Dia gadis ceria seceria namanya fania,fani setidaknya begitu teman-temannya memanggil namanya.Gadis mungil berambut sebahu berlesung pipi, pemilik senyum indah bermata emerald. Fani seakan perwujudan sosok sempurna wanita idaman banyak pria yang mengantri untuk mendapatkan cintanya tapi seribu sayang fania masih setia untuk melajang bahkan di tahun terakhir kuliahnya. Fania terlalu sangsi untuk menjalin hubungan apalagi dia masih disibukan untuk meraih mimpinya, fania tidak ingin mimpi yang telah ia rancang sejak kecil harus berantakan hanya sebuah hubungan dan pacar. tidak.... dia tidak ingin mempertaruhkan mimpi berharganya.
"Fani, kamu sudah menyiapkan berkas project kita besok kan?."fani yang sedang membaca buku di bangku taman sedikit terlonjak, ah... ini salahnya sendiri karena telah menjadi kebiasaannya tenggelam di dalam apapun bacaan yang ia baca.
" maaf, kamu pasti terkejut."lanjut seseorang yang tadi menegur fani sembari mengusap rambut belakang kepalanya dan tersenyum canggung.
"It's okay" Fani tersenyum manis sebelum melanjutkan "aku sudah menyusun sebagian berkas tapi mungkin besok sudah siap semuanya."
"Terima kasih fani, kami mengandalkan mu." Gadis itu tersenyum sebelum meninggalkan fani yang mulai kembali tenggelam ke dalam bukunya.
Belum sepuluh menit fani tenggelam ke dalam bukunya kini ia kembali di kagetkan dengan sentuhan dingin di kedua pipinya, menghela nafas kasar fani sudah sangat hapal dengan kelakuan tersangka kali ini.
"Ricard...!!! Tidak bisakah kamu datang dengan baik-baik tanpa susu pisang dinginmu itu menempel di pipiku?." Seru fani tanpa berminat mengalihkan pandangannya kepada pemuda yang ia panggil Ricard itu.
"Ayolah fani... Ini juga susu pisang kesukaanmu." Ucap Ricard terkekeh yang kini telah bergabung dengan fani di bangku taman.
Ricard Orlando pemuda asli ausie yang entah kenapa nyasar ke Indonesia, mereka berdua sudah berteman sejak kecil saat fani masih di ausie 20 tahun lalu. Ketika Ricard ditanya kenapa bisa sampai Indonesia jawaban dia sederhana "karna fani ada disini" Dengan nada songongnya. Sebut saja Ricard yang terlalu tergila-gila kepada fani sedari mereka kecil 20 tahun lalu.
"Apa yang kau baca?" Dengan nada kepo Ricard menelengkan kepalanya ke arah buku fani sebelum menghela nafas seakan lelah "huh... Buku literasi kuno lagi."Ricard menatap fani seakan kasihan tapi di balas pelototan mata oleh fani
" Kau tidak tau tentang literasi lebih baik diam tuan Orlando."balas fani tak kalah sinis.
Ricard mengangkat kedua bahunya sebelum memberikan susu pisang beserta sedotannya kepada gadisnya.
Gadisnya... Ya Ricard sangat menyayangi fani bahkan rasa sayangnya tak pernah hilang selama 20 tahun hidupnya dan karena itu juga dia rela mengikuti fani hingga ke negara ini, dia tidak ingin fani membalas maupun mengetahui perasaannya yang ia inginkan hanya melihat mata dan senyum indah itu setiap hari. Ia tahu jika fani tak ingin menjalin hubungan romantis lagi dan tak mungkin dia mempertaruhkan persahabatan mereka hanya karena perasaan egoisnya.
Fani dan Ricard sedang dalam perjalanan ke fakultas masing-masing sembari bersenda gurau diiringi dengan tatapan iri orang-orang yang dilewatinya. Para pemuda menatap penuh damba kepada fani yang seakan satu-satunya dewi di bumi ini sedang para gadis menatap penuh puja kepada Ricard dan menatap penuh dengki kepada fani. Tapi dari semua itu mereka berdua tidak memperdulikan tatapan itu.
"Ricard lihat rambutmu, ya ampun." Ucap fani geli bercampur heran melihat rambut Ricard yang entah sudah berapa minggu tidak di cuci.
"Project kali ini benar-benar menyita waktu ku jadi ya begituu..." Ucapan Ricard menggantung saat merasa tidak mendapat respon dari lawan bicaranya.
Dan benar saja fani tertinggal jauh disana ah... Tidak dia tak tertinggal tapi dia mematung tak bergerak.
Ricard menyadari ada yang tidak beres karena fani seakan menatap ke satu arah dan itu yang membuatnya tak bergerak satu inci pun.
Netra fani tanpa sengaja melihat seseorang yang seharusnya tak pernah ia lihat lagi, seharusnya ia tak akan pernah dan tidak mungkin ia temui lagi. Dia.... Seseorang itu masa lalu kelam itu, itu tidak nyata kan?apa yang ia lihat ini hanya ilusi kan?
"Devano..."dengan getir fani menyebut nama itu lagi.
Nama pemuda yang berdiri di depan sana tepat satu meter di depannya. Pemuda bermata biru setenang lautan itu bahkan fani masih jelas ingat jika mata itu juga yang telah membuatnya terhipnotis.
Perasaan itu datang lagi perasaan sesak yang tak ia ketahui apa namanya bahkan lututnya sekarang bergetar tak mampu menopang berat tubuhnya.
"Kamu kenapa...?ayo ke UKS."untung saja Ricard dengan sigap menangkap tubuh fani sebelum dia ambruk.
