Mentari pagi bersinar menerobos masuk ke sebuah kamar kost di lantai 2...
Terdengar suara alarm handphone yang sudah beberapa kali di Snooze ..
"aahh kenapa pagi datang begitu cepat..." gerutu gadis berusia 20'n ini ...
Dengan mata setengah terpejam, dan rambut mengembang ala si raja hutan🤭... dia memaksa tubuhnya bangkit dan meraih handuk serta perlengkapan mandinya di sebuah gayung berwarna biru tosca...
Sebelum masuk ke kamar mandi, dia melewati kamar sahabatnya, sekedar ingin memastikan apakah sahabatnya masih terlelap.??
"mba... udah bangun belum???
"iya... udah mandi malah, kamu buruan udah siang nih "
"oke oke, aku mandi kilat dulu...." lalu ia berlari ke kamar mandi yang letaknya persis di belakang kamar sahabatnya ...
****
"Yui... tolong siapkan Company Profil dan Surat Perkenalan ya kirim ke alamat ini." perintah pak bos tanpa basa basi.
"Ya ampun pantat aja belum nempel, udah dapet tugas aja"
"Udah kerjain aja, anggap itu sarapan hihihi" ledek sahabatnya...
"Sarapan kerjaan mana kenyang..."sautnya.
Jam menunjukan pukul 09.45..
Beberapa karyawan lain sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya masing masing.
Tiba tiba dilantai bawah terdengar suara langkah kaki bersautan menaiki tangga.
"Na... Bos ada ??.. tanya Vano kepada Riana.
"Hmm ga tau deh coba aja naik, ada apa emang?"
"Mau laporan nih, si Ibas hari ini mulai kerja."
"Oh... ya ya welcome bas, siap siap ya kenyang sama kerjaan haha" ucapnya menyindir yui yang sedang sibuk dengan kertas kertas, stepless dan lakban.
Dia hanya melirik dan tersenyum kecut kepada Riana, lalu melirik sepintas kepada 2 cowo di depan mejanya.
"Ya udah gue keatas dulu" kata Vano sambil berlalu pergi di iringi Ibas di belakangnya.
"Eh Mba, ga nyangka deh bakal ketemu ibas disini.." bisik Yui setelah memastikan 2 cowo tadi pergi kelantai 2.
"Hmm, mang kamu kenal Ibas???" jawab Riana heran.
"Ya kenallah, dia itu cowo yang aku taksir jaman SMP dulu hihihi" sambil menutup mulutnya dengan kertas .
"Haaah... serius lo?? kok bisa hahahaha "
"Sssst jangan kenceng² malu tau" Yui reflek menutup mulut Riana dengan kertas yang dia pegang.
Kesibukan mereka berlanjut, Riana sibuk mengetik sambil sesekali menggeser kursinya ke posisi yang lebih nyaman.
Yui sibuk mengkroscek dokumen penawaran sebelum ditanda tangani atasannya.
"Mba ini udah oke ya, aku minta tanda tangan sekarang" sambil memundurkan kursinya .
"Iya" jawab riana singkat tanpa menoleh.
Yui berjalan ke lantai 2, ditangga dia berpapasan dengan cowo yang selama 1 tahun ini bersikap dingin padanya.
"Eh mas..." ia reflek tersenyum dan menyapa Vano. Tapi tak mendapat respon sedikitpun.
"Ih ni orang jutek banget si, ga denger apa gimana sih" gerutunya dalam hati.
Tepat di anak tangga terakhir dia bertemu ibas, kemudian menyapanya ramah.
"Mas.. sekarang kerja disini juga ya" sambil tersenyum.
"Iya ni, kamu Yui kan?? wah ngga nyangka ya bisa ketemu padahal dulu kamu masih kecil loh, sekarang udah banyak berubah." Respon ibas dengan sedikit terkagum karena lama tak bertemu.
"Iyalah, masa aku kecil terus haha" jawab Yui sambil berlalu pergi menuju ruangan bos.
***
1 Tahun lalu, Yui dan Vano sempat dekat.. walau hanya sebatas teman, tapi Vano cukup perhatian kepada Yui.
Vano beberapa kali mengajak makan siang bersama, kadang mengantar Yui pulang.
Keadaan yang membuat mereka berhubungan hanya bisa sebatas itu.
Yui sudah punya kekasih, dan mereka berpacaran cukup lama.
Pacar Yui tampan, mapan dan sangat mencintai Yui..
Tapi sikap posesifnya membuat Yui merasa tertekan, bahkan dia tak bisa berteman dengan siapapun kecuali dengan Riana.
