"Aku suka sama kamu," ucap seorang lelaki sembari memegang tangan gadis di hadapannya. Lelaki tinggi dengan wajah cool itu menatap gadis itu dalam. Lelaki yang bernama Hans itu melangkah, menyisakan jarak yang sangat sedikit di antara mereka.
"A–apa maksudnya?" Gadis itu kaget. Dia memundurkan diri. Tapi, dinding di belakangnya menghalangi. Dia menarik tangannya dari genggaman Hans. Gadis berambut sepundak itu bernama Sofia. "Kenapa kamu tiba-tiba jadi begini?"
"Emangnya aku salah kalau suka sama kamu?" Hans mendekatkan wajahnya. Benar-benar dekat.
'Aroma tubuhnya, benar-benar enak sekali...' Pikir Sofia.
"Aku tidak mau. Kamu selama ini sering membully aku, dan sekarang? Sifat mu yang jahat, berubah 180 derajat menjadi baik? Ada apa denganmu?" Tangan kanannya menyentuh kening Hans, sedangkan tangan kirinya menyentuh keningnya sendiri. Dia sedang menyamakan suhu tubuhnya, mungkin saja Hans sedang demam. "Sebaiknya kita ke UKS."
"Aku ga sakit. Aku bener-bener sehat, justru kamu yang sakit. Kenapa kamu ngomong dengan bahasa yang kaku. Apa kamu ga bisa santai?" tanya Hans.
"A–aku sudah terbiasa menggunakan bahasa seperti ini." Sofia menurunkan tangannya dari kening Hans, tapi dia tetap membiarkan tangan kirinya di keningnya.
"Ayo cepetan, kamu mau ga jadi pacar aku? Aku suka sama kamu. Kalau kamu mau, aku akan berubah. Ga bakal jadi 'HANS JAHAT' lagi."
'Hah, harus bagaimana aku? Dia memang tampan, wangi, dan benar-benar keren. Tapi aku terlanjur membencinya.'
Hans memegang pundak Sofia, dia mengguncang pelan pundak Sofia. Dia terus menatap, mencari kepastian.
"Ok. Tapi kamu harus berjanji, kalau kamu akan berubah. Tidak menjadi Hans yang jahat, yang playboy, yang kasar, yang—"
"Iya, beb." Hans menutup mulut Sofia dengan telunjuknya. Sofia terus memerhatikan telunjuk Hans yang berada di bibir nya. Dia kemudian menepis telunjuk Hans, dan menatapnya. Dia menyodorkan jari kelingking ke depan wajah Hans.
"Janji?" tanya Sofia. Dia menggoyangkan jarinya.
"Ok. Janji." Hans mengaitkan jari kelingkingnya. Mereka telah resmi berpacaran, dengan sumpah jari kelingking. Dan mereka menjadi pacar mulai hari ini, jam ini, dan detik ini.
***
Hans yang merupakan seorang berandal, berubah menjadi seorang anak baik. Semua itu berkat Sofia. Seorang gadis tertindas yang ternyata bisa meluluhkan seorang lelaki jahat bernama Hans.
Walaupun mereka sudah menjadi sepasang kekasih, tapi mereka hanya seperti sahabat. Bukan mereka berdua, tapi hanya Sofia. Dia merasa canggung dan malu untuk memamerkan hubungannya dengan Hans. Tapi sebaliknya, Hans selalu berusaha bermesraan dengan Sofia, memamerkan ke semua teman-temannya.
"Buka mulutnya dong," ucap Hans. Menyodorkan sesendok mie goreng. Sofia yang menerima perlakuan tersebut, tersipu malu.
"Kamu ini, malu sama orang." Sofia menolak sendok itu.
"Kamu kok gitu? Kamu ga mau ya punya pacar kayak aku?" Hans memelas sedih. Dia membuat ekspresi seperti anak anjing.
"Mukanya jangan gitu dong, ya udah iya. Aku makan, aaa—"
"Nah gitu dong." Hans senang, dia kegirangan untuk memberikan suapan pertama pada Sofia. Sofia mencubit perut Hans. Bukannya kesakitan, dia malah kegelian. Mereka tertawa bersama.
"Cie-cie." Mila datang menghampiri mereka. Dia ikut duduk dekat mereka yang sedang berduaan.
"Mila datang, bubar semua, bubar..." Sofia menggoda Mila. Mila yang digoda pun kesal.