Fani masih bisa melihat mata devano yang bergetar bahkan ia hampir bergerak ke depan dengan posisi tangan menggapai tapi seakan teringat sesuatu dia kembali ke tempatnya berdiam diri saat melihat Ricard membawa fani pergi.
" Cih... Dasar pengecut brengsek"fani mendecih dalam hati melihat respon devano.
Setelah pertemuan beberapa hari yang lalu, devano terus menerus seperti menerornya.
Ricard memang membawanya ke UKS tapi karena harus ada beberapa project yang harus ia urus jadi dengan berat hati Ricard meninggalkan fani sendiri di sana. Tanpa fani duga ternyata devano mengikutinya dan dirinya baru sadar ketika dia terbangun dari tidurnya dan menemukan devano duduk tepat disamping ranjang.
Devano sangat merindukan sosok itu sosok gadis yang telah mengisi hatinya 2 tahun lebih sebelum semuanya hancur tak tersisa bahkan dia menorehkan luka di hati gadisnya, dia memang tak pantas untuk dimaafkan tapi dia juga tak bisa hidup tersiksa menahan rindu. Jadi dia memutuskan untuk menemui gadisnya walaupun di kejauhan tapi ternyata rasa rindunya lebih besar dari dugaannya tanpa sadar kakinya melangkah mendekat tanpa perintahnya.Ternyata dia jauh merindukan fani, merindukan senyumnya,merindukan celotehan cerianya tentang apa itu literasi,dia merindukan semua yang ada pada diri fani apalagi dia melihat fani tersenyum kepada laki-laki lain selain dirinya membuat dia geram tak terima dan karna itu juga dia dengan berani menampakkan diri di hadapan gadis itu. Tapi bukan ini yang ia inginkan, bukan maksud dia untuk membuat gadisnya jatuh sakit seperti ini dan yang paling menyedihkan bukan dirinya yang menyelamatkan dan menggendong gadisnya hingga UKS tapi laki-laki lain.
Devano dengan seksama memperhatikan fani yang sedang tertidur, bulu mata lentiknya hidung mancung seperti gunung Everest dan bibir ranum mungil seperti buah ceri.semua tak luput dari perhatian devano dan tanpa ia sadari mata cantik itu mulai terbuka dan mengerjap perlahan. Devano membeku tak tau haruskah ia pergi bersembunyi ataukah memuaskan hasrat rindunya.
"N-nia..." Nafas devano tercekat saat menyebutkan nama itu untuk pertama kalinya.
Mendengar namanya disebut membuat fani mengernyit karna tidak ada yang mengetahui nama itu bahkan Ricard kecuali satu orang....
"V-vano...?" Fani tersadar sepenuhnya dan terlonjak dari tempat tidurnya membuat serangan sakit kepala tiba-tiba karena ulahnya sendiri.
Melihat fani memegang kepalanya devano reflek berdiri dan menatap khawatir pada fani.
"Pintu ada disebelah sana, silakan keluar." Fani sedikit memberikan pengusiran halus kepada devano jika pemuda itu mengerti.
Devano melihat ke arah pintu sekilas sebelum berbalik ke arah fani yang masih memegangi kepalanya. Dengan lancang devano memijat kepala fani bahkan tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"A-apaa..." Belum fani menyingkirkan tangan devano dari kepalanya tapi terlebih dahulu devano menahan tangan fani.
"Kamu tidak pernah berubah nia selalu ceroboh." Ucap vano lembut dan penuh kasih.
"Jangan lagi vano aku mohon" Suara batin fani berteriak histeris, lumpuh sudah semua pertahanan fani tanpa disadari butiran bening menetes dari netranya.
Dia tidak ingin terjatuh untuk kedua kalinya apalagi kepada orang yang sama.Fani tidak ingin vano mengetahui sisi lemahnya terlebih lagi dia tidak ingin vano melihatnya menangis,dengan tak sabaran fani mendorong vano hingga terjungkal ke lantai sebelum memalingkan wajahnya yang sembab.
"Aku sudah memperingatkanmu, keluar dari sini bajingan!!!." Ucap fani penuh penekanan dan kebencian.
Mendengar nada bicara fani membuat vano seribu kali terluka dia merasa penolakan fani terasa lebih menyakitkan daripada rasa rindu yang slama ini ia tanggung.
"Nia..." Vano hanya bisa mengucapkan satu kata itu dengan getir.
"Keluar kau bajingan." Rasa sesak di dada fani tidak bisa di tahan lagi hingga tanpa sadar dia melemparkan semua barang yang ia temui di nakas.
Vano berusaha menghindar tapi tetap saja kepalanya menjadi sasaran pot bunga di atas nakas, darah segar mengalir dari dahinya tapi itu tak seberapa dibandingkan melihat air mata gadisnya yang berharga mengalir deras tanpa henti.
Keadaan ruang UKS kacau balau sesaat Ricard memasuki ruangan itu, seakan mendapat firasat buruk Ricard berlari ke arah ranjang fani dan benar saja disana fani sedang menggila melempari apapun barang yang ia temui dan yang membuat Ricard semakin terheran yaitu pemuda asing yang menangkis serangan fani dengan kening berdarah.
"Wait baby what's wrong?" Ricard berusaha menenangkan fani yang mungkin saja semakin menggila.
Mendengar suara Ricard membuat fani sadar dengan mata sembab dia berlari ke arah Ricard dan memeluknya erat bahkan teramat erat.
"Ricard usir dia dari sini, aku takut." Ucapan fani terbata karna tersedak tangisannya sendiri.
Devano mengepalkan tangannya erat melihat pemandangan di depannya, gadisnya orang yang paling ia puja ketakutan melihat dirinya bahkan sekarang ia berlari ke pelukan lelaki lain. Lebih baik dia pergi dari sini semua berantakan karna keegoisannya.