"Kamu dimana ??" tanya Amriel dengan nada datar menahan marah.
"Aku lagi makan ni" jawab Yui.
"Sama siapa??!!" nada yang mulai mengintimidasi.
"Sama Vano" jawab Yui lirih, dia tau Amriel pasti marah.
"Pulang sekarang....!!! bentak Amriel dengan rasa cemburu mulai menguasai hatinya.
"I.. iya, aku pulang setelah makan ya.." jawab Yui terbata bata.
"Ngga, pokoknya kamu pulang sekarang titik.!!" kemudian telefon terputus.
Yui meremas jarinya dengan gelisah.
"Mas aku pulang aja ya, pacarku marah."
"Udah makan dulu aja, dia jauh ini ngga bakalan tau nanti abis makan kita pulang" jawab Vano bijaksana.
"Tapi aku takut dia marah, dia pasti cemburu banget tau aku makan bareng sama cowo." nada suara mulai parau menahan tangis.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Vano mengantar Yui pulang ke kostannya..
"Mas, makasih ya udah di anterin.."
"Iya sama sama,"
"Mas, aku boleh tanya sesuatu ngga? kenapa si mas baik banget sama aku, padahal aku bukan siapa-siapanya mas..mas ajak aku makan, nganterin aku pulang.
"Ya ngga papa, mas cuma mau aja"
"Tapi mas, pacarku cemburu dan dia marah banget pas terakhir kali kita makan bareng.. Dia minta aku memilih antara dia dan kamu, dia pacarku jadi ngga mungkin aku ngga milih dia."
"Terus... kamu mau kita gimana.??"
"Maaf mas, mulai sekarang kayaknya kita harus jaga jarak, aku ngga bisa lagi berteman sama mas, ngga bisa makan bareng ngga usah anterin pulang"
"Oh gitu.. ya udah ngga papa mas ngerti kok" jawab Vano kemudian berpamitan.
Setelah hari itu Vano benar-benar menjaga jarak dengan Yui, bahkan tak berani menatap apalagi bertegur sapa.
Sikap hangatnya kemarin berubah 180° menjadi sedingin kutub.
****
Langit mulai gelap, tapi Yui dan Riana masih asik dengan laptop dan tumpukan kertas.
"Mba udah jam 8 nih, pulang yuk buat besok aja kerjaannya." ucap Yui mengingatkan sahabatnya..
"Bentar sedikit lagi selesai nih, biar besok ngga numpuk" jawab Riana tanpa menoleh.
Dilantai bawah terdengar suara beberapa orang sedang bersenda gurau, sesekali ada suara tertawa yang pecah...
Entah apa yang mereka obrolkan, padahal jam pulang sudah lewat tapi mereka masih betah berkumpul di kantor.
Jam 08.30 Yui dan Riana turun dari lantai 2.
"Hei pada ngapain si, orang udah malem masih betah aja di kantor" sapa Riana sambil menggenggam tali tas slempangnya.
"Lu sendiri ngapain jam segini baru turun, kita mah udah santai santai.." jawab Ibas.
"Haha kita mah karyawan teladan ya, loyalitas tiada batas ya ngga yui"
"Aaahh iya" jawab yui sekenanya.
Rutinitas kerja terus berlanjut, dari pagi sampai sore bahkan seringkali sampai malam...
"Yeeaayy akhirnya besok libuuur, aku mau bangun siang ah". Seru Yui sambil meregangkan tangan dan punggung di atas kursi kerjanya.
"Jangan dong, mending bangun pagi slesein urusan percucian baru deh rebahan lagi seharian...haha" timpal riana ikut meregangkan tubuhnya.
Hari itu mereka berdua pulang lebih awal, sampai di kostan mereka masuk kamar masing masing.
Didalam kamar Yui merebahkan tubuhnya sembarangan, lalu meraih ponsel dari dalam tas kecil berwarna coklat kayu.
"Kira kira kalau aku chat dia lagi, di balas ngga ya.?" ia bergumam sendiri sambil melihat sebuah kontak bernama "Mr. Ignore".
"Mas, sedang apa? Sudah pulang belum?". Tak terasa jarinya mengetik lincah lalu mengirim pesan tersebut.
Selesai mandi, dia masuk ke dalam kamar lalu mengecek pesan yang tadi dia kirim.
"Ya ... seperti biasa, NO RESPON.!!" ucapnya kesal.
Ini usaha kesekian kalinya Yui mencoba menghubungi Vano.
Setelah hubungannya kandas dengan pacar yang dia pilih 1 Tahun lalu, ada rasa mengganjal di hatinya.
