Kisah Romie abd yuli, kisah cinta Abadi.
" Massss, jangan pergiiiiii...!!!" teriak seorang wanita muda memekakkan telinga. Sehingga membuat orang-orang yang berada di sekitar taman melirik ke arahnya. Ada yang berbisik-bisik sinis, ada juga yang berbisik meledek.
Saat sadar, wanita muda itu menundukkan pandangannya yang di rasanya memalukan. Keadaan itu kembali terjadi, di mana kenangan pahit terulang kembali.
Wanita muda itu adalah aku. Namaku Viola Berliani. Seiringnya waktu, orang-orang menyebutku Ola. Aku wanita periang dan supel sekali. Tiap hari, hari-hariku di isi dengan keceriaan.
Tapi, setelah aku kehilangan seseorang yang berarti banget buatku, aku seperti orang yang kehilangan arah. Di mana hidupku sudah tidak ada artinya.
" Kamu jangan bersedih sayang," suara bisikkan terdengar di telingaku. Aku tersenyum saat aku melirik ke arah yang berbisik tadi. Ternyata suara itu milik suamiku, mas Rian.
" Mas, kamu ke mana aja? Aku rindu mas," ucapku manja, aku bersandar di pundaknya. Aku tatap sekeliling taman, kenapa semua orang seperti menatapku dengan tatapan mata seperti itu?
" Mas, kita pergi yuk?! Di sini orangnya pada engga asik ah. Kepo mulu." ajakku. Kemudian aku menggandeng tangannya, tangan suamiku, Mas Rian. Aku lihat mas Rian hanya tersenyum padaku. Kemudian mengangguk dan kami berdua pun pergi bersama-sama.
Kami pergi ke tempat favorit kami, yaitu ke Cafe coffee. Setelah sampai ke cafe, kami berdua duduk. Aku lihat mas Rian tersenyum padaku. Ia memegang tanganku, kami berdua sama-sama tersenyum bahagia karena bisa bersama lagi setelah berbulan-bulan tidak bertemu. Sampai pada akhirnya, seorang pelayan datang dan menanyakan menu yang akan di pesan.
" Biar aku saja yang pesankan ya, mas?" tuturku, ku lihat mas Rian mengangguk.
" Mba, saya pesan satu jus mangga ya gak pake lama." ujarku, kemudian di tulis oleh pelayan tadi. Kemudian pelayan itu pergi. Namun, di cegah olehku.
" Bentar, mba. Suamiku kan belum memesan. Sabar dikit ya mba," sahutku. Sesembak pelayan tadi nampak kebingungan karena yang ia lihat aku datang hanya sendiri.
Aku melirik ke arah mas Rian, " Mas mau pesan apa? kopi aja ya?"
Mas Rian mengangguk. Lalu ku pesankan minuman untuk suamiku, " Mba, kopi satu ya? Engga pakai lama!"
Walaupun nampak kebingungan, sesembak pelayan itu hanya manggut-manggut dan menulis pesanan terakhir. Setelah itu, sesembak tadi pergi meninggalkan pengunjung kafe yang kelihatan orang aneh.
Tidak berapa lama kemudian, sesembak pelayan tadi datang dengan membawa dua pesananku. Satu jus mangga dan satu lagi kopi panas nan harum. Mataku membulat, melihat pesanan yang diantar buat suamiku ternyata salah.
" Mba kok kopi pahit sih? Kan saya bilang kopi susu. Gimana sih ini! Sudah ah, saya engga jadi pesan! Bye! Ayo mas, kita pergi dari sini!" ujarku dengan bernada tinggi. Aku kesal karena yang di bawa pelayan tadi tidak sesuai dengan pesananku.
Aku keluar dengan perasaan dongkol dan kesal. Pergi dengan perasaan murka.
" Huh dasar wanita stres, dia engga bilang pesen kopi apa, cuma bilang kopi satu. Engga bilang kopi susu. Mana kopinya di pesen buat suaminya lagi, suami apaan orang dia datang sendirian." pelayan itu terus saja bergumam, memaki diriku yang pergi seenaknya tanpa membayar karena pesanan tidak sesuai.
Di perjalanan.
" Mas, maaf ya kalau pelayan tadi rada kurang sedikit. Maklum dia kayaknya budi, budek dikit." tuturku, sambil memegang tangannya.
