Maafkan aku, aku harus pergi
Penulis: Lili Aksara.
Pagi ini, gerimis menyiram kotaku.
Tidak deras, tapi cukup untuk membuatku kecewa.
Hari ini, aku ada janji dengan Zahira—kekasihku.
Dan karena gerimis itulah, aku terpaksa harus membatalkan janji untuk pergi bersamanya.
"Kak Ren, aku boleh masuk nggak?" tanya Dinda—adikku.
"Boleh, Dek. Masuk aja," jawabku.
Dinda pun membuka pintu kamarku.
"Kakak nggak jadi pergi sama Kak Zahira?" tanya Dinda.
"Enggak, soalnya gerimis, takutnya hujan gede," jawabku.
"Ya udah, kalau gitu perginya nanti sore aja, kayaknya udah nggak hujan deh," ucap Dinda.
"Iya Dek, moga aja udah nggak hujan," jawabku.
"Rendra, Dinda, sini Nak!" teriak mamaku.
Aku dan Dinda yang mendengar teriakan Mama pun segera turun ke bawah untuk memenuhi panggilannya.
"Ada apa, Ma?" tanyaku.
"Ini, Mama tadi udah bikin kue keju, rasanya enak banget, nih kalian makan ya," jawab Mama.
"Waaah, kayaknya enak nih," ucap Dinda.
Memang, kue itu terlihat sangat menggugah selera, apalagi dari baunya yang harum.
"Ma, nanti sore boleh nggak aku bawain kue ini buat Zahira?" tanyaku.
"Ya boleh dong Ren, kamu bawa aja," jawab Mama.
***Sore harinya.
Ternyata benar, hujan itu reda saat sore tiba.
Jadi segera saja, aku bersiap-siap untuk berangkat ke rumahnya Zahira.
Tapi, sebelum itu, aku lebih dulu mengirimkan chat pada gadis itu.
Aku: [Zah, aku ke rumah kamu sekarang, ya,]
Tak berselang lama kemudian, Zahira membalas.
Zahira: [Iya, Kak. Aku tunggu,]
Zahira memang memanggilku dengan sebutan Kakak, karena usia kami berjarak cukup jauh.
Dia berusia 15 tahun, sementara aku sendiri 17 tahun.
Menurutku, Zahira adalah gadis yang baik dan memiliki pikiran yang dewasa, meski usianya masih belia.
"Eh Kakak, udah rapih aja. Mau ke rumahnya Kak Zahira, ya?" tanya Dinda.
"Iya, Dek. Kakak mau ngajakin dia jalan-jalan," jawabku.
"Hati-hati ya, Rendra," ucap Mama.
"Iya, Ma. Pamit ya, assalamualaikum," ucapku sembari menyalami tangan Mama.
"Waalaikumsalam," jawab Mama dan adikku kompak.
Aku melajukan motor dengan kecepatan santai, lagipula rumah Zahira tidak terlalu jauh dari rumahku.
***Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya sampailah di rumah Zahira.
Aku segera memarkirkan motorku di halaman rumah yang tampak lengang.
Tok, tok, tok.
"Assalamualaikum!" seruku.
Ceklek.
Keluarlah seorang wanita yang berumur kisaran 14 tahunan.
"Waalaikumsalam, eh ada Nak Rendra, silakan masuk, Nak," ujar wanita itu.
Dia adalah Tante Tias, mamanya Zahira.
"Eh Kak Rendra, udah datang ternyata," ucap Zahira.
"Iya, Zah, baru aja aku datang," jawabku.
"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Zahira.
"Ke mana aja, yang penting kamu suka," jawabku.
"Tante, saya boleh ngajakin Zahira jalan, kan?" tanyaku—meminta izin pada Tante Tias.
"Boleh, inget jangan kemaleman pulangnya," jawab Tante Tias.
"Terima kasih, Tante. Kalau begitu kami pamit dulu," ucapku.
