Karang Sambung, Pinggiran Kebumen
27-28 Juli 2018 | Selepas dini hari
Pada tengah malam seperti ini, santri laki-laki di pondok pesantren Baitul Ilmi sudah terlelap menunggu jam sholat tahajjud dan sholat sunnah khusuf (gerhana bulan). Mereka tidur di teras masjid, serambi asrama, atau bahkan tergeletak di kantor tata usaha madrasah. Semangat mereka menimba ilmu agama memang tiada tanding. Kelaparan dan kekurangan uang adalah cobaan remeh bagi sebagian besar mereka.
Pesantren sederhana di daerah Kebumen ini letaknya jauh dari pusat keramaian. Bahkan jika diamati malah lebih dekat dengan hutan di pinggiran pantai. Tepatnya daerah Karang Sambung. Meskipun sederhana, pemimpin pesantren ini cukup disegani keilmuannya. Tamu yang ingin sowan pada Kaji Mansyur tiap hari silih berganti. Maklum selain alim, ia juga dikenal berilmu kanuragan tinggi. Jejak rekamnya yang panjang saat mondok pada Mbah Yai Fuad membuat dirinya menjadi jujugan orang-orang yang ingin mendapatkan wasilah dan doa darinya.
Sudah banyak lulusan Baitul Ilmi yang jadi tokoh agama di masyarakat. Meskipun nama Kaji Mansyur belum dapat disejajarkan dengan Kyai Ghofur dalam hal ilmu agama, namun beberapa tokoh sepakat bahwa dalam hal ilmu kanuragan beliau tidak kalah tanding. Mereka tentu tidak pernah bertanding untuk membuktikan ilmu kanuragan siapa yang paling tinggi, karena mereka adalah sahabat. Apalagi status Kaji Mansyur adalah adik kelas Kyai Ghofur.
Memasuki jam dua belas malam lebih tiga puluh menit, pengeras suara dan lampu-lampu penerangan sudah dimatikan Salim beberapa jam yang lalu. Hanya dua orang santri malam ini yang bertugas. Tugas jaga malam ini cukup ringan bagi keduanya, karena kurang dari satu jam lagi mereka akan bersiap-siap membangunkan semua santri untuk sholat berjamaah.
Tidak salah Kaji Mansyur memilih keduanya untuk piket jaga malam ini. Selain karena badannya yang kekar, dua santri senior ini mempunyai ilmu yang lumayan tinggi.
Salim dan Muhtar, dua orang santri jaga sedang bersiap-siap patroli. Mereka ingat betul pesan Kaji Mansyur siang tadi agar malam ini mereka memperketat penjagaan, tetapi secara diam-diam agar tak menimbulkan keributan. Berita wafatnya Kyai Ghofur yang mendadak tadi malam seperti membuat gurunya menunjukkan gelagat berbeda. Muhtar tahu persis seharian raut muka Kaji Mansyur seperti menyimpan kegelisahan.
Dari sudut penglihatan Salim yang mengarah ke pagar, ia seperti melihat sesuatu yang mencurigakan.
“Mas, rene!” (sini) bisik Salim melambaikan tangan ke Muhtar. Posisi Muhtar yang sedang menunduk mencari senter seketika berbalik.
“Opo Lim” ucap Muhtar mendekat.
“Apa itu mas?” tangan Salim menunjuk ke arah pohon asam yang tumbuh besar di luar pagar pondok.
Muhtar memicing mengatur fokus jarak jauh kedua matanya yang memang sudah sipit. Tapi dari posisinya melihat terhalang pilar serambi masjid tempat mereka berdiri. Sensasi panas koyo cabe yang baru saja ditempelkan dikedua pelipisnya sedikit banyak berimbas pada fungsi penglihatannya.
“Aku kurang jelas Lim, ayo kita cek kesana” ajak Muhtar sambil mengatur lipatan sarungnya lebih naik. Muhtar tergugah untuk mengajak kompatriotnya lebih mendekat.
Ia jelas bukan pemula dalam masalah persetanan duniawi. Pengalaman meruqyah puluhan warga desa yang kesurupan, adalah reputasi yang cukup mentereng bagi laki-laki yang baru saja genap berusia dua puluh delapan tahun itu.
“Kok seperti pocong terbalik yo mas?” tanya Salim sambil berjalan beriringan dengan Muhtar.
Salim mengetuk-ketuk senter ke punggung tangannya. Batere senter itu seharusnya diganti yang baru seminggu lalu. Akibat kelalaian itu, sekarang cahaya yang keluar dipantulkan dari reflektor senter menjadi kurang bertenaga.
Tidak butuh ratusan langkah banyaknya untuk mendekati pagar pondok. Mereka bahkan telah berada di luar pagar dan memandang lekat cabang-cabang pohon asam besar di depan mereka. Nyala senter yang lemah itu diarahkan berputar-putar ke segala penjuru pohon asam.
“Tadi aku jelas lihatnya mas”.
“Sekarang sudah pergi Lim” balas Muhtar.
“Beneran pocong ya mas?”
“Kiro-kiro” jawab Muhtar gamang.
Pikiran Muhtar menjelajah kemana-mana. Penampakan pocong terbalik dulu memang pernah didengarnya. Dari cerita mitos warga desa yang dikisahkan sambil menenggak arak di sudut warung pangku di daerah pesisir pantai selatan.
