang memberikan materi kuliah siang itu.
“Selamat siang, Pak," sahut para mahasiswa. Semua berhambur keluar kelas karena cacing-cacing di perut mereka sudah menagih untuk diisi.
Sari memutuskan untuk segera pulang. Ia merapikan buku-buku dan memasukannya ke dalam tas berbahan kanvas miliknya.
“Aku duluan ya, Win,” pamitnya buru-buru.
“Iya, Sar, hati-hati.”
Sari menggangguk lalu bergegas keluar kelas.
Seorang pemuda dari Fakultas Ekonomi tampak heran melihat Sari berjalan begitu cepat menuju gerbang kampus. Ia lalu berlari untuk mengejarnya.
“Sari," panggilnya.
Sari menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara.
"Rio," sahut Sari.
Lelaki itu bernama Rio. Pemuda yang menaruh hati pada gadis itu.
“Kamu mau ke mana, Sar, kok buru-buru? Bukannya kamu masih ada jam kuliah?” tanyanya.
“Aku harus buru-buru pulang, perasaanku gak enak, Ri,” jawab Sari sambil memeluk tasnya yang berat.
Kriiing…. Kriiing….
Dering ponsel Sari berbunyi. Adiknya yang menelpon. Ia segera menjawab panggilan.
“Assalamu‘alaikum, Wi."
“Wa’alaikum salam. Teh .... " Terdengar tangis di seberang telepon.
"Ada apa, Wi? Kenapa kamu nangis?" tanya Sari khawatir.
"Cepet pulang, Teh, Abah kecelakaan,” jawab Dewi sambil terisak.
“Innalillahi wainna ilaihi roji’un ... yang bener kamu, Wi?”
“Iya, teh, cepet pulang. Abah sekarang di rumah sakit Anugerah. Keadaannya kritis."
"Ya Allah ... " Tubuh Sari mendadak lemas.
Rio ikut cemas melihat keadaan Sari dan melihat buliran bening mengalir pelan di pipinya.
“Ya udah Teteh langsung ke Rumah Sakit sekarang. Jaga Emak ya.”
“Iya, teh ini juga lagi nunggu Mang Sakri ambil mobil buat ke rumah sakit. Hati-hati ya, Teh.”
Sari mematikan ponselnya dan memasukannya ke dalam tas.
"Ada apa, Sar?" tanya Rio cemas.
“Abah aku kecelakaan. Aku harus segera ke rumah sakit," jawab Sari sambil terisak.
"Aku antar ya?" tawar Rio. Ia masih menunjukkan perhatiannya pada Sari, walaupun dirinya pernah ditolak gadis itu.
"Gak usah, Ri, aku naik metromini saja," tolak Sari.
"Kalau naik metromini pasti lama sampainya. Sudah! Aku antar saja. Kamu tunggu di sini, aku ambil motor dulu.” Rio bergegas ke parkiran untuk mengambil motornya.
Tak lama, ia kembali dengan motor sportnya dan membonceng Sari menuju rumah sakit.
Sari dan Rio tiba di rumah sakit. Mereka segera berlari ke bagian resepsionis untuk menanyakan ruang rawat Abah Salim.
“Permisi Suster, ruangan pasien atas nama Bapak Salim di mana ya?”
“Oh, pasien kecelakaan motor ya, Mbak? Ada di ruang UGD,” jawab suster itu.
Sari berlari menuju UGD diikuti Rio. Ia belum sampai ke ruang yang dituju. Namun, dilihatnya samar-samar brankar yang di atasnya terbaring tubuh seseorang yang ditutupi kain putih tengah didorong dua orang perawat keluar dari ruang UGD. Tangis pilu Emak Erum, Dewi, dan beberapa keluarga Mang Sakri pecah mengiringinya.
Sari termangu tak percaya melihatnya. Ia belum percaya yang terjadi pada abahnya. Kakinya mendadak lemas. Tas yang bawanya pun jatuh dan buku-buku berhamburan keluar.
“Abah?” Sari hampir terjatuh. Beruntung tangan Rio sigap menangkapnya dan membawa Sari dalam rengkuhannya sambil berjalan mendekat pada brankar yang di atasnya terbaring tubuh Abah Salim yang tak bergerak. Semakin ia mendekat dan dibuka olehnya kain putih yang menutup wajah Abah dengan tangan gemetar. Seketika ia menjerit histeris memanggil ayahnya. “Abaaaahhh….”
* * *
Seminggu setelah kepergian Abah Salim untuk selama-lamanya, suasana rumah menjadi sepi. Tak ada lagi suara Abah yang memanggilnya minta dibuatkan kopi setiap pagi. Tak ada lagi suara deru motor Abah ketika pulang dari mengojek.