Aku dan Zahira pun menyalami Tante Tias, lalu mengucapkan salam.
Aku kembali melajukan motorku, kali ini dengan Zahira di boncenganku.
"Dek Zahira, kamu mau jajan batagor nggak? Kakak juga bawa kue sih, cuma siapa tahu kamu mau," tawarku.
"Enggak deh Kak, kita makan kue aja. Emangnya itu kue apa?" tanya Zahira.
"Kue keju, tadi di buatin sama Mama," jawabku.
***Motor yang aku kendarai berhrnti di sebuah taman.
Itu adalah taman kota.
Selalu menyenangkan bila ke taman ini.
"Kita di sini aja, ya, Zah," ucapku.
"Iya, Kak,"
Aku mengambil sekantung kue keju, lalu duduk bersama Zahira di salah 1 bangku kosong yang ada di taman itu.
"Kuenya enak, Kak. Tante Anis emang jago ya urusan bikin kue," ucap Zahira.
"Iya dong, nanti kamu juga bisa belajar sama Mama aku," jawabku.
"Kak, kenapa muka Kakak, kok kayak lagi banyak pikiran gitu?"
Aku tersenyum.
Ah, kekasihku ini memang selalu peka dengan ekspresi wajahku.
"Aku lagi pusing, Zah. Kamu tahu sendiri kan, minggu depan sekolah kita bakal ngadain study tour ke puncak. Dan yang disuruh buat bikin kegiatan selama di sana itu ya para osis," ceritaku.
Aku adalah seorang ketua osis di sekolah.
Dan jujur saja, aku lumayan kebingungan harus mengadakan kegiatan apa aja buat nanti.
"Ooooh, jadi, Kakak bingung nih mau ngadain apa buat study tour nanti?" tanya Zahira memperjelas.
"Iya, soalnya biar kegiatannya nggak klise," jawabku sambil mengangguk.
"Gimana kalau kegiatan sambung ayat aja? Sama ini nih, pelatihan menulis, dan pelatihnya itu Kak Raisha. Pelatihannya 4 hari, setelah itu kita bikin cerpen bareng, atau enggak cerbung," saran Zahira.
Aku tak langsung menjawab.
Kupikirkan sejenak saran dari Zahira, setelahnya tersenyum gembira.
"Saran kamu bagus banget, Zah, 2 kegiatan itu belum pernah di adain selama aku jadi ketua osis!" kataku semangat.
"Iya, Kak. Nanti tinggal Kakak atur aja waktunya gimana, bisa di rapatin dulu sama para Kakak anggota osis yang lain," jawab Zahira.
"Makasih ya Zah, ide kamu itu emang keren-keren, aku nggak kepikiran sama sekali," ucapku.
"sama-sama, Kak. Sebenernya tiba-tiba kepikiran aja sih, apalagi aku ini suka baca cerita. Pengen aja gitu bisa nulisnya," jawab Zahira.
Namun, saat kami masih mengobrol, tiba-tiba saja...
Brukk!
Zahira pingsan.
Aku tidak sempat menangkapnya, karena gadis itu tiba-tiba saja sudah pingsan.
Aku buru-buru menghampiri Zahira.
Dan saat kudekati, ternyata hidungnya juga sudah mengeluarkan cairan merah, apalagi kalau bukan darah.
Dengan cepat, aku membungkus darah itu dengan sapu tangan milik Zahira—yang selalu ia simpan di dalam tasnya.
Karena panik, aku buru-buru memesan taksi online.
Tak kupedulikan lagi motor milikku yang tertinggal di taman, yang penting adalah segera membawa Zahira ke rumah sakit.
Saat taksi yang kupesan sudah datang, aku buru-buru menggendong Zahira untuk masuk ke dalam mobil.
Untung saja taksi itu besar, jadi Zahira bisa dibaringkan di sana.
"Ya Allah, Zah, kamu kenapa?" batinku.
Namun, aku segera teringat, aku harus mengabari Tante Tias soal Zahira yang pingsan ini.
