Pernahkah kamu jatuh cinta? Cinta yang bagaimana? Cinta yang terbalaskan atau sebaliknya? Cinta yang terang-terangan atau cinta yang hanya mengagumi dalam diam? Cinta yang diperjuangkan atau hanya sebatas angan? Bagaimana kamu menafsirkan cinta itu? Sebagai impian atau sebuah khayalan semata?
Yang dipilih gadis bernama Nana ini adalah, dia secara terang-terangan mengutarakan isi hatinya, memamerkan kecintaannya terhadap pria pujaan. Tidak peduli orang akan berkata apa, yang penting ia merasa bahwa dia pun mempunyai hak. Hak untuk mencintai seorang pria, siapapun berhak atas hak itu, bukan? Hanya cukup menutup telinga, ocehan orang lain tak akan mampu menghentikan impiannya untuk menggapai apa yang diimpikannya. Ini jalannya, ini keinginannya. Walaupun ia tahu, sang pria akan menanggapi perasaannya atau tidak.
Cahaya matahari muncul di balik awan yang keputihan, menandakan bahwa langit sudah waktunya dikuasai oleh sang raja siang. Sekolah dengan penghuni para siswa berseragam putih abu-abu mulai penuh. Juga, seorang pria berjalan dengan sepasang kakinya menuju kelasnya yang berada di lantai paling atas. Memang seperti ini urutannya, kelas tiga mendapati tempat paling atas, kelas dua di tengah-tengah dan kelas satu di lantai paling bawah. Langkahnya begitu santai, tapi mudah sekali menarik para pasang mata kaum hawa. Mereka sering kali memperhatikan penampilan si laki-laki dingin itu dengan pandangan dan decakan kagum.
Laki-laki dengan bet bertuliskan Adlan Adelard. A di sebelah kiri atas baju putihnya yang bersih tersebut memiliki ketampanan wajah bak seorang aktor terkenal. Tapi, sifatnya yang dingin sudah seperti si peran utama pria dalam drama Korea Selatan berjudul Naugthy Kiss. Para siswi sering menyebutnya dengan sebutan 3A, karena nama dan nama panjangnya yang selalu diawali dengan hurup ‘A’.
Nana yang baru tiba di sekolahnya buru-buru mencari keberadaan pria yang menjadi idola sekolah. Dia berlari menaiki anak tangga, dan matanya langsung memberinya pengertian, menangkap sesosok pria yang tengah menaiki anak tangga dengan cuek. Pengelihatannya pasti tak salah, pasti dia adalah Adlan! Nana lantas mempercepat langkahnya, tak lama kemudian dia sudah berada di belakang Adlan. Bibirnya tak berhenti bergerak-gerak membentukan senyum melihat punggung di depannya yang naik turun. Nana memakai headeseat berwarna putih dan disambungkan pada lagu-lagu dalam daftar putar ponselnya. Sambil mendengarkan lagu kesukaannya, berkhayal bahwa ia tengah berjalan bersamaan dengan pria di depannya dengan sangat mesra. Dan bermimpi bahwa ia akan menjadi Oh Ha Ni yang mencintai Baek Seung Jo nya, begitupun sebaliknya.
Tapi, perjalanan ini berlangsung begitu cepat. Sekarang Adlan sudah duduk di bangkunya yang paling depan. Dan Nana pun duduk di bangkunya pada posisi barisan ke tiga. Lagu yang bermain di telinganya masih berputar hingga gadis itu sama sekali tidak mendengar suara-suara yang bersahutan dalam kelasnya.
“Berangkat bareng?” Teman sebangkunya berbisik ke dekat telinga Nana tentang kekepoannya. Tapi tak ada respon apa-apa dari Nana, dia hanya sibuk bernyanyi tanpa suara mengikuti lagu yang didengarnya. Kedua matanya pun tetap berada di depan.
“Na!” siswi bernama Caca itu menyiku pinggang Nana. Saat itu pula Nana menoleh ke samping dengan lirikannya yang sebal merasa sakit. “Apaan si, Ca?”
“Buka dulu headaseatnya sayaaang,” Caca segera membukakan headseat yang menempel di telinga Nana dengan gemas. Setelah benda itu lepas, Caca menarik napas pelan, Nana mendengus karena merasa terganggu. Lagu yang enak-enak dihayati tiba-tiba saja berhenti di tengah jalan.
