Ada sosok lelaki yang tiba-tiba menghubungiku. sebelum ini dia telah lama menghilang dari duniaku. Tak sempat terpikirkan dia akan kembali dengan tujuan yang berbeda, sekitar 4 tahun yang lalu dia menghubungiku lantaran urusan pekerjaan yang dia tawarkan. Sebut saja namanya Alif. Mas Alif meninggalkan pesan singkat di Hpku yang berisi menanyakan kabarku .
"Alhamdulillah aku baik mas, mas gimana kabarnya ?"
"Baik jg dek, kamu sekarang masih tinggal di Cilacap ?"
"Masih mas."
Beberapa hari setelah kita berkomunikasi yang sebetulnya sangat singkat, mas Alif meminta izin untuk datang kerumah. Aku yang statusnya saat ini sebagai seorang janda dan memiliki seorang putri merasa keberatan jika mas Alif datang kerumah orangtuaku. Bukan karena mas Alif belum mengetahui statusku karena ternyata selama kita tidak berkomunikasi dia selalu aktif melihat stori dimedia sosialku. Namun karena didesaku sangat sensitif jika ada laki-laki yang datang kerumah seorang wanita yang tidak bersuami. Berkali-kali mas Alif coba meminta izin untuk datang kesini hingga akhirnya dia bilang kalau kedatangannya kesini ada hal serius yang ingin dia sampaikan kepada bapak dan ibuku.
"izinin mas kerumah ya, mas mau bicara sama bapak dan ibumu."
"nanti aku coba sampaikan ke ibu ya mas, kalau ibu mengizinkan aku izinkan mas datang."
Setelah aku coba bicara dengan ibu, akhirnya ibu setuju jika mas Alif datang kerumah. Keesokan harinya mas Alif langsung datang kerumah bersama sahabatnya, mas Alif ini 6 tahun dipondok pesantren. Jadi bisa dilihat dari penampilan dan tutur katanya yang sangat sopan dan bijaksana. Setiba dirumah mas Alif mengajak ibu berbicara tapi kok langsung serius gini ya.
Mas Alif menjelaskan kalau dirinya telah menikah dengan seorang wanita dan memiliki seorang putri. Mas Alif juga meminta kesempatan kepada ibu untuk mempertemukan dirinya dengan bapak yang saat ini berada diluar kota. Sempat ragu dan menjadi salah paham antara aku dan ibuku. Ibu sempat kaget ketika mas Alif statusnya adalah seorang suami. Setelah bercerita banyak dirumah mas Alif berpamitan dan memohon untuk bisa bertemu dengan bapak. Pesan itu disampaikan oleh ibu kepada bapak, dan bapak bersedia untuk pulang lantaran ingin melihat bagaimana mas Alif dan meluruskan apa yang terjadi.
Aku yang tak mau berurusan lebih jauh dengan mas Alif akhirnya memutuskan untuk membiarkannya, namun mas Alif tak menyerah, dia tetap minta waktu dan kesempatan untuk bertemu dengan keluarga lengkapku. Karena bapak bersedia pulang, mas Alif kembali datang kerumah, saat itu aku sama sekali tidak berpikiran untuk menanggapi mas Alif. Tak banyak basa basi, mas Alif langsung menyampaikan tujuannya ingin bertemu dengan bapak sebagai waliku tuturnya.
"Bapak, saya Alif. Mungkin ibu sudah banyak bercerita tentang saya. Tapi kedatangan saya kesini yang pertama untuk bersilaturahmi, yang kedua untuk melamar Najma putri bapak." kata mas Alif
"Bukannya mas Alif sudah berkeluarga ? kenapa masih mau menjadikan Najma istri ?" Jawab bapak
"Karena Alif mencintai Najma sebetulnya sejak sebelum Alif menikah. Namun karena Najma tidak mau merespon saya, akhirnya saya memutuskan untuk menikah. Tapi dalam pernikahan, saya selalu memperhatikan Najma biarpun itu hanya sekedar untuk tahu kabar Najma. Dan saat ini Najma sudah sendir. Alif mau Najma menjadi istri Alif pak." Kata Mas Alif
"Terus istri kamu bagaimana ?" tanya bapak
"Biar saya menyampaikan baik-baik kepada istri pak, sebelum kami menikah. Saya sudah pernah menyampaikan kepada istri, jikalau nanti saya mencintai yang lain izinkan saya menikah lagi dan jangan pernah izinkan saya bermaksiat. Perlu diingat dalam islam seorang laki-laki diperbolehkan menikahi lebih dari satu wanita. Pernikahan aku dan dia bukan karena kami dijodohkan, istriku saat ini adalah karyawanku sendiri yang sebelumnya serba kekurangan dan saya merasa kalau saya harus menolongnya hingga akhirnya kita berlanjut kejenjang pernikahan. Saat itu dia setuju dengan perjanjian yang aku buat dengan syarat aku mampu mencukupi kebutuhannya." Ujar mas Alif
Aku menyanggah dan tetap tidak setuju dengan niat baik mas Alif yang akan menikahiku. Aku tetap tidak mau karena aku takut hal ini akan berbuntut panjang dengan masalah yang rumit. Namun tak kusangka mas Alif berbicara kepadaku.