Segera saja aku merogoh saku jaketku, lalu mengambil ponsel milikku yang selalu tersimpan di sana.
Aku mencari kontak Tante Tias.
Untung saja aku ada kontaknya, jadi bisa langsung menghubungi beliau.
[Halo, assalamualaikum, Tante,] ucapku saat panggilan itu sudah diangkat.
[Waalaikumsalam. Loh ada apa, Nak Rendra?] tanya Tante Tias keheranan.
[Zahira, Tante. Dia, dia pingsan dan hidungnya mimisan,] aku berkata dengan tak sanggup.
Sebenarnya, aku tak tega mengatakan tentang kondisi Zahira.
Tapi, mau bagaimana lagi?
Tante Tias dan Om Harjo harus tahu tentang keadaan anak mereka.
[Apa? Terus kalian di mana sekarang?] tanya Tante Tias. Suaranya mulai bergetar.
[Ini lagi perjalanan menuju ke rumah sakit Sinar Harapan, Tante,] jawabku.
[Ya udah, Tante sama Om akan ke sana sekarang,] ucap Tante Tias.
Panggilan pun berahir.
***Dokter dan suster sigap menangani Zahira.
Zahira segera dibawa ke ruangan gawat darurat, karena pendarahan di hidungnya masih ada.
Aku menunggu dengan harap-harap cemas, berdoa supaya Zahira baik-baik saja.
"Assalamualaikum, Nak Rendra," ucap Tante Tias dan Om Harjo yang ternyata baru datang.
"Waalaikumsalam," jawabku.
"Gimana kondisi Zahira, Nak?" tanya Om Harjo.
"Masih ditangani sama dokter, Om," jawabku.
***Satu jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan tempat Zahira ditangani.
"Dengan keluarga pasien?" tanya dokter itu.
"Kami orang tuanya, dok," jawab Om Harjo.
"Anak Bapak menderita penyakit kangker," ucap dokter.
Deg!
Bak disambar petir, aku sangat terkejut mendengar fonis itu.
"Apa? Apakah anak saya bisa sembuh, Dok?" tanya Om Harjo.
Sementara Tante Tias, wanita itu sudah menangis.
"Sulit, Pak. Kangker yang diderita anak Bapak sudah mencapai stadium 4, jadi kemungkinan untuk sembuhnya sangat kecil," kata dokter.
Mendengar jawaban dokter itu, tentu saja membuat aku merasa lemas.
Tulang ini serasa dilolosi, sakit sekali.
"Lalu, sekarang kondisi Zahira bagaimana, dok?" tanyaku.
"Dia sudah sadar, tapi kondisinya lemah. Kalian bisa masuk ke dalam buat ketemu sama dia," jawab dokter.
"Baik, terima kasih, dok," ucap Om Harjo.
"Sama-sama, kalau gitu saya pamit dulu," jawab dokter.
"Ya Allah Pa, apa salah anak kita? Padahal dia masih muda, perjalanannya masih panjang," ucap Tante Tias.
"Sabar, Ma. Kita harus kuat demi Zahira," ucap Om Harjo berusaha menguatkan istrinya.
"Nak Rendra, kamu masih mau ada untuk Zahira, kan?" tanya Om Harjo.
"Iya Om, saya sangat mencintai Zahira. Bagaimanapun kondisi dia, saya akan ada untuknya," jawabku.
"Terima kasih ya, teruslah dukung Zahira," kata Tante Tias.
"Sekarang, ayo kita masuk. Kita harus kuat, biar Zahira nggak makin sedih," ucap Om Harjo.
Kami bertiga pun segera masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Zahira.
"Syukurlah kamu udah sadar, Zah," ucap Tante Tias.
"Emangnya Zahira kenapa, Ma? Tadi seingat Zahira, Zahira lagi ngobrol sama Kak Rendra," ucap Zahira.
"Tadi kamu pingsan, Zahira," kata Om Harjo.
