Suatu hari di dunia lain...
Kring...
Terdengar suara bel tanda istirahat berbunyi. Semua siswa mulai keluar dari kelas masing-masing. Semua menghentikan kegiatan belajar mengajarnya untuk sementara. Sunny, itulah namanya, dia menatap ke luar kelas. Melihat semua orang sedang beristirahat. Dia bangkit dari bangku nya, segera menuju ke luar kelas. Namun, dia mengurungkan niatnya. Dia mendekati dua gadis yang sedang duduk bersebelahan.
"Gaes, ke kantin yuk?" ucap Sunny sambil tersenyum. Dia berdiri memerhatikan kedua temannya tersebut.
"Ngga ah, kita mau gibah," ucap Starling.
"Iya, kita mau gibah," ucap Moonlight, mempertegas.
"Yodah—" Sunny memberikan ekspresi sedih, "—aku ikut!"
Dia langsung duduk di bangku yang ada di sampingnya. Dia duduk menghadap Starling dan Moonlight.
"Eh, kamu kok makin gendats," ucap Sunny, menunjuk ke arah Moonlight.
"Oh ya?! OMG, masa aku jadi gendats?" Moonlight segera mencari cermin kecil miliknya. Dia melihat cermin yang menampilkan pantulan wajahnya. Dia memegang pipinya, dia menekan-nekan pipinya. "Astoge, aku makin gendats! Aku harus diet lagi!"
"Diet molo, kamu kan udah kurus," ucap Starling. Dia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Abisnya, aku gendats banget."
"Emangnya, berat kamu berapa?" tanya Sunny. Dia memerhatikan tubuh Moonlight dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Tiga puluh lima kilo—" ucap Moonlight
"—meter?" goda Sunny.
"Kilogram!" Moonlight kesal.
"Haha..." Sunny hanya tertawa, diikuti dengan Starling yang tersenyum menahan tawa. Sementara Moonlight, dia menjadi sebal.
"Eh kalian, tau ketos sekolah kita?" Pertanyaan Starling, membuat mereka berhenti tertawa.
"Tau lah, satu sekolah pasti tau. Gimana sih?!" Sunny esmosi.
"Cakep ya. Ntah kenapa, aku suka sama ketos kita. Cool gitu," ucap Starling sembari menatap langit-langit. Entahlah, mungkin dia sedang berhalusinasi.
"Berarti ketos sekolah kita kulkas?!" tanya Sunny.
"Maksudnya, cool nya bukan dingin cem kulkas. Tapi, cool dalam artian kalem. Gimana sih, pengen aku jual ginjalnya terus aku sumbangin hasil penjualan itu ke Panti Asuhan?" ucap Starling, ngegas.
"Alah, masih uwuan ketua paskib. Dia sweet banget," ucap Moonlight malu, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Sweet? Apakah dia kecap?" tanya Sunny lagi.
Moonlight hanya tersenyum, tersenyum dengan terpaksa :)
"Kenapa sih, kalian suka sama ketua-ketua gitu?" tanya Sunny.
"Soalnya, kalo ketua kan identik dengan seseorang yang berwibawa," ucap Starling menjelaskan.
"Bagaimana dengan kepala sekolah kita?" tanya Sunny.
"Itu sih bukan ketua, tapi itu ketua-an!" Moonlight ngegas.
"Serba salah deh, katanya suka ketua. Tapi di rekomendasiin kepala sekolah kagak mau." Sunny melipat kedua tangannya, dia merasa males.
"Nih, ya. Ketua nya itu ketua organisasi atau ketua eskul. Bukan ketua yang tua." Starling menjelaskan, lagi.
"Lagipula, napa kalian suka sama ketua? kenapa ga kemuda?" tanya Sunny.
"Karena, di dunia ini hanya ada ketua. Tidak ada namanya kemuda, dasar Suminem," ucap Moonlight.
"Lagipula, pak kepala sekolah kita kan udah punya istri. Gimana sih?" ucap Starling.
"Kalau belum punya istri, mau?" tanya Sunny penasaran.
"Ya ngga juga lah." Starling melempar Sunny dengan type-ex.
"Bisa didiskusikan," ucap Moonlight.
"Cie, ada yang suka ama kepala sekolah." Sunny meledek.
"Heh, canda duang itu mah! Masa iya, Moonlight Sakalakalabum yang sekseh dan syantiq ini jadi simpenan pala sekolah," ucap Moonlight.
"Sekseh? Sekseh apa u? Sekseh keamanan atau sekseh kebersihan?" tanya Sunny.
"Bukan sekseh yang itu, ih. Gini ni, kalo punya temen tu polos banget," ucap Moonlight.
"Emangnya, kalo orang sekseh bisa jadi sukses?" tanya Starling.
"Bisa lah—" ucap Moonlight.
"Dengan cara, menjadi simpanan om-om. Begono?" tanya Starling.
"Ya, bukanlah. Tapi dengan cara—"
"Dugeman?" tanya Starling.
"Bukan, napa di potong mulu sih!" Moonlight mencubit lengan Starling.
"Odading Mang Oleh, rasanya ****** banget," ucap Sunny.
"Odading? Makhluk apa itu?" tanya Moonlight.
"Masa kagak tau? Kan lagi piral, di 2020." Sunny memberitahu.