"Saya ga butuh jawaban atau kesediaanmu dek, keputusan yang saya butuhkan saat ini hanya ijin dari orang tuamu" kata mas Alif
Aku tak banyak bisa berkata, aku merasa seperti ada denyutan yang tak biasa. Jantungku semakin kencang dan mulutku menjadi terkunci.
"Baik bapak pikirkan lagi, besok bapak beri jawabannya." kata bapak
"Baik pak, kalau begitu hari ini saya cari hotel dekat sini saja. Biar besok saya bisa langsung datang kesini lagi." Kata mas Alif
Malam hari menjadi malam yang terasa sangat panjang, bapak dan ibu berdiskusi dan sepertinya mereka sudah siap dengan jawaban untuk hari esok. Keesokan harinya mas Alif kembali kerumah dan bapak memberi jawaban kepada mas Alif. Jawaban yang sebenarnya membuatku bahagia jika keadaan mas Alif saat ini masih sendiri.
"Baik mas, bapak dan ibu setuju jika Najma dilamar dan segera dinikahi. Bapak rasa mas Alif akan mampu membimbing Najma, menjaga dan menyayangi." kata Bapak
Mendengar hal itu aku terkejut, dan aku tak menyangka melihat mas Alif meneteskan air mata bahagia membuatku semakin tak bisa berkata. Jujur aku bahagia bisa bertemu dengan mas Alif namun kenapa keadaannya begini dan bapak ibuku merestui kami.
"Bapak minta, datangkan keluargamu kesini nak. Bicarakan juga dengan istrimu ya." kata bapak
"Baik pak, terimakasih pak bu." kata mas Alif
Mas Alif terlihat sangat serius dan bahagia. Dia berpamitan pulang dan bilang secepatnya akan kembali bersama keluarganya. Dia meninggalkan pesan diHPku.
"Semoga Allah mudahkan urusan kita ya dek. Tunggu mas datang lagi." kata mas Alif
Aku tak menjawab pesannya. Tapi entah kenapa batinku serasa mengaminkannya. Apa aku jatuh cinta dengan mas Alif ?
Aku merasa jika aku menunggunya kembali. Dua hari setelah kepulangannya dia mengabari kalau besok dia akan datang dengan kakaknya. Karena ternyata ayahnya sudah lama meninggal dan ibunya sudah tua. Namun menurut penjelasan mas Alif ibunya sudah mengetahui dan setuju.
Dia datang bersama kakaknya yang bernama mas Roni. Kedatangannya pun disambut baik oleh ibu dan bapakku.