"Hah, aku pingsan kenapa? Kak Ren, aku kenapa?" tanya Zahira.
Mendengar pertanyaannya, aku jadi tak tega untuk mengatakan tentang penyakitnya itu.
"Beritahu saja, Zahira juga harus tahu," ucap Tante Tias.
Aku menarik napas panjang, sebelum mengatakan sesuatu yang akan membuat Zahira hancur.
"Tadi pas kamu pingsan, kamu juga mimisan, Zah. Dan kamu, kamu kena penyakit kangker stadium 4," ucapku.
"Apa? Nggak mungkin, ini nggak mungkin! Aku nggak mungkin kena penyakit itu! Hiks, hiks, hiks," Zahira berteriak sembari menangis.
Aku memegang tangan gadis itu, berusaha memberikan kekuatan, kendati aku sendiri pun merasa hancur dan sedih.
"Kamu yang kuat ya, Zah, kita bakal selalu ada buat kamu," kataku.
"Aku pengen jadi penulis, aku pengen jadi pemain piano kayak Kakak. Tapi sekarang, aku nggak bisa lagi, hiks," ucap Zahira.
Papa Mama sayang kamu, Nak. Kami akan usahakan supaya kamu bisa sembuh," ucap Om Harjo.
"Kakak juga sayang sama kamu. Kakak nggak akan pernah ninggalin kamu, Zah," timpalku.
"Terima kasih ya, maaf kalau aku ngerepotin kalian semua," ucap Zahira.
"Kamu nggak pernah ngerepotin kami, Zah," jawab Tante Tias.
***Malam harinya, saat Zahira sudah tertidur, aku berpamitan pada Tante Tias dan Om Harjo, karena aku takut kedua orang tuaku khawatir bila aku terlalu lama di rumah sakit.
"Maaf saya nggak bisa ikut berjaga di rumah sakit, Tante, Om," ucapku.
"Nggak apa-apa, besok kamu bisa ke sini lagi sepulang sekolah," jawab Om Harjo.
"Pasti Om, besok saya akan ke sini lagi. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum," ucapku.
"Waalaikumsalam," jawab Tante Tias dan Om Harjo.
***Mama membukakan pintu saat aku pulang.
Rupanya, Mama, Papa, dan Dinda sedang menonton TV, tapi Dinda sih sambil ngerjain PR.
"Kenapa kamu Ren, kok wajahnya kusut begitu?" tanya Papa.
"Loh iya, tadi pas berangkat perasaan baik-baik aja," timpal Mama.
"Tadi pas aku sama Zahira lagi di taman, dia pingsan, Ma, Pa. Hidungnya berdarah juga. Pas aku bawa ke rumah sakit, dokter memfonis dia terkena penyakit kangker stadium 4," ucapku.
Kini, aku benar-benar meneteskan air mata.
Tak kuperdulikan lagi statement yang mengatakan laki-laki itu tak boleh menangis.
"Astaghfirullah haladzim, itu penyakit yang sangat berbahaya," ucap Mama.
"Betul, apalagi sudah mencapai stadium 4," ucap Papa.
"Kamu harus kuat ya Nak, dampingi terus Zahira, jangan pernah tinggalin dia," nasihat Mama.
"Iya, Ma. Aku akan selalu ada buat dia," jawabku.
***Beberapa hari berikutnya, kondisi kesehatan Zahira semakin menurun, dan ia juga jadi lebih kurusan.
Siang itu di sekolah, bel istirahat sudah berbunyi.
Tadinya aku mau menjemput Zahira, tapi tiba-tiba ada seorang gadis yang menghampiriku.
"Maaf Kak, saya teman sekelasnya Zahira. Barusan Zahira mimisan, bajunya penuh darah. Sekarang pingsan, itu lagi dibawa ke ruang UKS," ucap gadis itu.
"Astaghfirullah. Ya udah, sekarang saya ke UKS," kataku.
