Pinggiran Salatiga, 27 Juli 2018 | 22.00
Sementara itu, jauh dari tempat Lisa berada.
Mendung pekat mengguyur langit di pinggiran Salatiga. Membuat hawa anyir darah yang tumpah di Desa Tempuran makin menyebar beratus-ratus meter jauhnya. Larik sinar dari lampu penerangan jalan di pinggir jalan desa tidak mampu menembus pekatnya gerhana yang menyelimuti tanah Jawa.
“Cepetan mas” teriak lelaki yang mengenakan baju batik biru dan berdiri di sisi liang. Dari bawah dua orang laki-laki bekerja keras mengangkat tanah hasil cangkulan ke atas.
Tubuh mereka basah, sebasah-basahnya. Tetesan bulir keringat menyatu dengan tetes gerimis hujan yang tercurah dari langit. Angin kencang menderu menggoyang ranting-ranting pohon kamboja.
“Aneh..seharusnya tidak mungkin hujan” gumam lelaki berbaju batik itu.
Bermodalkan nyala senter seadanya, lelaki berbaju batik mengarahkan bagian mana dari galian yang belum rata. Ke tiga orang di dalam liang bekerja seperti dikejar setan.
“Wis.. wis, cukup!” teriak pria berbaju batik itu sambil memposisikan tubuhnya mendekat galian.
Kedua penggali lubang beranjak naik dengan saling mendorong badan basah mereka. Makin kerap gerimis dan kencangnya gulungan angin sedikit menyulitkan pekerjaan mereka.
Duk! Lelaki kekar berbaju batik itu menjatuhkan senter, hingga terguling ke dalam liang galian. Seketika itu pula malam berubah menjadi lebih pekat seiring matinya lampu senter.
“Bajigur!” teriak pria berbaju batik itu menyumpahi rentetan kesialannya malam ini.
Tanah pekarangan di belakang rumah Mbah Kholis itu semakin basah ketika angin mulai berdesir kencang. Perubahan intensitas angin itu membuat mereka berempat kalang kabut.
“Ayo gek ndang diangkat!” perintah lelaki berbaju batik seraya menunjuk pada sesosok yang terbaring dua meter jaraknya dari mereka.
“Kamu yakin mas dia sudah mati?” tanya pria penggali yang sedikit gemuk.
“Embuh! Aku tendang tadi tidak bergerak, semoga saja sudah mati” kata pria berbaju batik cepat.
“Itu semua salahmu, perintah mbak Pur hanya melukai, bukan membunuh!” tambahnya sambil menunjukkan wajah tegas.
Ketiga pria itu tidak menjawab. Mereka serempak mendekati sosok yang terbaring dan berniat untuk mengangkatnya.
Dalam hitungan ketiga mereka menggotong tubuh berjenis kelamin pria itu dan mengatur langkah dengan hati-hati. Cara mereka berjalan bukan hanya sedang menahan beratnya beban, tapi juga menahan agar tidak tergelincir. Tanah yang mereka injak semakin terasa licin.
Baru saja berjalan empat langkah,
Brrukkk!
“Arrg!”
Pria yang bertugas memegang bagian kaki terjengkang ke belakang sambil berteriak kencang. Suara beratnya memecah derai gerimis dan sontak mengagetkan ke tiga teman lainnya. Tubuh tak bergerak itu ikut jatuh ke tanah.
“Ngopo kowe Pras!” teriak Wiji, pria berbaju batik itu pada Prastowo temannya yang terjatuh dengan posisi menggelikan. Kaki Prastowo jadi mengangkang ke atas, mirip tonggak nisan kuburan. Kedua pria lainnya buru-buru mendekat ke sumber kegaduhan, berniat menolong.
Prastowo tak menjawab. Rambut ikal panjangnya bergoyang mengikuti gelengan kepala. Dari sorot matanya tampak dia sedang ketakutan.
“Rambutku dijambak wee” katanya sambil sedikit merintih. Mata bulatnya memicing terkena tetesan gerimis. Tenggorokannya tercekat.
Ketiga teman Prastowo menengok kiri kanan hampir serempak. Wiji memandang mata Prastowo lekat-lekat.
“Coba jelaskan. Apa maksudmu? Ada yang menjambak rambutmu? tanya Wiji memburu.
“Iyooo..buanter!” jawab Wiji ketakutan.
“Ada yang tidak beres” pria bermata sipit disebelah Wiji menyimpulkan sepihak.
“Ojo waton njeplak!” sungut Wiji sambil memukul bahu Loji. Lelaki bermata sipit itu hanya pasrah seraya mengusap bahunya yang kesakitan.
Dari atas langit bulan telah memerah dan bersiap menyongsong gerhana. Angin yang sedari tadi tak berhenti berhembus kencang membawa apapun yang disapunya dari tanah. Daun-daun kering dan ranting kecil membuat pusaran, menerpa tubuh-tubuh mereka.
Tugas dari Bu Pur kepada mereka yang semula terlihat ringan sekarang berubah menjadi berat. Malapetaka kecil ini harus diselesaikan mereka ber-empat. Secepatnya.
Sementara, tubuh lelaki yang terbaring tak bergerak itu mulai menampakkan tanda-tanda kehidupan.
Ia adalah Seno, ayah Lisa.
Sebuah pukulan pendek yang menimpa kepala Seno oleh Wiji beberapa saat lalu membuatnya tak sadarkan diri. Lelaki cinta pertama Lisa itu terjatuh pingsan dan dikira mati oleh keempat penculiknya.
Dan sekarang mereka sedang berencana menguburkannya dalam liang lahat yang digali dengan tergesa. Menghilangkan jasad Seno dengan menguburkannya dalam tanah adalah solusi terbaik, pikir Wiji. Seno melarikan diri, begitu rencana alibi mereka jika ditanya Bu Pur kelak.
