Namaku Fajar Pradana.
Atau setidaknya, itu nama yang masih kuingat ketika aku bangun pagi itu di kamar kosku yang lembap dan sempit di daerah Dramaga.
Jam di dinding menunjukkan pukul 05.47.
Tubuhku pegal seperti habis dipukul semalaman. Sepatuku masih berlumpur di dekat pintu. Jaket gunungku tergantung, basah, meneteskan air yang entah dari mana asalnya.
Padahal terakhir yang kuingat—aku mendaki Gunung Salak bersama tiga temanku untuk riset kecil tentang navigasi dan anomali GPS. Aku mahasiswa teknik informatika semester akhir. Logika adalah agama kecilku.
Dan Gunung Salak… adalah variabel yang tak pernah mau patuh pada logika.
Ponselku bergetar tanpa henti.
Notifikasi. Ratusan.
Grup kampus. Grup keluarga. Nomor tak dikenal.
Tanganku gemetar ketika membuka salah satunya.
Breaking News: Mahasiswa IPN Ditemukan Tewas di Gunung Salak.
Namanya tertulis jelas.
Fajar Pradana, 22 tahun.
Itu namaku.
Aku tertawa refleks. Ini pasti hoaks. Clickbait murahan.
Tapi ketika kubuka Instagram, namaku trending.
Foto wajahku tersebar dengan pita hitam di sudutnya.
"Innalillahi…"
"Turut berduka…"
"Semoga khusnul khatimah…"
Jantungku berdetak begitu keras sampai rasanya dinding kos ikut bergetar.
Aku membuka berita lengkapnya.
“Korban ditemukan di jurang Cadas Ngampar, Gunung Salak, setelah dilaporkan hilang dua hari. Tim SAR menyatakan korban tewas akibat jatuh dan hipotermia.”
Dua hari?
Aku baru saja bangun.
Tanganku meraba wajah sendiri. Hangat. Hidup.
Aku berdiri dan bercermin. Bayanganku ada. Pucat, tapi nyata.
Kalau aku mati… siapa yang sedang berdiri ini?
---
Aku menelepon ibuku.
Nada sambung panjang.
Lalu suara perempuan yang sangat kukenal menjawab.
“Halo?”
“Bu, ini aku.”
Sunyi.
“Maaf, ini siapa?”
“Fajar, Bu. Anak Ibu.”
Hening beberapa detik yang terasa seperti liang kubur terbuka.
“Jangan bercanda seperti itu,” katanya pelan. Suaranya parau, seperti habis menangis semalaman. “Anak saya sudah meninggal.”
Darahku seperti membeku.
“Bu, aku di kos. Aku hidup!”
Klik.
Telepon ditutup.
Aku mencoba lagi. Nomorku diblokir.
Tanganku gemetar. Aku membuka video call. Ditolak.
Aku berlari keluar kos, tak peduli penampilanku kacau.
Tetangga kos, Bang Rian, sedang menyapu halaman.
“Bang!” panggilku.
Ia tak menoleh.
Aku berdiri tepat di depannya.
“Bang, aku Fajar.”
Ia menatap lurus menembusku. Lalu melangkah pergi.
Seolah aku… tak ada.
---
Aku naik ojek menuju rumah orangtuaku di Bogor. Perjalanan terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung bangun.
Di depan rumah, tenda biru berdiri.
Bendera kuning terpasang.
Orang-orang duduk bersila membaca doa.
Suara tahlil menggema.
Aku masuk begitu saja.
Di ruang tamu, foto besarku terpasang dengan bingkai hitam.
Itu foto wisudaku SMA.
Aku menatap diriku sendiri yang tersenyum kaku dari balik kaca.
Ibuku duduk di dekat foto itu. Matanya sembab.
Aku berlutut di depannya.
“Bu, lihat aku.”
Ia tak bereaksi.
Aku menyentuh tangannya.
Dingin.
Atau mungkin tanganku yang terlalu panas.
Ia tak bergeming.
Seorang tetangga lewat di sampingku. Bahunya menabrak tubuhku.
Tidak ada reaksi.
Aku terdorong jatuh.
Jantungku berdegup kacau.
Aku tidak tak kasat mata. Aku masih bisa menyentuh benda. Kursi, meja, lantai.
Tapi manusia… seolah tidak memproses keberadaanku.
Aku berdiri di tengah rumahku sendiri dan merasa seperti hantu.
---
Malam itu aku kembali ke kos.
Aku membuka laptop.
Sebagai mahasiswa informatika, satu hal yang kupahami: jika dunia nyata menyangkalmu, periksa dunia digital.
Aku masuk ke database kependudukan menggunakan celah keamanan yang pernah kutemukan untuk riset tugas akhir.
NIK-ku.
Status: MENINGGAL.
Tanggal kematian: dua hari lalu.
Penyebab: Kecelakaan Gunung Salak.
Data rumah sakit. Data kepolisian. Data kematian. Semua sinkron.
Cepat sekali.
Terlalu cepat.
Aku membuka rekaman CCTV basecamp pendakian yang sempat kuunduh untuk penelitian.
Di layar, kulihat diriku bersama tiga temanku: Ardi, Bima, dan Yoga.
Kami bercanda sebelum naik.
Rekaman berikutnya… kosong.
Glitch.
Lalu muncul gambar tim SAR mengevakuasi tubuh berlumur lumpur dari jurang.
Wajahnya rusak.
Tapi jaketnya milikku.
Aku memutar ulang.
Zoom.
Di pergelangan tangan mayat itu, ada gelang hitam.
Aku tidak pernah memakai gelang.
Siapa itu?
Dan kenapa semua data menyebutnya aku?
