"Tut, kamu denger nggak yang aku omongin?" Soni kesal karena merasa dicuekin.
"Denger... Soni, aku ngedengerin kok", kata Tuti sambil mulutnya penuh dengan mie.
"Abis kamu makan melulu, fokus dong... fokus", Soni masih sewot.
"Aduh, kamu berisik amat sih... nanti aku nggak napsu makannya", sambil srroot... Tuti menyedot kembali ingusnya yang hampir keluar karena kepedesan.
"Ih, jijik... jorok kamu Tut, masak ingus disedot lagi, bukannya dibuang", Soni meringis melihat kelakuan Tuti.
"Sama aja Son, kalau aku keluarin juga kamu bakalan jijik karena denger suaranya... mau denger?? sekarang aku mau keluarin nih ingusnya", Tuti mengambil tissue yang ada di meja.
"Tutiiii .... jangan didepan aku!!... Sana jauh-jauh keluar dari jongko dulu!!" Soni sampai teriak lihat kenekatan Tuti.
"Kalau kamu begitu terus... aku pergi ya...", Sekarang Soni mengancam Tuti.
"Ya kalau kamu mau pergi sih.. ya nggak apa-apa... tapi bayar dulu baso aku dua mangkok."
"Ya ampun Tuut... kamu tuh perempuan... tapi kok rakus begitu"
"Iya aku perempuan... yang bilang aku laki-laki siapa??"
Soni tidak berkata apa-apa lagi, ia hanya cemberut.
"Duh gitu aja cemberut?? Kamu jadi kayak bimoli deh..." Tuti menggoda Soni.
"Bimoli?? Apaan tuh bimoli?"
"Bibirmu monyong lima senti... hahaha" Tuti tertawa terbahak bahak.
"Ah kamu selalu bikin aku illfeel"
"Son... jadi maksud kamu tadi tuh gimana?? Mau nembak si Meta?"
"Iya ... tapi aku tuh mau tahu... dia udah punya pacar belum? atau dia udah punya kecengan apa belum? Kamu kan sebagai sahabatnya pasti tahu... gitu".
"Belum, dia belum punya pacar... cuman pernah bilang... kalau si Andreas itu cuakeep bener... tinggi... atletis... tampan... ramah... pinter... sopan... kaya... jago maen basket..." Mata Tuti berputar-putar, seperti mengingat-ngingat lagi kelebihan Andreas.
"Jadi si Meta itu naksir sama si Andreas gitu?"
"Jangankan si Meta aku juga suka banget ngeliat si Andreas".
"Wah berat dong saingan aku", Soni menunduk. Wajahnya kalah ganteng sama Andreas, badannya nggak atletis, soalnya dia nggak suka olahraga. Ranking belom pernah masuk sepuluh besar. Kaya?? kagak. Bisa maen basket?? kagak. Kalau dibandingkan dengan Andreas, Soni nggak ada apa-apanya.
"Tenang saja Son... ingat peribahasa... selama janur kuning belom berdiri tegak di rumahnya di Meta, kamu masih punya harapan jadi pacarnya di Meta", Tuti memberi semangat pada Soni.
"Wah bener itu", Soni tersenyum, bersemangat lagi.
"Berarti... misi kamu adalah membantu aku supaya bisa jadian sama si Meta", Soni mengajak salaman.
"Oke", Tuti mengacungkan jempolnya.
"Salaman dong... tanda deal"
"Nggak mau... kita kan bukan muhrim, aku nggak mau disentuh sama laki-laki yang bukan suamiku"
"Ih... kamu bikin keki"
"Eh, aku kan nggak salah... Mamaku bilang, jadi perempuan jangan murahan... mau disentuh sama sembarang laki-laki".
"Ini kan cuma salaman..." Soni menepuk jidatnya sendiri, berasa pusing tiap kali ngobrol sama Tuti.
"Iya cuma salaman... tapi kan jadi bersentuhan kulit... kalau aku kesetrum sama kamu gimana?"
"Aku bukan listrik Tuut... Heh apa kamu naksir sama aku? Jadi takut kesetrum sama aku?" Soni menatap wajah Tuti penuh selidik.
Ditanya begitu Tuti melotot, "Nggak... aku nggak naksir kamu... ih kamu aja yang kegeeran".
"Udah... pokoknya mulai sekarang... inget misi kamu... nanti kamu aku traktir lagi, apalagi kalau aku bisa sampai jadian sama Meta, nanti kamu ... aku kasih hadiah deh".
***
Tuti sedang memandangi wajahnya di cermin, rambu keriting, wajah bulet, hidung irit alias sedikit, mana berani ia menjawab "iya" ketika Soni bertanya apa dirinya naksir Soni.