Waktu itu sahabatnya pernah bercerita bahwa Vano terlihat patah hati, saat Yui memutuskan untuk memilih pacarnya.
"Aku harus minta maaf, karena tanpa sengaja aku pernah melukai hatinya, aku ngga boleh menyerah..!!!" ucapnya menyemangati diri.
"Ah iya, aku coba minta bantuan sama ibas aja dia kan 1 tempat kerja" dengan mata berbinar seolah mendapat ide cemerlang.
"Halo mas Ibas, ini Yui" tanpa ragu dia langsung menelfon Ibas.
"Oh iya halo, ini nomer kamu Yui?"
"Iya mas, mas sudah pulang?"
"Belum baru selesai cuci tangan, ada apa tumben menelfon?"
"Oh ngga papa mas cuma mau tanya aja".
Lalu mereka asik mengobrol hal lain sambil sesekali tertawa nyaring.
Tanpa sadar disamping ibas ada mata yang menelisik tajam melihat percakapan mereka di telfon.
"Van, denger denger lo pernah deket sama Yui ya? tanya Ibas sambil menyalakan motornya.
Vano yang sedari tadi sibuk mengunci rollingdor workshop tiba tiba terhenti.
"Kata siapa?" jawabnya ketus.
"Yui cerita, katanya lo cuekin dia habis habisan padahal dia ingin meminta maaf" jelas Ibas sambil menaiki motornya siap melaju.
Vano tak menjawab, dia lebih memilih diam dan menyalakan mesin motornya lalu melaju meninggalkan Ibas.
Setelah beberapa hari Yui dan Ibas semakin dekat, sering ngobrol dan makan bareng sepulang kerja.
Alasannya si untuk curhat tentang sikap Vano, Yui meminta bantuan Ibas untuk membuat Vano berubah pikiran.
Minimal sedikit lebih ramah kepada Yui.
Siang itu, handphone Yui mendapat pesan singkat.
"Sudah makan?" terlihat nama "Ibas" di layar handphone.
"Belum mas, baru pesan makanan tadi..Mas sendiri sudah makan?"
"Belum, enaknya makan apa ya?" balas ibas dengan bibir tersungging.
Percakapan sederhana itu terlihat begitu asyik dimata Ibas.
Hari sudah sore, kali ini mereka pulang ngantor selayaknya manusia normal.
Terlihat masih ada cahaya remang remang matahari terbenam. Biasanya mereka pulang saat purnama sudah bersinar hahaha....
Yui dan Riana keluar kantor sambil mengobrol, tiba tiba handphone Yui berdering.
"Halo, iya mas kenapa??"
"Sudah pulang?, makan malam bareng yuk?" ajak Ibas tanpa basa basi.
"Baru keluar kantor ni, boleh mau makan dimana?"
"Nasi padang dekat rumah kamu aja ya, mas otw kesitu."
"Oke." jawab Yui singkat lalu mematikan telefon.
Disamping Yui terlihat Riana yang menatap keheranan.
"Sejak kapan kamu deket sama ibas.?"
"Sejak kapan ya??, entahlah tapi sekarang sering ngobrol aja"
"Udah nyerah sama Vano?
"Belum si, tapi aku ngga mau berharap terlalu tinggi. Tujuanku kan hanya untuk meminta maaf, kalau ngga di terima ya sudah aku bisa apa?" timpalnya sambil menaikan bahu.
Tepat di Rumah Makan Padang dekat kostan Yui, sudah ada motor bebek berwarna biru terparkir.
Yui langsung masuk kedalam dan melihat sekeliling mencari tempat ibas duduk.
"Disini...." seru ibas sambil mengangkat tangan.
"Hai.. sudah pesan makanan?" tanya yui sambil berjalan ke arah tempat duduk ibas.
"Belum, kamu mau pesen apa? makan yang banyak mas yang traktir" ucapnya sambil tersemyum.
"Waaah, serius ni... aku makannya banyak loh haha" gurau Yui sambil tangannya memanggil pelayan.
Selesai makan mereka mereka masih mengobrol sambil menghabiskan es teh manis di gelas masing masing.
"Eh mas tau ngga, kamu itu cinta monyetku loh". Ucap Yui tiba tiba.
"Oh ya..???" Ibas terlihat kaget mendengarnya.
Dia tidak menyangka gadis di depannya pernah menaruh rasa suka padanya.
Yui bercerita panjang lebar tentang kenangan masa Sekolah Menengah Pertamanya.
Bagi Yui sosok Ibas itu sangat menggemaskan, sikap lugu dan humornya membuat Yui mulai menyukainya.
