Kata orang, segala sesuatu yang ada dalam hidup diatur oleh takdir, baik itu hidup, mati, rezeki dan juga jodoh.
Tahukah kau, sebuah legenda pernah berkata bahwa setiap orang selalu terhubung dengan jodohnya, dengan kekasih hati mereka.
Mereka terhubung dengan benang merah gaib yang terikat di jari kelingking. Konon, benang merah itu tak pernah bisa terputus atau terlepas ikatannya. Benang itu hanya terhubung pada seseorang yang merupakan takdir cinta mereka.
Maka, dari sana kita bisa mengiakan kalimat ‘jodoh tak akan pernah tertukar’. Jodoh selalu terikat.
Namun, bagaimana jika ada seseorang yang benang merahnya tak terhubung pada siapa pun? Apakah itu juga bagian dari takdir?
Menurutku itu tidak adil, terlalu kejam. Hidupnya akan menjadi sangat menyedihkan. Dia bisa saja merasa tak berguna, tak bernilai.
Jika ada hal yang demikian, mungkin kita bisa menyangkal kalimat lainnya yang berbunyi ‘setiap orang pasti memiliki seseorang yang telah di takdirkan untuknya’.
Lalu, bagaimana nasib dirinya?
***
Matahari telah surut. Aku mematikan laptop yang semenjak tadi bertengger di atas meja. Dengan cepat, kumasukkan ia ke dalam tas hitamku yang warnanya mulai kusam.
Kuregangkan badan sebagai tanda pekerjaanku di kantor telah selesai untuk hari ini.
Senja telah lama berlalu, menyisakan langit jingga yang semakin gelap membahana. Perasaan gelisah perlahan merasuki diriku, sejalan dengan kegelapan yang memangsa cahaya siang.
Aku terdiam sejenak, menatap jauh keluar jendela.
“Kau yakin tak jadi ikut?” salah seorang teman kantorku menghampiri.
Aku menganggukkan kepala, mengiakan pertanyaannya. Dia berlalu begitu saja. Aku sebenarnya ingin ikut, sungguh. Kami telah merencanakannya sejak jauh-jauh hari.
Sebuah pesta kantor yang menyenangkan telah terjadwal sejak lama. Kami bisa saling mengobrol dan menceritakan beban pekerjaan masing-masing, lantas menertawakannya. Lalu, secara diam-diam kami membicarakan atasan yang pelit gaji, pelit upah dan malah nyinyir menyuruh kami meningkatkan produktivitas.
Aku sungguh ingin ikut, aku sudah menantikannya.
Tapi tidak sampai ibuku menelepon tadi siang.
Dia memintaku agar segera pulang setelah pekerjaanku selesai. Aku tahu maksud ibu. Minggu lalu ibu menyinggung suatu masalah yang membuatku merasa gelisah. Yaitu ‘urusan menikah’.
“Nak, umurmu sudah dua puluh sembilan tahun. Tak mau menikah? Punya istri itu enak loh. Nanti ada yang mijitin kamu pas pulang kantor. Terus ada yang nemenin kamu," kata ibu panjang lebar.
Selepas itu, dua hari setelahnya ibu kembali memberi kode.
“Ibu bulan depan ulang tahun loh. Umur ibu sudah lima puluh tahun. Tapi ibu belum gendong cucu. Ibu kepingin punya cucu dari kamu. Kamu tahu nggak, mantunya bu Ningsih sudah hamil dua bulan. Itu loh, yang nikah bulan April kemarin.”
Lalu, kemarin malam, ketika makan bersama, ibu bercerita tentang anak gadis teman arisan ibu yang katanya sangat cantik dan santun.
“Kemarin ibu arisan di rumahnya bu Wati. Dia punya anak gadis, masih perawan. Cantik dan rajin, sopan pula. Umurnya baru dua puluh empat tahun, lebih muda dari kamu. Nanti ibu ajak dia kemari, ibu kenalkan dia sama kamu. Siapa tahu kalian cocok. Toh, kalau ibu punya mantu seperti dia, ibu pasti senang," kata ibu sambil menyuap nasi.
Aku tak tahu harus berkata apa. Di satu sisi mungkin ibu benar. Usiaku sudah terlalu cukup untuk menikah. Aku juga tak mau jadi bujangan tua, bujang lapuk.
Tapi di sisi lainnya aku takut. Aku tak tahu apa pun soal pernikahan. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan nanti jika menikah atau bagaimana cara memperlakukan seorang istri.
Atau mungkin...aku bukannya tak mau, hanya saja belum ada niat. Aku tak ingin terburu-buru, hatiku belum siap.
Jadi, melalui perantara telepon, ibuku berkata bahwa anak gadisnya bu Wati akan datang ke rumah atas dasar undangan ibu untuk makan malam.
Ibu menyuruhku segera pulang. Maka, tanpa membuang waktu, aku segera bertolak dari kantor menuju rumah dengan mengendarai motor beat merek Yamaha yang cicilannya baru lunas minggu lalu.