"Odading? 2020? Kawan ini 2019, dimana semua kegiatan normal, tanpa karantina, tanpa belajar daring, tanpa virus, dan tanpa Odading," ucap Starling.
"Yang ada di sini hanya belajar dengan biasa, kegiatan dengan biasa, dan hidup dengan biasa," lanjut Moonlight.
"Entahlah," ucap Sunny.
"Btw, barusan kita bahas apaan dah. Mendadak insomnia akutu," ucap Starling memegang jidat nya.
"WIB, WIB, Coba cek Tokopedia... Tiap tanggal 25 sampai akhir bulan—" Sunny melantunkan lagu.
"Lagu macam apa itu?" tanya Moonlight heran.
"Itu tu lagu kebangsaan negara Internesia," ucap Sunny asal.
"Oh ya? Kita kok ga tau negara itu. Snagat unfamiliar," ucap Moonlight.
"Mending sekarang kita ke kantin, laper akutu." Sunny memegangi perutnya yang mulai bersenandung.
"Bentar dulu, kita belum gibah," ucap Moonlight.
"Lah, dari tadi ngapain aje?" tanya Sunny.
"Kita kan bukan gibah, kita bahas macem-macem. Makanya, sekarang gibahnya." Starling menjelaskan dengan serius.
"Astaghfirullah, kamu itu berdosa banged..." ucap Sunny.
"Berdosa? Kita ga berdosa ya, kamu yang berdosa!" ucap Starling.
"Dasar solimi!" ucap Sunny.
"Solimi, solimi... Sholehah!" ucap Starling.
"Kalian ngapain seh, heran akutu," ucap Moonlight, nyimak.
"Eh kelen, toga? Ada yang pilar!" ucap Sunny.
"Apetu?"tanya Moonlight.
"Yang begini ni: 'Ikan pindang nya perlihatkan, mana ikan pindangnya?!'" ucap Sunny.
"Oh, yang ntu. Yang katanya buat ngelatih mental? Biar mentalnya kuat?" tanya Moonlight.
"Iya, ntu," ucap Sunny.
"Giliran mereka di latih mentalnya ama netizen se-Indonesia, malah lemah. Gimana sih? Heran kan," ucap Sunny.
"Iya, katanya ngelatih mental. Giliran di latih mental balik, malah lemah. Sampe segala macem," ucap Moonlight.
"Kalian, beneran ga tau odading?" tanya Sunny.
"Apaan sih itu tu?" tanya Starling.
"Odading Mang Oleh, rasanya seperti anda menjadi Ironmen, gitu pokoknya," ucap Sunny.
"Oh gitu," ucap Moonlight.
"Odading Mang Oleh, rasanya uwu banget," ucap Sunny.
"Yang ada mamahnya, badak tau sendiri," ucap Starling.
"Itu, slogan Adem Sari kan?" tanya Moonlight.
"Eh kata siapa?!" Sunny kesal.
"Apa dung?" tanya Moonlight.
"Itu tu, slogan Bear Brand," ucap Sunny.
"Iklan nya naga, logo nya beruang, bahannya dari susu sapi. Kombinasi yang perfect," ucap Starling.
"Kelen, sekarang ghost makin merajalela. Banyak ghost yang gaul zaman sekarang," ucap Moonlight.
"Iye, pada pake kacamata item. Ye kan?" tanya Sunny.
"Iya, aku kalah sama ghost. Ghost aja pada punya akun Toktok."
"Sudah ready untuk di kuburin," ucap Sunny.
"Selamat Datang di Bandara Maut. Tolong Paspor nya," ucap Starling.
"Pesawat di sebelah kanan menuju surga, dan pesawat di sebelah kiri," ucap Starling mempraktekkan gaya seorang pramugari.
"Dah ah, cape. Cepetan yuk ke kantin!" Sunny mulai kesal.
"Yodah iya," ucap Moonlight.
"Aku mau beli batagor ah," ucap Starling.
"Aku mau cireng," ucap Moonlight.
"Aku mau siomay," ucap Sunny.
"Astoge, kamu kanibal?!" Moonlight terkejoed.
"Bukan si Omay yang itu, tapi siomay!" ucap Sunny.
"Oh, kirain. Hehe." Moonlight tertawa malu.
"si Omay mah, anak kelas sebelah," ucap Sunny.
"Dah ah, ke kan—"
Kring...
"—tin," ucap Sunny.
"Yah, udah masuk?!" ucap Starling.
"Tuhkan, kelen mah! Aku laper," ucap Sunny, dia menangis.
"Ku menangis~" ledek Moonlight.
"Untung kita bawa roti, buat ganjel dikit." Starling dan Moonlight mengeluarkan roti dari dalam tas mereka.
"Mintaaa..." rengek Sunny.
"Cuma dikit, dan juga kita laper, sorry." Starling mulai menggigit rotinya. Moonlight pun sama. Membuat Sunny makin lapar, begitu menggiurkan.
"Ada guru! Ada guru!" ucap seseorang yang baru masuk. Dia kelihatan kelelahan, mungkin habis berlari.
Setelah mendengar imbauan dari orang itu, semuanya langsung kembali ke posisi masing-masing. Mereka langsung rapi (karena ada guru), kalau tidak ada guru pasti akan seperti kandang sapi :v
***
TAMAT