Sebagian ada yang memberi nama pocong gantung, pocong kuwalik dan pocong lingsir. Yang jelas pocong itu sendiri sebenarnya tidak butuh identitas sebuah nama. Dia ada karena ingin menjadi legenda.
Konon pocong terbalik adalah pemimpin pocong-pocong normal lainnya. Awalnya, mereka semua berkostum sama. Agar tampak berbeda, sang pemimpin memutuskan untuk berdiri diatas kepala.
Mitos lainnya juga beredar bahwa pocong kuwalik (terbalik) adalah pocong yang paling kuat tapi jarang menampakkan diri ke tengah khalayak manusia. Tebakan Muhtar karena tentu sangat susah loncat dengan posisi kepala dibawah.
“Ayo balik ke dalam, kita harus siap-siap” ajak Muhtar pada Salim.
Dengan satu kali anggukan persetujuan, Salim membalik punggungnya dan berjalan memutar arah. Menuju kantor pondok tempat saklar lampu-lampu pondok berada. Dengan langkah lebih cepat Muhtar mengambil jalur yang berbeda. Sandal jepit biru yang diinjaknya itu diajak menuju ndalem tempat Kaji Mansyur sehari-hari tinggal.
Malam ini beliau tidur sendiri. Istri dan kedua anaknya yang masih kecil sedang berada di tempat lain. Pagi hari tadi mereka berempat meninggalkan pondok dijemput kakak Kaji Mansyur. Tidak ada yang tahu kemana perginya. Yang terpatri dalam ingatan Muhtar, kepergian mereka terkesan mendadak. Untuk bertanya pada gurunya dia tentu segan.
Suasana malam yang lebih gelap dari malam-malam sebelumnya sedikit menyulitkan Muhtar. Apalagi ia berjalan tanpa tuntunan senter. Sejak mondok bertahun-tahun yang lalu, masalah utama dari tempat ini adalah minimnya penerangan. Berkali-kali Muhtar menggerutu saat tidak sengaja sandalnya menginjak kotoran ayam piaraan Salim yang sering lepas dari kurungan.
Kira-kira sepuluh langkah dari teras ndalem Kaji Mansyur, kaki Muhtar terhenti mendadak. Meskipun ujung matanya masih terasa panas, dia yakin telah melihat seseorang melompat dari jendela samping rumah. Lompatan sosok besar itu seperti bayangan hitam yang ringan melenting tanpa bersuara.
Reaksi cepatnya memerintahkan untuk segera mengejar sosok itu.
“Hei!..Sopo kowe!!” teriaknya memecah kesunyian.
Muhtar berlari cepat tanpa berpikir panjang. Firasatnya mengatakan bahwa orang itu pasti bermaksud jahat. Bertamu tengah malam dan keluar lewat jendela adalah sebuah postulat.
Kejaran langkah kaki Muhtar yang cepat itu ternyata tidak dapat mengejar sosok hitam itu. Napasnya ngos-ngosan saat jarak tempuhnya mencapai sekitar dua ratus langkah. Kebun pisang belakang ndalem seluas lapangan bola bukan tempat lari yang ideal. Apalagi tanpa penerangan. Kepalanya menoleh kiri kanan mengawasi sekeliling dengan pandangan tajam. Ada sedikit penyesalan mengapa tadi dia tidak berteriak minta tolong santri lain. Mungkin ego Muhtar terlalu tinggi. Predikat santri linuwih terkadang membuat dirinya gengsi.
Saat punggungnya membungkuk untuk mengatur napas. Tiba-tiba telinganya mendengar suara kegaduhan dari ndalem Kaji Mansyur. Teriakan bercampur tangisan yang bersahut-sahutan itu memekak gendang telinga Muhtar seakan tabuhan genderang. Pertanda buruk, gumam Muhtar. Bahkan sangat buruk.
Secepat kilat ia berlari kembali menuju bangunan kecil yang berdiri kokoh di tepian kebun pisang. Napasnya makin memburu sesaat sampai dan melihat sekumpulan santri yang menangis histeris menyanyikan beragam ratapan.
Tanpa menunda waktu, Muhtar menerobos pintu masuk ndalem dan mendapati tubuh Kaji Mansyur tergeletak bersimbah darah ruang tamu. Meja kursi dan perabotan lain tidak ada yang berubah posisinya.
Salim dan tiga santri lainnya memangku tubuh gurunya sambil menatap nanar mata Muhtar. Tangis mereka semua pecah bertalu-talu. Muhtar yang masih terkesiap sedetik kemudian sigap mengampiri Kaji Mansyur yang sedang meregang nyawa.
“Astaghfirullah” pekiknya menahan tangis.
Tubuh lemah Kaji Mansyur yang basah oleh darah itu menggigil seakan kedinginan. Tampak dua buah sayatan lebar dan beberapa bekas tusukan pisau di sekujur tubuhnya. Kaji Mansyur seolah paham, Muhtar murid kesayanganya sedang di dekatnya. Tangan kanannya yang masih basah oleh darah itu menarik leher Muhtar untuk lebih mendekat.
“Kha..nis wissss te...ko” (Khanis sudah datang) ucapnya parau dan terbata-bata pada perbatasan napas penghabisan.
Muhtar tidak paham. Selain suara Kaji Mansyur yang pelan, jiwanya masih tergoncang. Yang dia tahu adalah siapapun yang melakukan tindakan biadab ini, bukanlah manusia biasa. Dia tahu persis gurunya itu punya ilmu kebal.
"La ilaha illallah......."
***