Walopun hanya sebatas rasa suka, tapi kenangan itu masih melekat jelas di otaknya.
"Aku ngga nyangka, kamu pernah suka sama aku.. hmm bisa ngga rasa sukamu dulu aku ambil sekarang..??" tanya Ibas sambil tersenyum penuh harap.
"Hahaha itu dulu mas, cuma cinta monyet.. sekarang kan mas tau apa yang aku pikirkan." timpal Yui enteng.
Yui tidak punya perasaan sejauh itu kepada ibas, karena baginya Ibas adalah seorang kakak dan teman curhat tentang hubungan dia dengan Vano.
***
Semakin lama hubungan Yui terlihat semakin dekat, bahkan mereka sering telfonan didepan Vano.
"Bas, kerja yang bener dong telphonan terus.!!" ucap Vano tiba tiba dengan nada atasan.
"Eh udah dulu ya telfonnya, si bos marah ni haha" bisik Ibas di ujung telefon.
"Oh oke... sampe ketemu nanti ya." lalu Yui mematikan telefonnya .
Pulang kerja Yui langsung mandi dan bersiap siap, malem ini dia ada janji nonton dengan Ibas.
Pukul 19.30 terdengar suara motor berhenti di halaman kost Yui.
"Aku sudah dibawah" pesan singkat dari Ibas.
"Oke," balas Yui singkat. Lalu ia bergegas mengambil tas kecil berwarna coklatnya.
Sesampainya di bioskop salah satu mall di kota X, Yui dan Ibas memesan 2 tiket dan 2 buah minuman Cola beserta popcorn ukuran Large.
"Filmnya mulai 30 menit lagi, kita duduk dulu yuuk" ajak Yui.
"Oke, " saut Ibas seraya mengekor dibelakang langkah Yui.
Mereka duduk di kursi tunggu depan pintu theater 5 tempat film mereka ditayangkan.
"Mas, boleh ambil foto?" tanya Yui sambil mengeluarkan handphonennya.
"Boleh, "
Cekrek cekrek .. Yui mengambil beberapa foto kaki mereka dengan 2 buah tiket bioskop, lalu mempostingnya di akun chatnya dengan caption "The Amazing Katel Lanang".
Selesai menonton Ibas mengantar Yui pulang ke kostan.
Sesampainya di pintu gerbang Yui turun dari motor..
"Makasih mas, hati hati pulangnya." ucapnya sambil melambaikan tangan dan masuk.
Ibas menganggukan kepala sambil tersenyum, kemudian melajukan motornya.
Paginya Yui bangun seperti biasa, mandi dan siap siap berangkat ke kantor.
Saat dia membuka pintu kamar, ada Riana dengan tatapan minta penjelasan.
"Lo abis nonton sama Ibas..???"
"I..iyaa mba hehe"
"Vano di kemanain??, udah lupa sama misi utama?? kok malah jadi deket sama Ibas si??" cecarnya.
"Vano masih ada kok, dan masih inget juga apa tujuanku..."
"Teruuss..???"
"Tapi aku ngga mau memaksa Vano mba, sampe sekarang dia masih bersikap dingin rasanya seperti tidak dianggap." sanggah Yui dengan nada memelas...
"Hmm .. iya juga sih..." timpal Riana sambil menggosokan jarinya didagu.
"Tapi, hati hati nanti Ibas salah sangka loh... Kalo Ibas jadi suka sama lo gimana..??" lanjutnya memperingatkan.
Riana tau betul perasaan Yui, dia hanya menganggap Ibas sebagai kakak tidak lebih.
***
Ibas semakin menyukai Yui, entah kenapa semenjak dia tau bahwa dia adalah cinta monyet Yui perasaan itu mulai berkembang.
Hatinya berdebar saat bertemu Yui, senyumnya selalu mengengembang saat mengingat kebersamaannya dengan Yui.
Dia tak peduli lagi posisi sahabatnya di mata Yui.
"Salah sendiri cuek, ada gadis sebaik Yui tapi tidak di respon sama sekali" ucap ibas dalam hati saat melihat Vano.
"Van, gue mau ngomong sesuatu deh.." ucap ibas seraya menghampiri Vano.
"Ngomong apaan?" jawab Vano sambil menengokan kepalanya .
"Perasaan lo ke Yui gimana???"
"Perasaan apaan.?, biasa biasa saja tuh." ungkapnya dengan nada datar.
"Serius nih, Yui suka sama lo dan dia juga berusaha buat minta maaf sama lo. Minimal lo hargai usahanya"
"Minta maaf kenapa, ngga ada yang perlu dimaafkan kok."
