Zzzzz....
Rrekk...rreekk.... rreekkk....
Terdengar suara dengkuran. Ia tatap wajah manis sang istri, begitu pulas tidurnya. Ia merasakan kelelahan sang istri setelah seharian bekerja mengurus rumah dan anak-anak. Wanita yang hampir 14 tahun ia nikahi, dengan setia mendampinginya. Ia juga yang sudah melengkapi lelaki itu dengan kehadiran dua buah hati kami, Rifa dan Rafiq.
Pertama kali Rendi mengenal Rena, istrinya, adalah wanita sederhana, pintar, lembut dan keibuan. Oleh karenanya, ia berjuang untuk mendapatkannya ketika itu. Memang dasar jodoh, walau sempat beberapa kali ditolak.
Kisah mereka seperti drama. Banyak hal manis maupun menyedihkan. Bersama wanita itu banyak tawa, namun tidak sedikit lelaki itu pun yang selalu menyumbang tangis untuknya. Namun sang istri selalu bertahan dan memaafkannya.
Saat menatap wajah lelah wanitanya, ada hal lucu yang selalu diingat Rendi dari sang istri.
Di malam pertama, ketika sepasang pengantin yang sudah sah. Selayaknya yang sedang merajut kasih, menenguk manisnya cinta bersama. Namun, tidak dengan Rendi. Justru wanita yang baru beberapa jam ia nikahi, malah tertidur pulas dengan dengkuran yang sangat keras.
Rendi masih belum bisa tertidur, sedang waktu sudah menunjukan pukul 1 malam. Ia mendekati istrinya kembali. Dikecupnya bibir ranum yang menjadi candu baginya. Ia usap lembut tubuh wanita itu, mencoba membangunkannya. Istrinya hanya melenguh, dan tetap tertidur sambil mendengkur. Hingga terdengar bunyi kencang dari bawah sana dan menimbulkan getaran di ranjang.
"Tutt"
Sontak Rendi pun menghentikan aktivitasnya. Ternyata itu adalah suara kentut sang istri.
Rendi menghembuskan napas gusar. Ia membaringkan kembali tubuhnya di samping sang istri sambil menatap langit-langit kamarnya. Malam pertama yang ia bayangkan indah, ternyata dilewatkan dengan suara kentut dan dengkuran sang istri yang memekakan telinga. Sedang sang istri tertidur pulas.
Mengingat kejadian saat malam pertama, selalu membuatnya senyum-senyum sendiri. Ia pernah bercerita pada sang istri, namun Rena tidak pernah percaya, bahwa dengkurannya sangat kencang.
"Masa sih, mas? tapi aku gak ngerasa kalo aku mendengkur saat tidur apalagi kentut," tukas Rena ketika sang suami menceritakan kejadian saat malam pertama yang sudah lama berlalu.
"Kamu itu kalo tidur udah kaya k***," ejek sang suami tidak ada romantis-romantisnya. Namun Rena tidak marah.
"Aah... aku jadi malu"
Rena menutup wajah dengan kedua tangannya karena malu. Dirasakan pipinya terasa panas.
"Gak usah malu kaya gitu! Sudahlah, aku berangkat ya," ucap Rendi sambil mengecup kening sang istri.
Rena termangu mendapat perlakuan manis sang suami. Padahal beginilah Rendi memperlakukannya sebagai istri. Selalu mengecup keningnya sebelum berangkat bekerja. Namun, jantung Rena masih selalu berdebar kencang.
****
"Dengerin ya!" Rendi menyalakan sebuah rekaman suara.
Rrekk...rreekk.... rreekkk....
"Suara apa itu, mas?" tanya Rena.
"Coba dengerin baik-baik!" titah Rendi.
Rena pun mendengarkan dengan seksama.
Rrekk...rreekk.... rreekkk....
"Suara dengkuran aku???"
Rendi mengangguk.
"Aaah...kamu ngerekam suara dengkuran aku?"
Rendi hanya senyum-senyum menahan tawanya. Sontak ia pun mendapat pukulan halus dari istrinya.
"Sudah percaya sekarang, kamu kalo tidur itu suka ngorok," ujar Rendi memastikan.
Rena tidak menanggapi. Bibirnya memberengut kesal.
"Jangan marah gitu dong, ilang tuh cantiknya," rayu Rendi.
Rena menyeringai. Terlintas dalam benaknya, untuk membalas sang suami.
*****
"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Rendi ketika ia masuk rumah mendapati istrinya sedang menghadap ke arah laptop yang menyala.
"Mas, kenapa baru pulang?"
Bukannya menjawab, malah mengajukan pertanyaan lagi. Rena mengambil alih tas yang dibawa suaminya dan meletakannya di dekat laptop.
