"Hei... apa ini", Sofie membolak-balikkan sepucuk surat yang ditemukannya dikolong meja tempatnya menyimpan tas.
Kertasnya mencolok karena berwarna pink, didalamnya terdapat surat yang diprint yang diawali dengan sebuah puisi....
HAI, AKU MERINDUKANMU
Oleh Riza Aulia Akfiyani
Hai, kamu yang di sana
Apa kau tahu aku di sini sedang tersiksa?
Resah gelisah tak tahu arah
Memikirkan yang tak pernah memikirkan
Merindukan yang tak pernah merindukan
Rasanya seperti terganjal sebongkah kerikil
Dan akhirnya membuatku sesak bernafas
Semua itu hanya karena...
Aku memikirkan dan merindukanmu
Ingin ku teriakkan
Hai, kamu yang di sana
Aku memikirkanmu setiap saat
Dan kini aku sangat merindukanmu
Tapi...
Aku takut kau tak berkenan
Aku takut akan membebanimu
Dengan pernyataan sekilas dariku
Karena ku tahu bukan namaku yang tersimpan
Ku pandangi nomormu di handphoneku
Kuketik kata-kata “Aku merindukanmu”
Sesaat kemudian kuhapus lagi
Aaaaaahhh, aku harus bagaimana?
Ingin ku sapa sekali lagi
Wahai, kau yang ada di sana
Tapi kata-kata itu tak pernah tersampaikan
Karena aku bisa lupa diri
Jika kau membalas sapaanku
Aku menjadi semakin tak bisa melepaskanmu
Dan selalu ingin berada didekatmu
Sedang ku tahu...
Bukan aku yang membuatmu tersenyum setiap hari
Sofie, puisi diatas bukan hasil karya pribadiku, aku menemukannya di internet... tapi ini sungguh mewakili perasaanku padamu..
love,
your secret admirer
***
"Siapa yang mengirimkan surat ini, ini bukan salah alamat karena jelas-jelas tertulis untukku", gumam Sofie didalam hatinya.
Dia melihat sekeliling kelas sudah ada beberapa orang yang datang. Tapi semuanya tidak ada yang mencurigakan.
Sofie memasukkan surat itu kedalam tasnya. Ia merasa malu kalau sampai ada yang membacanya.
Tak lama kemudian Deni datang, ia meletakkan tasnya disandaran bangku tempat duduknya.
"Hai Den, biasanya kamu sudah datang sebelum aku", Sofie tersenyum pada Deni.
"Iya, aku agak kesiangan bangunnya, untung tidak terlambat ke sekolah", ia juga tersenyum pada Sofie.
Deni adalah teman sebangku Sofie. Karena disekolah ini murid perempuan teman sebangkunya harus dengan murid laki-laki, katanya agar tidak ngobrol melulu.
Walaupun pada awalnya enggan sebangku dengan murid laki-laki, tapi akhirnya Sofie senang bisa sebangku dengan Deni. Ia tidak banyak bicara tapi kalau ada pelajaran yang sulit bagi Sofie, terutama pelajaran yang berkaitan dengan hitung menghitung, Deni selalu mau membantu mengajari Sofie.
"Kamu ikut nanti hari Minggu, katanya kelas kita mau turun tebing?" tanya Deni.
"Iya... aku ikut, itu menyenangkan untukku", memang Sofie menyukai dari pertama kali dia mencoba melakukan turun tebing. Awalnya yang menggagas acara turun tebing untuk kelasnya adalah anggota pecinta alam, tapi akhirnya mereka sekelas jadi sama-sama menyukainya, jadilah turun tebing dijadikan acara rutin setiap bulannya.
"Kamu tidak takut Sofie?"
"Awalnya, ketika melihat dari atas tebing kebawahnya, hati berdebar-debar, tapi ketika mulai menghentakkan kaki ke tebing dan tubuh mulai melayang sebelum kaki kembali menyentuh tebing, itu rasanya luar biasa, ini mungkin yang namanya adrenalin terpacu", Ririn berkata dengan mata berbinar-binar.
