Satu lagi cuaca buruk di bulan Agustus. Kali ketiga hujan turun di bulan kemerdekaan ini. Kubangan air keruh di cekungan dangkal jalanan kampung memantulkan bayangan buram selebar payung. Aku berjalan dengan hati-hati agar sepatuku tidak menginjak genangan demi genangan.
Begitu lengang dari kendaraan bermotor. Sejak tadi hanya kakek-kakek ngontel saja yang menguasai jalanan. Mereka membawa celurit dan beberapa lipat karung terikat karet ban di boncengan belakang. Mungkin ada alasan untuk para manula itu tidak menggunakan payung atau jas hujan, karena sedari tadi aku perhatikan semuanya basah-basahan menerobos derasnya hujan. Melihat itu, rasanya jadi sedikit khawatir mengenai kesehatan mereka.
Sangat yakin hari ini seratus persen tidak diadakan upacara bendera. Sedikit timbul kehangatan di jiwaku setelah mengetahui kabar ini. Namun, kenyataan bahwa jadwal hari ini terdapat matematika selama tiga jam pelajaran telah mengembuskan lagi semangat yang aku dapat barusan.
Aku hidupkan layar ponsel. Sisa waktu sebelas menit lagi sampai gerbang sekolah ditutup kalau mengikuti jadwal hari Senin biasa. Maka dengan ditiadakannya upacara hari ini, 41 menit waktu luang sampai bel tanda jam pertama. Sebenarnya aku bisa saja berangkat lebih siang, sekitar sepuluh atau dua puluh menit lagi. Namun, orang yang tengah duduk di gardu pertigaan sana tidak mungkin mau menunggu.
"Lama amat, sih!"
Tuh, kan? Pukul tujuh kurang sepuluh menit saja dia protes, apalagi setengah delapan pas bel jam pertama?
"Jangan banyak protes. Ayo berangkat!"
Anehnya, bocah gamer bernama Ridwan ini malah keasyikan main gim di ponselnya.
"Nanti, tanggung," tolaknya. "Dikit lagi menang, nih."
Sudah kuduga akan begini. Tidak, sebenarnya setiap kali aku telat dari waktu berangkat biasa, dia akan bermain gim sambil menungguku lewat.
"Duluan, ya."
"Tunggu sebentar, sih! Gue nungguin lu juga enggak sampai tega ninggalin."
Toh, aku tidak pernah bilang padanya agar menungguku.
Sekalipun aku tidak menghiraukannya dan lanjut berjalan, pada akhirnya tetap saja dia mengekor. Hanya saja aku agak risi mendengar ia menggerutu. Dengan payung disandarkan ke bahu, dia berjalan tanpa memedulikan genangan air. Kedua tangannya sibuk memegang ponsel. Jari-jemarinya bergerak cepat megoperasikan kendali virtual. Beberapa langkah lagi ke depan maka kakinya akan masuk ke legokan jalan yang agak dalam. Karena aku ini tipe orang yang mengajari dengan pengalaman, aku akan tutup mulut mengenai bahaya yang menantinya.
Kampung kami sering dilewati kendaraan berat seperti truk pengangkut tanah, batu bata, genting, atau traktor. Itu menyebabkan jalanan di sini cepat berlubang. Meski perbaikan dilakukan setiap tahun, tambalan aspal di sini kebanyakan cepat hancur lagi. Kalaupun tidak, lubang baru yang lain akan tercipta. Yah, mau bagaimana lagi? Satu-satunya jalan yang dapat dilewati mobil besar hanya jalur sini. Pula karena industri di wilayah ini yang menitikberatkan pada pengelolaan tanah liat dan hasil persawahan.
"Aduh!"
Ridwan jatuh setelah kaki kanannya masuk lubang. Ponselnya meluncur di aspal basah. Bersamaan dengan itu, suara "You lose!" mencapai gendang telinga kami.
"Katanya dikit lagi menang?" ejekku.
Ponselnya model terbaru. Dengan dukungan anti air dan anti pasir, maka tidak perlu khawatir akan rusak atau tergores. Bahkan layarnya pun tetap menyala meski dihujani air.
"Kasih tau dong kalau ada lubang!"
Cepat-cepat si Ridwan mengambil ponselnya. Segera ia mengeringkan ponselnya dengan sapu tangan dari saku celananya. Pakaiannya tidak kotor, hanya sedikit basah di permukaan tas punggung dan celana bagian lutut, tentu saja sepatu sebelah kanannya kuyup. Beruntung kedua tangannya memiliki refleks yang bagus. Ia berhasil menahan kejatuhannya dengan tangan dan lutut. Kalau tidak, tentu saja yang akan terjadi adalah dia tersungkur dengan wajah terjerembap.
"Hati-hati, banyak lubang," aku mewanti-wanti.
"Tadi, bukan sekarang!"
"Enggak ada salahnya, kan? Lagian di depan juga jalanannya masih berlubang."
Ia memasukkan sapu tangan dan ponselnya ke saku. Menggenggam gagang payung hijau cerahnya dengan benar. Dia mengabaikanku dan lanjut berjalan. Kali ini dia yang berjalan di depan.
Butuh waktu lima belas menit hingga kami mencapai gerbang sekolah. Benar dugaanku, gerbangnya masih terbuka lebar meskipun Pak Satpam ada di posnya. Malah, beliau sedang enak-enak merokok dan terlihat cangkir berisi kopi yang mengepulkan uap putih samar-samar. Guru Olahraga kelas sebelas juga ada di sana. Dia mengeluarkan sesuatu dari bawah meja di dalam pos jaga.
Oh, mereka mau main catur, ya?
Sebentar saja mataku teralihkan, si Ridwan sudah berjalan di depan. Di sampingnya ada seorang perempuan. Melihat dari model tas dan kepangan rambutnya, nampaknya aku kenal siapa dia.
"Pulang nanti mau ke toko buku, gak?" tanya Ridwan.
Aku mengikuti mereka di jarak yang tidak terlalu dekat ataupun jauh. Setidaknya aku masih bisa mendengar percakapan sepasang kekasih canggung ini dengan jelas di jarak ini. Daripada menguping, lebih tepat kalau aku ini sedang mempertahankan keberadaanku.