Segera saja, aku berlari menuju ke ruangan UKS.
Benar saja, di sana sudah ada Zahira yang masih tak sadarkan diri.
"Ya Allah, Zah, ternyata penyakit kamu udah separah ini," ucapku.
"Maaf Kak, biar saya yang gantikan bajunya Zahira, nggak enak lihatnya, serem banget," ucap gadis yang memberitahuku tadi.
Aku hanya mengangguk, lalu pergi dari ruangan itu, menunggu di luar.
Setelah gadis itu selesai menggantikan bajunya Zahira, aku kembali masuk ke dalam UKS.
"Cepet sadar ya, Zahira," ucapku.
Perlahan, kulihat Zahira membuka matanya.
"A-aku di mana?" tanya gadis itu.
"Kamu di UKS, Dek," jawabku.
"Maaf ya, pasti aku ngerepotin lagi," ucap Zahira.
"Enggak, kamu jangan ngomong gitu dong," kataku.
"Aku laper banget, Kak, ke kantin yuk!" ajak Zahira.
"Emang kamu udah kuat, Zah?" tanyaku.
"Udah, tenang aja," jawabnya.
Akhirnya, aku dan Zahira ke kantin bersama-sama, dan aku juga menggenggam tangan Zahira.
"Kamu mau pesan apa, Zah?" tanyaku, ketika kami sudah sampai di kantin.
"Aku pesan telor isi sayuran aja deh, Kak," jawab Zahira.
"Lah, kok tumben? Biasanya kamu pesan mie ayam, atau nggak bakso," ucapku keheranan.
"Nggak apa-apa sih, Kak. Aku pengen aja, biar sehat, hehehe," jawab Zahira.
"Oh ya udah, tunggu sini yaaa, biar Kakak pesenin," ucapku.
"Iyaaa, Kak," Zahira tersenyum.
Jujur aja, aku cukup senang dengan perubahan Zahira ini, karena dia jadi memakan makanan yang sehat.
Setelah aku memesankan makanan yang diinginkan oleh Zahira, aku pun duduk bersama gadis itu.
"Kak Ren!" panggil Zahira.
"Apa, Zah?" Aku menoleh.
"Besok-besok, kalau aku udah nggak ada, Kakak jangan sedih ya? Kakak harus bahagia terus, jangan kelamaan sedihnya," ucap Zahira.
Ucapan itu membuat hatiku amat sakit.
Perih sekali mendengar kata-kata gadis itu.
"Kamu jangan ngomong gitu, Zah, kamu pasti akan sembuh," kataku.
"Tapi, Kak, dokter udah memfonis umur aku nggak lama lagi," Zahira menunduk.
"Dokter itu bukan Tuhan, Zah. Kamu harus semangat buat sembuh," ucapku.
***Tiga hari yang lalu, Zahira memang drop lagi.
Kondisinya memburuk.
Dan begitulah, dokter mengatakan kangker yang diderita oleh Zahira sudah semakin parah dan menyebar, jadi umur Zahira tak akan lama lagi.
Cepat sekali kangker itu menyebar, menggerogoti tubuh Zahira dari dalam, menghancurkan tubuh itu secara perlahan.
***Satu bulan berlalu dengan cepat.
Dan aku, banyak menghabiskan waktu dengan Zahira.
Namun, entah kenapa, aku merasa ada yang berbeda dengan siang itu.
"Kak, kepala aku pusing banget," ucap Zahira.
Wajahnya tampak pucat.
Siang itu, aku berniat untuk mengantar Zahira pulang.
"Ya Allah, Zah. Ayo kita ke rumah sakit," ucapku.
Beruntunglah, saat itu aku sedang membawa mobil, jadi Zahira bisa segera dibawa ke rumah sakit.
Tak butuh waktu lama, baju yang dikenakan Zahira sudah dipenuhi dengan darah.
Di perjalanan, aku segera menelepon orang tua Zahira.
