Namaku Sierra. Nama pemberian ibuku yang keseharian kupanggil Mami. Aku remaja berusia tujuh belas tahun dengan tubuh yang tak lagi perawan sejak sepuluh tahun lalu. Aku, mulai lupa, berapa kali mami meminumkan obat peluntur janin padaku sehingga membuat tubuhku kian hari kian kering dan darah menstruasiku yang menghitam.
Entah sudah berapa ratus kali, dadaku dijamah mereka, para lelaki kenalan mami. Mereka rata-rata pria setengah baya, mungkin seusia mami, atau bahkan lebih tua. Lalu bagian bawah tubuhku ini, entah siapa yang pertama membuatnya bengkak dan berdarah sehingga membuatku kesulitan untuk buang air.
"Layani dia, Sayang ...," ucap mami lembut di telingaku. Jemari-jemari tangannya yang lentik dan berkuku panjang berkuteks mengelus rambutku. Meski terkesan lembut, aku ketakutan. Takut pada hukuman yang nanti akan kuterima bila aku berani menolak.
Mami juga yang membantu menyisir rambutku yang dulu tumbuh lebat sepunggung, namun kian habis dan rontok belakangan ini, menggelungnya dengan membiarkan beberapa helai poni menjuntai melewati kening kiri dan kanan, lalu memilihkan sackdress yang pendeknya jauh di atas lututku, dengan potongan dada rendah, menampilkan lekukan kecil dadaku. Sejenak aku memandang cermin, dan terkejut. Siapakah yang tengah berdiri di situ? Wajahnya mirip denganku, tapi berdandan mirip mami, lipstik merah segar, perona pipi, maskara, lalu ... kuendus-endus ketiakku. Jiaah! Wanginya seperti bau kuburan yang baru saja menanam jasad.
“Mi ... Sierra capek. Apa boleh istirahat untuk sekali ini sa ...,” tanyaku hati-hati tapi tertahan. Buru-buru mami mencengkeram bahuku. Kurasakan kuku-kuku panjangnya menyentuh kulit, seakan siap ditancapkan kapan saja.
“Diam kamu. Ikuti perintah Mami, atau kamu harus hengkang dari sini! Ingat, meskipun kamu lahir dari rahim Mami, tapi sedikitpun Mami nggak pernah mengharapkanmu. Kamu anak haram yang nggak jelas siapa bapakmu.”
Mami berlalu dari kamarku, meninggalkan asap rokok yang diisapnya dengan kasar.Aku mengembuskan napas panjang, hmm ... masih bisa kau sebut aku anak haram, Mi? Padahal kau sendiri tak lebih baik dari sebutan itu.
Hari ini aku merasa pusing sekali. Mungkin karena pengaruh alkohol pada minuman yang dijejalkan lelaki itu padaku. Lelaki yang berbeda lagi dengan lelaki-lelaki sebelumnya. Ingatanku perlahan mulai kembali, terlebih ketika lelaki itu mendorongku ke atas pembaringan dan melayangkan cambukan demi cambukan dari ikat pinggang kulitnya ke tubuhku, sebelum dia menggagahiku. Aku tak ingat apa-apa lagi hingga terbangun di pagi yang kelam, tubuh yang morat-marit, dan tak ada siapa pun peduli.
Diam-diam aku menuju dapur, mengambil pisau bergagang hitam yang biasa dipakai mami untuk merajang sayuran. Sepertinya hanya kamu yang bisa membawaku pergi dari tempat ini, gumamku.
Darah segar mengalir dari pergelangan tanganku. Sial! Mami memergoki. Lalu dengan aksi heroik palsunya itu, dibawanya aku ke klinik terdekat.
“Apa yang kamu lakukan, Sierra? Kamu mau bikin Mami malu? Atau puas liat Mami hancur?” geramnya sembari melotot. Aku sedih, sedih luar biasa. Tapi sudah tak memiliki sisa air mata untuk kulelehkan keluar supaya orang iba.