Deni terpana melihat Sofie yang sedang berbicara, ia tampak memukau menurutnya.
***
Pagi ini Sofie kembali menemukan sepucuk surat berwarna pink, ia mulai membacanya....
Dan biarkan aku jadi pemujamu
Jangan pernah hiraukan perasaan hatiku
Tenanglah, tenang pujaan hatiku sayang
Aku takkan sampai hati bila menyentuhmu
Mungkin kau takkan pernah tahu
Betapa mudahnya
Kau untuk dikagumi
Mungkin kau takkan pernah sadar
Betapa mudahnya kau untuk dicintai
Akulah orang yang akan selalu memujamu
Akulah orang yang akan selalu mengintaimu
Akulah orang yang akan selalu memujamu
Akulah orang yang akan selalu mengintaimu
Ini adalah lirik lagu dari Sheila on 7 yang berjudul Pemuja Rahasia,... barangkali nanti kamu mau mendengarkan lagunya...
Saat ini aku hanya bisa menjadi pengagum rahasiamu, aku belum berani mengatakan secara langsung perasaanku padamu, aku takut kamu membenciku dan tidak mau berteman lagi denganku, aku takut tidak bisa melihat lagi senyumanmu untukku.
love,
your secret admirer
Ririn menghela nafas, ia penasaran siapa pengagum rahasianya, kenapa ia begitu pengecut tidak mau menampakkan dirinya.
***
Sudah beberapa hari Sofie tidak lagi menemukan surat dari pengagum rahasianya di kolong mejanya. Tiba-tiba ia sadar kalau dirinya seperti mengharapkan untuk menemukan surat seperti itu lagi.
Sampai usai semua pelajaran hati ini, ia masih memikirkan pengagum rahasianya itu.
Akhirnya saat malam harinya Sofie memutuskan untuk melakukan hal yang sama dengan pengagum rahasianya. Ia mengambil kertas dan mulai menulis....
Untuk Pengagum Rahasiaku,
Surat-suratmu sudah mengganggu pikiranku, aku harap kamu berani untuk mengungkapkan perasaanmu secara langsung, walau aku tidak bisa berjanji untuk menerima perasaanmu padaku, aku akan sangat menghargainya.
Berikut ini aku menuliskan lirik lagu Secret Admirer dari Mocca.... barangkali nanti kamu mau mendengarkannya....
Oh, secret admirer
When you're around the autumn feels like summer
How come you're always messing up the weather?
Just like you do to me..
My Silly admirer
How come you never send me bouquet of flowers?
It's whole lot better than disturbing my slumber
If you keep knocking at my door
Last night in my sleep
I dreamt of you riding on my counting sheep
Oh how you're always bouncing
Oh you look so annoying. (Please!)
Dear handsome admirer
I always think that you're a very nice fellow
But suddenly you make me feel so mellow
Every time you say: "HELLO!"
And every time you look at me
I wish you vanish and disappear into the air
How come you keep on smiling?
Oh! You look so annoying. (Not again!)
My secret admirer
I never thought my heart could be so yearning
Please tell me now why try to ignore me
'Cause I do miss you so
My silly admirer ('cause I do miss you so..)
My handsome admirer ('cause I do miss you so..)
Dear secret admirer
'Cause I do miss you so
Setelah selesai menuliskannya, Sofie memasukkan surat itu kedalam amplop, didepan amplop ia menulis.... Teruntuk Pengagum Rahasiaku. Besok pagi ia akan meninggalkan surat itu dikolong mejanya di sekolah.
***
Keesokan harinya, begitu sampai di kelasnya, Sofie meletakkan surat yang sudah ia tulis tadi malam, dikolong mejanya. Kemudian ia sengaja meninggalkan bangkunya dan duduk di luar kelasnya sampai bel tanda masuk berbunyi.