"Ngapain? Aku lagi gak ada duit buat beli buku. Malah, sekarang juga aku lagi gak bawa duit sepeser pun," ungkap Winda.
"Oh, begitu. Tadinya mau sekalian nitip beli sesuatu ke konter. Yang di samping toko buku itu, lo. Tau, kan?" terang Ridwan.
"Belanja sendiri sana!"
Cewek kutu buku miskin dan cowok berengsek yang hobinya mengganggu si cewek. Pola klise di cerita komedi romantis. Seketika menghancurkan pernyataan yang berbunyi, "setiap orang adalah protagonis di kehidupannya masing-masing." Karena yang aku rasakan sangat jelas bahwa aku di sini hanya pemeran sampingan.
"Ngomong-ngomong, kenapa rok kamu sampai basah kayak gitu?"
Terdengar menjijikkan ketika si Ridwan memakai kata "kamu". Padahal biasanya dia pakai "lu-gue" atau bahkan "lo-gua".
"Ah, ini tadi ada truk lewat, pas bannya masuk legokan jalan, nyiprat deh kena rok."
Nampaknya perbaikan jalan tahun ini harus segera dilakukan. Dalam satu hari ini saja sudah ada dua orang yang jadi korban. Oh, sebentar, bukannya perbaikan baru saja dilakukan Januari lalu? Luar biasa, cuma butuh tujuh bulan untuk merusak jalan baru? Aku harap pemerintah di masa mendatang dapat memberi anggaran lebih banyak untuk perbaikan jalan setiap enam bulan di kampung kami dan sekitarnya.
Kami bertiga sampai di kelas. Mengenai jam kosong ini, harusnya tidak perlu untuk memajukan jadwal. Lantas apa maksudnya pak Agus ada di sini?
"Kalian bertiga langsung saja duduk," pak Agus menoleransi keterlambatan kami.
Kami serentak mengatupkan mulut dan mengikuti perintahnya. Kursiku ada di barisan belakang. Namun, mungkin karena kedatangan pak Agus yang tiba-tiba membuat semua orang memilih tempat duduk acak yang terdekat. Yang tersisa adalah tiga kursi kosong di barisan terdepan.
"Kamis kemarin kelas IPS satu sudah ulangan, benar?"
"Iya, Pak," sahut kami berbarengan.
"Maka mulai hari ini kita masuk ke bab selanjutnya yaitu persamaan linear. Di SMP pun kalian pasti sudah mengenal materi ini, kan? Jadi tak perlu dijelaskan lagi apa itu Sistem Persamaan Linear. Nanti di jam bapak mengajar, bapak harap semuanya punya buku strimin, bisa?"
Oh, aku kira jam pelajarannya dimajukan.
"Bisa, Pak."
Aku tahu di pelajaran ini akan ada materi dengan membuat grafik. Memangnya berapa banyak yang akan kami buat sampai harus beli buku strimin?
"Upacara hari ini dibatalkan. Tapi bendera tetap akan dinaikkan. Bapak minta kalian untuk ikut setidaknya beri hormat bendera meski dari teras kelas."
"Siap, Pak."
Hujan sedikit mereda. Suara rintikan hujan yang menabrak atap kelas juga lebih laun. Pak Agus keluar dari kelas. Badan gemuknya menjadi beban saat ia hendak beranjak dari kursi. Wajahnya agak seram sih, tapi sangat bisa diandalkan ketika mengajar. Andai saja beliau bukan guru matematika, mungkin dia akan lebih banyak disukai para murid.
Semua orang keluar dari kelas, termasuk aku sendiri setelah meletakkan tas di tempat dudukku. Belum ada tanda-tanda akan dinaikannya bendera. Tidak ada satu pun orang di sekitar tiang. Sementara itu, kelas kami menyimak siswa-siswi kelas lain yang baru datang dengan payungnya dari teras kelas. Ridwan dan beberapa teman sekelas yang lain berkumpul dalam kelompok empat orang. Fahri, si jangkung berbadan kurus itu melambaikan tangan padaku mewakili kelompoknya.
"Aku? Ada apa?" tanyaku ragu.
Tumben sekali orang-orang ini meminta kehadiranku. Bukan maksud berprasangka buruk, sebenarnya aku tak pernah dilibatkan apa pun dalam kelompok mereka kecuali aku sendiri yang ikut nimbrung.
"Enggak kenapa-kenapa, kok. Yah, daripada lu sendirian, mending ikut kita ke kantin," ajak Doni.
"Oh, oke."
Aku bukan tipe orang yang terlalu ketat pada aturan. Mau itu hormat bendera atau karena di luar jam istirahat, selama tidak berisiko dihukum, entah jajan atau pulang pun aku sama sekali tidak keberatan.
"Toh, kurang komplet rasanya kalau cuma si penjaga pintu surga yang ikut."
Komentar lain terlontar dari mulut Galih. Itu adalah candaan yang sering aku dengar sejak kecil. Lawakannya tidak membuat bibirku melengkung sedikit pun.
"Tak bisakah kau maknakan sebagai sesuatu yang lain? 'Maha Merajai' misalnya?" keluhku.
Sejak pertama melihat daftar teman sekelas, aku sudah menduga lawakan ini akan muncul cepat atau lambat. Mau bagaimana lagi? Ketika ada nama Malik dan Ridwan dalam satu daftar, mustahil orang tidak menyadarinya.
"Eh, kalian!"
Kami berlima sontak menoleh ke belakang.
"Mau nitip beli buku strimin, gak?"
Kelas kami diketuai seorang gadis berkacamata. Namanya Laras. Kebetulan dia juga katanya mau masuk OSIS. Mendengar dari omongan orang-orang di kelas, sepertinya di SMP-nya pun dia aktif di OSIS dan Pramuka.
"Ah, tentu. Kami berlima, ya!" Doni mewakilkan. "Bayarnya dari uang kas!"
Oh, jadi enggak perlu keluar duit, nih?
