Lebih baik kota ini tenggelam, daripada aku harus kehilangan dirimu.
🌦🌦🌦
Hodaka Morishima adalah seorang anak SMA yang kabur dari rumah. Dia memutuskan untuk merantau ke Kota Tokyo.
Kini, dia sedang berjalan di Kota Tokyo, yang kini tengah diguyur hujan deras. Mendadak Hodaka berhenti, saat melihat seorang gadis sedang berdiri sembari menyatukan kedua tangannya.
Gadis itu terlihat familiar bagi Hodaka.
“Hina-san!" seru Hodaka, memanggil nama gadis itu.
Ya, dialah Hina Amano. Seorang gadis yang memiliki kekuatan supranatural. Gadis yang bekerja di restoran cepat saji ini, memiliki kemampuan untuk mengendalikan cuaca.
Hina dapat menghentikan hujan hanya dengan berdoa.
“Hodaka!!" Hina berlari menghampiri Hodaka.
Mereka berpelukan dan tersenyum senang.
“Hina-san, syukurlah kau baik-baik saja. Aku benar-benar merindukanmu," ucap Hodaka.
Namun, tiba-tiba raut wajah Hina menjadi sedih. Hina melepas pelukannya dengan Hodaka.
“Kenapa kau terlihat sedih, Hina-san?" tanya Hodaka.
Hina hanya menunduk dan tak menjawab pertanyaan Hodaka. Perlahan, bulir-bulir air mata mulai mengalir dari sudut mata Hina.
“Hina-san, ada apa?" tanya Hodaka.
Hina menghapus air matanya. Kemudian, dia merubah posisi kepalanya menjadi tegak dan menatap Hodaka. Perlahan, Hina menciptakan sebuah senyuman di bibirnya.
“Aku hanya menangis bahagia, karena bisa bertemu denganmu lagi, Hodaka."
Hodaka menganggukkan kepala, mengiyakan jawaban Hina. Namun, tiba-tiba tubuh Hina mulai terangkat ke arah langit.
“Hina-san!!!" teriak Hodaka seraya mengangkat tangannya, berusaha untuk menangkap tubuh Hina, yang kini telah terangkat ke langit.
Tetapi, usaha Hodaka berujung sia-sia. Hina sudah terlanjur menghilang di antara awan mendung Kota Tokyo. Sesaat setelah Hina menghilang, hujan deras tadi tiba-tiba berhenti. Cuaca kembali cerah.
Semua orang bersorak sorai, pasalnya hujan yang lebat itu, telah berhenti. Namun, Hodaka tidak sama dengan mereka semua. Wajah laki-laki remaja itu, malah tampak sangat sedih.
“Hinaaaa-saann!!!" teriak Hodaka seraya menangis sejadi-jadinya.
“Haaahhh!" Hodaka terbangun dari tidurnya.
Dia melihat sekeliling. Hodaka mendapati dirinya tengah berada di kamarnya sendiri.
“Huft... Ternyata hanya mimpi." Hodaka menghela nafas lega, karena ternyata kejadian yang dialaminya barusan, hanyalah mimpi.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu kamar berkali-kali.
“Hodaka!" teriak seseorang seraya menggedor-gedor pintu kamar Hodaka.
“Sebentar!" Hodaka bergegas turun dari ranjang dan membuka pintu.
Saat membuka pintu, Hodaka melihat seorang laki-laki yang lebih muda darinya.
“Nagi-san, ada apa?" tanya Hodaka kepada laki-laki itu.
Dia adalah Nagi Amano, adik dari Hina.
“Hodaka, apa kau melihat kakak?" tanya Nagi.
“Tidak. Memangnya, Hina-san kemana?" tanya Hodaka.
“Aku juga tidak tahu. Tapi, sekarang dia tidak ada di kamarnya!" jelas Nagi.
Sontak, hal itu membuat Hodaka terkejut. Hodaka merasa sangat panik. Mendadak, Hodaka mengingat kembali mimpi anehnya tadi.
“Jangan-jangan, Hina-san telah...." Pikir Hodaka.
Hodaka langsung berlari ke tempat dimana Hina pertama kali diberi kekuatan mengendalikan cuaca. Tempat itu adalah gerbang sebuah kuil yang telah lama runtuh.
