"Jaga dia untukku"
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit...... Suara monitor menandakan kepergian Ricky saudara kembarku untuk selamanya. Itulah kalimat terakhir yang dia ucapkan padaku.
Tangis histeris kedua orang tuaku sudah tak dapat terbendung lagi. Kutatap wajah terakhir kakakku yang hanya berbeda usia 5 menit dariku. Wajah yang sama, bentuk tubuh yang sama denganku hanya sifat kami yang berbeda.
Kakakku Ricky adalah anak baik, pintar, kalem, penurut, ia adalah kebanggaan kedua orang tuaku. Berbeda denganku bandel, urakan yang sering membuat kedua orang tuaku di panggil ke sekolah. Meskipun begitu aku juga sama pintar dengan Ricky. Ricky sangat menyanyangiku, Ia sering membelaku di depan orang tua kami.
"Kenapa harus loe Ky yang pergi, kenapa bukan gue" Aku terduduk lemas di depan Batu nisan yang bertuliskan Ricky Prasetya. Aku dan Ricky meskipun saudara kembar tapi kami berbeda sekolah. Ricky sekolah di Jakarta sedangkan aku di bandung bersama kakek nenekku. Ricky mengalami kecelakaan saat pulang dari mengunjungiku di bandung.
"Ko. Kalau suatu saat aku pergi, tolong jaga Anggun untukku ya" Ucap Ricky yang duduk di sebelahku. Saat terakhir ia mengunjungiku.
"Ngomong apa sih loe ky?" Aku tidak menghiraukan omongannya karena kesal, bikin orang merinding. Ricky setiap kali mengunjungiku selalu bercerita tentang sahabatnya yang secara diam-diam dia cintai. Anggun Aprilia nama gadis itu yang sampai sekarang aku belum tahu wujudnya.
*******
"Ricko memang bukan Ricky Ma, Pa. Tapi Ricko akan berusaha untuk menjadi lebih baik. ijinkan Ricko menggantikan Ricky di sekolahnya" Kedua orang tuaku saling menatap mendengar ucapanku. Mamaku menangis, begitu juga Papa terlihat gurat sedih di wajahnya mengingat Ricky.
Atas ijin kedua orang tuaku, aku pindah ke sekolah Ricky menggantikannya.
Seminggu sudah Ricky tidak masuk sekolah, semua temannya tidak ada yang mengetahui kalau Ricky sudah tiada kecuali pihak sekolah. Hari ini ku langkahkan kakiku memasuki pintu gerbang sekolah yang selama ini menjadi tempat Ricky mencari ilmu.
"Sekolah yang lumayan besar" Gumanku pelan.
"Ky, kemana aja loe?. Seminggu gak masuk. Anggun nyariin loe terus tuh" Suara laki-laki yang tiba-tiba muncul disampingku sambil memeluk bahuku. Adit Lesmana name tag yang ku baca di bajunya. Kuingat-ingat kalau Ricky pernah bercerita selain Anggun ia juga punya sahabat yang namanya Adit.
"Gue ke bandung ada urusan" Jawabku singkat.
"ooooo kirain loe mau hindari tantangan Devan" Aku mengernyit kan dahi, Siapa Devan. Kenapa Ricky tidak pernah cerita.
"Tantangan? "
"Loe masak lupa sih Ky, seminggu yang lalu Devan si kampret musuh bebuyutan loe tuh nantangin loe main basket"
Apa!! sejak kapan Ricky punya musuh, aku kira hidup Ricky penuh damai. Baru kali ini aku tahu kalau dia punya musuh. Batinku terkejut.
"Gue tadinya berharap hari ini loe masih gak masuk sekolah, gue tahu loe mana mungkin bisa main basket. Pegang bola basket aja gak pernah" Aku hanya diam mendengarkan ucapan Adit. Pantas saja terakhir Ricky mengunjungiku ia minta di ajarkan main basket.
"Gue kesal, lihat loe selama ini harus terus di bully sama Devan karena loe gak mau Devan ganggu Anggun" Aku mengepalkan tanganku mendengar kata-kata bully pada saudaraku. Kurang ajar, jadi selama ini Ricky dibully.
"Gun, Nie pangeran loe yang hilang seminggu" Ucap Adit pada seorang gadis saat kami memasuki kelas.
Busyet. Nie mah bidadari, Pantesan Ricky cinta mati.
Deeg.......deeg...... Ini kenapa jantungku kayak balapan kuda gini. Serasa mau copot, apa gue mau kena serangan jantung.
"Ky. Kamu kemana aja?" Ucap gadis itu berada di hadapanku sekarang. Manisnya.