"Uang kas habis. Malah harusnya kalian bayar yang dua minggu kemarin!"
Tiba-tiba keluar dua orang dari belakangnya. Itu adalah si sekretaris dan bendahara. Mata mereka menatap tajam ke arah kami. Dengan pulpen tinta empat warna dan buku bersampul tebal di tangan, tercipta ilusi di mana mereka terlihat seperti pendekar dengan pedang dijulurkan.
Entah bagaimana, sepertinya kami terkena hipnosis. Tanpa ragu aku memberikan uang pecahan sepuluh ribu. Aku tidak ingat berapa jumlah tagihan yang lain, yang pasti tagihankulah yang paling sedikit.
Lanjut menyusur lorong menuju kantin. Wajah mereka berempat terlihat suram. Tidak ada seorang pun yang buka percakapan ... setidaknya sampai kami sudah agak jauh dari kelas.
"Gue bakal mati kelaparan ...," keluh Ridwan lirih.
"Begini deh, bagaimana kalau kita tanding main gim? Taruhannya yang kalah traktir yang menang," usul Doni
"Setuju!" tanggap Ridwan, seorang.
Aku bisa menebak kalau Doni dan Ridwan-lah yang mendapat tagihan terbanyak.
"Tapi kita berlima, lo," tanggap Fahri.
"Tenang, si Malik enggak suka main gim."
Jika bermain gim dapat membuatku jadi sepertimu, dengan sekuat tenaga aku akan menjauhinya.
"Kayak yang si Ridwan bilang," aku mengonfirmasi.
Lantas kami membolos penaikan bendera. Ridwan sudah mengirim pesan pada Winda agar segera memberitahunya kalau-kalau pak Agus masuk kelas lebih awal. Sudah setengah jam berlalu sejak saat itu. Beruntung bagi Doni satu tim dengan si pecandu gim—Ridwan maksudku. Kemenangan tiga-nol untuk mereka. Tanpa ampun ... atau lebih tepatnya tim Ridwan dan Doni tidak boleh kalah. Seandainya mereka kalah, isi dompet mereka terancam. Sungguh pertaruhan yang nekat.
Aku pernah mendengar kalau kopi lebih baik diminum lambat-lambat. Aku tidak paham nilai yang terkandung dalam tradisi seperti itu. Yang aku yakini secara pribadi adalah minuman apa pun tidak akan terasa sama nikmatnya kalau sudah dingin. Jadi cangkirkulah satu-satunya yang sudah kosong. Juga, aku pernah dengar kalau minum kopi di pagi hari itu kurang bagus untuk kesehatan. Entah beritanya benar atau tidak, tapi mungkin memang lebih baik untuk tidak sering-sering melakukannya.
Hujan telah usai. Sisa-sisa air turun membaur dengan udara sekitar. Layar ponselku menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh menit. Tersisa dua puluh menit sampai jam pertama. Sebenarnya aku ingin tahu kabar kelas saat ini. Entah Winda lupa memberitahu si Ridwan atau si Ridwan yang mengabaikan pesan yang mungkin sudah masuk sejak tadi. Rasanya tidak enak mengacaukan permainan mereka berempat, jadi aku diam saja.
Atau mungkin aku balik ke kelas saja lebih dulu? Lagi pula di sini aku cuma menonton mereka main gim.
"Duluan, ya."
Aku diabaikan. Yah, aku juga tidak terlalu mengharapkan jawaban.
Setelah membayar minuman, aku kembali ke kelas. Ternyata Winda benar-benar tidak mengabari kami. Dia tampak tidak bereaksi apa pun atas kedatanganku. Pak Agus sudah duduk dan menerangkan pelajaran. Melihatku di ambang pintu, pak Agus mengisyaratkan dengan tangannya untukku masuk dan duduk di kursiku. Beliau tidak menanyakan dari mana dan habis apa aku di luar kelas. Betapa guru yang pengertian.
Semua orang bersiap dengan pulpen dan buku strimin di meja mereka, termasuk meja Ridwan, Doni, Fahri, dan Galih. Anehnya, kenapa punyaku tidak ada? Apa mungkin Laras lupa padaku?
"Hey, punyaku mana?"
Kebetulan tempat duduk Laras ada di depanku. Jadi aku bisa langsung bertanya pada yang bersangkutan.
"Salahku, maaf. Tadi kalian cuma bayar uang kas, kan? Aku lupa menagih uang buku kalian."
Jadi sepuluh ribu itu cuma uang kas?
"Terus kenapa keempat orang itu dapat sedangkan aku tidak?"
"Sudahlah, ambil saja punya si Ridwan. Nanti aku jelaskan. Barusan aku kirim pesan ke si Ridwan supaya beli satu lagi."
Aku mengambil buku strimin dari meja sebelah kanan tempat Ridwan duduk. Ingin rasanya bilang tentang keadaan finansial si Ridwan, tapi Laras sudah terlanjur mengirim pesan. Tahu begini, mengapa kau tidak kirim saja pesan itu padaku? Setidaknya aku masih punya cukup uang untuk membeli sendiri.
Singkat cerita, Ridwan datang dengan membawa buku barunya, sedangkan tiga lainnya bertangan kosong. Wajahnya pucat lebih parah daripada saat ditagih uang kas. Beberapa detik lalu bel istirahat berbunyi. Pak Agus menyudahi pelajaran hari ini. Meski harusnya ada satu jam lagi setelah istirahat, dia membiarkannya sebagai jam kosong. Aku tidak suka mengulangi perkataan, tapi … sungguh, betapa guru yang pengertian.
Laras membalikkan posisi duduknya, kini menghadap padaku. Si bendahara juga menghampiri dengan pulpen tinta empat warna dan buku sampul tebalnya. Ridwan menarik kursinya mendekat. Lantas yang lainnya meninggalkan kelas, termasuk si Sekretaris, Doni, Fahri, juga Galih.
"Sebelumnya, aku minta maaf. Ini murni kecerobohanku. Hanya saja aku sedikit penasaran, kenapa bisa sampai kurang satu buku?"