Saat masuk kembali kedalam kelas, ia memeriksa kolong mejanya, ternyata suratnya sudah tidak ada, berarti .... pengagum rahasianya itu adalah teman sekelasnya.... siapa dia ya?.... Sofie bertanya-tanya.
***
Hari Minggu tiba, dari selepas sholat subuh, Sofie sudah bersiap-siap. Sesudah mandi, Sofie kemudian berpakaian yang ia sesuaikan untuk kegiatannya hari ini yaitu turun tebing. Ia memakai celana PDL, atasannya kaos berlengan panjang, kerudungnya ia masukkan kedalam kaosnya. Tak lupa ia memasukkan beberapa peniti kedalam kantongnya, peniti ini nantinya berguna untuk menahan kerudungnya agar tidak keluar dari dalam kaosnya ketika sedang bergerak menuruni tebing. Ia mengenakan sepatu tali, ia mengikat tali sepatunya dua kali agar tidak mudah lepas.
Selesai berpakaian, ia menyiapkan perbekalan, ia memasukkan tumbler ukuran besar yang sudah diisi air minum, makanan berat dan kue-kue, sajadah tipis dan mukena kantung.
Ketika Sofie mengangkat ranselnya, terasa lumayan berat. Kemudian Sofie teringat sesuatu, "Ah... sarung tangan! hampir saja terlupakan". Sarung tangan ini sangat berguna ketika memegang tali saat menuruni tebing.
Setelah semua persiapan dirasa sudah selesai, Sofie pergi ke meja makan untuk sarapan. Sarapan sangat penting untuk memulai hari. Roti panggang yang sudah diolesi selai coklat kesukaannya dan segelas susu, adalah menu sarapannya pagi ini.
"Sofie, didepan ada temanmu", mamanya berkata sambil menghampiri Sofie.
"Teman? Siapa Mah?"
"Katanya namanya Deni"
Sofie mengerutkan dahinya, padahal kemarin Deni nggak bilang mau ngejemput. Sofie sudah janjian dengan teman-teman yang lainnya akan berkumpul didekat sekolah, kemudian nyarter mobil ke tempat turun tebingnya.
"Hai... Den... kamu tidak bilang akan menjemputku kemarin..."
"Kebetulan aku bawa mobil... aku teringat kamu, pasti berat membawa ranselnya".
"Wah terima kasih sudah menjemputku, ranselnya memang lumayan berat", Sofie tertawa senang.
"Mah, aku pergi dulu, assalamualaikum", Sofie pamit pada mamanya.
Deni membawakan ransel kepunyaan Sofie. Ia membuka pintu belakang mobilnya dan meletakkan ransel itu disana. Deni membawa mobil Daihatsu Sirion berwarna putih. Mobil itu cocok sekali untuk anak muda.
Deni membukakan pintu depan untuk Sofie. Kemudian ia membuka pintu sampingnya dan duduk dibelakang kemudi.
"Kamu sudah punya SIM?" tanya Sofie.
"Sudah, dan aku juga membawa STNK, jadi tenang aja ya... surat-suratnya lengkap", Deni tersenyum pada Sofie.
"Oh, oke... aku akan duduk manis disini".
"Pakai seat beltnya Sofie".
"Aduh... ini kok seat beltnya susah ditarik?!"
"Sini coba kubantu", Deni mencoba menarik dan memasang seat belt pada tubuh Sofie. Ketika melakukan itu jarak tubuh Deni begitu dekat dengan Sofie, sejenak ia menatap wajah Sofie, Deni merasa sedikit gugup.
"Ehhm..." Deni berdehem, "Sudah terpasang seat beltnya", katanya kemudian.
"Kita kemana sekarang? ke sekolah dulu atau langsung ke tempat turun tebingnya?" tanya Sofie.
"Ke tempat turun tebingnya, tadi aku sudah nelpon Tatang, kalau aku sama kamu akan langsung ke tempatnya".
***
Sekarang giliran Sofie untuk turun, ia memeriksa kerudungnya, memastikan peniti-peniti sudah melekat dengan kaosnya, jangan sampai terlepas keluar kemudian berkibar... bahaya ... kerudung bisa terlilit dengan tali!!
