Sinar matahari masuk lembut lewat celah tirai, terdengar kicauan burung dari luar jendela. Perlahan aku membuka mata, pandanganku masih buram dan samar-samar. Aku mencoba bangkit duduk perlahan, namun seluruh tubuh terasa nyeri kaku dan sangat berat digerakkan. Saat kesadaranku mulai pulih sepenuhnya, suaraku keluar nyaris tak terdengar: “Di mana ini…? Yang kuingat kemarin aku basah kuyup kena hujan dan kedinginan… kenapa aku ada di sini? Kamar siapa sebenarnya ini?” Kepalaku terasa berdenyut sakit, penglihatanku masih sering kabur, dan tubuhku terasa masih terasa panas.
Aku menoleh ke sekeliling ruangan, dan seketika sadar bahwa ini adalah kamar Adrian. Jantungku seakan berhenti berdetak sesaat, lalu berpacu kencang tak karuan. Di sana, Adrian tampak tertidur lemas di kursi yang diletakkan tepat di tepi kasur. Saat aku berusaha bangkit lebih jauh, mataku langsung tertuju pada selang infus yang menempel di pergelangan tanganku sendiri. Rasa panik seketika menyergapku, aku berusaha mencabutnya sendiri—namun entah sejak kapan dia terbangun, tiba-tiba Adrian sudah berdiri tepat di hadapanku sambil menahan bahuku perlahan agar aku kembali duduk. Tubuhku masih gemetar karena takut, dan seketika jantungku kembali berpacu liar saat aku menyadari ada sesuatu yang berbeda dari pakaian yang kugenakan.
Aku menunduk melihat pakaian tidur berwarna putih dengan hiasan renda yang terasa lembut namun tipis—ini sama sekali bukan pakaian yang kupakai kemarin. Wajahku seketika berubah pucat pasi, mataku terbelalak lebar karena kaget. Aku mencoba berdiri meski kakiku terasa lemas tak bertulang, namun Adrian kembali menahan bahuku dengan lembut namun tegas: “Istirahatlah dulu di sini.”
Aku seolah tak mendengar ucapannya, tanganku gemetar hebat saat kembali berusaha mencabut selang infus itu sendiri, namun Adrian menepis pergerakanku dengan halus. “Siapa yang mengganti bajuku?” tanyaku, suaraku mulai bergetar bercampur amarah dan rasa malu. Adrian hanya diam, matanya beralih menatap ke arah jendela kaca besar tanpa menjawab sepatah kata pun. Melihat sikapnya itu, mataku seketika berkaca-kaca, dadaku terasa sesak menahan tangis yang tak lama lagi akan meledak keluar.
Tanpa berpikir dua kali lagi, aku mencabut selang itu sendiri hingga darah segar menetes membasahi kulit pergelangan tanganku. Adrian hendak mendekat untuk menenangkan, namun aku sudah tak sanggup lagi menahan emosi: “Lepaskan aku! Kau bajingan!” teriakku sekuat tenaga meski suaraku masih terdengar serak dan lemah. Sambil terengah-engah, aku memukul dada Adrian dengan kedua tanganku yang tak bertenaga, mendorongnya sekuat sisa tenagaku—namun kekuatanku terlalu kecil, hingga tubuhku sendiri malah ikut terguncang dan goyah. Akhirnya aku jatuh terduduk dan menangis terisak-isak di tepi kasur.
Adrian berlutut tepat di hadapanku, berusaha menatap lurus ke dalam mataku: “Aku tidak menyentuhmu. Aku hanya mengganti pakaianmu yang basah kuyup agar kau tidak semakin sakit. Tak ada hal lain yang kulakukan, aku menjaga kehormatanmu.”
Namun aku tak peduli dengan penjelasannya, air mataku justru semakin deras jatuh membasahi pipi. Aku menatap Adrian dengan pandangan tajam yang penuh perih, lalu tanpa sadar tanganku melayang menampar pipinya dengan gerakan yang pelan namun tegas—tamparan itu mungkin tidak terasa sakit baginya, namun bunyinya terdengar jelas memecah keheningan ruangan. “Kenapa… kenapa kau sendiri yang harus melakukannya?” isakku tertahan di tenggorokan.
Adrian menelan ludah perlahan, berusaha menahan emosi yang mulai naik ke permukaan, lalu bangkit berdiri pelan: “Kalau aku tidak melakukannya sendiri, mungkin kondisimu saat ini sudah jauh lebih buruk dari yang kau kira.”
“Kenapa kau tidak saja membiarkanku mati saja?” sahutku dengan suara parau namun penuh kepahitan.
Seketika tatapan Adrian berubah menjadi sangat dingin dan tajam, ia mendekatkan wajahnya perlahan ke arahku: “Kau belum boleh mati dulu. Kontrak pernikahan kita masih sangat panjang. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu pergi begitu saja sebelum semuanya selesai?” Ia pun berbalik badan hendak meninggalkan ruangan, namun langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu. “Diamlah di sini dan istirahat dengan benar. Jangan coba-coba pergi ke mana-mana,” ucapnya sebelum menutup pintu kamar itu rapat-rapat dari luar.
Aku hanya bisa menangis sendirian di sana. Entah mana yang harus kupercaya, namun hatiku tetap terasa perih dan sakit—meski mungkin tidak ada hal buruk yang terjadi, aku tetap tak rela jika tubuhku dilihat dan diurus oleh orang yang sama sekali belum bisa kupercaya.
Setelah tangisanku perlahan mereda, kesadaranku seketika tersentak keras. Aku baru menyadari bahwa di balik pakaian tipis itu tidak ada lapisan kain lain yang menutupi tubuhku—aku sama sekali tidak mengenakan pakaian dalam. Tanpa sadar aku menjerit pelan karena kaget, buru-buru menarik selimut hingga menutupi rapat sampai ke bagian leher, sementara seluruh tubuhku gemetar hebat menahan rasa malu yang luar biasa.
