Terinspirasi dari lagu Kulepas dengan Ikhlas. Ciptaan Adibal Sahrul yang dinyanyikan oleh Lesti Andriyani (Lesti DA)
***
"Ayo dong, semangat!" serunya saat tubuh ini mulai kehilangan kekuatan untuk melangkah.
Kakiku mulai terasa kesemutan, hilang keseimbangan untuk sekadar berdiri. Sungguh, rasanya sudah lemas sekali. Tetapi dia–lelaki pujaan hati–tiada henti terus menyemangati.
Setiap insan diberikan rasa cinta dari Sang Maha Pencipta. Tak kenal bagaimana pun kondisi hamba-Nya, ia Maha Adil, memberikan hak yang sepadan. Allah mencurahkan kasih sayang dan cinta pada setiap makhluk, agar mereka saling mengasihi dan dikasihi. Saling mengagumi lawan jenis, supaya mereka saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Hadirnya yang tidak pernah terduga, menaburkan benih-benih asmara, menerima diri ini dengan apa adanya. Perhatian juga kasih sayang darinya, membuat hati ini terbuka untuk menerima anugerah terindah dari Yang Maha Kuasa, yaitu berupa rasa cinta.
Semenjak dia datang, gelombang perubahan begitu besar dalam diriku. Dulu yang sering putus asa akan kondisi fisik ini, berubah drastis menjadi giat berlatih untuk bisa lebih baik. Hingga akhirnya, enam belas tahun ujian itu diberikan, mampu terlewati. Aku bisa merasakan bagaimana berjalan itu, menapak di tanah dengan sempurna, meski langkah masih tertatih.
"Ziya." Lelaki itu mendekat dan membantuku untuk duduk di bangku teras.
"Mamas mau ngajakin Kamu ke jenjang yang lebih serius." Ucapannya itu membuatku tercengang.
"Tapi, Mas ...."
"Kenapa?"
Bukannya aku tak ingin diajak dalam jalan yang diridhoi Tuhan, tapi mengingat usia yang masih cukup muda juga belum tamat sekolah, adalah hal yang menghambat persetujuan akan mendapat yang diutarakan itu.
"Aku, kan, belum lulus sekolah."
"Iya. Mamas cuma mau ngiket Kamu saja. Tunangan dulu, gitu maksudnya, Sayang...," ucapnya dengan penuh keseriusan.
Tak pernah kutemui sosok lelaki seperti ini sebelumnya. Meski tahu aku tak sempurna, tetap memberikan cinta setulus hati. Bahkan serius ingin menikahi.
"Aku mau, Mas. Tanya Ayah, ya, untuk hari baiknya."
"Siap lapan-nam, Bidadariku."
Aku paham, usianya yang sudah lebih dari dua puluh tahun, tentu keinginan untuk berumah tangga sangat besar. Tak ingin terus-terusan pacaran. Selain membosankan, juga tak baik di mata Tuhan.
"Oh ya, ini sudah sore. Mamas mau pamit pulang dulu. Mungkin besok ke sini bareng orang tua untuk bermusyawarah soal pertunangan kita."
Memang baru pukul dua siang, tapi ini sudah sore untuknya. Karena, perjalanan Semarang-Kudus tidaklah dekat. Jadi, dengan anggukan kecil aku izinkan dia kembali.
***
Setelah pertemuan kedua orangtua, tersepakati malam ini adalah malam terbaik untuk melakukan pertunangan. Hati berdebar kian tak karuan, gugup gemetar menyelimuti diri. Menunggu, seakan begitu lama. Ini baru pertunangan, bagaimana nanti melangsungkan pernikahan?
Usai azan Isya berkumandang, terdengar riuh kendaraan datang. Bersama keluarga besarnya dia telah datang. Kecemasan yang sedari tadi menemani, lenyap dengan sendirinya, seiring senyum mengembang di bibir ini.
Tahapan ritual pertunangan sesuai adat istiadat Jawa telah terselesaikan. Kini saatnya puncak tradisi, kedua insan yang tengah bertabur bunga asmara di dada, berada di tengah dengan orang tua mengitari. Pertukaran cincin pun dilakukan.
"Sekarang, Bidadari cantik ini terikat denganku. Nikmat Tuhan mana lagi yang bisa didustakan. Mamas janji, akan menjadikan cinta kita selalu harmonis."
Sungguh, perkataannya membuat diri ini canggung. Bisa-bisanya merayu di depan banyak orang.