"Aku pun sama terganggu," sahut Bendahara. "Mengapa uang yang kami kumpulkan bisa kurang padahal aku yakin mendatanya dengan benar?"
Ridwan masih merengut. Mungkin kesal karena uangnya ludes sampai tidak bersisa.
"Berapa uang yang kalian kumpulkan?" tanyaku.
"Setiap orangnya tiga ribu, maka menghitung dari seluruh anak perempuan yang berjumlah 22 orang telah terkumpul 66.000. Ditambah sebelas dari laki-laki maka totalnya 99.000," tutur si Bendahara.
"Kalian lupa kami? Yang tidak kalian tagih ada lima orang, lo," Ridwan menyela.
"Tentu, aku menyarankan agar memakai uang kas untuk menambal 15.000 kalian. Namun, yang harusnya 99.000 justru 96.000," ungkap Laras.
Akumulasi dari seluruh anak perempuan adalah 66.000 rupiah. Mengecualikan kami berlima, maka total dari laki-laki adalah enam orang, sama dengan 18.000 rupiah. Total uang sebelum ditambah 15.000 rupiah dari uang kas adalah 84.000 rupiah. Benar, total keseluruhannya kurang 3.000 rupiah apabila uang yang terkumpul cuma 96.000 rupiah.
"Jujur, awalnya aku mengira kalau sempat salah hitung, yang harusnya untuk 33 orang sebenarnya cuma 32 orang. Maka aku beli buku-buku itu dengan uang yang ada," timpal Bendahara.
Dalam kasus ini, Bendahara tidak mungkin menaruh curiga pada kami berlima karena sudah jelas kami diberi perhatian khusus sebagai orang-orang yang belum bayar. Dalam artian, dari total 32 buku yang dibeli, lima diantaranya memang ditujukan untuk kami.
"Jika laki-laki yang menitip cuma sebelas orang, bisa jadi kalian salah memberikan satu buku pada salah satu mereka yang harusnya belanja mandiri, kan?" aku berkomentar.
Jumlah laki-laki di kelas kami ada delapan belas, total empat puluh orang dengan jumlah perempuan. Berarti tujuh orang belanja mandiri, semuanya laki-laki. Ada dua kemungkinan berdasarkan kapan waktu buku dibagikan: pertama, buku telah dibagikan saat sebelum pak Agus datang. Kedua, buku dibagikan setelah pak Agus datang. Kecerobohan tidak mungkin terjadi di pilihan nomor dua, karena siswa yang belanja mandiri pastinya sudah mempunyai buku. Sebenarnya bisa saja seseorang mengaku ketika dibagikan. Maka saat ini ia akan punya dua buku di dalam tasnya. Bisa juga si pelaku memang belum atau lupa membeli buku lantas melihat kesempatan di mana buku-buku yang dibawa bendahara dan ketua kelas dibagikan. Itu terdengar sedikit mengada-ada, tapi kemungkinannya tidaklah nol.
"Bisa jadi. Namun …." Bendahara membuka buku sampul tebalnya di mejaku. "Aku sudah menulis siapa-siapa saja yang menitip."
Dengan begitu dia bisa memberikan bukunya langsung mengikuti daftar yang tertulis. Sehingga salah alamat hampir mustahil terjadi.
"Sebelum menuduh laki-laki, apa kalian sadar kalau ada kemungkinan salah satu dari kalian berdua yang belum bayar?" selidik Ridwan.
"Tentu saja kami sadar. Bahkan kami punya bukti." Bendahara mengeluarkan uang pecahan dua ribu rupiah dan tiga lembar lima ribu rupiah, dia menempatkannya terpisah. "Laras membayar dengan satu lembar dua ribu dan satu koin seribu. Saat itu Laras yang pertama bayar, dan selanjutnya adalah aku sendiri. Ini adalah uang dari Laras. Aku mengambilnya sebagai kembalian karena uang yang aku punya semuanya pecahan lima ribu."
Artinya ketika baru mereka berdua yang bayar, terdapat enam ribu rupiah dengan perincian satu lembar lima ribu rupiah dan satu koin seribu rupiah. Uang kertas dua ribu rupiah yang Bendahara letakkan terpisah ini tadinya merupakan uang Laras, dan digunakan sebagai kembalian untuk Bendahara karena uang miliknya bernilai lima ribu rupiah. Jumlah uang pribadi Bendahara mulanya 20.000 rupiah, saat ini tersisa 17.000 rupiah. Semua yang terhambur di atas mejaku ini merupakan uang pribadi Bendahara.
"Apa kalian yakin kalau seluruh murid perempuan sudah bayar?" tanyaku.
"Ya, tidak seperti kalian para laki-laki yang susah diatur, begitu Laras meminta untuk berkumpul, semua murid cewek kompak berkumpul."
"Kau yakin tidak ada yang sedang ke toilet?" tanyaku lagi.
"Tidak tahu, tapi hampir mustahil, lo. Kelas kita berada di ujung paling kanan. Kalaupun ada yang pergi ke toilet, tidak mungkin tidak kelihatan. Terlebih, orang-orang yang berjalan tidak mungkin seramai ketika cuaca cerah."
Laras menunjuk ke luar kelas, ke toilet perempuan di samping masjid sekolah. Memang, dari sini pun aku masih bisa melihatnya karena toilet perempuan ada di ujung kiri barisan kelas seberang. Hujan tadi pagi juga menyebabkan sedikit orang yang berjalan keluar dari kelasnya.
"Ketika orang yang pergi dari kelas tidak mungkin, bagaimana dengan yang datang terlambat?" Ridwan mengajukan pertanyaan konyol.
"Kau lupa saat kita datang kursinya cuma sisa tiga di barisan depan?" bantahku.
Banyak siswa yang datang lebih terlambat dari kami, tapi yang merupakan kelas sepuluh IPS satu adalah kami bertiga yang paling terlambat.
"Oh, iya."
"Paling juga kalian kurang teliti menghitungnya. Atau jatuh di suatu tempat barangkali? Sudahlah, toh cuma tiga ribu."
"Iya, cuma tiga ribu dan cuma gue yang benar-benar beli!" Ridwan memprotes perkataanku.