“Tadi lo berangkat bareng sama Adlan?” tanya Caca penasaran.
“Aduh Caa, itu pertanyaan apa, sih? Pertanyaannya sama sekali gak masuk akal,” jawab Nana dengan nada pasrahnya.
“Terus kenapa kalau nyampe ke sini selalu bareng? Bukannya lo itu satu komplek sama dia? Deketan lagi, jadi wajar, kan kalau gue nanya gitu?” rasa ingin tahunya sekakin tinggi.
“Kan lo tau sendiri, kalau gue yang selalu ngikutin dia. Dan dia pun apa pernah ngelirik gue? Nggak, kan? Jadi mana mungkin bareng, kalau iya pasti gue udah teriak-teriak di depan loo,” Nana menekan suaranya jelas-jelas di depan wajah Caca.
“Kenapa gak ngajak bareng aja? Bukannya semua orang udah tau kalau lo itu suka sama Adlan, dan tu cowok juga tau tentang hal itu. Jadi kenapa gak maksa dia buat pergi sama-sama? Lo gak akan malu, kan?” sarannnya tanpa ragu. Ia tahu sendiri bahwa sahabatnya ini sudah tak mempedulikan lagi tentang harga dirinya.
Otak Nana mulai bekerja, mencerna perkataan yang dilontarkan Caca. Apa ucapannya memang benar? Satu alis tebalnya terangkat ke atas, menimbang-nimbangi saran tersebut. Jika dipikir-pikir, pendapat sahabat di sebelahnya ini memang masuk akal juga, dan mengapa inisiatif tersebut tidak meluncur saja ke dalam benaknya tanpa harus memakai perantara orang lain.
“Aah kebanyakan mikir lo!” sahut Caca yang tak sabaran, memukul kecil meja dengan telapak tangannya. “Udah mulai besok ajak aja berangkat bareng, gak usah nyumput-nyumput lagi. Bilang cinta aja gak malu apalagi ngajak berangkat sekolah? Itu pasti hal yang kecil di mata lo,” Caca menekan ujung kukunya di hadapan Nana.
Tetap saja, ucapan selalu berkata mudah. Tapi, saat dilakukan semuanya jauh akan kata mudah. Sulit dan kadang rasa gugup tiba-tiba menghujami tanpa permisi. Benar kata Caca, bagaimana mungkin Nana tidak mempunyai keberanian dalam melakukan hal kecil tersebut? Mengatakan cinta saja berani, mengapa mengajak pergi bersama tidak?
Mentari kembali menyapa. Nana keluar dari rumahnya sambil sibuk merapikan rambut hitamnya dengan bercermin pada kaca berukuran kecil yang selalu ia bawa ke sekolah. Tak lupa juga untuk menghapusi bedak yang menempel tak teratur di wajahnya yang mulus. Setelah merasa pas akan penampipannya, gadis itu kembali memasukan benda tersebut ke dalam ransel mungilnya. Lalu mengibaskan rambut untuk menghilangkan rasa gugup, nantinya. Nana mulai melangkah meninggalkan pijakan sebelumnya.
Dengan percaya diri, Nana berdiri di depan rumah Adlan. Melipatkan kedua tangan di bawah dada, sesekali mengendus bau bajunya yang sudah disemproti parfum kesukaanya. Beginilah Nana, selalu saja memperhatikan penampilannya hanya untuk terlihat manis dan cantik di depan pria incarannya. Dengan niat untuk bisa menarik hati pria tersebut, memamerkan kecantikannya supaya bisa mendapatkan cinta.
Beberapa menit kemudian, sesosok pria telah tiba di depan pagar. Pria itu memadukan alisnya, melihat perempuan yang sudah tak asing lagi baginya sudah berada di depan mata. Kebetulan pagar yang terpasang di depan rumah Adlan tidak terlalu tinggi sehingga mereka dapat melihat satu sama lain.
Adlan membuka pintu pagar lantas menutupnya kembali.
“Ada perlu apa?” pertanyaan itu langsung tertangkap oleh kedua telinga Nana. Gadis itu mulai gelagapan, bibirnya bergerak-gerak tidak menentu.