Padahal tadi saat kita berbicara, Adrian sempat berdiri cukup dekat denganku... pasti dia sudah melihat semuanya. Tanganku mencengkeram kain selimut itu sekuat tenaga hingga buku-buku jariku tampak memutih, rasa malu, takut, dan sakit hati menyergap dadaku seketika tanpa bisa kutolak.
Sementara itu, Adrian berjalan masuk ke ruang kerjanya lalu jatuh terduduk di kursi besar miliknya. Ia menengadah menatap langit-langit ruangan, pandangannya kosong menembus dinding yang gelap, sebelum akhirnya ia memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan sosok Zara tadi kembali hadir di benaknya—meski semalam ia berusaha tidak melihat jelas, namun pagi tadi... pagi tadi cahaya matahari cukup terang hingga ia tanpa sengaja melihat apa yang seharusnya tak dilihatnya. Gambar itu kini terus berputar tanpa henti di dalam kepalanya.
Perlahan ia membuka matanya kembali, iris matanya yang berwarna biru pucat tampak sedingin es yang membeku. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang penuh kebencian terhadap dirinya sendiri, lalu ia bergumam pelan dengan nada yang penuh rasa kesal dan kecewa pada diri sendiri: “Kau benar-benar bajingan... bagaimana mungkin kau berani membayangkan hal seperti itu pada gadis yang masih terlihat seperti anak kecil?”
Bagi Adrian, Zara selama ini selalu terlihat seperti anak kecil yang butuh perlindungan, bukan orang yang harus dipandang dengan pandangan lain. Selama ini tak pernah sekalipun ada perasaan atau pikiran yang tidak pantas terselip di hatinya. Ia tak mengerti apa yang merasuki pikirannya pagi ini, hingga membuatnya goyah sejenak dari prinsip yang selalu ia pegang teguh.
Zara memang cantik, hal itu tak bisa ia pungkiri—matanya bersinar lembut, wajahnya tampak halus dan tulus. Namun hal itu tak mengubah pandangannya sedikit pun, ia tetap melihat Zara hanya sebagai gadis yang harus dijaga. Dan pikiran tak pantas yang sempat terlintas tadi adalah hal yang sangat tidak benar, sesuatu yang tak pantas ia arahkan pada gadis itu.
Tak lama kemudian dokter keluarga datang, dan Adrian sendiri yang menyambut serta mengantarnya masuk kembali ke dalam kamar. Saat pintu terbuka, terlihat Zara sudah kembali tertidur pulas, namun selimutnya merosot sedikit hingga memperlihatkan sebagian bahunya. Adrian segera mempercepat langkahnya, bergerak lebih dulu sebelum dokter sempat melihat lebih jauh, lalu menarik kembali selimut itu hingga menutupi rapat seluruh tubuh Zara.
Dokter sempat tersenyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan, namun segera mengubah raut wajahnya menjadi serius dan mulai melakukan pemeriksaan dengan teliti. Ia melihat bekas bekas tusukan infus yang terlepas, lalu segera memasang kembali selang yang baru dengan hati-hati.
“Apakah Nyonya Zara sudah diberikan obat pagi ini?” tanyanya dengan suara pelan.
Adrian terdiam sejenak, baru saat itu ia menyadari hal itu sempat terlupakan. “Aku akan memastikannya segera setelah ia bangun,” jawabnya singkat.
“Baiklah. Secara umum kondisi tubuhnya sudah mulai membaik, namun yang paling penting saat ini adalah istirahat total dan asupan makanan yang cukup,” ujar dokter itu sebelum perlahan berjalan keluar meninggalkan kamar.
Setelah dokter pergi, Adrian masuk ke kamar mandi, lalu menyalakan keran air hingga mengalir deras. Air yang dingin membasahi seluruh tubuhnya yang tegap dan berotot, rambutnya yang berwarna pirang keemasan kini lepek basah menempel rapi di dahinya. Saat keluar dari sana, ia hanya melilitkan handuk putih di bagian pinggang, garis otot di lengan dan dadanya terlihat jelas saat ia menggosokkan handuk kecil ke rambutnya agar cepat kering. Setelah selesai, ia berdiri diam sejenak, menatap lembut ke arah tempat tidur tempat Zara masih terlelap nyenyak.
Adrian melangkah perlahan menuju lemari pakaiannya, membukanya lalu mengambil pakaian yang diperlukan dan mengenakannya satu per satu dengan tenang tanpa terburu-buru. Setelah penampilannya rapi kembali, ia berbalik arah lalu duduk kembali di kursi yang ada di tepi kasur, seolah tak berniat pergi ke mana pun hari ini.
Ia menumpukan kedua sikunya di tepi meja kecil di samping tempat tidur, tangannya mengepal saling bertumpu menopang dagu. Kepalanya sedikit miring, sementara matanya menatap lurus tepat ke arah wajah Zara yang sedang tidur lelap. Tatapannya terlihat sangat tajam, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat dan rumit di dalam benaknya—tak ada satu pun orang yang tahu apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
Tak lama kemudian aku mulai kembali terbangun perlahan. Kelopak mataku terasa sangat berat untuk dibuka. Pandanganku masih samar di awal, namun perlahan mulai terlihat jelas saat aku menoleh ke samping. Di sana Adrian sedang duduk diam di kursi, tangannya sibuk bergerak di atas layar laptop yang terbuka di hadapannya, sementara beberapa lembar berkas dokumen berserakan rapi di atas meja. Tak jauh berdiri dari sampingnya, Yamal berdiri tegak dengan tenang sambil menunggu perintah selanjutnya.