---
Aku menghubungi Ardi.
Nomornya aktif.
“Di mana kamu?” tanyanya dengan suara bergetar begitu mendengar suaraku.
“Aku hidup, Di.”
Ia terdiam.
“Fajar… jangan lakukan ini.”
“Lakukan apa?”
“Kami sudah menguburmu.”
Darahku berhenti mengalir.
“Apa maksudmu?”
“Kami lihat jenazahmu. Walau wajahnya rusak… itu kamu. DNA cocok.”
DNA?
Sejak kapan identifikasi mahasiswa hilang pakai DNA secepat itu?
“Di, dengar. Ada yang salah.”
Ia berbisik, “Gunung Salak bukan cuma soal kabut dan jurang, Jar. Ada zona blank. GPS mati. Sinyal hilang. Dan… orang-orang yang tidak tercatat.”
Sambungan terputus.
Nomornya tak bisa dihubungi lagi.
---
Aku mulai menyusun kemungkinan.
Hipotesis satu: Aku mati, ini alam antara.
Tapi rasa lapar, sakit, dan dingin terlalu nyata.
Hipotesis dua: Ini eksperimen psikologis besar.
Hipotesis tiga: Identitasku sengaja dihapus.
Sebagai mahasiswa yang pernah mengutak-atik server pemerintah untuk tugas akhir, aku tahu satu hal: sistem kependudukan tidak mudah diubah tanpa akses tingkat tinggi.
Seseorang dengan kuasa.
Seseorang yang ingin aku… tidak ada.
Aku teringat sesuatu di puncak Gunung Salak.
Hari itu, kami menemukan bangunan tua tersembunyi di balik jalur yang tak tercatat di peta. Beton, antena kecil, dan papan peringatan tanpa logo resmi.
“Proyek apa ini?” tanya Bima waktu itu.
Aku mendekat. Ada kabel serat optik menuju ke dalam tanah.
Seperti fasilitas komunikasi.
Aku mengambil foto. Dan—seperti biasa—menghubungkan laptopku ke sinyal yang tak sengaja terpancar.
Aku menemukan server lokal dengan folder aneh:
**Program Reset Identitas – Beta.**
Sebelum sempat menyalin data, alarm berbunyi. Sinyal hilang.
Kabut turun terlalu cepat.
Dan setelah itu… aku tak ingat apa-apa.
---
Jadi ini bukan mistis.
Ini sistem.
Aku membuka laptop lagi, menelusuri IP yang sempat kucatat di catatan kecilku.
Akses ditolak.
Lalu layar laptopku berkedip.
Muncul pesan:
**“Kamu seharusnya tidak ada.”**
Jantungku berhenti sejenak.
“Siapa kamu?” ketikku.
Balasan muncul hampir seketika.
**“Identitas Fajar Pradana telah dihapus sesuai protokol. Harap tidak mengganggu stabilitas data.”**
Data?
Aku manusia, bukan file excel!
“Aku hidup,” ketikku lagi.
Beberapa detik sunyi.
Lalu:
**“Secara biologis: ya. Secara administratif: tidak.”**
Tanganku gemetar.
“Kalian salah orang.”
Balasan berikutnya membuatku membeku.
**“Tidak ada kesalahan. Kamu melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat.”**
Bangunan itu.
Server itu.
Program Reset Identitas.
Mereka menghapus orang-orang yang tahu terlalu banyak.
Mereka membuatnya mati di atas kertas.
Dan dunia akan mempercayainya karena data adalah kebenaran baru.
---
Pintu kamarku diketuk.
Tiga kali.
Pelan.
Aku mendekat perlahan.
“Siapa?”
Tak ada jawaban.
Aku mengintip dari lubang kecil.
Dua pria berdiri di depan pintu. Berpakaian hitam. Tanpa ekspresi.
Salah satu memegang tablet.
Di layar tablet itu… foto wajahku dengan tulisan: STATUS: ANOMALI.
Jantungku hampir pecah.
Aku mundur perlahan.
Laptopku berbunyi lagi.
**“Tim koreksi sedang menuju lokasimu.”**
Koreksi.
Aku bukan manusia bagi mereka.
Aku error.
Aku berlari ke jendela belakang dan melompat ke gang sempit.
Suara pintu didobrak terdengar di belakang.
Aku berlari tanpa arah, hanya mengikuti insting bertahan hidup.
Di ujung gang, kaca etalase toko memperlihatkan bayanganku.
Wajah pucat. Mata liar.
Aku menyentuh kaca itu.
Pantulanku tersenyum… lebih dulu dariku.
Aku membeku.
Bayangan itu berbisik tanpa suara:
“Kamu sudah mati di sistem. Tinggal menunggu tubuhmu menyusul.”
Aku mundur.
Lampu jalan berkedip.
Suara sirene samar terdengar.
Apakah ini teknologi?
Atau Gunung Salak memang menelan sebagian jiwaku dan meninggalkan sisanya berkeliaran?
Aku tidak tahu lagi mana konspirasi dan mana kutukan.
Yang kutahu—
Namaku dihapus.
Ibuku tidak mengenalku.
Temanku mengubur seseorang dengan wajahku.
Dan orang-orang berpakaian hitam sedang memburuku karena aku adalah kesalahan yang berjalan.
Jika kau membaca ini dan namaku tak pernah ada dalam data mana pun—
ingat satu hal:
Di era ketika data adalah identitas, kematian tidak lagi butuh nisan.
Cukup satu klik.
Dan kau lenyap.
Aku Fajar Pradana.
Atau mungkin… aku hanya sisa dari seseorang yang sudah diputuskan tidak pernah ada.