Di sebuah rumah minimalis di sudut Jakarta, hiduplah Pak Fuad dengan tiga anak perempuannya yang punya spek visual di atas rata-rata. Sejak Ibu wafat karena kanker lima tahun lalu, Pak Fuad jadi ayah siaga yang sangat memanjakan mereka. Namun, di balik keharmonisan itu, ada sebuah perang dingin yang melibatkan satu nama: Antares.
Antares adalah tipe cowok yang kalau lewat di koridor kampus, semua mata bakal tertuju ke dia. Dia punya motor kopling yang selalu bersih, outfit yang selalu on point, dan wangi parfum yang baru hilang tiga hari kemudian. Sialnya, Antares masuk ke kehidupan keluarga Pak Fuad dan mengacak-acak hati tiga bersaudara itu.
Tiga Sudut Pandang, Satu Masalah
Gadis, si sulung, adalah influencer dengan jumlah pengikut yang bikin iri. Baginya, Antares adalah aesthetic partner yang sempurna. "Dia sering reply story aku pake emoji api, itu tandanya dia naksir, kan?" pikir Gadis sambil memulas liptint mahalnya.
Di kamar sebelah, Dara sedang asyik mabar Mobile Legends. Baginya, Antares adalah rekan satu tim yang paling mengerti timing saat war. "Dia selalu kasih aku buff biru. Itu bahasa cinta paling tinggi di dunia gaming," gumam Dara, cewek tomboy yang lebih suka pake kemeja flanel daripada daster.
Sementara itu, Putri si bungsu sedang meringkuk di perpustakaan rumah yang sepi. Dia introvert, kutu buku, dan merasa paling punya ikatan batin dengan Antares. "Cuma Antares yang mau dengerin aku bahas teori konspirasi lubang hitam sampai jam dua pagi di DM," bisik Putri di balik kacamatanya.
Ketiganya tidak tahu bahwa Antares sedang memainkan sebuah orkestra manipulasi yang sangat rapi.
Malam Minggu Berdarah
Malam Minggu itu, Pak Fuad sedang pergi ke acara reuni SMA, meninggalkan tiga putrinya di rumah. Keadaan mendadak tegang saat ketiganya menyadari bahwa mereka semua sedang dandan.
"Mau kemana lu, Dara? Rapi amat, tumben nggak pake baju gembel?" tanya Gadis sinis sambil mencatok rambutnya.
"Bukan urusan lu, Kak. Mau ada tamu penting," jawab Dara singkat sambil menyemprotkan parfum maskulinnya.
Putri keluar dari kamar dengan gaun putih simpel, tampak cantik tapi malu-malu. "Aku juga ada janji..."
Tepat saat itu, suara motor kopling yang sangat mereka kenal berhenti di depan pagar. Mereka bertiga lari ke depan pintu. Saat pintu dibuka, Antares berdiri di sana dengan senyum miring yang sanggup meluluhkan es di kutub utara.
"Hai, Girls," sapa Antares. Dia membawa satu plastik besar berisi seblak level 5 dan beberapa kopi susu kekinian.
"Antares! Kamu bilang mau ajak aku ke opening kafe baru!" seru Gadis langsung memegang lengan Antares.
"Eh, apa-apaan? Res, katanya mau mabar bareng anak-anak komunitas?" Dara menepis tangan Gadis.
Putri hanya menatap Antares dengan mata berkaca-kaca. "Kamu... kamu bilang mau lanjutin baca novel bareng aku..."
Antares masuk ke dalam rumah dengan santai, seolah-olah dia adalah pemilik tempat itu. "Tenang, tenang. Jangan berisik. Gue ke sini buat kalian semua kok. Mending kita makan seblak dulu, yuk?"
Drama di Atas Meja Makan
Suasana di meja makan sangat canggung. Seblak yang seharusnya nikmat malah terasa seperti bara api karena tatapan mata yang saling menghujam. Antares duduk di tengah, sibuk dengan ponselnya sambil sesekali menyuap bakso aci.
"Res, foto bareng dong, mau gue masukin second account," ajak Gadis.
"Ntar dulu, Kak. Res, login dulu dong, bentar lagi ada turnamen kecil-kecilan," sahut Dara.
Antares hanya mengangguk-angguk. "Bentar ya, gue lagi urus sesuatu yang penting banget."
Tiba-tiba, HP Antares yang ditaruh di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar yang tidak terkunci. Karena mereka bertiga sangat penasaran, secara tidak sengaja mereka semua mengintip ke layar tersebut.