Selama ini Tuti sering jatuh cinta sendirian, tanpa pernah memperlihatkan atau pun berani mengucapkan... sampai akhirnya memutuskan perasaannya juga sendirian.
***
"Met..." Tuti memanggil Meta.
"Tut, jangan panggil Met dong... lengkap aja Meta... nanti disangka orang namaku Memet", Meta protes pada Tuti.
"Orang-orang termasuk kamu, kalo manggil aku Tuut... Tuut.... Tuut, emangnya lagu anak-anak... naik kereta api
tuut... tuut... tuut...
siapa hendak turut
ke Bandung - Surabaya
......................................." Tuti malah menyanyi.
Meta yang tadinya kesal, jadi tertawa terpingkal-pingkal.
"Meta... si Soni naksir tuh sama kamu... gimana tanggapan kamu?"
"Aku nggak ada rasa tuh sama si Soni, biasa aja, sama kayak ke teman cowok yang lainnya".
"Kamu mau nggak kalau diajak nonton berdua sama si Soni".
"Ya udah jelas nggak mau Tuti... kalau berduaan, terus bukan muhrim nanti ada yang ketiganya yaitu setan".
"Kalau diajak makan berdua, gimana? mau?" Tuti gencar melakukan usaha untuk membantu Soni.
"Ya sama saja Tut, itu namanya berduaan yang ketiganya setan... tapi kalau kamu ikut nonton atau makan, aku mau pergi, aku kan jadi ada temen... jadi nggak cuma berduaan"
"Caelah... berarti kalau aku ikut, aku jadi setannya dong... soalnya aku orang ketiga"
Meta malah tertawa.
"Iya deh... nanti aku bilangin sama si Soni", kata Tuti kemudian.
***
"Jadi gimana progress dari misi kamu itu Tut?"
"Duh bahasanya... pake progress segala", Tuti bicara dengan mulut penuh makanan. "Son, aku suka yang banyak kejunya"
Soni sengaja datang ke rumah Tuti, tak lupa membawa roti bakar karena ia tahu Tuti hobi makan.
"Tut ... fokus dong fokus.... jangan bahas makanan dulu ya".
"Oke... jadi kata Meta... inget ini kata Meta... aku hanya menyampaikan kembali" Tuti tetap berbicara dengan mulut penuh. Soni menatap Tuti tak berkedip, ia nampak penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Tuti.
"Iya, aku percaya, ini omongan Meta", Soni tak sabar ingin segera mendengarnya.
"Kata Meta saat ini dia nggak punya perasaan apapun pada kamu, dia hanya menganggap kamu sama seperti teman cowok yang lainnya. Terus aku tanya apa mau Meta nonton berdua atau makan berdua dengan kamu... dia menjawab nggak mau berdua-berduaan dengan kamu karena nanti ada yang ketiganya yaitu setan...
Tapi... katanya... inget ini kata Meta lho, kalau aku ikut nonton, atau aku ikut makan, Meta mau ikut pergi...
Inget... sekali lagi inget... bukan aku lho yang pengen diajak-ajak sama kamu!".
"Kalau kamu ikut jalan sama kita... bagaimana aku bisa pendekatan sama si Meta?"
"Ya itu terserah kamu... kamu aja yang mikirnya... biar aku ngabisin roti bakarnya... hehehe".
"Memang kamu bisa ngabisin roti sebesar itu??" Soni menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Tuti yang masih anteng memakan roti.
"Duh itu sampai belepotan begitu... lap tuh mulut!" Soni masih terus memperhatikan Tuti.
"Kamu jangan ngurusin aku terus... kamu pikirin aja urusan kamu yang mau deketin si Meta", kata Tuti sambil nurut, ia mengelap mulutnya dengan tissue.
"Oke deh kita jalan bertiga, nonton atau makan terserah si Meta maunya apa... kapan bisanya juga terserah dia... jadi kamu omongin lagi sama si Meta, nanti hasilnya kasih tahu sama aku".
"Siip", Tuti mengacungkan jempolnya.
***
"Kenapa kamu nggak pesen makanan?" Soni keheranan melihat Tuti yang mogok makan. Padahal biasanya ia selalu minta ditraktir dua porsi... apapun jenis makanannya.
"Aku nggak nafsu makan... kayak agak-agak mual gitu" Wajah Tuti terlihat agak meringis.
"Wah... jangan-jangan kamu hamil..."