Sofie sudah memasang harness pada tubuhnya, ia juga sudah mengenakan sarung tangan. Tatang yang merupakan anggota pecinta alam, sedang membantu memeriksa keamanan perlengkapan yang dipakai oleh Sofie. Tatang memeriksa karabiner yang mengaitkan tali karmantel pada anchor dan harness.
Dibawah tebing ada Indra yang bertugas sebagai lead belaying, ia bertugas untuk melambatkan atau memanjangkan tali serta menyesuaikan perlengkapan saat menuruni tebing.
Setelah Tatang mengatakan aman, Sofie segera melangkah mundur ke arah ujung tebing, ia memegang tali kuat-kuat, kemudian ia membuat posisi tubuhnya membentuk sudut 90 derajat, seperti posisi terlentang di ujung tebing itu.
"Bismillahirrahmanirrahim.." Sofie mulai menolakkan kakinya dan meluncur turun.
Ketika kakinya sudah menyentuh tanah dibawah tebing, Deni segera menghampirinya dan membantu melepaskan peralatan yang dipakainya.
"Ayo duduk di tempat teduh Sofie", Deni menunjukkan tempat untuk beristirahat sambil mengasongkan botol minuman.
"Aku bawa tumbler kok".
"Nggak apa-apa, ini aja, ini botol baru kok"
"Baiklah, terima kasih".
***
"Capek Sofie?" Deni memperhatikan Sofie.
"Nggak... hanya disini terasa begitu panas, mungkin karena tak ada pohon besar disini", Ririn menyeka keringatnya dengan tissue.
Deni memperhatikan sekelilingnya, hanya mereka berdua yang sedang duduk beristirahat disini.
"Sofie, ada yang mau kubicarakan denganmu..."
"Ya tinggal ngomong aja... kamu kok jadi serius kayak gitu?" Sofie tertawa.
"Sebenarnya... akulah yang mengirimkan surat padamu... akulah pengagum rahasiamu".
Sofie tersentak kaget karena ia tidak menyangka sama sekali, "Tapi kau adalah teman baikku..."
"Justru karena kita berteman baik, aku jadi ragu untuk mengatakan perasaanku padamu, aku takut kamu jadi membenciku dan aku jadi kehilangan teman baikku.
Tapi ketika kamu menuliskan lagu Secret Admirer, aku jadi tersadar kalau kamu menjadi terganggu dan resah dengan surat-surat yang aku kirimkan padamu. Jadi sekarang aku memberanikan diri untuk mengutarakannya langsung padamu.
Aku suka padamu Sofie... mungkin karena kita cukup sering bersama, hingga aku sering memperhatikan kamu dan akhirnya ada rasa suka yang muncul dihatiku.
Tapi kalau kamu tidak bisa menerima perasaan sukaku padamu... aku berharap kamu masih mau menjadi teman baikku.
Aku tidak akan mengirimkan surat yang meresahkanmu. Atau mengungkit perasaanku padamu. Cukup bagiku kamu tetap jadi teman baikku..." Deni berkata sambil menatap lekat wajah Sofie.
Mendengar Deni berkata seperti itu tak ayal Sofie pun merasa grogi.
"Aku senang kau telah mengatakan perasaanmu padaku, jadi aku tidak perlu resah menebak-nebak siapa secret admirer-ku", sejenak Sofie tertawa pelan.
"Tapi sampai saat ini aku hanya menganggapmu sebagai teman baik dan itu tidak lebih. Den... aku tidak tahu apa kedepannya nanti perasaanku akan berubah menjadi suka... sama sepertimu, atau hanya tetap menganggapmu sebagai teman saja, tapi saat ini, aku ingin ... kita tetap menjadi teman baik".
**************************************************
terima kasih sudah membaca cerpen ini, mohon beri dukungan author dengan hati, comment n like ya 😘😘😘
**************************************************