Hari pertama Maya bersekolah, semua biasa-biasa saja. Tidak seperti kebanyakan orang yang akan senang ketika memasuki sekolah barunya, memiliki teman baru, bertabrakan dengan kakak kelas, lalu jatuh cinta. Persetan dengan khayalan itu.
Jelas Maya tidak suka dengan semua ini. Tujuannya hanyalah sekolah, mendapat ijazah, setelahnya bekerja untuk mendapatkan uang.
Seperti biasa, Maya selalu mengenakan earphone kemana-mana, termasuk di rumah sekalipun. Semua bermula saat ia pulang menonton acara festival musik. Sepulang dari acara, telinganya terus saja mendengung.
Dengung telinga baru hilang, saat ia mendengarkan suara misterius. Pertama kali berawal saat suara itu mengatakan bahwa di dekat rumahnya ada seorang gadis jatuh, dengan bersimbah darah. Karena penasaran, Maya pun mengikuti suara itu dan pergi ke rumah yang berada di dekat rumahnya.
Sesampainya ia di sana, ada banyak sekali orang-orang yang berkerumun di sana. Maya mencoba masuk ke celah-celah orang yang berkerumun, demi dapat menyaksikan kejadian apa yang telah terjadi.
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh suara tadi, ada gadis yang tergeletak dengan tubuh bersimbah darah. Darah mengalir deras, darah tersebut keluar dari jantungnya. Terdapat lubang di sana. Tak hanya itu, di lehernya terdapat luka sayatan yang teramat panjang mengakibatkan leher itu menganga, menampilkan daging yang berwarna merah segar.
Setelah itu, datanglah petugas kepolisian yang membuat kerumunan itu pun bubar. Maya bergidik ngeri, sembari mengusap tangannya yang merinding sebab melihat kejadian tadi. Suara itu benar, atau mungkin ini hanyalah kebetulan.
“Pembunuhnya memakai baju berwarna hitam, dan mengenakan masker. Ada pisau di saku celananya. Dia bersembunyi di balik pohon beringin.” Suara itu kembali terdengar. Tentu membuat Maya penasaran kembali, ia pun pergi ke pohon beringin, yang letaknya lumayan dekat dari tempatnya berdiri.
Di sana, memang benar ada seorang pria memakai baju berwarna hitam. Ia tengah menangis sambil membersihkan kedua tangannya. Menangis? Apa dia seorang pembunuh? Sepertinya suara itu salah. Maya pun membalikkan tubuhnya dan bergerak menjauhi pohon beringin, tapi langkahnya tercegat saat ada sebuah tangan yang menariknya tiba-tiba.
“Apa yang kau lakukan, Nona?” tanya pria tersebut dengan nada dingin, matanya menatap Maya dengan tajam seolah sedang mengintimidasi Maya.
“Aku tidak melakukan apapun,” jawab Maya kemudian melepaskan pegangan pria tersebut. Sontak Maya terkejut, saat melihat ada noda darah di tangan pria tersebut.
“Ada darah di tanganmu!” ucap Maya panik.
“Dia pembunuhnya, tunggu apa lagi. Bawa dia kepada polisi. Kalau tidak, akan banyak korban yang berjatuhan.” Suara itu kembali terdengar di telinga Maya. Maya pun segera berteriak menyebut orang yang di depannya ini adalah seorang pembunuh.
Sementara pria itu tetap diam di tempatnya, menyaksikan Maya seperti orang gila. Hingga ada orang datang, menanyakan apa yang terjadi.
“Gadis ini mungkin tidak waras,” ucap pria tersebut kemudian melangkah menjauhi Maya, dan orang tersebut.
Kejadian tak berhenti sampai di sana. Ada korban lagi yang tewas dengan mengenaskan, dan terlebih lagi setiap korban memiliki hubungan dekat, atau istilahnya adalah keluarga. Dan selalu Maya yang mendengar tentang korban tersebut, dan setiap ada kejadian, Maya selalu melihat pria yang ia temui pertama kali di pohon beringin.
Bermula dari situlah, Maya memutuskan untuk menutup telinganya menggunakan earphone. Ia akan melepasnya jika ada yang mengajaknya berbicara, memasang earphone jika tidak ada yang mengajaknya berbicara. Setidaknya hal itu bisa membuatnya tidak mendengar lagi tentang suara misterius.