"Terima kasih, Mamas, sudah mau menerima Ziya apa adanya. Bahkan kekurangan Ziya begitu banyak," ucapku lirih.
"Tak pernah ada manusia yang tidak memiliki kekurangan, semua diciptakan dengan kelebihan serta kekurangan masing-masing," tanggapnya, "tujuan bersatunya dua makhluk adalah saling melengkapi. Kita tercipta dengan cinta, tentu mampu mencintai dengan ketulusan hati dan jiwa. Kamu punya kekurangan dan kelebihan tersendiri, Mas juga. Jadi bersatunya kita, pasti akan lebih sempurna."
Bersamanya aku bahagia. Kebahagiaan yang tidak pernah terbayang akan hadir dalam hati ini, kudapat dari dirinya. Bijaksana dan penuh kasih melekat dengan kepribadian dia. Tak ada kata yang mampu menjawab setiap kekata yang terucap dari bibirnya.
Hanyalah tiga kata yang mampu kuutarakan untuknya atas kebahagiaan besar yang diberi. "I love You."
***
"Tapi itu semua hanya kenangan," lirihku sembari melihat cincin yang melingkar di jari manis. "Semua itu sirna dalam hitungan detik, setelah kuterima selembar kertas ini." Spontan kulempar kartu undangan tersebut.
Mengapa begitu tega, menghianati cinta yang terjalin selama ini? Tanpa berbicara kepada keluarga, dia melepaskan ikatan yang sudah dilaksanakan. Apa dengan dikirimnya selembar undangan ini, bisa mewakili? Tidak. Selain menghancurkan hatiku, orang tuaku juga pasti kecewa.
"Ziya," panggil ibu.
Kuhapus bulir bening yang telah membasahi kedua pipi. Yakinkan diri untuk tidak terlihat kecewa, lantas menghampiri ibu seakan tak terjadi sesuatu.
"Ada apa, Bu?"
"Pertama kalinya Dirimu merasakan indahnya cinta, menerima orang baru dengan penuh suka cita. Tapi ... Dia tega membuat hati putriku terluka. Maafkan Ibu, Sayang, tanpa berpikir panjang merestui hubungan kalian sampai jenjang pertunangan." Didekap aku dalam pelukan. Begitu hangat rasanya, kenyamanan yang abadi kurasakan.
"Harusnya, Ziya yang minta maaf, Bu. Sudah membuat Ibu dan Ayah malu, karena Dia memutuskan hubungan yang terikat ini." Sungguh, aku tak kuasa menahan buliran yang kian mendesak ingin tercurah.
"Ziya, Ayah tidak mengizinkan Kamu untuk menghadiri pernikahannya," titahnya penuh api.
Aku melepaskan pelukan ibu. Beralih menghampiri ayah yang wajahnya nampak padam, hembusan napas begitu gusar, guratan kecewa nampak jelas dari netranya.
"Ayah, Ziya tahu, Ayah sangat kecewa, kan? Maafkan Ziya, Ayah, maaf. Ziya sudah membuat Ayah merasa malu."
"Ayah tidak memikirkan akan rasa malu, Nak. Tapi, hatimu, ini sebuah rasa baru yang Kamu rasakan. Cinta dan kecewa, berganti begitu cepatnya," tuturnya dengan air mata yang menggenang di pelupuk. "Semua sudah terencana, tapi Dia meninggalkan begitu saja."
Memalingkan tubuh dari ayah, melangkah untuk mengambil sesuatu yang menjadi sumber dari setiap luka. "Setiap manusia bisa berencana, Ayah."
Kembali mendekat menghampiri mereka yang masih berteman dengan kecewa. "Semua bisa merencanakan dengan sedemikian rupa, tertata rapi tanpa celah. Tapi, kita hanya manusia, setiap takdirnya telah diatur Sang Pencipta."
Kugenggam tangan mereka, mencoba memberi energi positif, agar hati kuat menerima takdir yang sudah tersurat. Meski nyatanya, hati ini hancur berkeping-keping.
"Semua yang terjadi adalah iradat darinya. Kita sebagai makhluk harus bisa menerima. Ayah, kejadian ini terjadi, berarti tanda dari-Nya bahwa aku bukanlah nama yang tertulis untuknya. Takdir kehidupan telah disiapkan, semenjak terlahir di dunia ini."