"Ih, kalian kok jahat sih. Aku kan ga ada temen." Mila memegangi botol minumnya.
"Canda, Mil. Btw kamu mau jajan apa? Biar aku traktir," ucap Sofia.
"Widih, azeek. Btw tumben ada duit?"
"Iya dong. Aku bakal traktir kamu, itung-itung sedekah ya kan." Sofia menggodanya lagi.
"Iya, iya. Ga papa aku disebut apapun, yang penting gratis." Mila tersenyum girang.
Dia pun memesan semangkuk baso. Dia memakannya dengan lahap. Begitu menikmati sekali.
"Oh ya, minggu depan, aku udah mulai persiapan buat lomba. Jadi kita bakal jarang ketemu atau ngobrol," ucap Sofia kepada Hans, dia menatap sedih. Hans pun demikian. Mila yang melihat mereka berdua bertatapan, menghentikan makannya, "Huwek. Aduh, aku ga nafsu makan lagi deh."
Hans dan Sofia menatap Mila. Sofia berkata, "Yodah, ga jadi traktirnya."
"Eh jangan gitu dong. Aku kan bercanda, masa baper sih. Pembalasan kamu yang ngegodain aku mulu," ucap Mila sembari melanjutkan makannya.
***
Sofia sedang sibuk belajar untuk mengikuti olimpiade IPA. Dan karena kesibukan Sofia, mereka mulai jarang bertemu. Karena setiap hari, Sofia akan belajar di lab bersama guru IPA. Dia berlatih, mulai dari mempelajari materi sampai mengerjakan tugas-tugas latihan.
Hans hanya bisa mengintip dari jendela lab, melihat Sofia yang sedang sibuk belajar. Dia benar-benar terlihat cantik saat belajar.
***
"Ah cape banget," ucap Sofia. Bahasanya sudah tidak sekaku dulu, dia mulai terbiasa menggunakan bahasa santai karena Hans.
"Hai!" Hans muncul dari belakang. Dia melangkah disamping Sofia, kemudian mulai menyamakan langkahnya.
"Aku udah capek. Maaf jangan ganggu dulu," ucap Sofia, dia mempercepat langkahnya. Hans pun mulai mengejar langkah Sofia.
"Kamu kenapa, biar aku bantu." Hans menatap Sofia, dia memegang pundaknya. Hans memberikan ekspresi khawatir.
"Aku ga apa-apa. Cuma capek aja. Kayaknya, kita harus udahan dulu deh," ucap Sofia. Dia membalas tatapan Hans. "Aku mau fokus dulu belajar buat lomba, dan kalau kita pacaran, nanti aku ga fokus."
"K–kenapa? Aku bener-bener pengen jadi pacar kamu." Hans mengguncang pelan pundak Sofia.
Sofia menepis tangan Hans dari pundaknya, "Maaf. Lagipula sebenernya, aku ga di izinin pacaran. Jadi selama ini, aku ga pernah cerita kalau aku punya pacar ke orang tua aku."
"Tapi—"
"Maaf." Sofia langsung meninggalkan Hans begitu saja. Dia membiarkan lelaki itu terdiam di koridor tersebut.
Hans menatap punggung Sofia yang semakin lama, semakin jauh kemudian hilang. Rasanya begitu menyakitkan. Sebenernya, Sofia tidak salah, tapi caranya yang salah. Kalau dia sedikit lebih baik membicarakannya, mungkin Hans akan sedikit lebih lapang dada.
"Argh!" Hans memukul dinding yang tak salah apa-apa. Dia duduk dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia memikirkan semua yang terjadi barusan. Mencerna semua kata-kata yang diucapkan Sofia.
***
"Selamat pagi anak-anak," ucap seorang wanita berpakaian batik. Wanita itu merupakan guru seni budaya di kelas Hans.
"Selamat pagi, bu." Semua siswa menjawab serempak.
"Hey! Yang di belakang sana. Kenapa melamun?" tanya sang guru. Dia menunjuk ke arah Hans, yang sedari tadi menatap keluar melalui jendela. Menatap langit, dengan tatapan kosong.
"Hey, kenapa tak merespon!" Guru tersebut meninggikan suaranya. Membuat Hans kaget, dia tersadar dari lamunannya.
"I–iya bu." Hans bangkit dari duduknya. Semua orang di kelas menatap ke arah Hans. Hans yang sadar dengan hal spontan yang dia lakukan, dia langsung duduk. Dia jadi salting.