"Ke bandung" Jawabku singkat. Aku pun duduk disebelah Anggun karena aku ingat cerita Ricky kalau dia dan Anggun sebangku.
======
"Woi broo, lihat berani muncul juga nie bocah" Ucap laki-laki pada dua orang temannya yang masuk kelas berjalan ke arah bangku ku dan Anggun saat istirahat.
Dengan gaya sok Cool dia duduk di mejaku, satu kaki diangkat bertumpu pada bangku di sampingku. Aku berusaha bersikap tenang. Jadi ini yang namanya Devan setelah ku lihat name tag nya. "Hai, sweety" Ucapnya mengedipkan sebelah mata pada Anggun. Terlihat raut cemas, takut dari Anggun.
"Jangan sentuh dia" Ucapku dengan memegang erat tangannya yang hendak menyentuh wajah Anggun. Terlihat Devan memekik kesakitan karena genggaman tanganku yang kuat.
"Loe nantangin gue" Ucapnya dengan Emosi setelah ku lepas tangannya.
"Loe yang mulai" Jawabku dingin. Aku beranjak dari duduk menarik tangan Anggun agar mengikutiku. Aku tidak bermaksud lancang tapi aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Anggun. Aku mengajak Anggun pergi bukan karena takut menghadapi Devan dan teman-temannya, hanya saja aku takut tidak bisa menahan emosi.
"Ternyata loe pengecut ya, Loe lupa tantangan gue waktu itu" Mendengar ucapannya aku berhenti sejenak. " Gue bukan pengecut, tunggu gue di lapangan" Ucapku tanpa menoleh atau membalikkan badanku, kemudian aku melanjutkan langkahku masih menggenggam tangan Anggun untuk mengikutiku.
"Kamu yakin Ky, kamu kan gak pernah main basket" Wajah Anggun terlihat khawatir.
"Loe tenang aja"
Aku datang ke lapangan basket, disana sudah ada Devan CS. Banyak siswa yang bergerumbul melihat kami di tengah lapangan. Adit dan Anggun yang terlihat cemas juga terlihat di sana.
"Loe cuman sendiri?"
"Untuk melawan kalian bertiga, cukup gue seorang" Jawabku dingin.
"Seminggu gak masuk, jadi songong banget nie anak"
"Mulai" Ucapku dengan gesit merebut bola dari tangan Devan. Satu poin ku cetak setelah memasukkan bola ke dalam ring. Aku adalah Ricko Prasetya kapten tim bola basket di sekolahku. Bukan sombong tapi setiap ada pertandingan kami selalu menang. Jadi kalau hanya melawan cecunguk macam ini saja, tak perlu bantuan dari siapapun.
Petandingan berlangsung hanya tiga puluh menit tapi aku bisa membuat mereka bertiga kualahan dan memenangkan pertandingan tak memberikan kesempatan mereka mencetak poin. Sorak-sorak dari semua siswa yang melihat.
"Gue menang. Setelah ini jangan pernah ganggu Anggun dan siapapun di sekolah ini" Ucapku sekaligus ancaman buat mereka bertiga seraya aku meninggalkan mereka di lapangan.
"Wuih gila, keren banget tuh cowok"
"Ganteng ya"
"Cakep ya"
"Anak kelas mana"
" Bla... blaaaaaaa" Masih banyak lagi pujian-pujian dan komentar-komentar yang di lontarkan semua siswa padaku.
*******
Sudah seminggu berlalu, Aku selalu mengantar Anggun pulang ke rumahnya saat pulang sekolah. Aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku saat berada di dekat Anggun. Jantungku selalu berdegup kencang. Aku merasa senang dan nyaman saat bersamanya. Sikap manisnya, rendah hati, polos dan kalem. Perasaan ingin melindunginya selalu.
Saat ini kami bertiga sedang berada di sebuah restoran. Adit mentraktirku dan Anggun, karena hari ini ulang tahunnya. Ada berbagai macam menu makanan yang di pesan Adit.
Entah mengapa aku merasa tiba-tiba wajah Anggun berubah jadi murung setelah kami makan bersama di restoran.
Setelah dari restoran kemarin, sikap Anggun jadi berubah ia seperti menghindar dariku. Hari ini saja pulang sekolah ia mendahuluiku tidak seperti biasanya kami pulang bersama.
Ada rasa tidak enak yang aku rasakan dengan sikap Anggun. "Huh, gue harus bagaimana Ky. Gue yang gak pernah tertarik sama cewek aja bisa dengan mudah kebawa perasaan kayak ginie. Pantesan loe cinta mati ma dia........Aaaah masa iya sih gue jatuh cinta sama Anggun" Umpat ku dalam hati sambil menaiki sepeda motor yang biasa di kendarai Ricky.