Sesampainya di kuil, Hodaka langsung menaiki satu per satu anak tangga, menuju gerbang kuil. Saat tiba di depan gerbang kuil, Hodaka berhenti berlari. Dia menghembuskan nafasnya dan kemudian perlahan melangkah melewati gerbang.
Tak berselang lama, Hodaka langsung merasa bahwa tubuhnya semakin ringan. Tiba-tiba, tubuh Hodaka terangkat ke langit, seperti Hina. Kini, Hodaka sedang melayang-layang di langit.
“Hina-saann!!" teriak Hodaka, memanggil-manggil nama gadis yang disukainya itu.
Sudah berkali-kali Hodaka memanggil, namun tidak ada jawaban.
“Hina, kau ada dimana?" tanya Hodaka dalam batin.
Tiba-tiba, terdengar suara teriakan.
“Hodaka!!!" Suara seorang gadis memanggil namanya.
Hodaka menengok ke arah sumber suara tersebut. Ternyata, dia adalah Hina yang tengah berdiri di atas awan. Hina memanggil nama Hodaka sambil melambai-lambaikan tangan.
“Hina-san!" Hodaka tersenyum senang.
Hodaka menghampiri Hina sambil mengulurkan tangannya.
“Hina-san, pegang tanganku!" pinta Hodaka yang masih melayang-layang di langit.
Meski sebenarnya Hina bingung, namun dia menuruti permintaan Hodaka. Hina menjulurkan tangan, untuk meraih tangan Hodaka. Saat ini, mereka tengah berpegangan tangan.
“Hina-san, kau tidak apa-apa 'kan?" tanya Hodaka memastikan.
Hina tersenyum sembari menganggukkan kepala, menjawab pertanyaan Hodaka. Sama halnya dengan Hina, Hodaka juga tersenyum senang.
Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Tiba-tiba, sebuah badai kencang menerpa mereka. Alhasil, Hina dan Hodaka terpelanting ke arah yang berlawanan.
“Hodaka!!" teriak Hina.
“Hina-san!!" teriak Hodaka.
Mereka terpisah dan terjebak dalam badai. Mendadak, awan-awan berubah menjadi hitam legam. Tetesan air hujan mulai turun dan mengguyur Kota Tokyo.
Sementara itu, Hina dan Hodaka masih berusaha untuk melepaskan diri dari badai dan kembali bersatu lagi. Hina bingung harus melakukan apa. Dia merasa, bahwa dia tidak akan bisa melawan badai kuat itu.
“Lebih baik kota ini tenggelam, daripada aku harus kehilangan dirimu!!" seru Hodaka.
Setelah mendengar ucapan Hodaka, mendadak Hina meneteskan air mata. Hina menangis terharu dengan perjuangan Hodaka untuk menyelamatkan dirinya.
“Hina-san, aku akan menyelamatkanmu!" ujar Hodaka seraya menjulurkan tangannya.
“Pegang tanganku!" imbuh Hodaka.
Hina meraih uluran tangan Hodaka. Kini, mereka berhasil bersatu dan berpelukan di tengah-tengah badai.
“Hina-san, ayo kita berdoa bersama!" ajak Hodaka.
Hina menganggukkan kepala, seraya berkata, “Iya." Akhirnya, mereka berdua berdoa bersama. Tiba-tiba, cahaya menyilaukan, muncul dan mulai membesar.
Perlahan, Hodaka dan Hina turun dari langit.
“Terima kasih, Hodaka," ucap Hina.
“Tidak usah dipikirkan. Aku senang kau baik-baik saja," ujar Hodaka.
“Tapi, kota ini diguyur hujan lagi. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku...
“Ssstt.... Kau tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Kita pasti bisa menghentikan hujan tanpa harus mengorbankan dirimu. Jadi, tenanglah!" Hodaka menenangkan Hina yang merasa bersalah.
Hina tersenyum sambil berkata, “Sekali lagi, terima kasih, Hodaka."
Sejak saat itu, Hina, Hodaka, dan Nagi hidup bahagia layaknya keluarga kecil.
🌦🌦🌦
Ini adalah Fanfic dari anime “Tenki No Ko". Maaf kalau tidak bagus❤
—Tamat—