"Kamu ini, mau dihukum?" tanya guru tersebut dengan tatapan sinis.
"Tidak bu." Hans menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hmm, sebaiknya kita mulai saja pelajarannya." Guru tersebut memulai pelajarannya.
'Gimana ya Sofia? Hari ini dia lagi lomba. Dia bakal berhasil ga ya? Semoga aja.'
***
"Pengumuman, pengumuman," ucap seseorang di depan panggung. Dia berbicara dengan nyaring. "Ok anak-anak sekalian. Apakah kalian sudah penasaran dengan hasil perlombaan? Menurut kalian, apakah kalian akan menang? Semoga saja."
"Pasti aku bakal menang. Aku udah belajar dengan baik." Seorang gadis mengepalkan tangan, dia benar-benar percaya diri.
"Aku yang akan menang!" Seorang lelaki berkacamata bulat, berbicara dengan begitu semangat.
Semuanya, sangat berharap menang. Sofia pun sama, dia benar-benar ingin menang. Agar dia tidak mudah ditindas siapapun, untuk membuktikan bahwa dia mampu.
"Ok, kita mulai dari juara ketiga. Juara ketiga yaitu—"
Deg... Deg...
"Juara ketiga adalah, Anggun Pantene dari SMA Duta Shampoo Lain."
Semua orang bertepuk tangan, termasuk Sofia. Dia sangat gugup, apakah dia akan menang atau tidak.
"Juara kedua adalah, Roma dari SMA Ani."
"Astaga, siapa yang akan jadi juara pertama?" tanya seorang gadis disamping Sofia. Dia adalah Mila. "Semoga kamu ya, Fia."
"Juara pertama, yang paling uwu. Yaitu, Sofia dari SMA Kingdom."
Sofia tak percaya. Dia menutup mulutnya yang ternganga dengan tangan. Dia sangat senang, kemudian langsung melangkah menuju panggung di depannya. Melangkah dengan bangga.
"Selamat, ya!" Mila berteriak saat Sofia mulai berjalan. Sofia pun berbalik dan tersenyum.
***
Teretet...
Sesuatu bergetar di saku Hans. Hans segera meraih benda itu. Dia menyalakan benda itu, benda kotak berwarna hitam yang biasa disebut ponsel. Dia membuka notifikasi Line, dan membacanya.
"Sofia jadi juara pertama?! Astaga, aku harus memberi nya selamat. Tapi—"
Hans mengurungkan niatnya. Dia takut, Sofia masih marah.
Dia langsung memasukkan ponselnya itu di saku. Dia menghela napas panjang. Dia yang baru saja berdiri dari kursi kantin karena senang, kembali duduk dengan lemas.
"Kenapa sedih, bro?" tanya salah satu orang di meja tersebut. Namanya Andi.
"Gapapa, masalah pribadi. Gosah kepo lu."
"Galak amat, cerita aja kalo ada masalah."
"Gue bilang ga, ya ngga." Hans menatap Andi kesal. Andi membuang mukanya, dia ketakutan dengan tatapan Hans.
"Gue mau ke kelas dulu. Gue duluan ya." Hans bangkit, dan mulai melangkah.
"Ok." Andi menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk 'O', mengisyaratkan 'OK'.
Hans melangkah melewati tiap kelas. Saat dia sedang berjalan santai, seorang gadis datang dan mendekati Hans.
"Hi, Hans." Gadis itu menyapa Hans. Hans melirik sekilas, tanpa merespon.
"Dingin banget sih. Kamu gitu." Gadis itu mencubit lengan Hans.
"Diem, Siska." Ternyata gadis itu bernama Siska. Gadis berambut keriting itu sangat membuat Hans risih. Dia terus melekat bagai lem.
"Makanya jangan kacangin aku."
"O—"
"Respon nya kok gitu? Oh ya, katanya kamu baru putus ama Sofia. Mending ama aku aja, aku mau kok."
Dug...
"Aduh sakit, siapa yang taro tiang di sini sih?!" Siska mengaduh kesakitan. Ini kesempatan yang tepat untuk Hans, dia langsung bergegas kabur menghindar.
"Akhirnya pergi juga." Hans menghela napas lega. Dia duduk di kursi koridor, dan ternyata di sampingnya sudah ada Siska yang tersenyum lebar.
"Eh, lo kok ada di sini?!"
"Aku kan pengen deket terus sama kamu, Hans."
Teretet...