Maya duduk di kursinya, kursi paling ujung. Duduk sendirian, jauh dari keramaian. Membuatnya tenang, meski berteman dengan sepi. Tidak ada yang mengganggu hidupnya.
~~~
Bel sekolah berbunyi dengan nyaring, pertanda kegiatan belajar-mengajar hari ini sudah selesai. Maya segera membereskan buku-bukunya, dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian Maya menenteng tas ranselnya, dan bermaksud untuk pulang ke rumah.
Maya menyusuri koridor sekolah, melewati orang-orang yang berlalu-lalang sepanjang koridor. Tak sengaja, tali earphone milik Maya tersangkut saat ia mencoba menghindar dari kerumunan, dan alhasil earphone-nya terlepas dari telinganya.
“Korban selanjutnya ada di depanmu, laki-laki berpenampilan buruk. Dia kakak kelasmu, selamatkan dia, sebelum pembunuh itu datang mendahuluimu.”
Setelah sekian lama, suara itu kembali terdengar jelas di telinga Maya. Ya ampun, masalah baru apa lagi ini? Sungguh Maya tak sanggup, jika harus melihat korban lagi. Terlebih saat korban itu mati dengan cara mengenaskan. Leher yang menganga, bola mata yang tercongkel, mulut yang sobek, lalu apalagi kali ini? Festival musik itu benar-benar membuat hidup Maya tidak tenang.
Jika diabaikan, telinga Maya akan bedengung dengan waktu yang cukup lama. Rasanya Maya ingin sekali kehilangan pendengarannya, ini semua benar-benar seperti kutukan. Tapi apa mungkin, jika Maya berhasil menyelamatkan korbannya, hidupnya akan kembali tenang seperti semula? Ya, kenapa tidak mencobanya sekali lagi. Ia harus berhasil mengungkap identitas pembunuh itu.
Kali ini Maya tidak memasang kembali earphone-nya, dan melangkah mendekati laki-laki yang disebutkan oleh suara misterius tadi. Maya tidak berani mengambil langkah yang cukup dekat, jadi ia hanya mengawasi gerak-gerik laki-laki itu.
Maya terus mengikuti langkah laki-laki itu, ia tidak berhati-hati. Membuat laki-laki itu sadar, kalau ada seseorang yang tengah mengikutinya. Ia pun menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba, membuat Maya tertabrak punggung belakang laki-laki itu.
“Astaga!” pekik Maya begitu kepalanya menabrak punggung belakang laki-laki tersebut.
“Kau mengikutiku?” tanyanya dengan ketus, saat tubuhnya berbalik menghadap Maya.
“Ya, aku mengikutimu.” Maya menjawab dengan jujur, lagi pun bukankah tujuannya adalah menyelamatkan laki-laki ini.
“Apa urusanmu?”
“Aku memiliki urusan, yakni menyelamatkanmu dari seorang pembunuh,” ucap Maya berterus terang.
Sontak laki-laki itu mengernyitkan alisnya bingung. “Omong kosong! Siapa yang ingin membunuhku? Kau?”
“Hei! Jangan asal bicara! Justru aku ingin menyelamatkanmu. Tolonglah, jika kau selamat, mungkin hidupku akan tenang.”
“Aku tidak peduli!” kecamnya lalu berjalan menjauhi Maya.
“Benar-benar merepotkan!”
Baru saja Maya ingin memasang earphone-nya, suara itu kembali terdengar.
“Ikuti saja dia, selamatkan dia dari bahaya malam ini juga!” perintah sang suara misterius tersebut.
Maya mendecak kesal, kenapa tidak suara itu saja yang menyelamatkan orang lain? Kenapa harus Maya yang terlibat dalam urusan yang bisa saja membahayakan nyawanya sendiri?
“Cepat! Waktumu tidak lama,” titahnya lagi.
Dengan langkah berat, Maya pun mengikuti kembali laki-laki itu. Tidak peduli, jika ia dianggap sebagai penguntit atau apapun itu. Dalam pikirannya, laki-laki itu harus selamat.
~~~
“Apa maksud gadis tadi? Siapa yang ingin membunuhku? Omong kosong!” gerutu laki-laki yang bernamakan Nathan tersebut.