Mami memberiku 'cuti' tiga hari pasca insiden itu. Lumayanlah, aku bisa mengistirahatkan badanku yang sudah bobrok ini. Tetiba mataku tertuju pada kalender yang tergantung pada dinding kamar. Tanggal dua puluh dua. Buru-buru kubalik kalender, sekadar memastikan tanggal berapa aku mendapat mens bulan kemarin. Oh Tuhan, sudah terlewat seminggu. Jangan-jangan ...
“Von, tolong belikan aku testpeck di apotek ya?” pintaku pada Vonny, asisten mami. Vonny mengangguk. Wajahnya sudah tidak memandangku dengan penasaran seperti yang sudah-sudah. Kuulurkan uang, tapi Vonny menolak.
“Simpan aja uangmu, Ra. Pake punyaku aja,” ujarnya. Aku menurut.
“Awas, hati-hati, jangan sampai mami tau.”
Yaps, sudah kuduga. Aku mengandung lagi. Pantas saja emosiku labil dan merasa lelah yang berlebihan. Mami belum tahu. Tapi aku yakin, dia akan mencekokiku dengan obat-obatan peluntur kandungan lagi. Bagaimana kalau kupelihara saja janin ini sampai lahir? Tapi ...
Dini hari pukul 02.00. Aku mengendap-endap keluar dari kamar. Kudengar suara berisik dari kamar mami yang tak tertutup sempurna. Rasa penasaranku muncul, lalu kuintip untuk mencari tahu apa yang terjadi.
“Ayo, Sayang ...,” kata seorang lelaki berperawakan tinggi besar dan bercambang lebat. Kulitnya lebih hitam dari kulit kami. Sepertinya dia orang luar, mungkin India.
“Nggak, jangan sekarang. Aku sedang nggak enak badan ...” ujar mami mengelak. Lelaki itu mendorong mami sampai ke sudut kamar, lalu membekap mulut mami. Tubuh besarnya bergerak ritmis, menggoyang-goyangkan tubuh mami. Mereka masih berpakaian utuh, tapi jelas sekali lelaki itu bernapsu menginginkan mami.
“Please, jangan, Tuan Takur, saya sedang tidak enak badan ....”
Lelaki besar yang disebut mami sebagai Tuan Takur itu beringsut menjauhi mami, setelah mendaratkan ciuman kasar pada bibir mami. Dia mengambil sebuah kopor kecil yang diletakkan sedari tadi di atas kasur mami, lalu mengeluarkan segepok uang kertas.
“Do you want this money?” tanyanya menyeringai. Mami mengangguk. Dalam ketakutan, kulihat matanya melotot demi melihat lembaran demi lembaran uang kertas itu. Semuanya asli. Dari baunya mungkin mami sudah bisa mengira.
“Kau, kau bisa ambil Sierra. Dia bisa melayanimu kapan saja.” Ucapan mami mengentakkanku, bagaimana mami tega berbuat seperti itu pada anaknya sendiri? Aku gugup dan takut, hingga tanpa sengaja tanganku mengepal, meninju daun pintu kamar mami.
Sudah dapat dipastikan, malam itu aku mendapat hukuman tamparan dari mami, cambukan dari Tuan Takur yang sexmaniac itu, dan berakhir dengan perih di pangkal pahaku.
Aku tak tahan lagi pada semua kebusukan ini. Aku harus mengakhiri hidupku. Tak baik bagi anakku kelak kalau tahu bagaimana sejarah ibunya yang seperti ini. Kutinggalkan sepucuk surat untuk mami. Surat yang kutulis dengan sisa kesedihan, lalu berjalan tak tahu arah.
Sampailah aku di sebuah sungai yang cukup deras aliran airnya. Banyak bebatuan besar dan pepohonan rimbun yang daunnya jatuh menjuntai hingga tercelup air, bergoyang terus bahkan kadang terlepas dari tangkainya karena terlalu deras air sungai menerpanya. Aku naik pada sebuah batu padas paling tinggi daripada batu-batu yang lainnya, lalu memejamkan mata, bersiap-siap melompat.