“Emmmm, itu anu…, emmm…,”
Adlah mengangkat tangan dan melirik arloji berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Udah gak ada waktu lagi, ini saatnya gue harus berangkat sekolah. Apa ada hal yang mau diomongin? Kalau iya, di sekolah aja ngobrolnya,” ucapnya yang membuat Nana merasa terburu-buru.
“Emm bukan itu maksudnya!”
“Ya udah,” Adlan bergegas pergi dari hadapan Nana. Tapi gadis itu langsung meraih lengan Adlah dan mengundang pria itu untuk menoleh ke belakang. Adlan lantas menapis tangan Nana yang menyentuhnya.
“Maaf, maaf. Maksud gue, maksud gue ke sini itu…,” suaranya tercekat akibat kegugupannya, tapi Nana segera mengusir rasa gugup yang sangat menyebalkan itu. Nana menarik napas pelan dan menghembuskannya lagi dengan pelan. “Maksud gue, gue pengen berangkat sekolah bareng lo,” akhirnya kalimat ajakan itu lolos keluar dari mulutnya, ucapan yang sedari tadi membebani sanubarinya.
“Boleh, kan?” tanya Nana tampak ragu memandang raut wajah Adlan yang tak memungkinkan.
“Terserah,” singkat Adlan dengan suara dinginnya. Dia pun kembali berjalan tanpa memberikan jawaban pasti kepada Nana. Nana mendengus sebal melihat respon Adlan, apakah dia tidak memuji penampilannya atau sekedar memandangnya saja? Nana kebingungan sendiri, mengapa pria yang mempunyai kepribadian beku itu tidak pernah meliriknya sama sekali? Pernah menyatakan cinta pun dia selalu tak memberi kepastian.
Seluruh siswa yang berada di koridor saling menghunuskan pandangannya kepada Nana dan Adlan yang berjalan berbarengan. Mereka juga tahu, bahwa tempat tinggal mereka itu berada di komplek yang sama. Jadi, tentu saja membuat mereka iri. Adlan sesosok siswa yang tertutup, tapi mampu menghipnotis hati para gadis. Nana dan Adlan memang terlihat sudah lebih akrab karena Nana yang selalu membuntuti Adlan, mengobrol pun selalu Nana yang mengawalinya.
“Adlan lo itu ganteng banget, kenapa gak coba buat cari pacar aja? Banyak tuh yang naksir, emmm termasuk gue,” Nana terus terang.
“Ada kok cewek yang gue suka…,”
“Hah?” Nana membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Hatinya seperti telah tersentil oleh sesuatu.
“Cuma dia gak pernah peka aja,” lanjut Adlan lagi. “Tapi nanti gue janji bakal ngungkapin perasaan gue yang sebenernya.”
Tanpa Nana sadari bahwa sekarang mereka sudah berada di depan kelas. Tiba-tiba saja Nana menjadi pendiam setelah mendengar ucapan Adlan yang membuatnya jatuh. Sementara pria itu tetap berjalan dengan santainya tanpa merasa bersalah, tidak peduli sama sekali.
Dia bicara bahwa gadis yang disukainya tidak peka, tapi lihat dirinya sendiri? Apa dia selalu peka kepada Nana? Sama sekali tidak. Pria macam apa dia?! Nana menggerutu dalam hati dengan kedua kepalan di tangannya. Sama saja barusan Adlan telah memberinya kepastian. Jadi untuk apa dia tetap berdandan cantik hanya untuk diperlihatkan pada pria yang sudah mendapatkan incaran gadis pujaannya?! Hal yang sangat memalukan, bukan? Nana mengacak-acakan rambutnya frustasi. Nyatanya dia mendapatkan jawaban yang menenggelamkan angannya untuk bisa memiliki Adlan. Apa dia bisa menjadi seperti Oh Ha Ni yang selalu kuat meski beberapa kali disakiti? Sepertinya tidak.