Namun, tak dapat dipungkiri. Jika ia juga ketakutan saat mendengar bahwa ada yang akan membunuhnya. Mungkinkah hari ini adalah hari kematiannya? Setelah banyak keluarganya yang tewas mengenaskan, apa Nathan juga akan tewas mengenaskan? Dan dibunuh oleh orang yang sama misteriusnya?
Ini semua adalah kesalahannya, tidak sepatutnya ia membiarkan anak kecil itu mati. Jika benar ia mati hari ini, ia sangat berharap agar Malaikat Izrail datang menjemputnya terlebih dahulu, dibanding pembunuh itu yang menjemputnya.
Nathan terus berjalan menuju rumahnya. Seperti manusia pada umumnya, ia sangat ketakutan, keringat mengalir di pelipisnya. Tiba-tiba bayangan masa lalu kembali menghantui. Dia jelas ingat, bagaimana anak kecil itu mati di tangan saudaranya. Tuhan, tidak adakah ampunan untuk diriku?
~~~
Maya terus mengikuti laki-laki itu, bahkan ia harus mempercepat langkahnya agar tak kehilangan jejak orang itu. Bagaimana bisa langkah kecil miliknya bisa sampai menyetarakan langkah panjang laki-laki itu. Ini semua benar-benar merepotkan!
“Tolong lebih cepat! Waktu bisa saja berubah. Dia adalah korban terakhir, jika kau bisa menyelamatkannya. Hidupmu akan tenang seperti semula.” Sang suara kembali berujar, membuat Maya menghela nafasnya kasar.
“Baiklah, kalau begitu. Aku harus menyelamatkannya. Aku ingin hidupku tenang, ku pegang janjimu wahai suara!”
Sampai akhirnya Maya telah tiba di sebuah rumah yang cukup terbilang mewah. Di sini rupanya rumah laki-laki itu. Walaupun rumah ini seperti terasingkan dari para penduduk. Maya pikir, laki-laki ini tinggal di rumah yang biasa-biasa saja, seperti rumah gubuk misalnya. Ternyata penampilan tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
Laki-laki itu berbalik menatap Maya dengan sengit, tatapannya yang begitu tajam menghunus dada Maya. Maya sempat berpikir, apa jangan-jangan laki-laki yang ada di depannya inilah seorang pembunuh, dan Maya adalah korbannya. Segera Maya membuang pikiran negatifnya jauh-jauh.
“Pergi!” perintah Nathan kepada Maya, dengan ekpresinya yang datar.
Sempat membuat Maya tersentak akan suaranya yang tegas. Lagi-lagi Maya mendecak kesal.
“Tidak, sebelum kau selamat. Tolonglah, bantu diriku untuk lepas dari kutukan ini!” Maya memohon kepada Nathan.
“Kak Nathan,” ucap Maya sambil mengeja, menyebutkan sebuah nama yang ada di baju laki-laki itu. “Biarkan aku menyelamatkanmu dari pembunuh itu.”
Nathan masih diam di tempatnya, membiarkan gadis di depannya ini berbicara sendirian.
“Baiklah, kau diam berarti kau setuju.” Maya pun mencoba berpikir, langkah apa yang harus ia ambil untuk menyelamatkannya dari seorang pembunuh.
Sementara itu, Nathan semakin menatapnya dengan tidak suka. Ia pun meninggalkan Maya di luar rumahnya, dan masuk ke dalam.
“Hei, jangan tinggalkan aku!” teriak Maya, kemudian berlari menyusul Nathan ke dalam rumahnya. Untunglah, Nathan belum sempat menutup pintunya.
Manusia aneh, gumam Nathan dan membiarkan saja Maya masuk ke rumahnya.
Maya menatap takjub dengan pemandangan rumahnya. Rumah ini sangat mewah, dihias dengan perabotan bak seorang sultan. Maya tak henti ternganga menatap kagum seisi rumah.
“Jangan diam saja! Sebentar lagi, pembunuh itu akan menghampiri kalian!” ujar sang suara yang seketika membuat Maya cepat mengatupkan mulutnya.
Maya bukan tipe orang yang berpikir dengan cepat, bagaimana caranya ia bisa menghindari seorang pembunuh. Sementara, Nathan tetap diam menyaksikan Maya yang kelimpungan seperti orang gila.
Tuk, tuk, tuk. Suara sepatu sengaja dibunyikan dengan nyaring, dibiarkan menggema ke seluruh penjuru ruangan. Membuat Maya, dan Nathan menoleh seketika. Suara sepatu itu perlahan menuruni anak tangga.
