Di negeri bernama Aramaya, langit selalu tampak biru dari kejauhan. Istana berdiri megah di atas bukit batu pualam, berlapis emas dan kaca kristal. Dari kejauhan, orang akan mengira negeri itu makmur, tenteram, dan diberkati.
Tetapi dari dekat—di gang-gang sempit, di ladang yang retak, di pasar yang setengah kosong—tercium bau kelaparan.
Raja Wiradana memerintah dengan wajah tegas dan suara lantang. Di sampingnya, Ratu Maegantara selalu tersenyum anggun di depan rakyat, sementara di balik tirai istana ia menjadi penasehat paling keras dan tak kenal belas kasihan.
“Negara besar tidak dibangun dengan kelembutan,” kata sang Ratu suatu malam ketika mereka memandangi kota dari balkon tinggi. “Rakyat harus ditekan agar taat.”
Menteri Keuangan, Aryawikrama, mengangguk setuju. Ia lelaki cerdas, mahir berhitung, dan lebih mahir lagi menyembunyikan angka.
“Pajak dinaikkan sepuluh persen lagi, Paduka,” ujarnya. “Dengan alasan pembangunan pelabuhan dan perbaikan jalan.”
“Padahal?” tanya raja.
Aryawikrama tersenyum tipis. “Padahal pelabuhan itu sudah cukup. Sisanya… untuk kestabilan.”
Kestabilan adalah kata yang indah untuk menyebut kemewahan istana.
Tentara-tentara kerajaan dipimpin Panglima Jayantaka, sosok gagah yang disegani. Ia memastikan tak ada suara sumbang terdengar terlalu keras.
Di Aramaya, kritik disebut pengkhianatan.
Pendapat disebut ancaman.
Dan doa pun diawasi.
---
### I. Pajak dan Tangis
Di desa Kalaputra, seorang petani tua bernama Sagara menghitung sisa gabahnya. Tangannya gemetar.
“Tidak cukup,” gumamnya.
Anaknya, Lestari, menatap lumbung yang hampir kosong. “Ayah, pajak panen naik lagi?”
Sagara mengangguk. “Jika tidak dibayar, tanah kita disita.”
Lestari memejamkan mata. Tanah itu warisan tiga generasi. Kini seakan tak lagi milik mereka sendiri.
Pasar menjadi sunyi. Pedagang mengeluh. Harga melambung. Uang berputar di tangan para saudagar kaya yang dekat dengan istana. Sementara rakyat kecil hanya saling berhutang.
Ekonomi perlahan membusuk.
Namun di istana, pesta tetap berlangsung. Musik dan gelas kristal beradu. Gaun sutra dan jas mahal memenuhi aula.
Ratu Maegantara mengangkat gelasnya. “Untuk kemajuan Aramaya.”
Sementara di desa, seorang ibu menjual cincin pernikahannya demi membeli obat anaknya yang demam.
---
### II. Wabah
Musim kemarau datang panjang dan menyakitkan. Sungai menyusut. Sawah mengering. Lalu wabah muncul seperti bayangan yang tak diundang.
Orang-orang batuk darah. Anak-anak demam tinggi. Rumah sakit penuh.
Rakyat meminta bantuan.
Tetapi dana kesehatan telah “dialihkan”.
Menteri Aryawikrama menyebutnya restrukturisasi anggaran.
“Prioritas kita pembangunan jangka panjang,” katanya dalam sidang kerajaan.
“Rakyat sekarat,” kata seorang penasihat tua dengan suara bergetar.
Panglima Jayantaka menatapnya dingin. “Jangan memperkeruh suasana.”
Penasihat itu menghilang keesokan harinya.
Tak ada yang berani bertanya.
Agama pun menjadi alat.
Seorang pemuka agama istana, Mahaguru Suradipa, berdiri di mimbar dan berkata, “Wabah ini ujian kesetiaan. Barangsiapa patuh pada raja, ia akan dilindungi.”
Rakyat dipaksa percaya bahwa penderitaan adalah bagian dari takdir, bukan akibat kebijakan.
Kotak amal diedarkan. Dana mengalir. Sebagian sampai pada yang membutuhkan, sebagian besar menguap entah ke mana.
---
### III. Suara yang Dibungkam
Di kota, seorang jurnalis muda bernama Aruna menulis artikel tentang korupsi proyek pelabuhan.
“Data ini jelas,” katanya pada rekannya. “Anggaran dua kali lipat dari kebutuhan.”
Malam itu kantornya digerebek.
Ia dituduh menyebarkan kebohongan.
Suaminya mencari ke mana-mana, tapi tak menemukan jejak.
Di Aramaya, orang bisa hilang tanpa jejak—dan keesokan harinya semua orang berpura-pura lupa.