"Eh? Apa ni?" Hans merogoh kantongnya, mencari ponsel miliknya. Dia langsung mengeluarkannya, membuka pesan Line yang masuk. Dia membaca pesan tersebut, dari Sofia!
Sofia: Hans, maafin aku ya.
Kamu mau ga ketemuan di sekolah? Nanti sore.
Hans langsung membalas pesan dari Sofia, dia benar-benar senang.
Hans: Ok. Aku maafin kok. Nanti kita ketemu di gerbang sekolah ya.
Sofia: Iya, tunggu aku ya.
Hans tak membalas, dia terlanjur senang. Dia langsung memasukkan ponselnya kembali ke tempatnya. Dia bangkit dari duduknya, berlari menuju kelas. Siska yang ditinggal begitu saja, berteriak, "Hans! Tunggu—"
"—aku akan membuat kamu menjadi milikku." Siska memelankan suaranya, dia seketika memasang wajah jahat.
***
["Hans tunggu aku ya. Aku masih di sini, soalnya masih ada beberapa acara. Nanti aku kabarin lagi ya. Sebentar lagi kok."]
"Iya, aku sabar menunggu kamu kok." Hans langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia tersenyum, sembari bersandar di dinding gerbang. "Aku harus cari hadiah, tapi apa?"
Dia melirik ke sekeliling, mencari sesuatu yang bisa dia beli untuk hadiah. Ah, dia baru sadar, "Beli bunga aja deh. Di dekat sini kan ada yang menjual bunga."
Hans memasukkan ponselnya ke kantong, dia membersihkan punggung nya yang kotor terkena lumut. Dia mengubah arah tubuhnya, dan tepat di hadapannya ada Siska dengan beberapa teman geng nya.
"Hi, Hans," sapa Siska. Dia menarik dasi Hans, membuat tubuh Hans maju beberapa senti. Sangat dekat. "Hans ayo ikut kita."
"Apaan, sih." Hans memundurkan diri, menghindari Siska yang terus mendekat.
"Ayo ikut aku."
"Ga mau." Hans berusaha kabur.
"Gengs, tangkap dia!" Siska mengisyaratkan untuk menangkap Hans. Semua teman-temannya langsung mengikuti perintah.
"Hey lepasin!" Hans meronta. Tapi walaupun dia kuat, dia tidak sanggup berontak dari 6 gadis itu. Hans digiring memasuki sekolah. Dia diajak menuju suatu tempat.
"Ini dia, selamat datang," sambut Siska. Gudang gelap yang begitu kotor merupakan tujuan mereka. Kebetulan, ada celah di langit-langit gudang yang memancarkan sinar yang tepat mengarah ke kursi yang ada di situ. Satu kursi dengan tali tambang mengitarinya. "Ikat dia!" Siska memerintahkan agar teman-temannya mengikat Hans. Hans duduk di kursi tersebut, kemudian diikat dengan tali tambang oleh para gadis. Ikatan yang begitu kuat, membuat kulitnya lecet dan memar.
"Selamat menikmati."
***
"Dimana, Hans?" Sofia mencari-cari Hans. Dia tidak melihat batang hidung nya sama sekali. Dia berusaha menelepon, namun tak kunjung diangkat. "Dia bohong? Tapi mana mungkin dia berbohong?"
"Fia, dimana Hans?" tanya Mila. Dia pun mencari-cari keberadaan Hans.
"Mil, aku coba masuk ke dalem buat cari dia, kamu tunggu dan cari disini. Ok?"
"Ok, Fia."
Sofia melangkah masuk melewati gerbang. Dia menyusuri setiap kelas, mencari sang pujaan hati. 'Hans, dimana kamu? Kalo ketemu nanti, aku cubit perutmu.'
Dia sudah berkeliling sekolah, namun tak menemukan apa yang dia cari. "Tunggu dulu, aku belum cari di gudang kosong belakang sekolah. Tapi, itu angker, 'kan?"
"Ah tapi, aku penasaran. Mungkin dia sedang bersama teman-temannya." Sofia mengubah arah tubuhnya, mulai melangkah menuju gudang. Dia juga, merasakan firasat aneh. Tapi apakah benar?
Dia mulai mendekat dengan gudang, dia sebenarnya takut. Tapi bagaimana lagi.
Ahh...
Dug...
