Malam itu, aku di tinggal sendirian oleh keluargaku. Ibu bilang, mereka akan menginap sampai besok di rumah bibi.
Seperti biasa, aku mengambil camilan, bantal guling dan menyalakan kipas. Tak lupa pula mengambil hp ku yang ada di nakas untuk membaca manga dan membalas pesan dari teman sekolahku.
Drtt!
Ada telepon masuk dari Rena. Teman sekolahnya yang hobi koleksi CD film horror.
"Al, jangan lupa di tonton film-nya. Besok bawa ke sekolah, ya" ucap Rena di seberang telpon.
"Iya, Ren" ucapku.
Ku ambil laptop ku dan memasukkan CD nya. Loading 5 detik, lalu muncul judul dari film itu.
"Pocong Gentayangan"
Begitu lah judulnya. Durasinya kurang lebih hampir 2 jam. Saat sedang asyik menonton di menit pertama, ada telepon masuk dari Dodi.
Drtt!
"Ya, halo Dodi" sapa ku.
"Lu lagi ngapain, Al?" Tanya nya.
"Aku lagi nonton film horror dari Rena nih" jawabku.
"Gua ke sana, ya. Mau ikut nonton" ucapnya.
"Tumben mau nonton, Di. Biasa nya kan kamu gamau nonton film horror" ucapku.
"Gua gabut di rumah. Tungguin gua, ya. Satu jam nyampe kok" ucapnya.
"Oke deh."
Aku menunggu Dodi sudah 1 jam penuh. Dan film pun sudah menunjukkan tanda-tanda nya hantu pocong akan muncul.
Kebetulan pula, malam itu adalah malam jumat kliwon. Konon katanya, jika sendirian di rumah pada malam jumat kliwon dengan rasa takut yang teramat sangat, maka para setan akan mendatangimu.
Begitu lah yang terjadi pada Alfan. Tak sengaja dia menonton film horror yang di berikan temannya minggu lalu.
Saat ada hantu muncul, terdengar suara telepon. Namun, nomor yang tertera tidak di kenal oleh Alfan.
"Mungkin ini ibu" kata Alfan.
Dia menekan tombol accept, yang berarti dia dia mengangkat telepon nya.
"Halo, Mah" sapa Alfan.
Tak ada jawaban.
"Halo?" sapa nya lagi.
Tetap tak ada jawaban.
Ada perasaan takut saat sapaannya tidak di sahuti. Namun, itu hanya perasaan sekilasnya saja. Alfan mematikan telepon itu.
Beberapa menit kemudian ada telepon masuk dari Dodi.
Drtt!
"Al!" teriaknya.
Dari suara Dodi, sepertinya dia ketakutan, kebingungan dan terburu-buru.
"Kenapa, Di? Coba bicara pelan-pelan. Jangan cepat-cepat" ucapku.
"Gua kecelakaan, Al! Motor gua di tabrak truk! Untungnya gua baik-baik aja. Gua udah deket kok sama rumah lu. Gua tinggal jalan beberapa blok dan sampe rumah lu. Udah ya, di sini rame banget, Al" ucap Dodi.
Bip.
Telepon di matikan sepihak.
Aku mengemhela napas. Semoga saja Dodi tidak apa-apa.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.05 malam.
Ada rasa khawatir terhadap kondisi Dodi. Namun, aku hanya akan menunggunya datang.
Drtt!
Hp ku berdering agak nyaring. Seseorang yang tak ku kenal menelepon lagi.
"Sudah malam begini masih telepon terus. Siapa sih?!" ucapku agak kesal.
"Halo" ucapku, menyapa seseorang di seberang telepon.
Hening.
Tak ada jawaban dari seberang sana.
Saat Alfan hendak mematikan sambungan telepin, ada suara dari orang di seberang telepon sana.
"Hati-hati dengan dia. Dia akan membawamu pergi dan tak akan pernah kembali" ucap seseorang dari seberang telpon dengan suara serak dan sangat dingin. Membuat bulu kuduk Alfan berdiri.
'Apa maksudnya coba?' batin Alfan.
Pukul 00.00 .
Ting tong.
Secara tiba-tiba, suasana di rumah Alfan sangat mencekam.
Ada yang memencet bel rumah Alfan. Alfan yang sedari tadi menunggu kedatangan Dodi pun langsung keluar dari kamarnya dan langsung memuka pintu rumahnya. Terlihat Dodi dengan darah di lengan dan kakinya serta baju dan celananya yang sobek di beberapa bagian.
"Akhirnya kamu datang, Di" ucapku.
Dodi tersenyum.
Aku mempersilahkan Dodi untuk masuk. Dan sekalian aku obati luka-luka nya. Serta meminjamkan nya baju ku.
"Al, temenin liat motor gua yang jatoh itu yok" ajak Dodi.
"Oke, sebentar" ucapku.
Kupakai jaket dan mengambil kunci motorku.
"Ayo" ajakku.
Aku mengeluarkan motorku dari halaman rumah. Dodi sudah duduh di atas motorku. Aku menjalankan motorku.
Setelah beberapa blok dari rumahku.
"Dimana, Di?" tanyaku.
"Lurus aja, depan dikit" kata Dodi.
"Perasaan dari tadi kamu bilangnya itu terus deh" ucapku.
"Perasaan lu aja" balas Dodi.
Ting!
Bunyi chat masuk dari grup whatsapp.
'Di beritahukan kepada teman-teman semua. Dodi, teman sekelas kita meninggal dalam kecelakaan 3 hari yang lalu. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Semoga semua amal ibadahnya di terima di sisi-Nya.'
Aku mengernyitkan dahi. Jelas-jelas Dodi sedang ku bonceng di sepeda motorku. Aku melirik ke arah Dodi, dia tersenyum.
Tiba-tiba motorku oleng, aku tak bida mengendalikannya. Terakhit kali,aku melihat Dodi tersenyum senang dan aku terjatuh ke dalam sungai.
Keesokan paginya.
"Pemirsa, di temukan sebuah jasad di sungai pagi ini. Pria berumur sekitar 18 tahun. Identitas lainnya belum di ketahui karena polisi sedang melakukan autopsi" ucap pembawa berita.
Drtt!
"Ya, halo?" sapa Rena.
Tak ada jawaban.
Rena pun mematikan telepon itu, mungkin saja itu hanya orang iseng.
Drtt!
ponselnya berdering lagi, kali ini lebih nyaring.
"Ya?" tanya Rena.
"Aku mengawasimu. Bersiaplah!" ucap seseorang dengan suara penuh dengan dendam dan sangat dingin.
**
Note: ini cuma karangan saya semata. Gatau deh kalo ada yang nelpon malem-malem trus nomornya ga di kenal itu setan/manusia. MASIH JADI MISTERI YA'-'