"Sekarang gini deh, kalo emang lo ga punya rasa apa apa sama Yui, gue yang maju.." ucap Ibas tegas.
"Maksudnya..???" tiba tiba hati Vano tersentak.
"Gue suka sama Yui, gue pengen Yui jadi pacar gue." Tukas Ibas yakin.
"Terserah, ngga ada hubungannya sama gue." Vano terlihat gelisah tapi berhasil ia tutupi dengan sikap dinginnya.
"Bener nih, yakin ngga nyesel..??" ucap Ibas memastikan.
"Yakin, ngga ada kata penyesalan." Ucapnya ketus kemudian pergi meninggalkan sahabatnya.
Perasaan Vano mulai kacau, entah mengapa dia merasa kesal tapi tidak tau alasannya.
Terlintas ingatannya bersama Yui dulu, makan bersama, ngobrol di tempat kerja mereka, mengantarnya pulang..
Rasa nyaman yang sudah ia kubur tiba tiba muncul kepermukaan membuatnya mulai merindukan masa masa itu.
"Tidak, tidak... dia bukan siapa siapa bagiku.! sanggahnya dalam hati.
3 bulan berlalu hubungan Yui dengan Ibas semakin dekat, mereka benar benar terlihat seperti pasangan kekasih..
Vano masih saja munafik dengan perasaannya, walaupun sebenearnya dia sangat cemburu dan marah saat melihat kedekatan Yui dengan Ibas.
Sore itu Yui pulang lebih awal, dan dia sengaja mampir ke Workshop tempat Vano dan Ibas kerja.
"Sore mas...." sapanya di depan pintu kemudian masuk menghampiri meja kerja mereka.
"Sore juga, tumben sudah pulang " jawab ibas sambil tersenyum dan menghampiri Yui.
"Iya hari ini si bos sedang bermurah hati, kasih kerjaan cuma beberapa.. lagi ngaa ada tender juga jadi santai" jelasnya sambil tersenyum ceria.
Pulang lebih awal adalah moment langka bagi Yui, jadi tidak heran kalau dia begitu bersemangat.
"Kamu kesini sama siapa.? tanya Ibas sambil melihat keluar mencari cari orang yang mengantar Yui.
"Sama Putri tadi, dia sekalian mau pulang."
"Ooh... ya sudah duduk dulu, sebentar lagi selesai nih"
Yui tersenyum kemudian duduk di kursi kerja Vano.
Vano terlihat cuek, tapi dalam hatinya bergemuruh...
Pemandangan di depannya benar benar membuatnya jengah.
Andai saja dia bisa menurunkan rasa gengsinya, dan mau mengakui isi hatinya bahwa dia menyukai Yui.
Pasti dia tidak akan tersiksa dengan rasa cemburu itu.
Yui dan Ibas akhirnya pulang bersama, seperti biasa mereka makan dulu sebelum sampai kostan Yui.
Selesai makan ibas bersikap sedikit canggung, dia ingin menanyakan sesuatu kepada Yui.
"Ehm... ndu mas boleh tanya sesuatu ngga?" tanyanya dengan nada sedikit grogi.
Ndu itu panggilan untuk Yui, entah sejak kapan mereka punya panggilan khusus seperti itu.
"Hmm, tanya apa??" Yui tersenyum sambil memainkan Handphonenya.
"Mas suka sama kamu, dan mas bener bener nyaman deket sama kamu, mas pengen kita bisa lebih dari sekarang.. Kamu mau ngga jadi pacar mas..?" ucap ibas dengan 1 tarikan nafas.
"Hah..." Respon Yui kaget..
"Mmm mas serius sama apa yang mas omongin? Mas kan tau selama ini perasaanku seperti apa, aku selalu cerita semuanya sama mas.... tapi.... kok bisa mas punya perasaan seperti itu sama aku." Yui menjawab panjang lebar tanpa jawaban pasti di dalamnya.
"Iya mas tau kok, kamu belum sepenuhnya lupa sama mantan kamu, masalah kamu sama Vano juga belum clear.. tapi mas ngga bisa bohongi perasaan mas ke kamu."
Yui terdiam, tidak tau apa yang harus di katakannya ...
Dia tidak bisa menolak tapi juga tidak bisa menerimanya ...
Sebenernya dia nyaman dengan Ibas, Ibas baik, perhatian, dan selalu ada kapanpun Yui membutuhkannya ...
Yui merasa menjadi dirinya sendiri, dia bisa bercerita apa saja kepada ibas.
Tapi..... tetap saja belum ada cinta disana.