"Mandi, mandi, biar badan wangi." Kata Iwan sambil memainkan handuknya.
Malam itu Iwan masih di kantor karena lembur kerja. Karena sudah dari pagi ia tidak mandi akhirnya ia memutuskan untuk mandi di kantor.
Sepi sunyi itu yang di rasakan Iwan jadi dia bernyanyi, sambil mandi agar menghilangkan rasa angkernya. Banyak yang bilang kamar mandi kantor itu ada penghuninya jadi Iwan sangat hati-hati di malam itu.
Selesai mandi Iwan memakai baju dan langsung keluar dari sana. Ketika di luar ia mendengar suara kran air bunyi padahal ia sudah mematikannya dan di kamar mandi lainnya pun mati. Akhirnya ia kembali lagi untuk memastikannya, dan benar kran air terbuka jadi ia mematikannya. Tidak ada tanda-tanda janggal di sana jadi Iwan menghiraukannya.
2 jam berlalu
Iwan melihat orang berjalan di depan pintu ruangannya, karena pintu ruangannya itu kaca buram jadi tidak jelas itu siapa. Namun, ia menebak itu satpam yang sedang ronda. Tidak berselang lama ada yang lewat dari arah yang sama tapi sekarang orang itu berhenti dan mengetuk pintu.
"Iya, masuk gak dikunci." Jawab Iwan sambil terus mengerjakan kerjaannya.
Masuklah satpam dengan membawa 2 gelas kopi. Sambil tersenyum ia memberikan kopi itu ke Iwan.
"Nih pak, pasti bapak ngantukkan saya bawakan kopi nih." Ucap satpam sambil menaruh kopi di meja.
"Wah, makasih loh pak, jadi repot-repot begini." Jawab Iwan sambil menggeser gelas kopi.
Keduanya bercanda sambil minum kopi sampai ada sosok yang lewat depan pintu lagi. Tapi sekarang orang itu lebih pendek dari sebelumnya.
Iwan pun menanyakan kepada satpam apakah ada satpam lain yang jaga malam itu. Satpam menjawab tidak ada karena malam itu hanya dirinya yang bertugas dan juga tidak ada orang lain yang lembur selain Iwan.
Lalu yang lewat barusan siapa? itu yang terlintas dipikiran Iwan pertama kali.
"Pak, beneran gak ada orang lain di gedung ini selain kita?" Tanya Iwan karena bulu tangannya mulai berdiri.
"Beneran pak, buat apa saya bohong, saya juga sudah cek tiap lantai dan ruangannya, tapi tidak ada orang sama sekali, memang ada apa ya pak?"
"Ada yang lewat di depan pintu tadi, dua kali, sebelum dan sesudah bapak datang." Jelas Iwan.
Satpam sempat tidak percaya pada awalnya, tapi tidak ketika bayangan itu lewat lagi dan sekarang berhenti tepat di depan pintu.
Satpam itu langsung ketakutan dan mendekati Iwan. Berteriak ketakutan melihat bayangan itu berhenti di depan pintu.
Bayangan itu meletakkan tangannya di pintu dan seperti air mengalir dari tangannya, kemudian perlahan membuka pintu. Nampaklah wujud mahluk itu, darah di sekujur tubuhnya, bahkan wajahnya hancur tidak jelas.
Mahluk itu memunculkan pisau entah dari mana dan melemparkannya ke satpam dan pisau itu menancap tepat di lehernya. Darah segar muncrat kemana-mana seperti selang air yang bocor.
Mahluk itu peralawab mendekat. Walaupun tidak jelas tapi, Iwan yakin mahluk itu sedang tertawa. Saat itu iwan terus mundur kebelakang dan terhenti karena dinding kaca. Ia meminta maaf kepada mahluk itu dan meminta tolong untuk pergi dari sana. Tapi mahluk itu menghiraukan perkataan Iwan dan terus maju. Kaca yang menjadi senderan Iwan mulai retak karena ia terus menekannya. Mahluk itu tiba-tiba berada tepat didepan matanya. Mata yang tidak ada pada tempatnya, kulit yang terkelupas, darah, dan nanah mengalir, bau menyengat. Karena kaget Iwan mendorong kebelakang dan kaca senderannya pun pecah.
"Aaa... Aa... a..." teriak Iwan terjatuh dari lantai 13.
***
Seketika Iwan tersadar dari mimpi buruknya dan pergi ke dapur untuk minum. Semua berjalan lancar sampai ia melihat keluar jendela, ia melihat ada orang sedang membunuh orang lain. Darah muncrat dari bekas tusukan orang itu mengingatkan Iwan tentang mimpi buruknya.