"S–suara apa itu?" Sofia menyelinap, dia berjalan pelan menuju pintu gudang. Dia mengintip dari pintu yang terbuka sedikit. Samar-samar, dia melihat siluet beberapa orang wanita, dengan ada seseorang yang terduduk di kursi. "Apa yang mereka lakukan?"
Rasa penasaran bercampur takut menyelimuti hati nya. Tapi, dia berusaha memberanikan diri mencari tahu. Dia membuka pintu tersebut lebar-lebar, cahaya yang masuk melewati pintu langsung menerangi gudang tersebut. Menampilkan dengan jelas hal tak terduga, membuat pikiran Sofia tercemar. Hatinya terasa sakit, napasnya terasa sesak, matanya terasa perih.
"Hey!" Siska menoleh, mencari orang yang berani membuka pintu tersebut. Dia menghentikan hal yang sedang dia lakukan, dia keluar sejenak mencari pelaku yang berani mengganggunya.
***
"Hans, Hans, Hans, kenapa kamu ga mau jadi pacar aku? Kenapa kamu lebih milih pacaran sama cewek cupu itu?" ucap Siska. Dia mengambil tali tambang, kemudian dia memukul tubuh Hans dengan tali tersebut.
Ahh...
"Kenapa kamu ga mau sama aku yang populer ini?"
Ahh...
Dia terus saja bertanya pada Hans, kemudian langsung memukulnya dengan tali tambang. Begitu seterusnya.
"Lspashin (Lepasin)," Hans berusaha melepaskan diri. Namun, hasilnya sia-sia.
Saat Siska sedang melakukan hal tersebut, pintu gudang terbuka secara tiba-tiba. Membuat Siska kaget. Dia melangkah menuju pintu, tak ada siapapun. Dia langsung menghentikan kegiatannya, karena takut ada orang yang melihat.
***
Sofia berlari sembari meneteskan air mata. Apakah semua yang dia lihat itu nyata? Dia berlari melewati gerbang, menuju sang sahabat. "Mil, a–aku..."
"Kenapa? Fia, kenapa nangis?" Mila kaget, karena melihat Sofia kembali dari dalam sekolah sembari menangis.
"I–ini..." Sofia merogoh kantongnya, mencari-cari sesuatu. Dan akhirnya dia menemukan apa yang dia cari. "Lihat ini!"
Bruk...
"Hei, kenapa lu!" Mila berteriak kepada seorang gadis yang menyenggol Sofia, yang membuat ponselnya terlempar tepat ke jalan raya.
"Sorry, kak. Maaf aku lagi buru-buru," ucap seorang gadis sembari menundukkan kepalanya. "Maaf kak, aku harus pergi."
Gadis itu berjalan dengan tergesa-gesa. "Hey tunggu!" Mila masih kesal dengan sikap gadis tadi.
Sofia tak peduli dengan gadis itu, yang dia pedulikan adalah ponselnya. Dia langsung berjalan menuju ponselnya yang terlempar tadi, tanpa memerhatikan jalan. Dia meraih ponsel tersebut dan...
Bruak...
"Sofia!" Mila terkejut dengan hal yang dia lihat. Tubuh Sofia terlempar, akibat tertabrak sebuah mobil. Mila yang kaget, langsung segera berjalan mendekati Sofia yang terkapar di aspal. Dia berusaha mencari pertolongan. Sang pemilik mobil tersebut, langsung keluar dan membantu.
"Ah, sekarang bawa dia ke rumah sakit!" Sang pemilik mobil tersebut menggendong Sofia yang pingsan menuju mobilnya. Dia memasukkan Sofia ke dalam. Mila pun ikut. Dia duduk di bangku depan, bersama sang pemilik mobil.
Pria tersebut melajukan mobilnya. Mila sesekali melihat ke belakang, mengecek keadaan Sofia.
"Semoga kamu ga kenapa-napa." Mila meneteskan air mata.
***
"Semuanya, lepasin dia!" Titah Siska. Teman-temannya langsung mengiyakan, kemudian segera membuka ikatan tali yang mengitari tubuh Hans. Hans yang lemas, hanya terdiam. Lemas akibat sudah menjadi tempat pelampiasan Siska.
Siska mendekati Hans, dia mencengkeram dagunya. Dia berkata, "Kamu harus merahasiakan ini semua, kalau sampe bocor, aku bakal ngelakuin hal yang lebih buruk dan parah dari ini."