"Pak,Bu kedatangan saya kesini ingin membicarakan lebih lanjut mengenai pernikahan saya dan Najma. Saya ajak kakak saya kesini untuk ikut berdiskusi." kata mas Alif
"Bapak,Ibu saya Roni, kakaknya Alif seperti yang Alif sampaikan pertama saya mewakili bapak dan ibu saya sebagai orangtua Alif yang memohon izin untuk mba Najma. Izinkan niat baik adik saya, keseriusan adik saya." kata mas Roni
"Iya bapak dan ibu menerima dengan baik mas Roni, terus bagaimana dengan istri mas Alif ?" tanya bapak
"Istri mas Alif sudah 60% setuju namun ada permintaan yang Alif mesti penuhi. Dan itu biar menjadi urusan Alif pak." ujar mas Roni
"Baiklah kalo gitu kapan rencana mas Alif menikahi Najma ?" tanya bapak
"Secepatnya." ujar mas Alif
Setelah kedatangannya mas Alif dan kakaknya. Persiapan berlanjut lebih serius, yaitu persiapan pernikahan aku dan mas Alif. Aku disini menyiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk menikan begitupun mas Alif. Prosesnya tak lama hingga akhirnya aku dan istri mas Alif bertemu. Semua terlihat baik-baik saja dan selsai juga untuk mendapat izin berpoligami untuk mas Alif. Akhirnya kami menikah, dan mas Alif memang sangat baik dan penyayang. Bahkan putriku sangat menyayangi mas Alif sebagai ayahnya. Tapi ada satu yang kurasa kurang, biarpun aku dan mas Alif sudah menikah, aku tidak rutin untuk bertemu dengan istri pertamanya dan saat aku coba menghubungi juga tidak selalu dibalas. Aku sempat menanyakan kepada suamiku dan ternyata kedaan mereka sedang tak baik-baik saja. Istrinya berubah pikiran, lantaran ada beberapa hal yang belum mas Alif penuhi dan aku tidak mengetahui hal ini. Akhirnya Istri pertamanya pun marah dan meninggalkan pesan untukku.
"Jangan pernah pasang foto dimedia sosial bersama mas Alif. karena mas Alif akan kembali sepenuhnya bersamaku." Kata Istri pertamanya
Aku yang kaget dan sangat terkejut dengan ini seketika langsung marah kepada mas Alif. Apalagi mas Alif hari ini ada bersama dikediaman istri pertamanya yang berada beda kota denganku. Mas Alif berusaha menenangkanku. Dia berkata semuanya akan baik-baik saja. Tapi istri pertama selalu meninggalkan pesan yang kurang baik untukku. Keesokan harinya mas Alif pulang dan menjelaskan semuanya. Tentang istri pertama yang meminta uang bulanannya naik dan mobil baru. Jika tidak diberikan maka akan diputuskan hubungan pernikahan aku dan mas Alif. Sepanjang perjalanan pernikahan mas Alif tak pernah menjelaskan bagaimana istri pertamanya. Hingga disatu titik mas Alif menjadi kewalahan dan membuka semua cerita kepadaku. Mas Alif merasa tertekan dan tak bahagia dengannya namun tidak tega untuk menceraikannya karena itu dia ingin menikahiku. Apalagi selama menjadi istri mba Resti sering tidak memenuhi kebutuhan biologis suaminya. Mendengar hal itu aku sangat kaget, mba resti yang aku tahu dia memiliki pribadi yang sangat baik dan agamis hingga mengizinkan mas Alif menikahiku. Tapi ternyata mba Resti hanya memanfaatkan mas Alif sebagai pemenuh kebutuhannya. Mas Alif merasa sudah tak sanggup dan berniat menceraikan mba Resti. Namun kembali lagi mba Resti menuntut harta gono gini yang diluar nalar. Rumah,mobil dan biaya hidup yang tak sedikit. Mas Alif memutuskan untuk memberikan semuanya dan ingin hidup tenang denganku. Mas Alif merasa tak nyaman karena mba Resti selalu mengirimkan juga pesan tak baik kepadaku. Mas Alif mengambil langkah berpisah dan memberikan apa yang mba Resti mau dengan harapan mba Resti tak lagi mengaggu kami. Saat ini kami justru hidup seadaanya, tapi aku bersyukur mas Alif tetaplah mas Alif. Seorang penyayang dan bertanggung jawab penuh. Biarpun perusahaannya saat ini dikuasai mba Resti. Mas Alif tetap berjuang meskipun hanya dengan berdagang. Aku merasa jauh lebih bahagia saat ini meskipun keadaan duniawi tak sebaik saat itu. Aku masih tak menyangka sosok sebaik mas Alif disia-siakan. Akulah yang kedua, namun tak melulu menjadi yang durhaka. Aku yang kedua dan kami bahagia hidup bersama.
"Terimakasih suamiku, sudah menjagaku dan anak kita dengan baik. Semangat selalu sayangku, kita akan bangkit lagi." kataku
"Iya istriku, selau dampingi aku ya. Apapun keadaanku. Akuakan berusaha sebaik mungkin dan aku juga yakin Allah mengizinkan segala kebaikan bersama kita." mas Alif
Tamat