Nana melipatkan kedua tangannya di atas meja, pandangannya kosong dan bibirnya yang ditekuk. Sejak tadi pagi gadis itu tidak berucap satu patah kata pun. Tak ada semangat apa-apa yang digambarkan wajahnya yang entah cantik atau tidak. Sudah seperti orang gila yang kehilangan akalnya. Bahkan Caca yang semenjak tadi memperhatikannya merasa bingung dan resah, saat melontarkan pertanyaan dia selalu dikacangi, yang lebih parahnya Nana malah mendengus sebal dengan mimik menjengkelkan.
“Lo kenapa, sih, Na?!”
Masih tak ada respon. Nana malah menyimpan keningnya pada lipatan tangannya lesu.
Caca memegang bahu Nana dan menggoyang-goyangkannya. Memaksa temannya itu untuk bercerita. “Nana ayo cerita sama gue, kalau lo diem kaya gini gue gak akan tau masalahnya.”
Nana bersikukuh tak ingin membuka mulutnya atau hanya sekedar mengangkat kepalanya.
“Nana please jangan gini sama gue, ayo cerita!” Caca mulai kewalahan. “Nanaaa!!! Nanaaassss!!”
Merasa geram dengan paksaan Caca dan suaranya yang kencang, Nana mengalah. Dia mengangkat kepala dan langsung meraih pergelangan tangan Caca, menariknya berdiri dan keluar dari bangkunya. Caca mengerjap-ngerjapkan matanya, sedang apakah Nana? Nana masih menarik tangan Caca sampai keluar dari kelas yang kosong, karena ini waktunya jam istirahat.
Kini mereka sudah berada di halaman belakang sekolah. Caca melepaskan genggamannya dari tangan Nana. “Lo kenapa, Na? Kenapa kita ke sini?!”
“Bukannya lo pengen tau kan gue kenapa?!”
Caca terdiam, meredakan kekesalannya akibat perlakuan kasar Nana barusan. Rasa penasarannya sudah tidak bisa dipungkiri lagi, bagaimanapun Nana adalah sahabatnya, jadi ia harus tau apa yang terjadi pada Nana. Apa yang membuatnya seperti orang yang baru tertimpa masalah.
“Coba lo pikir? Apa yang kurang dari diri gue? Gue bahkan udah mempercantik diri gue cuma buat dia. Cuma buat laki-laki dingin itu, cuma buat Adlan! Tapi kenapa sampai sekarang gue gak dianggap apa-apa sama dia. Lo pikir itu gak sakit?!” Nana merasa hatinya terasa begitu perih. Selama ini dia telah memuja pria yang sudah memiliki seseorang perempuan dalam hatinya. Penantiannya selama ini ternyata hanya sia-sia. Sampai kapanpun ia tak akan pernah menjadi seperti Oh Ha Ni dalam drama korea favoritnya.
Caca menyentuh bahu Nana, “Na, bukannya lo bakal cinta terus sama dia? Bukannya lo selalu semangat buat deketin dia?”
“Tapi sekarang semuanya udah berubah. Dia sendiri yang bilang sama gue…,” Nana menggantung ucapannya merasa sesuatu mulai berdesakan keluar dari matanya.
“Bilang apa?”
“Dia bilang….,” gadis itu malah memulai tangisannya yang sudah seperti anak kecil.
Caca sudah benar-benar kepo.
“Dia bilang kalau dia udah cinta sama seseorang, dan suatu saat dia bakal nyatain perasaannya ke perempuan itu…,” Nana kembali menangis dengan suaranya yang terdengar begitu tersakiti. Nana berjongkok di depan Caca lemas. Ternyata sesakit inikah? Sesakit inikah mengalami cinta yang tak terbalaskan? Cintanya benar-benar bertepuk sebelah tangan. Harapan telah mengkhianatinya.
Caca menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Nana. Sahabatnya ini sangat payah. Bahkan Nana malah menaikan volume tangisannya tanpa rasa malu. “Dia bilang gitu tanpa mikirin perasaan gue, padahal dia tau sendiri kalau gue itu cinta banget sama diaa,” ucapnya di sela tangisannya yang tersedu-sedu. “Gue gak dianggap apa-apa sama dia. Cewek kaya apa sih yang disuka sama dia? Apa dia lebih cantik dari gue?”
“Kayaknya gue harus berhenti cinta sama dia,” ucapnya lagi dengan berat hati.
~Bersambung~