"Tunggu bukannya itu Anggun" Aku melihat Anggun di jalan sedang di ganggu Devan CS. Ulah apalagi yang cecungguk itu lakukan. Akupun berhenti.
" Apa yang kalian lakuin, Jangan pernah ganggu Anggun" Aku menarik tangan Anggun menggesernya agar bersembunyi di belakangku.
" Songong loe" Ucap Devan melayangkan kepalan tangannya ke wajahku.
"Shit" Umpatku kesal karena sudut bibirku berdarah. Anggun berteriak ketakutan. Akupun tak tinggal diam kubalas pukulan Devan hingga membuatnya jatuh tersungkur, Aku sangat geram kuhajar juga kedua temannya yang juga ikut membantu Devan. Mereka bertiga sudah tak berdaya Karena pukulan ku. Gini-gini aku juara taekwondo.
Dengan sisa tenaga Devan Cs pun kabur. Aku mendekati Anggun yang sedang menangis.
"Siapa kamu ?"
DEEEG....Pertanyaan Anggun membuatku kaget.
" Ricky Prasetya" Jawab ku gugup.
" Kamu bukan Ricky sahabatku, Ricky tidak bisa main basket, dia tidak suka berkelahi. Ricky juga tidak pernah ngomong LOE, GUE" Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapan Anggun karena memang benar adanya.
"Satu lagi, Ricky juga alergi udang. Tapi kemarin saat di restoran kamu makan udang. Siapa kamu? Kamu bukan Ricky. Dimana Ricky? " Ucap Anggun menangis. Hatiku rasanya terenyuh melihat gadis yang ku sayang menangis. Akupun menarik tangan Anggun ke sepeda motorku tapi Anggun menolak.
" Ikut lah dengan ku, jika kau ingin bertemu Ricky" Sejenak ia pun terdiam dan mengangguk.
"Ky. gue bawa Anggun. Wanita yang loe cintai dalam diam" Ucapku di depan batu nisan kakakku. Anggun terduduk dan menangis.
"Tidak mungkin" ucapnya memeluk batu nisan Ricky dengan tangis yang semakin keras.
" Gue adik kembar Ricky, Ricko Prasetyo. Dari dulu Ricky selalu bercerita tentang loe ke gue saat kami bersama. Dia begitu sayang dan cinta sama loe tapi dia tidak pernah berani mengungkapin ke loe" Akupun mendekati Anggun yang masih menangis mendengarkan ucapanku.
"Ricky mengalami kecelakaan saat dia pulang dari bandung. Dia berpesan sama gue buat jagain loe. Maaf gue gak bermaksud bohongin loe dan yang lainnya".
Semenjak Anggun mengetahui kepergian Ricky, dia setiap hari terlihat murung tidak bersemangat. Akupun sudah memberi tahukan pada semua bahwa aku adalah Ricko saudara kembar Ricky. Banyak teman yang merasa kehilangan, termasuk Adit.
" Apa loe pikir Ricky akan senang melihatmu seperti ini. Gue juga sama ngerasain apa yang loe rasain bahkan lebih sakit. Tapi gue berusaha bangkit, demi permintaannya buat jagain loe" Ucapku pada Anggun yang sedang menangis di bangku taman.
"Tapi melihat loe seperti ini, gue merasa gagal buat jagain loe" Akupun hendak beranjak meninggalkan Anggun yang masih terduduk di bangku taman.
" Maaf" Ucapnya masih menunduk. Akupun kembali mendekati Anggun dan duduk di sampingnya.
"Kita sama-sama berusaha buat jalani hidup ini. Biarkan Ricky tenang" Ucapku dengan memberanikan diri membelai rambut Anggun. Anggun pun menangis dan memelukku erat.
Hari demi haripun berlalu hingga hari kelulusan kami.
"Ky. Kenalin pacar gue. Anggun gadis yang loe sayang, gadis yang harus gue jaga sesuai dengan permintaan terakhir loe" Ucapku di depan batu nisan Ricky.
" Terima kasih Ky, telah menghadirkan Ricko dihidupku untuk menjagaku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakanmu karena kamu mempunyai tempat yang khusus di hatiku yang saat ini sudah menjadi milik adikmu Ricko. Berbahagialah di surga" Tutur Anggun menggenggam erat tanganku.
---------THE END--------
Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca. Mohon maaf bila ada salah penulisan kata dan Ejaan. Semoga bahagia selalu. 💕💕💕💕
By : Yutok Smile😊