---
### IV. Lingkaran Kekayaan
Sementara itu, keluarga saudagar kaya semakin makmur. Anak-anak mereka belajar ke luar negeri. Mobil-mobil baru memenuhi jalan protokol. Gedung-gedung tinggi dibangun oleh perusahaan milik kroni istana.
Rakyat kecil? Mereka berdesakan dalam antrean bantuan yang tak pernah cukup.
Kekayaan hanya berputar di lingkaran yang sama.
Pajak naik.
Harga naik.
Upah tetap.
Suara dibungkam.
Doa diperjualbelikan.
Dan istana tetap bersinar.
---
### V. Tanda-Tanda
Namun alam memiliki cara sendiri.
Suatu malam, gempa mengguncang Aramaya. Retakan muncul di dinding istana.
Raja Wiradana terbangun dengan napas tersengal.
Ia bermimpi melihat lautan rakyat berdiri di hadapannya, diam tanpa suara, tetapi mata mereka menyala seperti api.
“Karma…” bisik suara dalam mimpinya.
Ia menepisnya sebagai bunga tidur.
Namun wabah semakin parah. Ekonomi benar-benar runtuh. Saudagar mulai menarik investasinya. Mata uang merosot. Tentara pun mulai gelisah karena gaji tertunda.
Di barak-barak, bisik-bisik terdengar.
“Kita menjaga siapa?” tanya seorang prajurit muda. “Rakyat atau istana?”
Panglima Jayantaka merasakan ketegangan itu. Ia mencoba menekan, tapi gelombang keresahan terlalu besar.
---
### VI. Runtuh
Hari itu akhirnya tiba.
Rakyat berkumpul di alun-alun. Bukan dengan senjata, tapi dengan tubuh kurus dan wajah putus asa.
Mereka tidak lagi berteriak. Mereka hanya berdiri.
Dan diam.
Diam yang lebih mengerikan daripada amarah.
Tentara diperintahkan membubarkan massa.
Namun beberapa menurunkan senjata.
Panglima Jayantaka menatap lautan manusia itu—ia melihat ibunya di antara mereka, berdiri dengan tongkat tua.
Tangannya gemetar.
Perintah tak lagi berarti.
Di dalam istana, Raja Wiradana mendengar gemuruh langkah.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar takut.
Ratu Maegantara mencoba tetap tenang. “Ini hanya pemberontakan kecil.”
Namun pintu gerbang roboh.
Bukan oleh kekerasan.
Tapi oleh jumlah.
Oleh rasa sakit yang terlalu lama ditahan.
Menteri Aryawikrama mencoba melarikan diri melalui lorong rahasia, tetapi ia tertangkap oleh rakyat yang dulu tanahnya ia sita.
Mahaguru Suradipa diseret dari rumah mewahnya. Kotak amalnya terbuka—isi emasnya tumpah ke jalan.
Raja dan ratu berdiri di balkon yang dulu mereka gunakan untuk melambai dengan bangga.
Kini tak ada yang melambai kembali.
Hanya ribuan mata menatap.
Tanpa teriakan.
Tanpa sorak.
Hanya sunyi yang menuntut keadilan.
---
### VII. Karma
Raja Wiradana akhirnya diturunkan. Tidak dengan pedang, tetapi dengan pengadilan rakyat.
Harta istana disita untuk membangun kembali rumah sakit dan ladang.
Menteri dan pejabat korup diadili. Beberapa dipenjara. Beberapa kehilangan semua yang mereka kumpulkan dengan licik.
Ratu Maegantara jatuh sakit—bukan wabah, melainkan penyakit yang menggerogoti perlahan. Dalam kesendirian, ia teringat wajah-wajah rakyat yang dulu ia anggap kecil.
Panglima Jayantaka mengundurkan diri, memilih hidup sederhana di desa, menebus diamnya selama ini.
Aramaya butuh waktu lama untuk pulih.
Luka tidak hilang dalam sehari.
Namun satu pelajaran tertulis jelas di hati mereka:
Bahwa kezaliman mungkin tampak kuat.
Korupsi mungkin tampak tak tersentuh.
Agama mungkin bisa dipelintir.
Rakyat mungkin bisa dibungkam sementara.
Tetapi hukum sebab-akibat tak pernah tidur.
Karma bukan kutukan mistis.
Ia adalah gema.
Apa yang kau lemparkan ke dunia, akan kembali dengan cara yang tak terduga.
Istana bisa dibangun dari emas.
Tetapi jika fondasinya adalah tangis rakyat—
ia hanya menunggu waktu untuk runtuh.
Dan Aramaya menjadi saksi:
Karma itu nyata.