"Ayah, bukankah menghargai dan menghormati telah Ayah ajarkan padaku sejak kecil? Jadi, Aku harus menghargai Dia yang sudah mengundangku," ucapku begitu lembut. "Percayalah! Putrimu ini, perempuan strong! Hehehe."
"Ayah tidak bisa menghargai undangannya, tapi Ayah memberimu izin untuk menghadiri," tuturnya, "tapi ingat! Jangan jatuhkan air matamu di sana. Dia, tak pantas ditangisi. Air matamu, bukan untuk dia. Janji!" tegasnya dengan mengacungkan jari kelingking.
Jari manis kukaitkan sebagai pernyataan setuju.
Kedatangan diriku bukan hanya menghargai undangan darinya, tapi juga ada satu hal yang harus diselesaikan. Karena, sesuatu itu tak sepantasnya masih bersamaku.
***
Hari yang menyakitkan tiba. Terlihat lengkungan janur kuning melambai-lambai di depan rumah mempelai perempuan. Tabuh genderang bertalu-talu, menyambut kedatangan pengiring dari lelaki. Suasana begitu penuh kebahagiaan.
Langkahku gamang, hatiku tersayat sembilu, sakit. Demi janji pada ayah, semampuku air mata ini terbendung, walaupun nyatanya sangatlah terasa panas.
"Sah!" sorak para tamu.
Sekuat apapun aku menahan air mata, tapi kata itu mampu menggetarkan jiwa. Begitu perih terasa.
Tanpa mengingat janjinya, senyum dan tawa bisa terukir di bibir itu. Sesekali nampak mesra dengan perempuannya. Aku bisa apa? Kenyataan memaparkan mereka pasangan yang sah.
Tiba saatnya mengucapkan selamat, meski berat kaki melangkah, aku harus tetap maju. Sebisa mungkin senyum manis kulukis di bibir mungil ini. Pertama, aku menghampiri kedua orang tuanya. Dengan spontan, sang ibu memelukku. Tangisnya tak terbendung hingga terisak-isak. Apa yang terjadi?
"Maaf, Nak, Ibu tidak bisa mencegah ini terjadi."
Kuusap punggung beliau penuh kelembutan. "Sudah, Bu, lagian Mas Galeh mendapatkan perempuan yang tepat. Sangat cocok dengannya."
Setelah beliau lebih tenang aku melepaskan pelukan. Beralih ke mempelai perempuan. Dia begitu cantik, anggun, dan soleha. Tak bisa didebat, lelaki mana pun pasti terkesima.
"Selamat, ya, Cantik." Aku mengelus pipinya lembut. "Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, wabarokah. Aamiin...."
"Terima kasih, Mbak." Dia menarikku dalam dekapan. Sungguh, ini semakin sakit.
Lalu, tibalah aku kembali berhadapan dengannya. Terlihat begitu canggung saat netra ini kembali bertatapan. Tanpa sadar, buliran meluncur membasahi kedua pipiku.
"Se–selamat, ya." Aku harus kuat menahan ego ini.
Dia hanya mengangguk-angguk.
Kuulurkan tangan sebagai pelengkap ucapan selamat. "Kukembalikan ini yang tak pantas kumiliki. Aku membebaskan kita dari ikatan yang tidak seharusnya," bisikku dengan tangan yang menggenggamkan cincin di tangannya. "Semoga bahagia."
Secepatnya aku tinggalkan acara yang begitu menyiksa. Melepaskan setiap bulir membasahi pipi. Sesak di dada begitu menjadi. Mengenal dan mencintainya, haruskah sesakit ini?
Semua telah usai, biarlah kenangan terbengkalai. Karena, hidup ini harus terus berjalan, seiring waktu pasti akan kurelakan. Kini, kita kembali menjadi orang asing, yang seakan tak pernah mengukir cerita, sebab cinta telah sirna.
Meski tak lagi bersama, aku akan tetap berdoa, untuk sekeluarga selalu bahagia. Karena, bagaimana pun juga pernah menjadi seseorang yang memberikan semangat. Hingga aku bisa bangkit dan lebih baik.
Terima kasih untukmu yang kini tengah berbahagia, atas waktu dan perhatian selama ini. Tak akan kulupakan jasa yang telah diberi. Aku pasti bisa berdamai dengan hati. Dengan terbebasnya ikatan kita, maka aku pun merelakan dirimu dengan ikhlas. Aku pergi, meski setiap langkah ini begitu gamang.
Selesai....
Pati, 5 Januari 2021