Aku lihat mas Rian hanya tersenyum saja dari tadi. Ia tidak seperti biasanya yang ikut menimpali saat aku bersikap seperti tadi.
🍁🍁🍁
Banyak yang bilang aku gila setelah kehilangan mas Rian. Itu beberapa bulan yang lalu. Karena hari ini, mas Rian sudah datang. Dan berita kematian mas Rian semuanya itu bohong. Buktinya dia datang setiap aku membutuhkannya.
" Ola, sedang apa kamu di taman sendirian?" tanya seorang laki-laki bertubuh tegap dan atletis. Dan juga berparas tampan. Aku melirik ke arah suaranya. Suara itu aku kenal juga. Dia temanku, teman kuliahku dan juga teman mas Rian.
Dulu kami bertiga satu kampus. Kami selalu jalan bertiga. Semua orang menyebut kami tiga serangkai. Persahabatan kami tak pernah ada keributan.
Namun, seiring berjalannya waktu, aku dan dua sahabatku terlibat cinta segitiga. Dimana Septian Al Rizki dan Bramantyo Adijaya, mereka berdua sama-sama menyukaiku.
" Sedang menikmati suasana sore bersama mas Rian." jawabku ketus, berkali-kali aku melirik ke arah mas Rian.
" Rian?" tanya Bram. Ia tahu yang di maksud olehku adalah Septian Al Rizki biasa aku panggil mas Rian.
Aku mengangguk. Aku terus menatap matahari yang sedang menyinarkan cahaya senjanya. Waktu menunjukkan pukul empat tiga puluh. Sinar matahari mulai memancarkan cahayanya yang redup. Dan berubah menjadi senja di sore hari.
" Ola, dengarkan aku! Rian itu sudah tidak ada. Dia sudah pergi, Viola! Lupakan dia dan kembalilah kamu seperti yang dulu!" berkali-kali dia menasihatiku agar aku sadar bahwa orang yang berada dalam khayalanku itu sebenarnya sudah tidak ada.
Aku menatap tajam padanya. Bagaimana mungkin mas Rian pergi. Setiap hari, dia selalu ada di sampingku. Hari ini pun mas Rian hadir tepat di sampingku.
" Mas Rian masih ada, Bram. Enyah kau dari hadapanku!" gertakku padanya. Lalu aku berdiri dan hendak pergi dari taman. Sambil menggaet tangan mas Rian yang sedari tadi menatapku.
Akan tetapi, Bram mencegah diriku untuk pergi. Ia menarik tanganku hingga aku bersandar di dadanya. Bram pun langsung memelukku erat. Aku meronta-ronta, melepaskan pelukannya.
" Lepaskan aku, Bram! Biarkan aku pergi bersama mas Rian!" titahku. Dengan suara menghiba. Berharap dia mau melepaskan pelukannya.
" Viola, dengar, Rian sudah pergi. Ia tidak akan pernah kembali lagi. Jangan siksa dirimu dengan cara seperti ini, Viola! Masa depanmu masih panjang. Hiduplah bersamaku, aku mencintaimu!" jelasnya, sambil memeluk erat tubuhku.
" Tidak! Rianku masih hidup, Bram. Ia masih hidup sampai sekarang. Dia masih ada menemani diriku." jeritku, terisak-isak.
" Terimalah kenyataan, Viola. Rian sudah tidak ada lagi di bumi. Biarkan dia tenang di alamnya. Jika kamu terus begini, kamu akan menjadi gila, Viola. Dan, orang yang paling bersedih adalah kedua orangtuamu, Almarhum suamimu, dan juga aku." bram terus berkata itu padaku. Perkataannya terkadang membuat hatiku hancur berkeping-keping. Ia selalu menyebut bahwa mas Rian itu sudah meninggal. Tapi, aku yakin mas Rian itu masih ada.
Aku mendorong tubuhnya, kemudian berlari secepat mungkin. Aku benci Bram. Dia selalu berkata suamiku sudah tiada. Bagiku mas Rian masih ada.
Aku berlari terus berlari sampai aku tidak menyadari aku berlari ke arah jalan raya. Nyaris saja tubuhku di tabrak mobil truk besar.
