Mahasiswi berambut panjang itu belum meninggalkan kelas walau jam perkuliahan sudah usai dari beberapa menit yang lalu.
Hara mahasiswi asal bengkulu yang sedang menempuh perkuliahan di salah satu Universitas, dia baru menginjak semester enam.
Gadis itu masih di dalam kelas cekikikan sendiri membaca buku Novel kesukaannya.
"Ra, ayo pulang ke kosan." Heni mengajak Hara.
Hara keluar dari kelas, tapi matanya masih tertuju pada buku, "kalem, Hen. Ini dikit lagi," dia sedikit lagi menyelesaikan cerita bab tiga.
Setibanya di kosan. Heni bercerita bahwa di kelasnya ada mahasiswi baru, dia bercerita panjang lebar bahwa mahasiswi baru itu pendiam, cuek, dan kelihatan tidak ramah.
"Jangan menilai orang dari luarnya, Hen." Hara memotong cerita Heni.
"Siapa tahu dia masih pemalu karena masih mahasiswi baru."
"Iya juga, ya, he eh" Heni menyeringai, tapi merasa bersalah.
***
Besoknya. Hara buru-buru berlari ke kampus, dia bangun kesiangan. Sementara itu Heni masih terlelap, karena kelasnya dimulai sore hari.
"Aduh. Kesiangan. Si Heni malah gak bangun pagi." Hara ngomel-ngomel sendiri, sambil berlari.
Hara mempercepat larinya. Terlihat pintu kelasnya belum menutup berarti masih ada kesempatan untuk masuk.
Gadis itu terlalu fokus pada pintu kelas sampai tidak melihat ada orang berjalan di depannya dan tabrakan pun tak terhindarkan.
"Maaf ya, aku gak lihat." Hara jongkok. Membereskan buku-buku mahasiswi yang dia tabrak.
Mahasiswi itu bungkam. Ikut membereskan bukunya.
"Sekali lagi maaf ya."
Gadis itu mengangguk. Tersenyum tipis lalu bergegas pergi.
Saat Hara melihat lagi pintu kelas. Pintu itu sudah tertutup, dia sedikit kecewa karena sudah buru-buru berlari, tapi hasilnya nihil.
Pagi-pagi kantin kampus sudah di penuhi mahasiswa dan mahasiswi. Hara kali ini akan menyantap sarapan, setelah dua minggu terakhir, dia tidak pernah sarapan dikarenakan adanya kelas pagi.
Hara mencari tempat duduk kosong, dia melihat ada satu orang yang memakai pakaian serba hitam, tapi nyentrik. Sedang makan sendirian tidak ada orang di dekatnya.
Hara mendekati gadis itu lalu duduk berhadapan. Gadis itu menunduk, sambil menyantap sarapannya.
Hitungan menit mereka bedua selesai menyantap sarapan. Gadis asal bengkulu itu sedikit canggung berada dengan orang yang pendiam.
"Nama aku Hara." Hara menjulurkan tangan, memberanikan diri.
"Rara." Gadis itu menyambut tangan Hara. Tersenyum tipis.
"Kamu kuliah sorekan?"
"Iya."
Jawaban-jawaban Rara terlalu singkat. Hara sampai kehabisan pertanyaan basa-basinya.
"Daripada di sini sendiri, mending kamu ikut aku ke kosan." Hara mengajak Rara.
Rara mengangguk, lagi-lagi tersenyum tipis.
Mereka berdua berjalan menuju ke kos-kosan.
"HP kamu nyala." Rara yang dari tadi diam, berbicara.
"HP siapa?" Hara mengecek HP.
Benar saja HP-nya menyala ada pesan masuk dari Heni.
"Ra, beliin aku telur gulung."
"Siap." Balas Hara.
Pintu kos-kosan tidak tertutup, Hara langsung melempar pesanan Heni membuatnya kaget.
"Kamu gak akan percaya siapa yang aku bawa." Hara tersenyum
"Hah." Heni bingung.
Lalu Rara muncul ke ambang pintu. Memperlihatkan seyum tipisnya.
"Ra, ini Heni. Hen, ini Rara. Kalian teman sekelaskan." Hara bergantian menunjuk keduanya.