Dia kemudian melepaskan cengkeraman tangannya dari dagu Hans dengan kasar. Mereka langsung membersihkan dan menyembunyikan semua bukti, agar tak ada yang tau. Mereka seolah-olah tak mengalami apapun. Mereka langsung pergi begitu saja, meninggalkan Hans sendiri.
***
Langit semakin gelap, matahari mulai tenggelam. Mila hanya bisa menangis melihat keadaan sahabat tercintanya berada di dalam ruang rawat.
"Dek, saya mau bicara," ucap pria itu kepada Mila. Dia duduk di sampingnya, merangkul pundaknya.
"Iya," ucap Mila. Dia menyeka air matanya yang terus mengalir. Dia hanya menunduk.
"Sebelumnya, nama saya Dimas." Pria bernama Dimas itu memperkenalkan diri.
"Iya," jawab Mila singkat.
"Maafkan saya, sudah menabrak teman adek." Dimas menunduk, dia merasa bersalah. Mila tak merespon. Dia hanya terdiam.
"Semua biaya, saya yang tanggung," ucap Dimas.
"Terima kasih, om." Mila terus saja diam. Yang ada di pikirannya hanya Sofia.
"Apakah ini dengan kerabat dekat Sofia?" tanya seorang perawat kepada mereka yang sedang duduk.
"Ah iya, saya temannya." Mila bangkit dari duduknya.
"Kalau begitu, silakan masuk. Kamu boleh menemui pasien," ucap sang perawat ramah. Dia mempersilakan Mila untuk masuk.
"Fia, kamu udah sadar?" tanya Mila. Dia menggenggam tangan Sofia, yang terlihat masih memejamkan mata—terbaring di atas kasur.
Mata Sofia bergerak-gerak, kemudian mulai terbuka. Dia membuka mata, melirik ke arah Mila. Sembari tersenyum tipis.
"F–Fia. Kamu udah sadar? Syukurlah." Mila menempelkan lengan Sofia di pipinya. Dia kembali menangis. "Kamu ini, kenapa nekat sih!"
Mila tersenyum, dia menyeka kembali air matanya. Sofia berusaha mengubah posisi, dia ingin duduk.
"Fia, kamu kan baru sadar. Jangan banyak gerak."
"Ga apa-apa, cuma luka dan lecet dikit."
"Tapi tetep aja."
"Aku mau kasih tau sesuatu." Sofia melihat sekeliling, mencoba mencari ponsel miliknya. "Di mana hp aku?"
"Hp kamu? Ini," ucap Mila. Dia membuka resleting tas nya, mencari ponsel Sofia yang dia simpan di tasnya. Dia langsung menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya.
"Aduh, retak. Tapi semoga ga apa-apa." Sofia berusaha mengaktifkan ponselnya, dan syukurlah masih aktif.
Dia langsung membuka galeri, mencari gambar yang dia ambil tadi. Dia memperlihatkan gambar itu, "Liat, Siska melakukan hal ga pantes."
"Siska?!" Dimas yang baru saja masuk, langsung kaget. Dia segera mendekat.
"I–iya, om. Emangnya om siapa?" tanya Sofia. Mila pun ikut menoleh, menatap Dimas.
"Saya Dimas. Saya juga yang sudah menabrak kamu, maafin om ya."
"Ga apa-apa, om. Aku yang salah, karena ga liat jalan."
"Om ini, apakah om ini adalah papa Siska?" tanya Mila mengingat-ingat. Dia pernah melihat di dalam buku absen siswa, Siska memiliki ayah bernama Dimas. 'Apakah ini Dimas, papa nya Siska?'
"Ya, saya papa Siska."
"Liat, om. Ini yang udah anak om lakukan." Mila menyerahkan foto tersebut kepada Dimas.
"Astaga!" Dimas kaget, dia tak menyangka sang anak melakukan hal tersebut. "Ayo kita ke sekolah!"
"Tapi om, Sofia baru aja sadar. Dia butuh istirahat." Mila menatap Sofia, sedih.
"Ga apa-apa, aku baik-baik aja kok." Sofia memegang tangan Mila.
"Tapi—"
"Udah, aku ga apa-apa." Sofia berusaha berdiri. Mila sebenarnya tidak tega, tapi mau bagaimana. Dia akhirnya membantu Sofia bangkit.
Mereka langsung menuju mobil. Dimas langsung menancap gas, menuju sekolah.
***
"Tadi, Hans disekap di sini," ucap Sofia, menunjukkan arah menuju gudang.
'Tolong...'