Entah kenapa, aku merasa ini bukan drop biasa, jadi aku buru-buru membawa Zahira ke rumah sakit.
***Ketika telah tiba di rumah sakit, dokter segera menangani Zahira.
"Gimana Zahira, Ren?" tanya Tante Tias.
"Masih ditangani sama dokter, Tante," jawabku.
***Beberapa lama kemudian, seorang perawat keluar dari ruangan tempat Zahira ditangani.
"Silakan, kalian bisa masuk," ucap suster.
"Baik, sus," jawab Om Harjo.
Kami pun segera masuk.
"Aku drop lagi, ya?" Zahira bertanya dengan suara pelan.
"Iya, Zah," jawab Tante Tias.
"Zahira laper banget, Ma," ucap Zahira.
"Tunggu ya, biar Papa minta suster buat bawain makanan," ucap Om Harjo.
Om Harjo berlalu meninggalkan ruang rawat.
Rupanya, baju Zahira juga sudah diganti oleh para perawat.
"Ada yang sakit, Zah?" tanyaku.
"Kepala aku masih lumayan pusing, Kak," jawab Zahira.
"Ya udah, Kakak pijit, ya," ucapku.
"Aku capek. Sakit juga," ucap Zahira.
"Kuat ya, kamu pasti bisa," ucap Tante Tias memberi semangat.
***Tak lama berselang, suster datang bersama dengan Om Harjo.
"Ini makananya, di makan ya," ucap suster.
"Terima kasih, sus. Biar saya aja yang nyuapin Zahira," ucapku sembari mengambil makanan yang dibawakan oleh suster tersebut.
Suster itu mengangguk, lalu izin pamit.
"Biar Kakak suapin ya, Zah," ucapku.
"Nggak mau, nggak enak itu," jawab Zahira saat melihat makanan yang diberikan oleh suster.
"Kamu harus makan, biar cepat sembuh, Zahira," ucap Om Harjo.
"Iya-iya, aku makan," jawab Zahira.
Aku tersenyum senang, lalu menyuapkan makanan itu pada Zahira.
"Kak, kok makin hari aku makin kurus aja, ya?" tanya Zahira.
"Emm, itu karena kamu jarang makan, Dek," jawabku.
Memang, sejak Zahira sakit, gadis itu jadi lebih kurusan sih, padahal awalnya badannya berisi.
"Pasti karena penyakitku," ucap Zahira.
"Kamu kurus begini juga tetep cantik, Zah," kataku.
"Masa sih? Yah, padahal dulu badan aku nggak sekurus ini," ucap Zahira.
"Nggak apa-apa, nanti juga balik lagi kayak dulu, kok," jawabku berusaha menenangkan.
"Udah ya makanya, Kak," ucap Zahira.
"Iya, ya udah," jawabku.
"Aku ngantuk banget, aku tidur dulu, ya," ucap Zahira.
"Iya, Zah, yang nyenyak ya," jawabku.
Karena tak ingin mengganggu istirahat Zahira, aku dan orang tuanya Zahira pun memilih untuk keluar dari kamar rawat itu.
"Kamu nggak pulang, Nak? Takutnya orang tuamu khawatir," ucap Tante Tias.
"Enggak Tante, aku pulangnya nanti malem aja. Aku juga akan ngabarin orang tuaku bentar lagi," jawabku.
"Oh gitu, baiklah," ucap Tante Tias.
"Aku pamit dulu ke kantin rumah sakit ya, Tante, Om," pamitku.
"Iya," jawab Om Harjo.
Aku menjauh dari tempat Tante Tias dan Om Harjo, lalu mengambil ponsel untuk menelepon Mama.
[Halo, Rendra, assalamualaikum!] sapa Mama dari sebrang sana.
[Waalaikumsalam, Ma. Oh ya, aku hari ini pulang malem ya, soalnya mau nemenin Zahira dulu di rumah sakit,] ucapku.