Bendahara dan ketua kelas menatap lekat padaku. Padahal sedikit lirikan saja bisa membuat mental lemahku tertekan. Sekarang aku berkeringat luar biasa karena takut.
"Iya, iya, aku bayar."
Kembalian dari kantin semuanya pecahan dua ribu rupiah. Aku membayar dengan dua lembar dan menerima kembalian uang koin seribu rupiah. Dengan ini aku nyatakan aku telah terbebas dari utang.
Ketua kelas dan bendahara menegakkan badannya berdiri.
"Ya sudah. Kalau kalian tahu sesuatu, tolong beritahu yang lain," ujar si nona berkacamata menghentikan pembicaraan.
"Siap …."
Konferensi Meja Malik dibubarkan. Keempat anggota saling memisahkan diri. Ridwan sempat mengajakku untuk ikut lagi bersama kelompoknya, tapi aku tolak. Untuk beberapa alasan, aku tidak ingin menghabiskan uangku hari ini. Terlalu banyak pengeluaran tidak terduga, baik bagiku untuk menyimpan sisa uang jajan. Juga, dari mana dia punya uang setelah diperas habis-habisan? Oh, benar juga. Tidak mungkin Ridwan minta tolong ke Winda untuk sekalian ke konter membelikan dia sesuatu tanpa mempersiapkan uang cadangan.
Tiga puluh menit istirahat pertama. Aku tetap di kelas, duduk diam meminimalisir pergerakan agar tidak cepat membuatku lelah. Pelajaran periode dua dimulai, aku masih dalam mode hemat daya. Menggunakan istirahat siang seperlunya dengan membeli roti kemasan dan minuman gelas, juga memikirkan bagaimana cara berkomunikasi secara normal pada gadis seumuran. Bukan bermaksud apa-apa, aku hanya takut tidak dianggap lagi oleh anak perempuan di kelasku sendiri.
Aku coba mengirim pesan ke Winda. Apakah begini sudah benar? Maksudku, gadis kutu buku berkepang dua itu sudah cukup dekat denganku karena aku juga dekat dengan si Ridwan. Jadi rasanya aku tidak membuat kemajuan apa pun dengan mengirim pesan padanya. Lagi pula dia juga sedang sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Tidak sopan memainkan ponsel kala orang-orang berkumpul dan mengobrol, kurasa karena alasan itulah dia tidak sempat memeriksa pesan yang aku kirim.
Aku memberanikan diri mendatanginya dengan harapan para gadis di sekitarnya bisa sedikit akrab padaku. Ironisnya, aku justru dilirik mereka, dipandang seperti orang asing yang mencurigakan.
"Umm … nanti pulang bisa enggak kamu ikut sebentar?"
Aku terlalu gugup sampai lupa apa yang ingin aku katakan. Spontan aku mengajaknya bertemu lagi setelah sekolah usai.
"Disuruh si Ridwan, kan?"
Aku akui tidak biasanya aku berinisiatif untuk melakukan sesuatu. Sehingga Winda pun berpikir bahwa apa yang aku lakukan ini semata-mata karena diminta Ridwan.
"E-enggak juga …."
Lekat-lekat matanya menyelidik ekspresi wajahku. Aku ingin tahu apa sebegitu anehnyakah ketika aku ingin mengobrol biasa tanpa didorong suatu kepentingan?
"Boleh, kok. Bilang padanya aku tunggu di kantin."
Sampai saat ini pun dia berpikir ini adalah perintah si Ridwan.
"O-oke, makasih."
Aku kembali ke kursiku. Keringat turun di pelipisku. Teman-teman Winda mungkin berpikiran aneh tentangku saat ini.
Pelajaran siang berlalu begitu saja. Seharian ini berjalan sangat lancar. Tidak ada yang tidak aku pahami. Aku ragu apakah hari ini telah belajar sesuatu. Bel pulang bernyanyi pukul setengah tiga siang. Aku mengemasi buku dan alat tulis. Satu per satu orang-orang meninggalkan kelas. Ridwan selesai beres-beres tempat duduknya dan menghampiri, menungguku agar pulang sama-sama.
"Duluan aja."
"Mau ke mana? Enggak biasanya lu punya urusan habis bel pulang."
"Mau ikut?" tawarku.
"Ngajak ke neraka?"
Mungkin sekali-kali aku harus memukul dia.
"Jadi ikut enggak?"
"Enggak, deh. Takut gue."
Ridwan pergi dengan lambaian malas tangannya. Kelas hampir kosong tak berpenghuni. Tenangnya suasana di sini hingga suara detikan jam terdengar nyaring. Aku mengirim pesan pada seseorang untuk tetap di area sekolah. Aku hendak menemuinya setelah urusanku dengan Winda usai.
Kantin dan tempat parkir ada di belakang gedung kelas dua belas. Winda yang menunggu Ridwan datang sangat tidak mungkin berpapasan. Karena baik Ridwan maupun aku sendiri lebih sering menggunakan gerbang depan untuk keluar masuk area sekolahan.
Terkadang, menyembunyikan kebenaran lebih baik daripada mengungkapkannya. Terdapat hubungan yang sulit dikembalikan bagi sebagian orang walau sebagian lainnya justru membuat hubungan tersebut lebih kuat. Aku tahu tidak mungkin bagi kami yang baru kenal selama dua bulan di kelas ini akan memaklumi dengan mudah sesuatu seperti kebohongan, atau mungkinkah bila dianggap pencurian? Karena sudah jelas si pelaku mengambil buku yang merupakan hak orang lain. Yah, terlepas dari apakah perbuatannya merupakan tindak kriminal atau bukan, salah jika aku dengan sengaja membeberkan kebenaran yang aku yakini atas kasus ini.