"Itu, Hans!" Sofia berlari mendekati Hans. Dia memeluknya. Mila ikut mendekat, dia hanya memperhatikan.
Dimas pun menghampiri. Hans menatap ke arah pria tersebut, "Siapa dia?"
"Saya, Dimas. Papa Siska."
"Pak, apa bapak tau apa yang sudah dilakukan anak bapak kepada saya?!" Hans meninggikan suaranya, emosinya meluap. Namun tetap sembari duduk, karena dia masih terlalu lelah.
"Maafkan saya, saya akan mengganti rugi. Dan akan menghukum anak saya dengan setimpal."
Hans hanya terdiam. Dia memalingkan wajahnya. Dia menatap Sofia yang sedari tadi menangis.
"Mari saya antar kalian semua pulang, dan saya akan bertanggung jawab atas semua kesalahan saya dan anak saya, Siska." Dimas tersenyum tipis.
Sofia membantu Hans membersihkan diri, untung saja Hans membawa baju olahraga. Dia bisa mengganti baju, karena seragamnya sudah ternodai.
Selagi menunggu, Mila dan Dimas hanya diam didekat mobil. Mereka saling terdiam. Dimas memulai pembicaraan, menjelaskan semua yang menyebabkan ini terjadi.
"Semua ini, salah om. Salah karena tidak bisa menjadi seorang ayah yang baik."
"Om—" Mila menatap Dimas.
"Saat kecil, om bercerai dengan istri om, mama Siska. Siska tinggal bersama om." Dimas mulai berkaca-kaca, "Om selalu sibuk, dan tak pernah memperhatikan Siska. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Om selalu bersikap kasar kepadanya."
"Om juga, selalu mengajak wanita datang ke rumah. Bersenang-senang, dan melakukan hal macam-macam. Dan itu, disaksikan oleh Siska. Hingga, dia mempelajari hal buruk itu. Tapi om sudah tobat sekarang. Om tidak akan melakukan hal itu lagi. Om akan—"
"Kita udah selesai." Hans datang secara tiba-tiba. Mila langsung menoleh.
"—Ayo pulang!" ucap Dimas. Dia menghentikan kisahnya, membuat Mila penasaran.
"Iya," jawab semua serempak.
Mereka mulai memasuki mobil, untuk segera pulang ke rumah. Karena ini sudah malam, pasti orang tua mereka sudah khawatir.
***
"Siska, papa pulang."
"Iya, pa." Siska membukakan pintu untuk sang papa. Dia menatap papanya dengan senyum lebar. "Papa, hari ini aku seneng banget."
"Kenapa kamu melakukan hal itu?" tanya Dimas serius, dia mulai melangkah masuk. Dia menuju ruang tamu, dia duduk di sofa sembari melepaskan dasi.
"Hal apa, pa?" Siska duduk di sampingnya, dia menunduk.
"Kamu melakukan hal tak benar, kepada temanmu."
"A–aku..." Siska terdiam, "Papa juga dulu sering ngelakuin itu, kenapa aku ngga boleh?!"
"Kamu ini, jangan meniru papa. Papa memang salah, tapi papa sekarang sudah berubah."
"Tapi, pa..."
"Papa minta maaf selama ini papa tidak bisa menjadi sosok papa yang baik buat kamu. Papa salah. Aku sangat tidak pantas disebut papa—"
"Papa, maafin Siska." Tangisan Siska pecah, sudah tak terbendung lagi. Dia memeluk sang papa, "Siska juga salah. Maafin Siska."
"Papa yang harusnya minta maaf."
Malam itu, mereka menangis. Sebuah tangisan penyesalan. "Siska, maafkan papa. Sepertinya, kamu harus papa pindahkan ke asrama khusus perempuan."
"Iya pa, ga apa-apa."
"Ini demi kebaikan kamu, maaf ya." Dimas mempererat pelukannya.
"Iya pa, aku akan berubah."
***
"Eh, kalian tau ga? Katanya si Siska pindah sekolah ke asrama. Karena ada masalah, bener ga sih?" tanya seorang gadis kepada Mila. Mila yang sedang duduk manis bersama Sofia dan Hans, kesal.
"Aku mau makan, napa berisik banget sih." Mila menggebrak meja, membuat gadis barusan lari ketakutan.
Teretet...
Ponsel Hans, Sofia, dan Mila bergetar bersamaan. Mereka semua, langsung mengambilnya dan membukanya. Ada pesan Line dari Siska.