Mereka menjulurkan tangan. Bersalaman.
***
Beberapa minggu berselang, mereka mulai akrab satu sama lain. Namun, Rara masih sedikit pendiam, tapi Hara dan Heni selalu ditraktir Rara makan ataupun belanja. Bahkan bila gadis itu tidak ada, mereka berdua selalu bergosip tentangnya.
"Rara pasti orang kaya. Walau orang tuanya sudah tidak ada, dia hampir setiap hari mentraktrik kita apapun." Hara bicara pada Heni.
"Heem." Balas Heni singkat.
Hara yang sedikit materialistis semakin penasaran pada Rara. Dari mana dia dapat banyak uang.
Mereka bertiga berjalan pulang dari kampus. Hara yang tingkat penasarannya tinggi mulai mendekati Rara.
"Ra, aku mau nanya nih."
"Iya."
"Jangan tersinggung ya."
"Iya."
Hara mengambil napas dalam.
"Kamu dapat uang dari mana, kok kaya gak pernah kekurangan. Maaf ya, sedangkan orang tua kamu udah gak ada. Kamu kerja?"
Heni yang ingin tahu jawaban Rara mulai menempel. Mendekat.
Rara tidak menjawab pertanyaan Hara. Dia malah mengajak mereka berdua ke gang seperti ingin menunjukan sesuatu, dia lalu berhenti di hadapan Hara dan Heni.
"Kamu ingin uang." Rara tersenyum, sambil memasukan kedua tangannya ke saku jaket hitamnya.
Perlahan Rara mengeluarkan tangannya dari saku, kali ini kedua tangannya muncul dengan menggenggam uang gepokan.
"Kamu mau uang." Rara bicara, sambil menunjukan uang.
Tanpa berpikir panjang Hara melotot, sambil mengangguk. Heni tidak heran melihat Hara tergiur.
"Besok kita bertemu di sini." Rara menyakukan tangan. Pergi.
***
Mereka bertemu di gang. Heni yang tadinya tidak mau ikut, tapi dipaksa Hara. Jadi, dia terpaksa harus ikut.
"Ikut aku." Rara berbalik melangkah.
Hara dan Heni membuntutinya.
Sudah setengah jam mereka berjalan menyusuri jalan setapak pesawahan.
Rara menunjuk mengisyaratkan pada Hara dan Heni bahwa mereka akan menuju ke pohon besar di sana.
Sesampainya di depan pohon besar tersebut, lalu Rara menyentuh pohon itu. Hara dan Heni tidak merasa curiga, mereka melakukan hal yang sama, kemudian dalam sekian detik mereka seperti berpindah tempat. Sekarang di depan mereka ada api unggun besar dengan orang-orang berpakaian serba hitam yang mengelilinginya.
Mereka berdua tidak memalingkan wajahnya dari api unggun tersebut. Pikiran mereka seketika menjadi kosong.
Rara yang tersenyum meraih tangan keduanya, dia menggandeng mereka mendekati api unggun, kemudian datang seorang pria berpakain hitam membawa Hara dan Heni.
Pria itu menyembelih ayam cemani mengambil darahnya, lalu mencucurkannya ke wajah mereka berdua.
Hara yang langsung tersadar mengusap wajahnya dan terkejut. Dia langsung meraih tangan Heni yang belum sadar. Berlari menjauhi Rara yang menyeringai ke arahnya.
Hara dan Heni berhasil keluar dari tempat itu. Heni tersadar lalu terkejut melihat wajah Hara yang di penuhi darah. Gadis itu tak melepaskan tangan Heni berlari dari hadapan pohon tersebut kembali ke kos-kosan mereka.
Dari kejadian saat itu mereka tidak pernah melihat Rara lagi. Seketika kehidupan Hara dan Heni berubah. Mereka sering diganggu oleh makhluk asing. Bahkan makhluk asing tersebut berusaha menghabisi mereka.
***
Beberapa hari kemudian. Berita menyampaikan meninggalnya dua mahasiswi di dalam kamar kos. Mayat mereka ditemukan tanpa kepala dan polisi belum mengetahui siapa dalang dari kasus pembunuhan tersebut.
- Sesat -