“Ayo bangun, itu cuma perasaanmu saja. Tidak ada orang lain selain kita disini” ucap Wiji sambil menarik lengan Prastowo.
Baru beberapa detik Prastowo berdiri dan membersihkan kotoran yang menempel dibajunya. Mereka bertiga dikejutkan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan.
Pluk!
“Aaaaaaaaaarrgh!” teriak ketiga lelaki itu serempak.
Bak sebuah bola, kepala Prastowo tergelincir jatuh terpisah dari tubuhnya. Ujung hidungnya yang basah itu menempel tepat di jempol kaki Wiji. Dengan gerakan refleks ia melenting seperti kesetanan.
Entah apa yang terjadi, dalam kedipan mata kejadian horor itu terjadi di depan ketiga orang itu dengan sangat cepat tanpa mereka tahu apa penyebabnya.
Leher Prastowo yang menganga itu memuncratkan darah segar mengenai sekujur tubuh ketiga preman itu. Wiji, Loji dan Kaji terkesiap tak bisa berkata-kata. Mulutnya terkunci rapat menyimpan ketakutan yang hebat. Tanpa aba-aba, lutut mereka serempak bergetar, menopang berat tubuh yang sempoyongan.
Darah Prastowo yang membasahi muka mereka makin meremangkan bulu kuduk. Prastowo, anggota geng Preman Wagu yang paling muda itu kini telah dijemput malaikat ke akhirat.
Gerimis berhenti. Hening.
“Sugeng dalu...” terdengar suara wanita yang sangat merdu membuyarkan kengerian mereka.
Ketiga lelaki yang sebelumnya adalah preman bersaudara tanpa tanding desa Winonggo itu sekarang berubah menjadi tikus pasar yang tubuhnya basah terendam air got. Gelar juara bertahan pencak dor dua tahun berturut-turut yang disandang Wiji, kini seolah tak ada artinya. Sebutan jawara desa kebanggaan Loji juga tak punya makna.
Saling memandang satu sama lain ketiganya tidak berani menoleh ke arah sumber suara. Loji memupuk air mata dan sebentar lagi akan tumpah saking takutnya.
“Sugeng dalu..mas..mas!” wanita itu berteriak. Suaranya ringan memekik tajam.
“Suuuu....ge......ng.......ngggg...” jawab ketiganya gemetaran.
“Se..see..see...taaan” rintih Wiji menghiba.
“Sugeng? Siapa yang bernama sugeng mas?” tanya suara itu dengan nada yang sukses membuat tengkuk mereka semua berdesir merinding.
Makin tenggelam dalam ketakutan Wiji mulai merasakan cairan hangat dari ujung selangkangannya. Sensasi kengerian yang dialaminya sekarang ini membuat kantung kemihnya penuh dan itu membuat air kencing keluar dengan sendirinya.
Dari jarak lima meter, sosok wanita berbaju putih kusam dengan rambut panjang tergerai, bergerak mendekat seperti melayang. Wajahnya pucat, hidungnya meneteskan darah. Sekilas penampakan hantu yang meneror ketiga preman ini tidak terlalu mengerikan. Tetapi jangan ditanyakan hal itu pada ketiga orang yang sekarang terkencing-kencing ketakutan.
“Lepaskan ikatan orang itu mas” bisik hantu itu lembut tepat di telinga Wiji.
“Baringkan tubuhnya ke dalam rumah. Kalian masih ingin hidup kan?”
“iii..iiiiyaaaa” ucap mereka bertiga serempak.
Wiji yang masih menggigil mencolek Loji lalu membuat gerakan isyarat untuk membuka ikatan Seno. Loji yang sama takutnya dengan kedua temannya itu enggan bergerak. Mungkin kakinya terpaku saking takutnya.
“Ayo Ji...”perintah Wiji.
“Kowe aja Ji..” bantah Loji sambil memejamkan mata. Kaji memalingkan muka cepat seolah tak mendengar ucapan Wiji, si pembawa perintah Bu Pur.
"Ji..." bisik Wiji mencolek Loji
"Ji..." bisik Loji mencolek Kaji.
"Ji..." balas Kaji mencolek Wiji.
Wiji mendengus sambil mengumpat dalam hati. Ia menyesal telah memulai colekan, kalau tahu jadinya seperti ini.
“I.iiinggih....nyaai” kata Wiji terbata-bata.
"Ayo sama-sama!" ujarnya seraya menarik kedua pergelangan temannya.
Hantu perempuan yang melayang ringan itu menatap tajam ke arah ketiga preman yang sekarang sibuk melepas ikatan tangan Seno. Seolah paham keinginan hantu itu, ketiganya beringsut membopong tubuh Seno menuju ke pondok Mbah Kholis. Langkah ketiganya tertatih makin terasa berat.
Hantu wanita yang masih tetap mengawasi ketiga preman itu melotot tajam. Sesekali tersenyum dengan dingin tanpa ekspresi.
Setelah tergopoh meletakkan tubuh Seno yang mulai menggeliat lemah, tanpa komando Wiji dan Loji berlari tunggang langgang ke arah jalan tanpa menoleh kebelakang.
"Persetan dengan mayat Prastowo!" umpat Wiji dalam hati begitu melihat celah kesempatan untuk melarikan diri.
"Jiiii... tunggu bangsaaaat!!" teriak Kaji sontak berlari menyusul kedua temannya.
Hantu wanita itu hanya mengamati polah ketiga preman dari jauh sambil tertawa melengking.
"Ha..ha.ha......ha...ha!"