Entahlah, aku bingung mau mulai dari mana. Hidupku yang awalnya berwarna, tiba tiba berubah menjadi kelabu. Aku sangat bahagia saat menikah dengan laki laki yang tulus menerimaku apa adanya. Tapi, semuanya berubah setelah malam 1 tahun pernikahan kami, suamiku Kenan mengalami kecelakaan saat pulang dari pertemuan bisnis diluar kota. Kenan seharusnya bermalam di hotel, tapi dia memutuskan untuk pulang karna ingin memberiku kejutan anniversery 1 tahun pernikahan kami.
Sejak saat itu semuanya berubah, kesedihan karna kehilangan suamiku dan kesedihan yang tidak pernah aku sangka selama ini, yaitu penolakan dari keluarga besar suamiku. Mereka semua membenciku dan menyalahkan semuanya padaku karna telah menyebabkan Kenan meninggal.
Setelah 2 bulan kepergian Kenan, aku mendapatkan berita dari dokter yang memeriksaku kalau diriku tengah hamil 3 bulan. Antara bahagia dan kesedihan menjadi satu, bahagia karna aku tengah hamil anak Kenan dan kesedihan sebab Kenan sudah tiada dan juga penolakan dari keluarga besarnya.
Aku di usir dari rumah, mereka berpikir kalau diriku hamil bukan anak dari Kenan, melainkan dari laki laki lain. Segala hinaan dan cacian yang mereka berikan sungguh menyayat hati, rasanya aku tidak ingin hidup lagi. Akan tetapi, aku tetap bersemangat untuk melanjutkan hidupku karna aku punya dia, sebuah kehidupan yang telah ada dalam perutku. Dia menjadi kekuatanku dan penyemangat untuk melanjutkan hidupku kembali.
"Alisa," panggil Ibu Mirna padaku.
"Iya Bu," jawabku sambil melihat ibu Mirna.
Ya, namaku Alisa Putri seorang anak yatim piatu yang tumbuh besar di panti asuhan. Setelah aku diusir dari rumah suamiku, aku bertemu dengan ibu Mirna, dia sangat baik padaku dan mau menampungku yang sekarang tengah hamil besar. Ibu Mirna hidup sebatang kara, anak dan suaminya meninggal karna kecelakaan pesawat hanya dia saja yang selamat pada peristiwa naas itu.
6 bulan yang lalu, ibu Mirna mengajak serta mengangkatku menjadi anaknya. Dia tidak tega dengan hidupku, dia juga tau pada saat aku di hina dan diusir oleh keluarga suamiku, karna ibu Mirna adalah tetangga yang tinggal sebelahan dengan rumah mas Kenan.
" Nak, hari ini kamu ada jadwal pemeriksaan kandungan kan?" tanyanya padaku.
"Iya Bu, " jawabanku
" Ibu antar ya nak,"
"Emang ibu tidak ke restoran?" tanyaku.
"Nanti mampir sebentar ke restoran nak, setelah itu ibu temenin kamu periksa kandungan."Jawabnya, aku hanya mengangguk sebagai tanda mengerti.
Sesuai dengan yang dikatakan ibu Mirna, kami berdua mampir sebentar ke restoran dan memastikan semuanya dengan baik disana, barulah kami melanjutkan perjalanan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganku.
Dalam perjalanan ada kejadian yang tak terduga, aku tiba tiba merasakan sakit dibagian perut bawah dan pinggang, bukan hanya itu saja ada air mengalir di kakiku dan membuatku khawatir. Tapi ibu Mirna menjelaskan padaku setelah aku memberitahunya kalau itu adalah air ketuban dan sepertinya aku akan melahirkan dalam waktu dekat.
Ibu Mirna menenangkanku dan mengajariku untuk berlatih pernapasan, aku pun mengikutinya. Tak terasa mobil yang membawa kami sampai di rumah sakit, sudah ada dokter dan beberapa perawat yang menunggu didepan rumah sakit karna tadi ibu Mirna langsung menelpon pihak rumah sakit untuk mempersiapkan segalanya.
Ternyata benar, hari ini aku akan melahirkan buah hatiku dengan Kenan.
Aku langsung ditangani oleh dokter karna sudah pembukaan lengkap, pada saat itu membuatku menangis antara bahagia dan sedih, bahagia karna akhirnya aku akan berjumpa dengan buah hatiku dan Kenan, sedihnya karna saat dia terlahir tidak ada keluarga yang menemani hanya Ibu angkatku yang menemaniku.
Hingga tibalah saat aku mendengar tangisan pertama putraku, membuatku menangis haru dokter langsung memberikan padaku untuk melakukan inisiasi dini, saat melihatnya mengingatku pada almarhum Kenan wajahnya sangat mirip dengan ayahnya membuat diriku terus menangis tanpa henti.
Aku sudah dipindahkan diruang perawatan ibu angkatku menemaniku, dia menggendong putraku dan bertanya,
" siapa namanya, nak?"
"Aku belum menyiapkan nama Bu," ucapku sambil menunduk.
"Tapi dulu mas Kenan pernah menyiapkan nama untuk anak kita Bu, sebelum dia tiada." Imbuhku.
"Siapa nak?" sambil melihatku.
"Revano Abrizal, Bu." sambil tersenyum mengingat pada masa suamiku masih hidup.
"Nama yang bagus," kata ibu angkatku.
Tak terasa usia Revan sudah memasuki 1 tahun, kami mengadakan acara ulang tahun untuknya dan mengundang semua rekan bisnis ibu angkatku. Tak terkecuali mantan mertuaku, mereka menghadiri ulang tahun Revan dari Singapura karna dulu setelah mengusirku mereka memutuskan untuk tinggal disana.
Mereka terkejut saat melihat Revan, lalu menangis dan minta maaf padaku.
" Alisa, maafkan kami karna dulu telah menyianyiakan dirimu, tolong maafkan kami," ucap ayah mertuaku.
"Kami sungguh sangat berdosa padamu nak," imbuh ibu mertuaku.
"Tolong izinkan aku untuk menggendong cucuku nak," lanjutnya lagi. Membuatku menangis haru karna mereka telah mengakui Revan sebagai cucunya. Aku hanya mengangguk tak sanggup berkata kata lagi.
Sejak saat itu, mereka memutuskan untuk tinggal disini lagi dan selalu ingin dekat dengan Revan cucunya.
Aku dan Revan tetap tinggal dirumah ibu angkatku, mereka sering membujuk untuk tinggal dengan mereka lagi, tapi aku tidak mau karna saat aku terpuruk ibu angkatku yang selalu menemaninku dan mau menampungku pada saat itu.
Semua berjalan dengan baik, kehidupan kelabu sudah berubah menjadi kebahagian lagi. Ibu dan ayah mertuaku sekarang sudah menerima kami dengan ketulusan hati.
Kesedihan berganti dengan kebahagiaan yang tak terkira, Revan putraku adalah kekuatanku, dan akan selalu menjadi penyemangatku untuk menjalani kehidupan ini.
Terima kasih sayang telah hadir dalam hidupku.