Aku sampai di kantin. Keadaannya memang tidak seramai di jam istirahat, tapi ada beberapa kakak kelas yang berkumpul di sini. Melihat dari pakaian mereka, kemungkinan mereka itu adalah anggota ekstrakurikuler basket. Ada juga yang berpakaian seragam biasa, terdapat buku dan alat tulis di atas mejanya. Mungkin mereka sedang mengerjakan tugas kelompok. Aku memutar sekali lagi pandanganku. Rupanya Winda mengambil tempat duduk di samping pintu masuk sebelah utara. Mungkin dia hendak langsung pergi setelah urusan kami selesai.
"Sendirian?"
Kedatanganku disambut dengan pertanyaan.
Aku gantungkan payungku di sandaran kursi lantas duduk berhadapan. "Sejak awal aku memang ingin hanya kita berdua."
"O-oh, begitu, ya ...?"
Mungkin dalam hatinya bertanya-tanya kenapa aku melakukan sesuatu yang tidak biasa seperti ini. Sebenarnya aku juga berpikiran sama. Mengapa aku sampai sejauh ini hanya demi satu hal sepele?
"Ngomong-ngomong, boleh lihat ponsel kamu?"
Sebagai jaminan, aku letakkan ponselku juga di meja.
"Boleh, sih. Memangnya buat apa?" Dia merogoh tasnya dan menyodorkannya ke samping ponselku. "Baterainya habis, jadi enggak bisa dipakai."
Sayang sekali ponselnya mati, tapi justru itu hal yang bagus. Semuanya jadi masuk akal sekarang.
"Tadi pagi kamu jatuh, kan?"
"... Eh?"
"Rok kamu basah bukan karena kena cipratan, tapi kamu jatuh, kan?"
Tidak ada satu pun truk melintas pagi ini. Meskipun rumah kami berada di kampung yang berbeda, tetapi kami masih satu jalan. Kalau memang Winda terkena cipratan oleh truk, truk itu mestinya lewat saat aku berangkat bersama Ridwan. Waktu kedatangan kami ke sekolah hampir tidak berjarak, karena Ridwan segera menghampiri Winda yang cuma renggang beberapa langkah saat aku memperhatikan pos satpam. Dengan kata lain, Winda berbohong pada Ridwan ketika ditanya soal roknya yang basah.
"Kamu ini kenapa, sih?" Dia bertanya, tapi itu pertanyaan ambigu. Jadi aku abaikan.
"Juga, ponsel ini." Aku membalikkan ponsel miliknya. "Lalu kamu menjatuhkan ini, baterainya berhamburan, terus tidak bisa nyala karena kemasukan air hujan, benar?"
Ponselnya model lama, di mana tutup belakangnya dan baterainya masih bisa dicopot. Tidak aneh kalau ponsel tipe lama sering berhamburan kalau terbanting ke tanah.
"Y-ya terus? Memangnya kenapa?" nada suaranya terdengar meninggi.
"Ridwan mengirim pesan padamu, tetapi sama sekali tidak ada balasan. Aku takut kamu memblokir nomor kontaknya, jadi aku juga coba melakukan hal yang sama pas istirahat kedua, sesaat sebelum aku mendatangimu langsung."
Tidak ada alasan untuknya memblokir nomor kontak milikku. Aku mengecek ponselku sesaat sebelum meninggalkan kelas, dan pesanku sama sekali belum diterimanya. Dari sini aku tarik kesimpulan bahwa ponselnya kemungkinan besar sedang tidak nyala.
"Kalau begitu … maaf telah berbohong, juga maaf karena tidak membaca pesan kalian." Dia mengambil lagi ponsel dan payungnya lantas berdiri. "Sudah, kan? Kalau begitu, sampai jumpa lagi besok."
"Aah, bersabarlah sedikit lagi. Masih ada satu lagi yang ingin aku tanyakan."
Langkahnya terhenti. "Apa lagi, sih?"
"Kamu juga yang belum bayar buku itu, kan?"
Mau ketua kelas atau bendahara sekalipun, mereka sudah menandai semua perempuan sebelum mereka menyerahkan uangnya. Berbeda dengan laki-laki, yang mana baru ditandai setelah membayar. Hanya karena berhasil mengumpulkan semua anak perempuan, bukan berarti mereka tidak bisa lolos dari tagihan.
Masih mematung. Kepalanya sedikit menunduk. "… Jangan ceritakan pada yang lain, aku mohon …," pintanya lirih.
"Tentu saja. Aku hanya mau bilang kalau aku yang telah membayar bagianmu. Jadi sekarang kamu berutang tiga ribu padaku. Tidak masalah mau kapan kamu bayar, tidak bayar pun toh cuma tiga ribu."
Ia sempat bilang bahwa dia tak bawa uang hari ini setelah menolak permintaan Ridwan untuk mampir ke konter dekat toko buku tadi pagi. Aku sempat ragu pada kesimpulan ini sebelumnya karena ada juga kemungkinan Winda meminjam uang dari temannya. Namun, aku sedikit paham kepribadian si kutu buku ini. Dia sangat pemalu. Bahkan tadi ketika dikerumuni teman-temannya, dia hampir tidak bicara, cuma tersenyum atau tertawa mengikuti arus pembicaraan yang lain. Sekalipun bicara, itu hanyalah sebatas respon terhadap apa yang teman-temannya bicarakan.
"… Besok aku bayar."
"Jangan memaksakan diri. Perbaiki saja dulu ponselmu."
Memang, tiga ribu rupiah bukan perkara sulit. Tetapi aku sedikit khawatir juga menimbang keadaannya yang merupakan salah satu siswi penerima beasiswa kurang mampu.
Winda tak bicara apa pun lagi setelah itu. Ia berlari keluar menuju pintu Utara, melewati barisan sepeda motor yang terparkir.
Aku harap sudah cukup untuk hari ini. Aku tidak ingin berhadapan dengan masalah apa pun lagi. Aku mengirim pesan pada orang yang sebelumnya aku minta agar tetap di area sekolah. Aku tulis, "aku di kantin, bisa kamu ke sini?"
"Bukannya kamu terlalu kejam padanya?"
Aku tidak kenal siapa yang bertanya. Dia bertubuh tinggi semampai, rambut hitamnya berkilau, panjang mengalir sampai ke pinggang. Tidak mungkin dia siswi seangkatan. Air mukanya terlihat lebih dewasa. Mungkinkah dia kelas dua belas?