“Targetku, hanya satu. Yang pasti bukan perempuan. Kali ini aku akan menghabisi seseorang yang membiarkan seorang anak kecil mati. Bagaimana bisa itu terjadi? Diam seperti patung! Dia bukan manusia, yang ku yakini dia adalah seorang iblis!” ucapnya dan diiring tawa yang memekakkan telinga. Tawanya sungguh seram, sangat mendukung dirinya yang mengenakan pakaian hitam, dan masker dimulutnya.
Sebentar! Dia adalah orang yang disebut oleh sang suara, pembunuh. Kenapa ia bisa ada di dalam rumah? Sial! Rupanya langkahnya terlambat.
“Hindari dia, jangan pergi ke tempat yang mudah ia tebak. Bawa laki-laki itu bersamamu! Cepat, tidak ada waktu lagi. Atau tidak laki-laki itu akan dibunuhnya!”
Hei, kemana? Tempat yang tidak mudah ditebak? Sial! Maya bukanlah orang jenius, lalu kemana ia harus pergi. Tak sempat berpikir lagi, Maya segera menarik pergelangan tangan Nathan. Terlihat jelas wajah Nathan telah pucat, di mana Malaikat Izrail? Ia ingin menemuinya, memintanya agar cepat mengambil nyawanya sebelum pembunuh itu yang merenggut nyawanya.
Sementara pria itu menuruni anak tangga dengan pelan, tersenyum miring menatap korbannya itu lari darinya. Mereka tidak akan bisa lari dariku, percaya saja!
Maya membawa Nathan keluar dari rumah, dan berlari ke arah rumah tua yang letaknya sekitar 10 meter, dari rumah Nathan. Nathan pasrah! Ia tidak tahu harus kemana, maka ia hanya menurut pada Maya.
“Baiklah ini pilihanmu, jangan menyesal terhadap pilihanmu. Kau yang sudah memilihnya, kau harus menerima apapun yang terjadi.” Suara misterius kembali terdengar di telinga Maya.
Maya tidak bisa berpikir jernih. Ia sangat panik, di saat seperti ini Maya diberi tanggung jawab untuk melindungi seseorang yang justru merepotkan dirinya saja. Maya pun menangis dengan suara yang tertahan.
“Dosa apa yang telah ku perbuat? Hingga Tuhan memberikanku kejadian seperti ini. Hei kau! Jangan diam saja, pikirkanlah bagaimana caranya kita bisa selamat!” Maya frustasi, tangisnya semakin terisak.
Nathan juga tidak bisa berpikir, ia sangat panik, lebih dari Maya. Karena dalam peristiwa ini, dia yang menjadi target si pembunuh.
“Kenapa kita tidak menghubungi polisi saja?” ucap Nathan kepada Maya.
Maya pun menolehkan kepalanya menatap Nathan dalam-dalam, lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak, bagaimana caranya? Kita berada dalam keadaan terdesak. Bagaimana caranya menghubungi polisi? Jika kita keluar dari rumah ini, kemungkinan pembunuh itu ada di depan rumahmu. Dia pasti mengawasi kita, dan dia akan mengejar kita. Tidak! Bukan kita tapi kau!”
“Tapi kita tidak bisa diam saja di sini. Menghubungi polisi adalah satu-satunya cara!” sahut Nathan dengan tegasnya.
Mereka berdua berdebat, di rumah tua ini suara mereka terdengar nyaring. Mereka lupa, bahwa ada yang telah mengintai mereka.
Brak! Suara pintu terbuka. Menampakkan siluet seorang pria yang tengah memegang pisau dapur. Hari sudah semakin sore, rumah ini gelap, justru menambah suasana semakin mencekam.
“Aku datang kepadamu, kau tak bisa lari,” ucap pria tersebut berjalan mendekat ke arah Nathan.
“Lari!” teriak Maya, dengan cepat menarik tangan Nathan agar menjauh dari pembunuh gila itu.
Lagi-lagi Maya terlambat, pria itu lebih cepat menangkap tangan Nathan sehingga membuat pegangan tangan Maya terlepas.
“Jangan membela seorang iblis!” ungkap pria tersebut, menatap tajam Maya.
“Kau juga seorang iblis, sialan!” pekik Maya.