“Sierra ... Sierra ...,” bisik seseorang. Aku terkejut. Siapa orang itu? Di mana dia berada? Mengapa dia bisa tahu namaku? Kulayangkan pandangan seluas-luasnya namun tak kujumpai sesosok manusia pun.
“Sierra ... Sierra ....”
Sebuah cahaya menyilaukan kulihat dari bawah sana, terhimpit di antara bebatuan sungai yang tak tersentuh air. Niatku untuk mengakhiri hidup menjadi kalah oleh rasa penasaran. Aku turun perlahan lalu mendekati sumber cahaya itu.
Sebuah cermin kecil bergagang teronggok di sana. Bentuknya hampir sama dengan cermin-cermin keluarga bangsawan yang aku lihat dari balik kotak kaca museum keraton. Kuusap permata hitam yang sedikit lusuh oleh debu. Tiba-tiba,
“Bunuh mereka semua, Sierra ...,” sebuah bayangan wajah muncul dari cermin itu dan terus membisikkan kalimat yang sama. Sesaat aku merasa limbung. Tubuhku bergetar hebat dan dadaku terasa panas. Cermin itu mempunyai ujung gagang yang tajam menyerupa cundrik, yang setelah melihatnya, pikiranku langsung kalap.
Kuputuskan kembali pulang. Entah karena apa, langkahku begitu ringan dan seolah terbang. Aku sampai di rumah tanpa kesulitan. Bahkan sudah duduk di tepi ranjang.
Waktu itu hari mulai gelap, seorang lelaki sudah menungguku di atas ranjang. Tubuh gempalnya dapat kuingat benar. Dia salah satu dari enam lelaki yang pernah memperkosaku di balik gedung sekolah beberapa tahun lalu. Cuiih, aku membuang ludah. Begitu jijik aku melihat tampangnya lagi.
“Ayo sini, Anak Manis ...,” ujarnya sembari bangkit dari ranjang. Matanya merah, mungkin dia mabuk, dan napasnya bau. Bau sekali. Lelaki itu menciumiku bertubi-tubi. Dan walaupun susah payah aku meronta, tetap saja kalah. Lewat setengah jam baru dia mengakhiri perlakuan binatangnya padaku.
Lelaki itu bergegas memakai pakaiannya setelah menyelipkan selembar uang berwarna merah pada belah dadaku.
“Itu sekadar tips buatmu. Selebihnya, sudah aku bayarkan pada mami.”
Kuikuti dia keluar sampai tempat di mana mobilnya diparkir.
“Mau apa lagi? Kamu suka ya sama aku? Mau main lagi?” tanyanya kurang ajar. Emosiku naik ke ubun-ubun. Kucabut cermin bergagang dari belakang saku celana jinsku.
"Bunuh dia, Sierra ...."
“Tuan sombong sekali ...,” desisku sambil menyentuhkan gagang cermin yang tajam pada dadanya. Kudekatkan tubuhku hingga menempel pada tubuhnya, lalu menghujamkan ujung gagang cermin pada ulu hatinya. Lelaki itu tersentak. Matanya melotot tajam, namun tak berdaya.
“Sepertinya Anda ingin mengatakan sesuatu, Tuan?”
Lelaki itu tak sanggup berkata-kata. Mulutnya menganga dan tubuhnya berguncang hebat. Kuputar gagang cermin yang masih menancap pada ulu hatinya dengan perlahan, lalu mencabutnya. Sekali lagi kutancapkan dan kuputar lagi hingga terdapat lubang luka menganga cukup dalam. Darah mengucur deras, membasahi kemeja lelaki yang sudah meregang nyawa itu. Kujilati dadanya yang basah dan lengket bermandi darah dengan beringas. Hmm ... manis sekali rasa darahmu, Tuan.