[Oh iya Ren, hati-hati ya kamu. Gimana kondisi Zahira?] tanya Mama.
[Drop lagi dia, sekarang lagi tidur,] jawabku.
[Ya Allah, semoga dia segera keluar dari rumah sakit ya, dan dia baik-baik aja,] harap Mama.
[Aamiin. Kalau gitu udah dulu ya, Ma. Aku mau ke kantin dulu. Assalamualaikum,] ucapku.
[Waalaikumsalam,] jawab Mama.
Panggilan itu pun berakhir.
Aku berjalan ke arah kantin rumah sakit.
Kantin itu tampak lengang, hanya ada beberapa orang di sana.
"Mau pesan apa, Mas?" tanya seorang wanita paruh baya.
"Tiga bungkus nasi, Bu. Lauknya ayam goreng sama telur dadar aja. Oh ya, 3 botol air putih juga," jawabku.
"Oh oke, Mas. Tunggu ya, biar saya bungkuskan," jawab si Ibu.
Aku hanya mengangguk, dan menunggu Ibu itu membungkus makananku.
"Ini makananya, Mas," ucap Ibu kantin seraya menyerahkan kantung pelastik padaku.
"Terima kasih, Bu," jawabku.
Setelah membayar, aku berjalan meninggalkan kantin itu.
"Ini aku tadi beli makanan sama air putih, Tante, Om," ucapku, sembari meletakan kantong pelastik yang aku bawa.
"Terima kasih ya Ren, maaf loh ngerepotin," ucap Om Harjo.
"Sama-sama Om, nggak lah nggak ngerepotin, aku itu udah anggep kalian kayak orang tua sendiri," jawabku.
Aku, Tante Tias, dan juga Om Harjo memakan nasi yang kubeli bersama-sama.
Jujur saja, aku juga sangat lapar.
***Malam harinya.
Jam sudah menunjukan pukul 19.00.
Dari tadi, entah mengapa Zahira tak kunjung bangun, padahal ini sudah waktunya makan malam.
"Kok Zahira nggak ada suaranya, ya? Padahal, ini udah waktunya dia makan malem," ucap Tante Tias.
"Ayo kita masuk aja, siapa tahu Zahira udah bangun, Ma!" ajak Om Harjo.
Kami bertiga pun masuk ke dalam ruang rawat Zahira.
Suasana di dalam ruangan itu sangat hening.
Aku menyentuh tangan Zahira.
Rasanya sangat dingin. Dan... Anyep.
Sementara itu, Tante Tias sedang berusaha membangunkan Zahira.
"Bangun, Zah, makan dulu," ucap Tante Tias sambil mengguncangkan tubuh Zahira.
Namun, hal itu sia-sia saja, karena tubuh Zahira tak menunjukan reaksi apapun.
"Cepet panggil dokter, Pa. Mama takut Zahira kenapa-napa. Ba-badannya dingin banget," ucap Tante Tias mulai panik.
Tanpa menunggu Om Harjo, aku segera memencet tombol untuk memanggil dokter.
Untung saja, dokter segera datang, dan sesegera mungkin memeriksa Zahira.
Ekspresi muka dokter itu tampak pucat setelah memeriksa Zahira.
"Innalillahi wa innalillahi roji'un, pasien telah meninggal dunia," ucap dokter.
Jantung ini serasa hendak lolos tatkala aku mendengar ucapan dokter itu.
"Nggak, ini pasti salah. Zahira pasti masih hidup. Hiks... hiks... hiks," ucap Tante Tias.
Tubuhku luruh ke lantai, air mataku jatuh tanpa dimimta.
"Ya Allah, kenapa kamu pergi secepat itu, Zah," ucapku.
Zahira dibawa dengan mobil jenazah ke rumah duka.
Sementara aku, ikut di dalam mobil Tante Tias dan Om Harjo.
"Yang ikhlas, Ma. Setidaknya, sekarang Zahira udah nggak ngerasain sakit lagi," ucap Om Harjo sambil memeluk istrinya.