" Aaargh...!!!" jeritku, menutupi telinga. Aku teringat mas Rian kembali. Kecelakaan itu, kecelakaan di mana mas Rian dan aku...
Tin.. Tin... Tin...!!!
Suara klakson mobil berbunyi berkali-kali. Terdengar juga umpatan dari sang supir truk.
" Hei Nona, kalau mau mati jangan di jalan raya!" umpat dan makian keluar dari mulut supir truk yang tiba-tiba berhenti saat aku melintasi jalan raya tanpa melihat kanan kiri. Untungnya jalanan rada sepi, hanya ada mobil truk itu sendirian.
" Maaf pak, maaf. Isteri saya sedang marah sama saya," sahut bram, berkali-kali meminta maaf. Menarik tubuhku dan memelukku.
" Lain kali kalau bertengkar jangan di jalan mas! Di rumah saja." ujar supir truk itu.
" Iya pak, maaf ya pak. Maafkan isteri saya yang tidak melihat ada mobil." kata Bram, masih dengan nada memohon.
Tanpa menunggu lama mendengar ocehan Bram, sang supir truk pergi meninggalkan mereka berdua.
" Lihat! Apa yang kamu lakukan, Viola? Kamu, uugh, berkali-kali aku katakan, Septian sudah tiada. Dia sudah meninggal, Ola. Sadar kamu sadar!" kembali Bram mengatakan itu padaku. Aku berontak dan melepaskan diri dari pelukan Bram. Aku dorong tubuhnya dengan kuat, hingga ia terjatuh ke tanah.
" Denger ya Bram, Rianku masih hidup. Ia masih ada di sini. Lihat! Itu lihat Bram, dia melihatku sedang bertengkar denganmu." ujarku, sambil berteriak. Lalu aku pergi ke arah suamiku berdiri. Namun, hanya aku yang bisa melihatnya.
" Mas, lihat temanmu itu sudah gila. Dia bilang bahwa kamu sudah meninggal. Itu semua bohong kan mas?!" kata-kata itu keluar dari mulutku.
Aku lihat suamiku diam, kemudian pergi menjauh dariku. Aku berusaha mengejarnya, tapi Bram sudah lebih dulu mencegahku untuk mengikuti Rian.
" Kamu mau ke mana, Viola? Dengar Vi, suamimu sudah pergi. Kamu harus bisa mengikhlaskan dirinya pergi." jelasnya, padaku.
Namun aku masih bergeming, tidak mempercayai dirinya yang terus menerus membuat pernyataan itu.
Aku lihat Bram mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya. Dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku.
" Ini surat dari Rian, terakhir sebelum dia kecelakaan sore itu..." tuturnya, sambil menyerahkan surat yang di tulis oleh suamiku. Aku membuka dan membacanya,
🍁🍁🍁
Teruntuk isteriku,
Viola.
Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu, jika suratku ini membuatmu sangat membenci diriku. Bahkan membuat hatimu terpukul dengan kepergianku.
Viola sayang, mungkin ketika kamu membaca suratku ini, aku sudah lama pergi meninggalkan kamu. Aku pergi menebus kesalahanku padamu. Maafkan aku, Viola. Aku telah berkhianat padamu. Aku telah mengkhianati cinta sucimu.
Sebenarnya aku sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan dirimu. Itu juga karena desakan kedua orangtuaku yang menginginkan aku menikah dengan putri dari kolega ayahku. Aku ingin menolaknya, tetapi aku tidak bisa.
Selama berbulan-bulan aku memendam perasaan ini, aku ingin berkata jujur padamu, tapi aku takut untuk menyakiti hatimu. Aku tak mau kamu jadi membenci diriku.
Untuk menebus kesalahanku dan kesetiaanmu padaku, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Terima kasih atas cinta yang kamu berikan untukku. Teruslah hidup bahagia bersama Bramantyo. Aku lihat ia sangat mencintaimu. Bukalah hatimu untuk cinta Bram. Hiduplah bersamanya, dan lupakan aku.
Salam manis selalu
Cintamu, Rian.