"Mungkin kakak benar," jawabku.
Mengesampingkan penampilannya, untuk apa dia menguping pembicaraan kami?
Dia duduk di kursi di mana sebelumnya Winda duduk. "Sebenarnya kalian ini sedang dalam masalah apa, sih?"
Meskipun kakak ini tidak ada hubungannya dengan kelas kami, rahasia tetaplah rahasia. Lagi pula aku sudah berjanji untuk tutup mulut.
"Bukan apa-apa, kok," jawabku secukupnya.
"Dih, dasar pelit!"
Justru aku tidak ingin mengungkapkannya pada tukang ikut campur sepertimu!
Sambil menunjukkan keberatanku terhadap keberadaan kakak kelas ini, aku memeriksa ponsel sekali lagi. Orang yang aku tunggu—si Bendahara—menjawab bahwa dia akan segera ke sini.
"Hey, bagaimana kalau kamu ikut ekskul melukis? Umm, siapa namamu?"
Kau kira aku punya bakat melukis?
"Tidak, terima kasih. Namaku Malik."
"Seruni, dua belas MIPA satu. Kalau kamu?" Kak Seruni mengulurkan tangannya.
"Sepuluh IPS satu," jawabku sambil meraih tangannya berjabatan.
Dia mengeluarkan selebaran kertas dan pulpen lantas menulis sesuatu.
"Sip. Kamu diterima di ekskul melukis. Selamat, ya!"
"Kakak tidak dengar kalau aku bilang tidak?"
"Kami merekrut orang berdasarkan bakatnya, bukan keinginannya."
Makanya sejak tadi aku penasaran dari mana dia melihatku punya bakat melukis?
"Aku tidak pernah melukis," tolakku lagi.
"Tidak apa, tenang saja. Kami juga tidak sering melukis, kok."
Lalu tujuan kalian mengikuti ekskul melukis untuk apa? Kalaupun kalian hendak merekrut orang, kenapa tidak lakukan saja saat demo ekstrakurikuler? Kalian tidak melakukannya, kan? Ya, yang aku ingat selain ekstrakurikuler olahraga, yang melakukan demo antara lain Pramuka, Rohis, Pecinta Alam, Paskibra, Debat Bahasa Inggris, dan Orkes. Sebenarnya aku tahu ada beberapa ekstrakurikuler lain yang juga sama tidak melakukan demo. Apalagi mengingat kami yang baru masuk SMA, kami berhak mendapat selebaran berisi daftar ekstrakurikuler yang ada di sekolah ini.
"Mau tau kenapa? Oh, bagaimana kalau kamu menebaknya?" lanjutnya.
Kalau orang kebanyakan memiliki pikiran yang sama sepertiku, mungkin masalahnya ada pada keberadaan kak Seruni ini yang suka mengganggu. Kedengarannya melukis adalah kegiatan yang butuh konsentrasi dan ketenangan. Dengan kata lain, anggota lain tidak nyaman melukis selagi kak Seruni ada bersama mereka.
"Hanya sedikit anggotanya?"
Masih berdasarkan kepribadianku, maka aku ingin segera meninggalkan tempat yang aku rasa tidak nyaman. Sehingga anggotanya terus berkurang dari waktu ke waktu.
"Wow, hebat! Bagaimana kamu bisa tau?"
Jadi tebakanku benar?
"… Cuma tebakan."
Aku mengangkat tangan terhadap bendahara yang celingukan. Dia menyadari keberadaan kami dan segera kemari dengan langkah cepat. Tidak sepertiku, sepertinya dia ke sekolah tanpa payung.
"Ada apa, Lik?"
Aku merogoh saku, mengambil sisa uang jajanku. Kebetulan kembalian darinya belum aku pakai, jadi aku dapat membayar pas tiga ribu rupiah.
"Dari orang yang belum bayar," ucapku sambil menyodorkan.
"Eh? Siapa?" ia agak terperanjat.
"Seseorang."
"Oh, oke. Mungkin enggak baik nanya kayak gitu. Tapi bagaimana bisa orang itu nitip ke kamu? Kenapa enggak langsung padaku atau Laras?"
"Sepertinya dia lebih percaya padaku."
"Hey, hey, kamu teman sekelasnya? Nama kamu?" kak Seruni menyerobot ke percakapan kami.
"Eh? Ya, aku teman sekelas Malik. Namaku Iris."
Aku kurang suka menyebutkan namanya karena terdengar seperti selaput bola mata. Dalam kata lain, iris juga berarti menyayat. Agak ngeri ketika memikirkan keduanya bersamaan. "Mengiris selaput iris seorang gadis bernama Iris," terdengar sadis, bukan? Maka dari itu aku selalu menyebutnya si Bendahara. Meski pada kenyataannya aku hampir melupakan nama "Iris" karena selalu digantikan dengan "bendahara" sejak hari ketika pengurus kelas ditentukan.
"Wah, nama yang bagus! Seperti nama Dewi Pelangi!" ujar kak Seruni riang.
"Be-begitu, ya? Kata Mama sih namaku diambil dari nama bunga," jawab Bendahara.
"Berarti sama, dong! Namaku juga diambil dari nama bunga. Oh, namaku Seruni. Kelas dua belas."
Setidaknya aku dapat pembelajaran bahwa Iris adalah nama salah satu Dewi sekaligus nama bunga. Mungkin lain kali aku cari tahu seperti apa bunga iris itu. Untuk kak Seruni … yah, aku sudah tahu namanya memang nama bunga, atau mungkin sebagian orang lebih mengenalnya sebagai bunga krisan ketimbang seruni.
"Ngomong-ngomong, kamu penasaran sama siapa yang Malik maksud, kan?"
Sudahlah. Kalau tahu bakal begini, harusnya aku tinggalkan saja kakak kelas yang satu ini. Tidak baik bicara banyak pada seseorang yang bahkan tidak bisa menjaga mulutnya sendiri.
"Enggak jadi, deh. Lebih baik cuma Malik, kak Seruni, sama si pelaku yang tau."