“Hoho, kau tidak tahu, Nona!” sahut pria itu dan mengapit leher Nathan dengan salah satu tangannya. Nathan memberontak melepaskan diri dari pria ini.
“Biar ku ceritakan, siapa yang iblis di sini.” Nada suaranya berubah menjadi lirih. Ia menundukkan kepalanya beberapa detik, kemudian mendongakkan kembali kepalanya sebelum mulai bercerita.
“Keluarga ini ingin menjadi orang kaya seumur hidupnya, yang hartanya tidak akan habis sampai berapa turunan pun. Lalu, mencari seorang tumbal anak kecil, untuk diberikan kepada sembahan mereka. Aku yang dulu sengaja dibuat tidak bisa bergerak, tidak dapat menolong putriku sendiri. Putriku tewas di tangan keluarga iblis ini. Di saat aku membutuhkan keadilan, tidak ada yang mau menolongku, hanya karena aku seorang miskin. Di saat itu pulalah, mungkin aku sendiri yang harus menghabisi nyawa keluarga ini. Ya, begitulah ceritanya. Ku buat singkat, agar kau dapat mengerti, Nona,” ungkapnya lalu tersenyum miring di balik maskernya.
Maya meneguk ludahnya susah payah, jadi ini adalah balas dendam seorang ayah untuk putrinya.
“Lakukan sesuatu!” perintah sang suara, yang justru membuat Maya semakin frustasi.
“Lakukan apa? Aku tidak tahu, aku sudah berada dalam keadaan yang semakin membuatku gila!” sahut Maya dengan berteriak.
Di saat itu pula, telinga Maya mendengung begitu nyaring. Sementara pria itu telah menusuk tubuh Nathan. Membuat darah keluar dari mulutnya. Nathan terjatuh dengan posisi telentang, kaki pria itu diarahkannya menginjak bagian jantung Nathan. Semakin kuat, ia menginjaknya. Membuat Nathan tidak bisa bergerak. Ia mencoba melepaskan kaki pria itu dari tubuhnya, tapi tidak berdaya, ia lemah. Apalagi untuk meminta tolong, suaranya seperti tertahan dan tak mampu dikeluarkan.
Telinga Maya tak henti-hentinya berdengung. Maya menangis sejadi-jadinya, telinganya kesakitan. Ia tidak bisa menolong laki-laki itu.
Pria itu mengangkat kakinya dari tubuh Nathan, bergerak menjauhi Nathan untuk mengambil sesuatu. Ia berjalan mengambil sebuah lemari kayu usang yang terletak di sudut ruang tamu, ia mendorong lemari itu dan mengarahkannya kepada Nathan.
Brak! Lemari itu tepat terjatuh di atas tubuh Nathan. Saat itu pula pandangan Maya mengabur, gelap semakin menutupi pandangannya, setelahnya ia hanya merasakan gelap seutuhnya.
~~~
Setelah kejadian hari itu, Maya menghela nafasnya lega. Ia tidak akan lagi mengalami kejadian buruk, bukan?
Selepas peristiwa itu, Maya sempat dituduh sebagai pembunuh. Karena dalam tempat kejadian, hanya ada dua orang di sana. Seorang mayat, dan gadis yang pingsan. Jelas Maya menolak tuduhan tersebut. Ia pun menceritakan kejadian dari awal, membuat orang-orang tidak percaya dan menganggap Maya bicara omong kosong.
Sampai ada beberapa polisi yang menyatakan bahwa Maya bukanlah pembunuhnya. Justru, polisi itu tengah berbincang-bincang yang membuat Maya tidak dapat mendengarnya. Dan hari itu pula, Maya diperiksa oleh seorang psikiater.
Ya, sampai di hari itu. Maya pun diputuskan untuk menetap di sebuah rumah sakit jiwa. Ada yang janggal dalam hidupnya. Tapi Maya justru senang, karena berada di tempat ini akan membuatnya jauh dari keramaian, bukan seperti itu? Ia akan bebas dari suara misterius yang menyebalkan itu.
Maya duduk di tepi kasurnya, sembari menatap ruangan putih di depan matanya. Di saat itu pula, telinganya kembali berdengung. Tapi tidak lama, hanya 30 detik saja. Setelah itu, kembali normal.
“Ucapkan selamat datang kepada pembunuh. Dia ada di depan pintumu!”