🍁🍁🍁
" Kamu tahu, waktu itu aku berupaya mencegahnya untuk bunuh diri dengan cara terjun bebas dari jurang pembatas jalan di jalan sana. Namun, waktu itu aku berhasil mencegahnya. Berkali-kali aku bilang padanya bicarakan sejujurnya padamu, tapi ia selalu bilang, dia tidak ingin kamu terluka." jelas Bram, sambil memegang tanganku.
Aku mencoba berdiri menyeimbangkan tubuhku yang hampir terjatuh sehabis membaca surat terakhir mas Rian. Air mataku mulai berjatuhan kembali. Namun, hati ini seakan tak percaya mas Rian menikah lagi tanpa sepengetahuan diriku. Hatiku hancur, sakit.
" Rian sengaja tidak memberitahukan kamu soal pernikahan keduanya, karena ia tidak ingin kamu sakit hati, Viola. Tapi, caranya mengakhiri hidupnya itu sangat-sangat bodoh menurutku. Maafkan aku yang tidak bisa melindungi suamimu yang berusaha untuk mengakhiri hidupnya." Bram berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Tanpa aku sadari, aku jatuh dalam pelukannya. Menangis sekencang-kencangnya sampai membasahi baju yang di kenakan oleh Bram.
" Kenapa mas Rian melakukan ini, Bram? Kenapa?" tanyaku dalam isak tangis.
" Aku tidak tahu, Vi. Yang aku tahu, Rian sangat mencintaimu. Dan aku pun mencintai dirimu." jawabnya sambil membelai rambut hitamku.
" Tolong terimalah cintaku ini. Aku janji, aku akan setia mendampingi hidupmu sampai maut memisahkan." pintanya.
Aku menatap kedua bola matanya yang bening. Ada semburat cinta terlihat dari kedua matanya. Cinta yang tulus terlihat olehku.
Apakah aku harus menerima cintanya? Setelah aku di khianati oleh suamiku sendiri. Haruskah aku percaya pada Bram? Hatiku terus menerus bertanya-tanya.
" Baiklah Bram, aku ambil keputusan ini. Aku mau menikah denganmu." aku memutuskan untuk menikah dengan Bram, sahabatku dan sahabat suamiku.
Bram terlihat bahagia. Setelah itu, Bram mengantarkanku pulang ke rumah.
🍁🍁🍁
Satu bulan kemudian...
Teruntuk Mas Bram...
Maafkan aku ya mas, aku tidak bisa menikah denganmu. Aku terlanjur sakit hati dengan pernikahan. Semalam mas Rian datang menjemputku, dan aku menyanggupinya. Aku menyadari, walaupun mas Rian mengkhianati diriku, aku masih tetap mencintai dirinya.
Maka aku putuskan, aku akan pergi dari dunia ini untuk selamanya. Aku mohon mas, jangan pernah membenci diriku. Aku hargai cinta dan ketulusanmu, tapi maaf mas, aku tidak bisa menjadi bagian dari hidupmu. Terima kasih atas persahabatan kita yang indah. Terima kasih juga karena telah mengisi kekosongan di tiap hari-hariku di saat kepergian suamiku yang juga sahabatmu.
Aku pergi, dan menikahlah dengan wanita yang benar-benar mencintaimu dengan tulus.
Temanmu,
Viola.
Bram menatapku yang sudah berlumuran darah. Dia tidak menyangka di hari pernikahannya, ia mendapati tubuh calon isterinya mati dengan cara bunuh diri.
" Violaaaa...!!!" pekik Bramantyo sambil memeluk tubuhku. Memegang tangan kiriku yang terluka akibat sayatan pisau yang mengenai urat nadinya dan menyebabkan diriku meninggal.
Semua orang yang hadir di acara sakral itu benar-benar terkejut. Bahkan kedua orangtua Viola pun tidak pernah menyangka bahwa Viola berani berbuat seperti itu. Baju pengantin berwarna putih seketika berubah menjadi merah darah karena darah yang terus menerus keluar dari luka sayatan yang menganga itu.
Tak berselang lama kemudian, Bram mengambil pisau yang masih berada di tanganku. Rupanya ia juga menyusul diriku, dengan cara menghujamkan pisau itu ke perutnya.
Semua orang yang menyaksikan menjerit ketakutan. Bram meninggal tepat di samping jenazahku.
Tiga Hati Satu Cinta.
Tamat...
🍁🍁🍁