Untungnya, Bendahara lebih dewasa ketimbang kak Seruni. Baiklah, kau mendapat rasa hormat dariku. Mulai sekarang aku bakal memanggilmu Iris, bukan Bendahara lagi.
"Haaah … kalian gak asik!" Kepala kak Seruni merosot sampai menyentuh permukaan meja. "Oh, iya, bukannya kamu mau jelasin bagaimana kamu bisa tau kalau anggota ekskul melukis ada sedikit?"
"Sudah kubilang itu cuma tebakan," aku jawab begitu, tapi sepertinya bukan jawaban semacam itu yang diharapkan kak Seruni.
"Ayolah! Tuh, Iris juga katanya mau tau."
"Hah?" tanggap Iris bingung.
Aku pun ikut bingung bagaimana harus menjawabnya. Tidak mungkin aku jujur berkata bahwa tebakanku sebelumnya itu berdasarkan sikap kak Seruni yang membuat orang lain tidak nyaman.
"Haaah … bagaimana, ya? Mungkin ada tiga kondisi yang menyebabkan aku menarik kesimpulan seperti itu."
Ini adalah pemikiran dadakan. Aku tidak yakin apakah akan memuaskan rasa ingin tahunya. Tidak, kenapa pula aku harus memuaskan rasa ingin tahunya? Aku tidak punya kewajiban untuk melakukan itu. Terlebih, aku ingin segera pulang dan makan siang dengan layak. Aku mohon, setelah ini selesai, biarkan aku pulang!
"Pertama, kakak melakukan promosi langsung padaku. Tidak mungkin bagi ekskul besar mengundang seseorang yang bahkan tidak dikenal. Terlebih, kakak tidak mempermasalahkan apakah aku bisa melukis atau tidak. Tindakan seperti ini biasa dilakukan organisasi yang baru dibangun agar namanya cepat dikenal. Dalam pandangan sekilas, orang-orang akan mengira kalau ekskul melukis ini bagus karena menarik peminat begitu banyak dengan cepat. Padahal kenyataannya anggota ekskul ini berisi orang-orang acak.
"Kedua, masih mengenai promosi. Ekskul melukis tidak menampilkan demo, sehingga para siswa tidak akan mengetahui keberadaan ekskul ini kecuali mereka yang membaca seluruh daftar ekskul di selebaran. Potensi mendapat anggota baru pun semakin rendah karena si calon bakal ragu apakah ekskul ini dikelola dengan baik sampai-sampai tidak menampilkan demo. Apakah tidak ada lukisan yang layak dipamerkan? Atau ekskul melukis terlalu sombong pada orang awam? Dengan tidak ikut serta di acara demo saja sudah menyebabkan efek kupu-kupu.
"Ketiga, kakak bilang ekskul melukis ini tidak sering melukis. Sejauh yang aku tahu, untuk membuat satu lukisan setidaknya harus ada sebuah kanvas, kuas, dan cat. Tentunya semua itu tidak murah. Mengecualikan anggaran dari sekolah, uang kas yang terkumpul tidak mungkin banyak, sehingga pembelian alat dan bahan baru selalu tertunda.
"Kemungkinan terburuk, ekskul ini tidak akan bertahan lebih lama lagi. Maka dengan memaksaku menjadi anggota, setidaknya pembubaran dapat ditangguhkan. Itu yang aku pikirkan."
Aku pikir aku telah mengatakan sesuatu yang kejam. Kak Seruni menundukkan kepala sejak aku selesai menyebutkan poin pertama. Iris juga malah diam seribu basa mendengarkan penjelasanku.
"… Mendengarnya dari orang asing, entah bagaimana rasanya lebih perih daripada memandang kenyataannya dengan mata kepala sendiri."
"Kak Seruni? Kakak enggak kenapa-kenapa, kan?" Iris mengguncang-guncang bahu kak Seruni.
"Tenang aja, Iris. Aku cuma terkejut mendengar Malik mengungkapkan semua kebenarannya hanya berdasarkan obrolan singkat." Kak Seruni mengangkat kepalanya. Matanya terlihat berkaca-kaca. "Padahal kami kira tidak akan ada yang sadar kalau ekskul kami tidak menampilkan demo. Aku sedikit bahagia mendengar Malik peka akan ketiadaan kami."
Sebaliknya, aku tidak merasa bahagia membuat seorang wanita hampir menangis. Iris memberikan isyarat padaku untuk melakukan sesuatu pada kak Seruni. Meskipun didesak seperti ini, aku bingung harus apa sekarang. Seorang wanita yang lebih tua dua tahun pasti memiliki harga diri di mana dihibur oleh adik kelas akan jadi momen memalukan dalam hidupnya. Maka dari itu aku sengaja membisu.
Kak seruni mengambil lagi pulpennya. Kertas yang sebelumnya ditulis nama dan kelasku itu seketika dicoret dengan tiga garis memanjang.
"Memaksa orang memang bukan pilihan yang baik, ya?" Kak Seruni menghela napas. "Yah, terima kasih telah bicara denganku. Aku mau kembali ke kelas sekarang. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan untuk bertanya padaku. Kalian tahu di mana bisa menjumpaiku, kan?"
Kak seruni bergegas merapikan barang-barangnya yang disimpan di meja depan kami. Semuanya buku-buku tebal bersampul hijau. Salah satunya terlihat corak daun. Jadi mungkin ia sebelumnya sedang mengerjakan tugas biologi, lalu tidak sengaja mendengar aku dan Winda membuat keributan lantas menyimak kejadian itu.
"Permisi," ujar kak Seruni sedikit menekankan suaranya. Ia berjalan cepat kembali ke pintu Selatan—menuju gedung sekolah.
Aku memandang Iris sebentar. Ia sepertinya memiliki beberapa pertanyaan yang ingin diajukan padaku. Namun, ia tak kunjung bicara meskipun beberapa kali mulutnya mangap-ngatup seperti ikan. Aku juga tidak ingin menanggapinya saat ini. Lantas aku akhiri dengan ajakan, "Pulang?"
Iris mengangguk. "… Ya."