Sari memutuskan cuti kuliah untuk beberapa minggu sampai ia mendapatkan pekerjaan. Padahal kuliahnya hanya tinggal menyusun skripsi saja. Ia memerlukan uang untuk biaya semester terakhir dan penyusunan skripsi juga sekolah adiknya yang saat ini duduk di kelas tiga SMA. Karena memang tidak ada lagi yang menjadi tulang punggung untuk keluarganya saat ini sepeninggalan Abah. Untuk biaya makan setiap hari, Emak membuat camilan dan dititip di warung-warung.
Terdengar nada dering dari ponsel Sari, dilihatnya nama Rendi di layar. Ia berharap Rendi memberi tahunya tentang lowongan pekerjaan. Dengan cepat, ia memijit tombol hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga.
“Assalamu‘alaikum, Ren." Sari membuka percakapan.
“Wa’alaikumsalam, Sar. Aku turut berduka ya, maaf, Aku baru tau kabar dari Winda. Semoga abahmu diterima iman dan islamnya, serta dilapangkan kuburnya. Kamu yang sabar ya," ucap Rendi tulus.
“Aaamiin… Makasih ya, Ren.”
“O ya, Sar. Kamu masih gak ada kerjaan, kan? Kuliah kamu gimana?” tanya Rendi.
“Aku lagi nganggur Ren, butuh kerjaan. Kira-kira di tempat kamu nerima orang lagi gak?” jawab Sari diakhiri pertanyaan.
“Kebetulan aku memang mau menyampaikan pesan dari Pak Amir, kamu masih mau gak kerja sebagai OG?”
“Mau, mau banget Ren. Aku sangat membutuhkan pekerjaan itu.” Sari sangat antusias.
“Kalau gitu, kamu bersiap ya, lima belas menit lagi aku jemput.”
Raut wajah Sari berbinar. Ia dipanggil kembali bekerja di tempat yang lama. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Setelah menutup teleponnya, Sari bersiap untuk pergi bekerja pagi ini. Ia berucap syukur. Allah mendengar doa-doanya.
Allah yang tidak pernah tidur dan tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya. Di saat seperti ini, pertolongan Allah datang untuknya. Allah memberikan jalan keluar yang tidak disangka-sangka.
Sari sudah bekerja kembali. Ia bekerja dari pagi hingga sore hari. Malam hari, ia menyelesaikan skripsinya di laptop yang dipinjamkan Rio. Lelaki itu sudah banyak membantunya. Rio masih kuliah semester tujuh. Oleh karenanya, ia bisa meminjamkan Sari laptop.
Rio tulus, begitu juga Rendi. Teman satu tempat kerjanya juga tak mampu membendung rasa kagum pada Sari. Ia selalu ada, ketika Sari membutuhkannya. Selalu memberikan tumpangan ke tempat kerja atau saat pulang. Sehingga ia bisa mengirit ongkos. Beruntung Sari dikelilingi orang-orang baik yang menyayanginya.
Sari tengah merapikan skripsinya dan mempersiapkannya untuk persentasi esok hari. Begitu juga dengan Dewi belajar sungguh-sungguh karena tiga hari mendatang adalah hari perjuangannya untuk mencapai kelulusan dengan nilai yang terbaik. Mereka bersungguh-sungguh ingin mewujudkan impian Abah Salim. Walau terseok, mereka menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Mereka yakin tidak ada yang tidak mungkin. Semua dapat diraih dengan doa dan kerja keras.
Tiga bulan kemudian, tiba kelulusan Sari setelah sebulan yang lalu adiknya juga lulus dengan nilai yang memuaskan. Dewi menjadi siswa terbaik di sekolah dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri yang sama dengan kakaknya.
Kini Sari sudah mengenakan kebaya yang dibalut pakaian toga hitam lengkap dengan topinya yang terpasang di atas kepala berkerudung warna mustard. Ia tampak anggun dan cantik walau dengan riasan sederhana. Semua mata tertuju padanya, ketika Sari keluar dari gedung wisuda dengan membawa selongsong di tangan kirinya dan sebuah boneka mascot wisuda di tangan kanannya. Acara wisuda telah usai digelar.