Aku juga sedih.
Tapi, benar juga kata Om Harjo.
Mungkin, ini takdir terbaik yang telah digariskan oleh Allah untuk Zahira.
Aku mengabari Mama soal meninggalnya Zahira, supaya Mama datang ke rumah orang tua Zahira untuk sekedar menguatkan Tante Tias.
***Karena waktu belum terlalu malam, jadi diputuskanlah bahwa pemakaman Zahira akan dilaksanakan malam ini juga, agar Zahira bisa segera ke peristirahatan terakhirnya.
Suara tahlil terdengar dikumandangkan selama prosesi penguburan Zahira.
"Insya Allah Kakak ikhlas, Zah. Kakak ikhlas, kalau emang ini bisa bikin kamu nggak ngerasain sakit lagi. Semoga kamu tenang di alam sana, ya," ucapku.
Setelah aku berdoa sebentar, aku dan orang-orang terdekatnya almarhumah Zahira pun meninggalkan pemakaman.
***Sesampainya aku di rumah Tante Tias dan Om Harjo, aku tak langsung pulang, karena katanya ada yang ingin dibicarakan oleh mereka.
Aku melirik arloji di pergelangan tanganku.
Ternyata waktu sudah pukul 21.00.
"Nak Rendra, ini ada surat terahir dari Zahira buat kamu. Malam sebelum dia masuk rumah sakit, entah kenapa dia menitipkan surat ini pada Tante. Katanya, Tante harus kasihkan surat ini kalau dia udah nggak ada. Entahlah, mungkin dia udah punya firasat," ucap Tante Tias.
Tante Tias menyerahkan surat yang masih terlipat rapi itu padaku.
Aku menerimanya dengan tangan gemetar.
Aku membuka surat itu, lalu membacanya.
"Dear, Kak Rendra.
Mungkin, saat Kakak baca surat ini, aku udah nggak ada.
Tapi nggak apa-apa.
Sejujurnya aku capek, Kak.
Capek, karena udah sebulan ini, aku sering pingsan di sekolah.
Dan karena itu juga, banyak murid lain yang bilang kalau aku ini cuma bisa ngerepotin Kakak aja.
Kata mereka, aku nggak guna, karena cuma bisanya ngabisin waktu Kakak.
Aku nggak mau cerita sama Kakak pas aku masih hidup.
Karena aku nggak mau, Kakak marahin mereka cuma buat aku, cewek penyakitan ini.
Aku cuma mau, walaupun aku udah nggak ada, Kakak tetep bahagia.
Aku sayang banget sama Kak Rendra.
Mungkin ini yang terbaik, aku harus pergi, ngumpul sama Kakak, Kakek, dan juga Nenek aku.
Maafkan aku, aku harus pergi, walaupun ini berat.
Inget ya Kak, jangan sedih lama-lama kalau aku beneran udah nggak ada nanti.
Hidup itu berjalan terus, jadi jangan sampe Kakak inget masa lalu terus-terusan.
My physical body may no longer be in this world, but I will always remain in the hearts of those who love me."
Tertanda: Zahira Quinza Anara.
Aku tertegun membaca surat itu.
Sungguh, aku tak menyangka, ternyata Zahira juga disakiti secara mental oleh para siswa siswi di sekolah.
Mama mengelus pundaku.
Aku memang membacakan surat itu, agar semuanya mengetahui isi dari surat tersebut.
"Dia, dia juga nggak pernah cerita sama kami soal cemoohan itu," ucap Tante Tias.
"Almarhumah anak yang kuat, jeng," ucap mamaku.
"Iya betul, dia menyembunyikan semuanya, cuma supaya kita nggak sedih," timpal Papa.
"Demi Allah, Zah, Kakak benar-benar ikhlas kamu pergi, kalau itu bisa bikin kamu bahagia dan tenang di sana. Semoga kamu ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi Allah, Zah," batinku.
Tamat.