Itu adalah notifikasi dari sebuah grup WhatsApp bernama "JOKI TOP UP & SCAM ELITE".
Pesan terbaru berbunyi: "Woi Antares! Gimana progresnya? Udah dapet berapa dari tiga cewek tajir itu? Buruan transfer, diamond buat akun utama gue udah abis nih!"
Dunia seolah berhenti berputar. Gadis, Dara, dan Putri saling berpandangan.
Plot Twist: Si Tukang Scam Diamond
"Antares... apa ini?" suara Gadis bergetar.
Dara langsung menyambar HP Antares. Dia membuka aplikasi m-banking yang ternyata masih terbuka di background. Di sana terlihat riwayat transfer masuk dari tiga rekening berbeda dalam sebulan terakhir.
"Transfer buat 'Beli Kamera Konten'—ini uang dari gue!" teriak Gadis.
"Transfer buat 'Modal Bikin Tim Esports'—ini uang tabungan gue!" raung Dara.
"Transfer buat 'Sumbangan Pustaka Desa'—Antares, itu uang saku aku selama setahun!" tangis Putri pecah.
Antares mendadak pucat. Senyum miringnya hilang, digantikan dengan wajah panik seorang pencuri yang tertangkap basah. "Eh, dengerin dulu... itu... itu buat investasi kita bareng-bareng!"
"Investasi mata lu peyang!" Dara sudah berdiri, siap memberikan pukulan uppercut.
Namun, sebelum Dara sempat memukul, pintu depan terbuka. Pak Fuad masuk dengan wajah ceria, didampingi seorang pemuda berkacamata yang tampak sopan.
"Lho, Antares? Kamu masih di sini?" tanya Pak Fuad.
"Bapak kenal dia?" tanya Gadis emosi.
"Tentu saja. Antares ini... dia ini asistennya Bimo," Pak Fuad menunjuk pemuda di sampingnya. "Bimo ini sepupu kalian yang baru pulang dari luar negeri. Bimo ini bos perusahaan game besar. Dia bilang asistennya, si Antares, sering ijin buat 'riset pasar' ke rumah ini."
Bimo melangkah maju, menatap Antares dengan dingin. "Riset pasar atau riset dompet? Antares, saya sudah curiga kenapa akun perusahaan sering bocor. Ternyata kamu pakai nama saya buat nipu sepupu-sepupu saya sendiri?"
Bimo kemudian menjelaskan kepada tiga bersaudara itu. Antares ternyata bukan cowok kaya raya. Dia hanya staf administrasi di kantor Bimo yang terobsesi jadi pro-player tapi nggak punya modal. Dia mendekati Gadis dengan pura-pura jadi fotografer, mendekati Dara dengan pura-pura jadi jagoan game, dan mendekati Putri dengan kutipan-kutipan puisi yang dia copy-paste dari Google.
Akhir dari Sang Playboy Red Flag
"Keluar kamu dari rumah ini! Dan balikin semua uang kami, atau aku laporin ke polisi sekarang juga!" teriak Gadis.
Antares lari terbirit-birit, bahkan motor koplingnya (yang ternyata juga hasil cicilan dari uang tipuan) hampir menabrak pagar rumah.
Suasana kembali hening. Gadis, Dara, dan Putri terduduk lemas di kursi masing-masing. Mereka merasa sangat bodoh. Hanya karena wajah ganteng dan perhatian palsu, mereka hampir menghancurkan hubungan persaudaraan mereka.
Pak Fuad mendekat, mengusap kepala Putri. "Bapak sengaja biarin Bimo datang telat supaya kalian belajar. Ganteng itu cuma skin, isinya yang penting. Jangan mau dibohongin sama cowok yang cuma jago tebar pesona tapi nggak punya integritas."
Gadis menghapus air matanya, lalu menatap seblak di depan mereka. "Dahlah. Makan aja seblaknya. Mubazir."
"Iya, lagian seblaknya enak," sahut Dara sambil sesenggukan.
"Resesi hati nggak apa-apa, yang penting seblak tetap ada," tambah Putri pelan.
Akhirnya, malam Minggu itu tidak berakhir di kafe mewah atau arena skate, melainkan di meja makan sederhana. Tiga bersaudara itu makan seblak bersama, menertawakan kebodohan mereka sendiri, sambil berjanji satu hal: mulai sekarang, kalau ada cowok yang mendekat, mereka harus melakukan background check lebih ketat daripada pemeriksaan imigrasi.
Dan Antares? Dia diblokir dari semua akun sosial media mereka, masuk ke dalam daftar hitam "Red Flag of the Year" di grup gosip kampus.
Selesai.