Keesokan harinya, semua orang digemparkan dengan adanya sosok mayat berlubang dada, tanpa tahu siapa pelakunya. Tubuhku selalu terlindung oleh makhluk dari dalam cermin yang kutemukan, sehingga tak seorangpun mencium jejak bahwa akulah pelakunya.
“Sayang, Tuan Takur lagi ya,” kata mami suatu ketika. Aku terhenyak. Kali ini bukan takut, tapi dendam membara.
“Siap, Mi. Sierra mandi dan berdandan dulu ya,” jawabku. Seringai senyum di sudut bibirku tak terbaca oleh siapapun.
Kunikmati saja permainan Tuan Takur yang kejam dan penuh siksaan. Tunggulah pembalasanku. Kuikuti dia sampai pintu mobilnya lalu kupeluk erat sekali. Tampaknya dia menikmati cumbuanku.
"Bunuh dia, Sierra ...."
“Kamu sudah dewasa, Cantik. Sudah mulai sama dengan mamimu,” bisiknya lalu, “aarrggghhhhh ....”
Dalam sekejap, tubuhnya tergeletak kehilangan nyawa dengan luka tusukan yang dalam dan menyakitkan pada dadanya. Kujilati darah yang masih segar mengalir.
“Puiiih, darahmu pahit, Tuan. Sama dengan kelakuan biadabmu.”
Aku memandangi kalender. Sudah sepuluh hari aku tandai dengan tanda centang memakai spidol merah. Itu pertanda, sudah sepuluh lelaki hidung belang yang mati di tanganku. Hai, apa kabar jabang bayi dalam perutku? Sejauh ini dia masih betah tidur dalam rahimku, meski tingkah polah ibunya tak ubahnya seperti setan perenggut nyawa. Malam itu aku tidur lebih awal, karena aku memohon pada mami untuk beristirahat. Entah mengapa, mami menuruti kemauanku.
Tiba-tiba aku merasa panas. Tubuhku kejang beberapa kali. Ruangan kamar seakan penuh dengan api yang menjilat-jilat begitu besar. Sekalipun aku berteriak-teriak, seolah tak ada yang mendengarku.
Dari cahaya api yang terang benderang aku melihat sosok aneh. Tubuhnya setinggi rumah, melewati plafon tanpa menyentuhnya. Dia bersayap besar berwarna putih keperakan dan membawa sebilah pedang panjang.
“Si ... siapa ka ...,” ucapku terbata-bata. Keringat dingin membasahi tubuhku. Ingin aku melawan menggunakan cermin keramat yang kupunya, namun tubuhku seolah kaku dan lumpuh.
“Aku Lokatara. Aku pelindung Dhami, penjaga neraka. Aku datang untuk menangkap kembali iblis-iblis Allocer yang masuk melalui cermin yang kau simpan.” Suara berat dan menyeramkan itu mengguncang nyaliku. Apakah aku bermimpi?
“Tidak! Jangan kau ambil cerminku. Hanya itu yang kupunya untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitiku!” teriakku dengan sisa-sisa keberanian. Lokatara mendekat, semakin dekat. Tampak bagiku raut wajahnya yang menyeramkan. Sepenuh tenaga kuhunus cerminku. Entah aku bodoh ataukah naif, mana mungkin ujung tajam gagang cermin yang sebegitu kecil mampu mengalahkan Lokatara yang sedemikian besar?
Lokatara menebaskan pedangnya. Sekilas cahaya menyilaukan menerpa mataku. Cerminku terpental terkena ujung pedangnya, seiring darah segar yang mengucur dari tubuhku yang terbelah.
Epilog:
... Mami sayang,
terima kasih untuk napas kehidupan yang kau embuskan padaku
Melalui asap rokok, bau alkohol dan gerayangan lelaki hidung belang
Terima kasih untuk perlakuan yang sedemikian indah dan membuatku mengerti arti cinta seorang ibu pada anaknya
Maafkan Sierra
Yang tak mampu menemani ....
Kamar kembali dingin. Sangat dingin ....
(tamat)
Sleman, 21 September 2020