"Ada sedikit masalah di kantor, jadi harus aku tangani secepatnya. Tapi sekarang, alhamdulilah, sudah beres," jawabnya sambil mendekat pada sang istri.
"Syukurlah."
Rendi memeluk Rena yang membelakanginya. Rena membalikkan badan menghadap pada suaminya.
"Kamu mau makan? Biar aku siapin."
"Buatkan aku teh hangat saja. Aku sudah makan tadi di kantor. O ya, anak-anak sudah pada tidur?"
"Sudah."
Rendi mengurai pelukannya dan berlalu menuju kamar si kembar Rifa dan Rafiq. Sudah menjadi rutinitas Rendi menciumi pipi anak-anaknya sebelum tidur.
"Awas jangan membangunkan mereka!" pinta Rena.
"Iya, sayang."
Malam semakin larut. Waktu menunjukan pukul 23.30 namun Rena belum bisa tidur. Ia tengah menyelesaikan novel di laptopnya. Sedang Rendi, suaminya, sudah terlelap dalam buaian mimpi.
Usai menyelesaikan novelnya. Ia pun bergegas menyusul suaminya ke kamar. Ia melihat suaminya sudah tertidur.
Terdengar dengkuran keras. Segaris senyuman mengembang di bibirnya. Ternyata suaminya mendengkur juga.
"Inilah saatnya," gumamnya dengan seringai senyum di bibinya.
Rena mengambil ponsel di atas nakas. Kemudian menekan icon rekam video. Ia mengambil gambar video suaminya yang sedang tidur dengan dengkuran yang sangat keras. Bukan hanya rekaman suara, namun ia membuat videonya.
Rena tertawa kecil. Dia puas. Sudah mendapatkan rekaman video suaminya mendengkur dan suatu hari, ia akan menunjukkan pada suaminya.
*****
Suasana yang menyejukan dengan semilir angin sepoi-sepoi menerpa wajah dua insan. Pancaran senja berwarna jingga, merangkak turun perlahan menuju peraduannya menambah indah sore itu.
Sepasang suami istri sedang bersantai di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Mereka menikmati suasana sore sambil menyaksikan matahari tenggelam. Kebetulan balkon kamar mereka menghadap matahari sore. Karena ini hari Sabtu, mereka hanya berdua. Anak-anak mereka sedang menginap di rumah orangtua Rendi.
"Sayang, lihat nih!"
Rendi menerima ponsel yang disodorkan Rena. "Apa ini?"
"Liat aja," ucap Rena sambil senyum-senyum.
Rendi mulai memutar video di ponsel istrinya. ia mengernyitkan dahi tidak percaya.
Rena melihat raut wajah suaminya sambil menahan tawa.
Karena tidak tahan akhirnya tawa itu pun pecah.
"Hahaha... "
"Ternyata suamiku yang ganteng ini, mendengkur juga kalo tidur. Bahkan lebih keras." Rena terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya.
"Kamu... sudah berani merekam aku saat tidur ya?"
Rena melihat gelagat suaminya mulai tidak bersahabat. Ia berdiri perlahan untuk menghindari suaminya.
"Dan sekarang kamu harus menerima hukumannya."
Rena berlari menuju kamar mereka.
"Mau kemana kamu, sayang?" Rendi mengejarnya.
Mereka berkejaran seperti anak kecil. Sesekali Rena mengucapkan maaf dengan tawa renyahnya.
Rena berlari di atas kasur kemudian turun kembali untuk menghindari kejaran suaminya. Tawa mereka membahana di ruangan itu.
Rena masih berlari. Saat hendak naik kembali ke atas kasur, ia pun terjatuh. Dengan sigap, Rendi menangkapnya. Ia menghukum istrinya dengan terus mengelitiki perut. Rena pun merasa geli.
"Hentikan, sayang! Aku menyerah." Rendi pun menghentikan aksinya. Mereka terbaring di kasur menatap langit-langit kamar dengan deru napas memburu.
Rendi merubah posisi tidurnya menyamping. Dilihatnya sang istri yang semakin cantik dengan tawa yang masih terdengar. Dan hembusan napasnya bisa ia rasakan.
Rendi yang selalu sibuk, tidak ingin kehilangan moment kebersamaan dengan istri tercinta. Bersama berdua seperti ini, membuatnya semakin dekat dengan wanita yang sudah memberikan kebahagiaan yang lengkap. Tak ingin ia menyia-nyiakan ibu dari anak-anaknya itu.
Semampu dirinya, sebisa mungkin, akan selalu membahagiakannya.
~ The End ~
Jangan lupa like dan komennya ya, agar author semangat menyajikan cerita2 unik nan menarik🙏
Salam sehat... tetap semangat... 💪
Pesan cinta untuk yang tercinta🥰
Love you all❤️🥰