Aku hanya seorang karyawan biasa yang belum mampu membeli mobil mewah keluaran Toyota atau sejenisnya.
Jalanan tak terlalu padat, terlebih aku bisa menyalip sana-sini dengan motorku yang ramping. Dalam setengah jam, aku sampai di tujuan.
Aku berhenti tepat di depan rumahku sendiri.
Sebuah pohon nyiur melambai pelan di dekat pagar kayu yang terlihat mulai lapuk, mulai bobrok. Ia seakan menyambut kepulanganku dengan senang hati.
Sebuah mobil berwarna putih merek Daihatsu dengan nomor pelat 23764 LQ telah terparkir di depan rumahku. Pikiranku tak jauh-jauh dari gadis yang selalu dibicarakan ibu belakangan ini.
Aku memarkirkan motor, lantas bergegas masuk ke dalam rumah. Dan benar saja, ibu sedang mengobrol dengan seorang gadis yang memakai baju terusan berwarna kuning cerah seperti kelopak bunga matahari. Rambutnya disanggul dengan rapi. Aku memilih segera menyalami ibu.
“Nak, ini anaknya bu Wati yang ibu bilang sama kamu. Gimana cantik, kan?” kata ibu bersemangat.
Aku hanya bisa mengangguk, mengiakan kalimat ibu. Ya, aku tak bisa menyangkalnya. Gadis itu memang cantik.
“Wes, kalian ngobrol dulu. Ibu siapin makan malam buat kita," kata ibu sambil berlalu.
Kami hanya berdua di ruangan itu. Rasanya canggung. Tak ada yang mau memulai pembicaraan duluan. Sampai akhirnya aku memperkenalkan diri.
Kami mengobrol dengan patah-patah karena gugup.
Dia memberitahuku namanya, yaitu ‘Sekar Ayu’.
Namanya memang sesuai dengan dirinya yang cantik dan menawan seperti bunga (sekar) dan penampilannya yang terlihat anggun (ayu). Dia bekerja sebagai seorang bidan di sebuah puskesmas. Bukankah itu pekerjaan yang cukup mulia?
Tak lama kemudian, ibu datang dan mengajak kami ke ruang makan dan menikmati masakan ibu yang selalu lezat.
Ibu dan Sekar mengobrol dengan asyik. Aku hanya diam dan mendengarkan sambil menyantap hidangan. Ibu tampaknya sangat menyukai Sekar. Setelah makan malam, Sekar izin pulang. Kami mengantarnya sampai pintu depan.
Kedatangan sekar sedikit banyak membawa pengaruh terhadap suasana hati ibu. Ibu terlihat lebih ceria dan lebih sering terdengar bersenandung di sela-sela waktu luang. Aku juga senang melihat ibu, mengingat ibu yang sering sakit-sakitan setelah ayah meninggal tujuh tahun yang lalu.
Hubungan ibu dan Sekar juga semakin dekat. Terkadang mereka pergi makan di restoran bersama. Terkadang ibu juga beberapa kali mengajak Sekar pergi berbelanja. Sekar juga semakin sering datang ke rumah. Dalam seminggu, dia bisa berkunjung sebanyak dua atau tiga kali. Hal ini terus berjalan sampai dua bulan.
Hingga akhirnya, di kunjungan sekar yang entah kesekian kalinya, ibu menceletuk, “Kalian kan sudah dekat, sama-sama masih singgel. Toh, kenapa tak menikah saja?”
Suasana hening tercipta, kami sedikit kaget mendengar kalimat ibu. Dan benar saja, keesokan harinya, ibu datang ke rumah bu Wati tanpa sepengetahuanku. Ibu mengajukan rencana menjodohkanku dengan Sekar, putrinya bu Wati. Dan malangnya, bu Wati setuju.
Aku yang baru pulang bekerja di malam harinya dibuat terkejut. Aku berusaha menolak perjodohan tersebut.
“Kamu ini gimana, sudah ibu carikan calon yang bagus malah tak mau. Bu Wati sudah setuju. Tiga hari lagi, kamu akan datang ke rumah bu Wati untuk melamar Sekar," kata ibu bersikeras.
“Tapi bu, Sekarnya setuju?” kataku masih ragu.
“Ya setujulah, wong ibunya aja sudah setuju. Tinggal kamu lamar dia, terus nikah, kelar. Kamu punya istri, bisa punya anak terus ibu bisa punya cucu," kata ibu lagi.
“Wes, pokoknya kamu mesti nikah.”
Kalimat terakhir ibu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Aku jadi khawatir. Apa yang harus aku lakukan setelah menikah? Bagaimana jika aku tak bisa menghidupi Sekar dan anak-anakku nanti. Lalu, bagaimana jika nanti kami bertengkar? Kemudian, jika menikah, kemungkinan aku akan pindah dan tak tinggal serumah lagi dengan ibu.
Ini sebuah dilema. Ibu ingin aku menikah, tapi aku belum siap. Aku malu. Aku bahkan sempat berpikir bahwa diriku ini tidaklah pantas untuk sekar.