Sari melangkah anggun menghampiri orang-orang yang menunggunya sedari tadi. Emak tampak terharu melihat Sari dapat mewujudkan impian Abah untuk mendapatkan gelar sarjana. Sesekali ia menyeka air mata yang membasahi pipinya yang mulai mengeriput. Sari mencium punggung tangan Emak Erum lama, buliran bening dari matanya jatuh membasahi kedua tangan tua yang selalu memberikan kekuatan dengan doa-doanya, yang senantiasa menengadah dan memohon pada Tuhan untuk kesuksesan anak-anaknya. Tangis bahagia mereka pun membahana di langit Jakarta siang itu.
Sari memeluk Emak erat, menyalurkan kebahagian kepada emak yang sempat menolaknya untuk berkuliah, hingga akhirnya dengan restu Emak pula dia dapat meraihnya dengan mudah. Beribu ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalasnya. Sungguh doa ibu adalah jalan mulus untuk mencapai segala impian.
Tampak dua orang laki-laki menghampiri Sari yang di tangan keduanya membawa buket bunga indah. Secara bersamaan buket bunga itu diberikan kepada Sari. Sari hanya termangu. Tak mengambil buket bunga dari kedua pemuda yang menaruh hati padanya.
“Ehem ehem, aku jadi iri sama kamu Sari," ujar Winda yang sama mengenakan pakaian toga juga. Ia terkekeh melihat raut wajah Sari yang yang tampak bingung.
“Selamat ya, Sar," ucap Rio sambil menyerahkan buket bunga yang dipegangnya.
“Selamat ya, Sari, semoga ilmumu bermanfaat. Sekarang kamu sudah jadi sarjana pendidikan,” ucap Rendi juga sambil menyerahkan buket bunga untuk Sari.
“Aamiin...,” ucap Sari.
Akhirnya Sari menerima buket bunga dari kedua lelaki itu. Terdengar riuh tepuk tangan bahkan siulan dari teman-teman dan saudara yang hadir di acara wisuda Sari.
* * *
Pusara itu belum kering, walau mulai ditumbuhi rumput-rumput hijau. Nisan kayu bertuliskan nama Abah pun masih terlihat indah. Sari, Emak, dan Dewi berjalan menyusuri jalan setapak menuju makam Abah Salim. Tangan Sari membawa keranjang berisi bunga untuk ditabur di tanah kuburan Abah dan Dewi membawa botol berisi air mawar. Mereka tiba di pembaringan Abah yang sejak enam bulan lalu dikebumikan.
Mereka bertiga berjongkok di depan pusara Abah Salim. Sari memimpin Al-Fatihah dan mengirimkan doa untuk ayahnya. Seusai berdoa, Sari dan Dewi mengeluarkan selembar kertas berharga untuk ditunjukkan kepada Abah. Andai Abah dapat melihatnya, Abah Salim pasti sangat bahagia.
“Abah, lihatlah, Sari dan Dewi udah dapet ijazah. Sari udah jadi sarjana sekarang,” ucap Sari sambil terisak. Sari menghela napas dan menghembuskan perlahan. Lalu ia melanjutkan kalimatnya. “Bah, Dewi juga udah lulus, dan dia dapet beasiswa dari kampus Sari. Abah pasti bangga punya Sari dan Dewi. Dua putri Abah yang paling Abah sayangi udah berhasil mewujudkan impian Abah."
“Abah, Dewi juga ingin seperti Teh Sari. Dewi akan belajar lebih giat biar Dewi juga bisa jadi sarjana.” timpal Dewi juga. Gadis itu tak kuasa menahan tangisnya.
“Abah, awalnya Emak berat. Emak kira, Emak gak sanggup ngejalanin ini semua tanpa Abah. Walau Abah gak ada di sisi Emak, tapi Abah serasa dekat. Alhamdulillah, Allah mudahkan jalan mereka untuk wujudkan mimpi Abah. Emak, Sari, dan Dewi selalu mendoakan Abah. Kami udah ikhlas, Bah. Abah tenang di sana ya," kata Emak sambil menyeka air mata di pipinya dengan ujung kerudung.
Matahari semakin merangkak turun. Mereka pun beranjak pulang, setelah menaburkan bunga di atas tanah kubur Abah. Mereka bertiga melangkah pasti menatap masa depan walau tanpa sosok Abah. Mimpi Abah sudah terwujud, menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin.
Setelah ini, Sari akan mengabdikan diri di masyarakat, mengajar di sekolah yang ada di kampungnya. Ilmu yang didapatnya adalah jerih payah kedua orang tuanya, kelak akan menjadi kucuran pahala bagi mereka. Aamiin....
TAMAT
❤️❤️❤️❤️❤️
Cerita ini aku dedikasikan buat Abah aku.
Semoga Abah mendapat tempat terbaik yaitu surga Allah SWT. Aamiin...🤲