Siska: Semuanya, maafin aku selama ini ada salah. Dan juga, aku bakal ganti rugi semuanya. Untuk Sofia dan Hans, semoga kalian bahagia :)
Sofia: Aku maafin kamu kok.
Sofia: Kamu ga perlu repot-repot ganti rugi. Kita ngerti yang kamu lakuin itu, ga sengaja.
"Eh, Fia. Beneran kamu ga mau uangnya?" bisik Mila. Dia menatap Sofia kesal.
Hans: Iya, ga papa. Kita lupain aja itu semua.
Siska: Tetep aja, aku harus tanggung jawab. Nanti aku transfer uangnya ya.
Mila: Makasih, Sis. Gue juga kan?
Siska: Tenang aja, hehe.
"Eh, kamu kok—" Sofia menatap Mila kaget.
"Ga papa, sekali-kali." Mila tersenyum malu.
Siska: Sekali lagi aku minta maaf. Dan kalau kalian ada masalah, bisa minta tolong aku atau papa.
Hans: Siap.
"Eh, Fia. Nanti hari Minggu, kita jalan yuk?" tanya Hans. Dia menatap Sofia, sembari tersenyum.
"Ayo!"
"Aku ga diajak?!" Mila kesal, dia iri melihat ke-uwuan antara Hans dan Sofia.
"Makanya, cari cowok dulu." Hans meledek. Membuat mereka semua tertawa, suasana nya menjadi sangat cair.
"H–Hans, kita semua minta maaf ya." Beberapa gadis tiba-tiba datang menghampiri meja mereka.
"Kalian lagi..." Hans membuang muka. Dia menatap gelas berisi es teh manis, dia mengaduk-aduk gelas itu dengan kasar.
"Maafin kita. Kita janji, bakal ikutin semua perintah kamu," ucap salah seorang gadis sambil mengangkat tangannya, dia memohon.
"Maafin ya, plis." Salah seorang gadis lain pun ikut memohon. Dia bahkan sampai berlutut.
"Eh, kamu berdiri aja." Sofia kaget, gadis itu memohon sampai berlutut.
"Ok. Asalkan, kalian harus bayarin makan gue, Sofia, ama Mila selama sebulan." Hans menunjuk Mila dan Sofia bergiliran.
"O–ok. Makasih ya, Hans udah mau maafin kita." Gadis itu bangkit setelah berlutut. Mereka semua tersenyum bahagia.
"Oh ya, kalian kalo mau gabung ama kita. Sini aja." Sofia mengajak para gadis itu untuk makan bersama.
"Oh iya, gue lupa. Mau ajak si Andi. Bentar ya," ucap Hans sembari bangkit dari duduknya, menuju kelas. Mencari sahabat baiknya, Andi.
Para gadis yang tersisa di bangku tersebut, hanya tertawa. Sofia yang sedang tertawa, menatap kepergian Hans. "Sampai ketemu nanti, pulang sekolah!"
***
"Halo, kalian. Ready jalan-jalan?" tanya seorang pria yang turun dari dalam mobil.
"Eh, om Dimas. Ada apa kesini?" tanya Sofia, dia memberikan senyum. Dimas menatapnya, dan membalas dengan senyuman.
"Karena Siska di asrama, om jadi jarang ketemu. Sebagai gantinya, kalian om anggap anak sendiri aja deh." Dimas tertawa, diikuti dengan tawaan Hans, Sofia, dan Mila.
"Sekarang, ayo kita pergi makan." Dimas memasuki mobil. Di susul dengan Hans yang duduk di bangku depan, sementara Sofia dan Mila duduk di bangku belakang.
Dimas segera melajukan mobilnya. Semuanya berbincang di dalam mobil dengan hangat.
***
~ 5 Tahun Kemudian ~
"Mi, papi berangkat, ya," ucap seorang pria berjas kepada seorang wanita yang terlihat sedang hamil.
"Iya, pi. Hati-hati, ya." Wanita itu memeluk sang suami. Wanita yang familiar, itu adalah Sofia.
"Tunggu papi pulang ya, nak." Pria tersebut menyium perut Sofia, pria yang juga familiar, dia adalah Hans.
Hans melangkah menuju mobil, dia melambaikan tangan sebelum berangkat.
"Jangan lupa makan!" Sofia membalas lambaian Hans. Dia tersenyum, kemudian langsung memasuki rumah begitu suaminya menghilang dari pandangan.
***
TAMAT