Sekar adalah gadis yang nyaris sempurna. Sementara aku hanya seorang karyawan kantor biasa. Hal ini terus membuatku tak tenang. Aku jadi lebih sering melamun. Aku bisa saja bertanya pada teman kantor yang sudah menikah mengenai apa saja yang harus dilakukan jika menikah. Namun, aku malu. Aku tak tahu bagaimana reaksi mereka.
Maka, hari lamaran pun tiba. Dengan petunjuk ibu, aku mengucapkan lamaran di rumah bu Wati, ibunya sekar. Sementara Sekar hanya menunduk selama proses lamaran. Di luar itu, semua prosesnya lancar. Lamaranku diterima.
Lalu, segala sesuatu pun dipersiapkan. Mulai dari tanggal pernikahan, ijab kabul, hidangan hingga pakaian pengantin.
Kawan, aku benar-benar akan menikah sekarang. Lalu, melepaskan statusku sebagai seorang bujangan. Aku tak perlu mengkhawatirkan gelar bujang lapuk yang mungkin akan tersemat di depan namaku jika tak kunjung menikah.
Waktu pernikahan pun di jadwalkan tiga minggu dari hari lamaran. Aku jadi semakin gelisah, semakin tak tenang. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ibu terlihat antusias sekali. Ia hilir mudik pergi bersama sekar memilih pakaian pengantin, tenda pernikahan dan lainnya.
Mungkin aku harus melepas rasa takut dan cemas dalam menghadapi pernikahan. Sepertinya diriku ini harus menerima semuanya dengan lapang dada. Lalu, menjalani pernikahan secara tenang. Seperti air yang mengalir, aku akan membiarkan kehidupan pernikahanku mengalir dengan lancar nantinya.
Setelah waktu yang ditetapkan pun tiba, ibu bersama para tetangga sibuk memasak berbagai makanan di rumah. Wajah ibu bahkan terlihat jauh lebih berseri dibanding biasanya.
Kami memulai proses ijab kabul di sebuah mesjid yang tak terlalu jauh dari rumah. Di sana sudah cukup ramai, membuatku merasa gugup. Irama jantungku menjadi tak teratur. Aku duduk di depan penghulu yang berkopiah hitam. Lengkap dengan baju yang juga berwarna sama.
Sekitar lima belas menit kemudian, Sekar masih tak kunjung datang. Para tamu menjadi semakin gelisah, tampak tak tenang.
“Maklum ya, ibu-ibu, bapak-bapak. Namanya juga pengantin baru, ingin kelihatan cantik di depan calon suaminya," kata ibu berusaha menenangkan para tamu yang disambut oleh tawa dan siulan.
Meski di tunggu, namun Sekar masih belum menampakkan batang hidungnya.
Sampai akhirnya, telepon ibu berbunyi.
“Iya, ini saya. Sekarnya mana, Bu? Tamunya udah rame ini. Mesti gimana ini Bu?" kata ibu menjawab telepon.
Beberapa detik berselang, ibu hanya diam sambil menutup telepon. Senyuman mulai memudar dari wajah ibu. Aku tak terlalu paham maksud dari ekspresi ibu sementara tamu lain mulai ribut.
Lima menit kemudian, ibunya sekar datang. Aku menjadi sedikit lega.
“Maaf jeng, Sekarnya kabur.”
Itu kalimat pertama yang di ucapkan bu Wati. Para tamu semakin ribut. Mereka terlihat berbisik-bisik.
“Begini jadinya kalau anak dijodoh-jodohin. Pada kabur semua," kata salah seorang tamu.
“Gagal nikah ini, padahal mempelai prianya udah hampir kepala tiga," bisik tamu lainnya.
“Jeng Wati ini gimana, kok Sekarnya bisa sampai kabur," jawab ibu dengan suara bergetar.
“Ya mau gimana, Jeng. Saya juga nggak tahu," balas bu Wati dengan wajah yang tak kalah panik.
“Sudah di telepon Sekarnya?” kata ibu lagi.
“Sudah Jeng, dia bilang nggak mau nikah, lagi kabur sama pacarnya," jawab bu Wati.
Ibu syok, tak percaya dengan apa yang dikatakan bu Wati. Terlebih lagi mengetahui fakta bahwa Sekar memiliki seorang pacar.
Perlahan-lahan, ibu menangis karena tak terima. Aku hanya terdiam. Aku tak tahu bagaimana perasaanku saat itu. Di satu sisi aku kecewa karena tak jadi menikah dan di sisi lainnya aku merasa tenang karena tak perlu khawatir tentang kehidupan pernikahanku.
Mungkin Sekar bukanlah jodohku, atau mungkin saja benang merah kami tak terikat, tak terhubung. Atau, kemungkinan terburuknya adalah benang merah di jari kelingkingku tak pernah terhubung dengan siapa pun.
Selamat, kata bujang lapuk akan segera tersemat di depan namaku.
Sekar, semoga kau bahagia bersama lelaki pilihanmu.