Ayu lelah jatuh cinta pada Satria.
Ia membuat peraturan untuk tidak lagi menyukai lelaki itu.
***
Lagi dan lagi, ponsel Ayu berbunyi dan menampilkan nama yang sama: Satria. Lelaki dengan rambut hitam berpotongan undercut dan memiliki senyum berbibir tipis yang manis. Lelaki yang sejak setahun lalu resmi menjadi mantan pacar Ayu.
Melihat itu, Ayu yang sudah berbaring dan bersiap untuk tidur setelah seharian mengerjakan tugas di hari liburnya, kembali terduduk.
Ini nyaris jam 1 pagi. Ayu bahkan masih mengenakan kos putih lusuh dan baru membereskan tugas kuliahnya 10 menit yang lalu. Wajahnya yang melirik ke arah ponsel terlihat lelah luar biasa. Namun lelaki brengsek itu justru dengan seenaknya memanggil Ayu, membuat Ayu berdecak kesal dengan kepala dongkol setengah mati.
Ini sudah setahun. Ini sudah setahun sejak Satria itu memutuskannya hanya dengan alasan ia bosan. Padahal saat itu, Ayu sedang berada di titik ternyamannya.
Ini sudah setahun sejak Ayu berusaha untuk melupakan Satria dan berusaha hidup tanpannya. Namun mengapa, setahun belum cukup untuk menghapuskan keinginan Ayu untuk mengangkat telepon itu. Tak peduli jika ini tengah malam. Tak peduli jika di detik pertama ia mengangkat panggilan itu, usaha move onnya selama setahun ini akan hancur berantakan. Ayu tetap ingin mengangkat telepon itu.
Ayu masih mencintai Satria sampai di titik di mana ia tetep peduli pada lelaki itu meskipun Satria hanya datang padanya ketika ia butuh.
Ayu berdecah kesal. Meskipun otaknya mengatakan untuk mengbaikan panggilan Satria, tangan Ayu justru mengambil ponselnya di nakas di samping kasur. Mengangkatnya kemudian menempelkannya ke telinga. Lalu tak lama, terdengar suara yang lama Ayu rindukan.
“Ayu yah?” sapa suara itu.
Ayu menautkan alisnya. Suara itu terdengar parau dan lebih rendah dari biasanya. Suaranya seperti mengambang dan diucapkan tanpa kesadaran.
“Sat, lo mabok?”
Satria di seberang telepon tertawa renyah. “Hehe iya. Boleh temenin gue gak? Di bar rame banget. Ada Adit, Dipong, sama Rere. Tapi gue malah kesepian kalau gak ada lo. Temenin gue, ya? Ya?”
Ayu tak menjawab.
Lagi. Nada suara needy yang terdengar seperti anak kecil yang manja. Padahal ketika sadar Satria malah akan terlihat keren dan dingin. Kenapa? Kenapa Satria hanya terdengar begitu membutuhkannya ketika ia mabuk? Kenapa ia hanya menghubungi Ayu ketika ia tak sadar?
Namun Satria masih melanjutkan kalimatnya. “Lo tau gak, Yu, pas kita pertama ketemu gimana? Lo cantik banget, sumpah. Lagi jalan di taman FK. Rasanya sore itu–“
“–Matahari ada buat nyinarin lo jalan”, lanjut Ayu dalam otaknya.
Tentu Ayu tahu. Satria sudah menceritakan itu ratusan kali. Hingga Ayu hafal tiap kata yang ia ucapkan.
“Terus lo inget gak, Yu, pas dulu kita–“
Apa yang akan Satria ucapkan setelah kali itu, Ayu juga tahu semuanya. Ayu tahu.
Namun Ayu justru memiliki keinginan sangat besar untuk menulikan telinganya. Sekarang. Saat ini. Karena demi apa pun, Ayu terlalu hapal cerita itu hingga ia sama sekali tidak ingin mendengarnya.
Satria pasti akan berceloteh tentang kenangan indah mereka dulu. Kembali mengingat seberapa bahagianya mereka dan bagaimana mereka akan menikah hingga tua bersama. Ayu bahkan tahu, Satria akan mengucapkannya dengan suara yang terdengar bahagia, seolah mereka akan mengalaminya lagi. Membuat Ayu diam-diam ikut membayangkannya dan terbuai untuk bisa bahagia bersama Satria. Persis seperti yang lelaki itu celotehkan.
Namun ketika nantinya Satria menutup pangggilan, Ayu justru sadar seluruh usahanya untuk melupakan lelaki itu hancur berantakan. Karena nanti, satu-satunya yang Ayu inginkan justru kembali pada Satria dan bahagia bersamanya.
Lingkaran setan yang membelenggu Ayu ini selalu memiliki pola yang sama. Satria yang meneloponnya ketika malam, meminta Ayu untuk menemaninya, mengenang masa lalu indah mereka, lalu Ayu akan kembali jatuh dan seluruh usahanya untuk melupakan Satria berakhir sia-sia.
Harusnya dari awal Ayu tidak menerima telepon dari Satria. Ayu cape kembali masuk ke dalam lingkaran setan ini. Ia lelah menangis seminggu penuh setelah usahanya lagi-lagi gagal. Ia lelah terus mengingkan untuk kembali bersama Satria. Padahal, pada akhrinya Ayu tahu, mau sekuat apa pun ia berharap, Satria tidak akan kembali dan mencintainya lagi. Ayu lelah, sungguh. Ia ingin berhenti jatuh cinta pada Satria.
Maka, tepat sebelum Satria kembali melanjutkan ceritanya, Ayu memotongnya cepat.
“Enggak,” potong Ayu cepat. “Gue seharusnya dari awal gak ngangkat telepon lo. Gue gak di sini buat dengerin semua omong kosong lo soal masa indah kita seolah lo mau balik lagi, Sat. Enggak.”
Peraturan pertama: Jangan angkat telepon Satria.
Karena lelaki itu akan membuai Ayu, membuatnya jatuh cinta lagi, dan nantinya, Ayu tidak akan pernah bisa keluar dari lingkaran setan yang menjeratnya.
“Cukup bagi gue untuk menjadi tempat pelarian lo ketika lo lagi mabok gini. Cukup bagi gue jatuh sama semua omongan manis lo dan buat semua usaha gue sia-sia. Cukup. Sekarang gue mau berhenti jatuh cinta sama lo. Jadi, Sat, jangan telepon gue lagi.”
Ayu mematikan teleponnya sepihak. Air di pelupuk matanya berlomba-lomba turun. Berusaha membebaskan diri setelah sedaritadi Ayu menahannya. Pelan, tubuh Ayu merosot dari posisinya duduk hingga kini tidur memeluk kedua kakinya di atas kasur.
Ayu tidak bisa bahagia bersama Satria. Meskipun ada skenario di mana nantinya Ayu bisa kembali bersama Satria, Ayu tidak akan bahagia bersamanya. Karena bagaimana ia bisa bahagia bersama orang yang tidak mencintainya lagi?
Maka Ayu berusaha meyakinkan hatinya. Semua ini berakhir. Enggak. Ini bahkan sudah berakhir lama sekali. Dan sekarang, Ayu harus siap untuk pergi meninggalkan garis finish itu dan memulai awal baru.
Peraturan kedua: Berhenti membayangkan bisa bahagia bersama Satria.
Karena Ayu sendiri tahu, bahagia yang ia harapkan hanya ada di kepalanya dan tidak akan pernah menjadi kenyataan.