Pletak... jidat Doni dijitak, "Aku sumpahin bibirmu jadi monyong... kalo ngomong nggak dipikir dulu... pacaran aja belom pernah... disentuh lelaki aja belom pernah... gimana aku bisa hamil!!! itu fitnah... aku bisa tuntut kamu atas pencemaran nama baik.." Tuti sewot mendengar perkataan Soni tersebut.
"Ya udah maaf deh aku cuman bercanda... berarti kamu itu sakit... cepet makan obat deh, takutnya sakitnya tambah parah nanti".
Barulah kemarahan Tuti mereda.
"Son, si Meta mau tuh jalan hari Minggu nanti katanya, tapi katanya kalaupun nonton atau makan kita bayar masing-masing ... nggak mau dibilang cewek matre yang manfaatin kamu... gitu katanya".
"Duh ribetnya ngedeketin cewek",
"Iya, aku juga sebagai teman kamu yang sangat hobi kau traktir, kalau aku ikut jalan nanti sama kalian, aku juga mau bayar sendiri semua pengeluaran, soalnya pasti mahal kalau nonton dan makan di mall, beda sama di jongko baso atau warteg,... kasihan dong kamu... jadi ini mah kata Meta anggap maen bareng jangan anggap janji kencan".
"Alhamdulillaah, berarti kalian itu cewek-cewek yang baik... hehehe"
***
Didepan bioskop Soni dan Meta terlihat gelisah karena Tuti belum datang juga, padahal ia yang punya ide ketemuan langsung disini. Katanya nggak usah dijemput, ia mau datang sendiri.
"Duh si Tuti kok belum datang juga ya", Meta terlihat gelisah.
"Meta, coba kamu telpon si Tuti, kenapa belum datang juga... mana tiket udah beli..."
Meta mengeluarkan ponselnya dan menelpon Tuti. Agak lama sampai akhirnya telpon itu dijawab.
"Hallo, assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalaam", terdengar suara Tuti di seberang sana.
"Kok kamu belum datang juga sih? kita udah beli tiket nih, setengah jam lagi filmnya diputar", kata Meta agak ngegas.
"Maafin aku Met... tadi aku udah siap-siap mau pergi, tapi tiba-tiba kepalaku pusing sekali. Pandangan mataku tiba-tiba jadi gelap. Sebenarnya sih ketika bangun tadi subuh aku sedikit demam, tapi aku langsung minum obat, terus aku juga tadi banyak tidur biar sorenya bisa ikut nonton... tapi maafin ya ... barusan aku kayak mau pingsan jadi nggak bisa pergi"
"Ya udah ya... jangan banyak bicara lagi, istirahat aja, makan yang banyak... jangan lupa makan obat, cepat sembuh ya... assalamualaikum".
"Kenapa Tuti? sakit?"
"Iya ... katanya sampai mau pingsan"
"Waduh gimana dong ... kita udah beli tiket"
Meta menatap Soni, "Ya udah kita nonton aja... sayang tiketnya... pulangnya kita mampir dulu ke rumah Tuti".
"Ya sudah kalau begitu, kita udah bisa masuk cinema 3 tuh"
Selama nonton, Soni nggak fokus sama jalan cerita filmnya, Ia teringat terus sama Tuti, pantas saja terakhir ketemuan ia nggak mau makan... aneh kalau Tuti nggak mau makan... harusnya ia sudah curiga... Tuti sakit.
Ternyata ketika Soni akhirnya bisa berduaan saja nonton film dengan Meta, ia merasa biasa saja, tidak deg degan atau ada perasaan berdesir, tetapi ia malah teringat terus sama Tuti.
Sampai film tamat, Soni tidak tahu pasti jalan cerita filmnya.
"Wah filmnya seru ya Son?!"
"Ah.. iya.. iya"
"Sekarang kita ke rumah Tuti dulu... kita lihat keadaannya".
***
Tuti terbaring lemah di ranjangnya. Tidak terlihat Tuti yang biasa ceria dan banyak bicara.
"Udah ke dokter Tut?", tanya Meta khawatir.
"Udah, tadi sore... Mamah yang membawaku ke dokter".
"Sakit apa kata dokter?" sekarang Soni yang bertanya.
"Radang tenggorokan dan gangguan pencernaan".
"Wah pasti penyakit datang dari hobinya makan", pikir Soni, cuma berani ngasih komentar di pikirannya tapi nggak berani kalau sampai mengucapkannya.
"Berarti sekarang kamu makannya bubur ya? tanya Meta merasa iba.
"Iya, tapi memang aku jadi tidak semangat makan, semua terasa pahit di lidah"
"Kasihan sekali", Meta ikut sedih.
"Kata dokter berapa lama harus istirahat di rumah?", sekarang Soni lagi yang bertanya.
"Seminggu..."
"Aduh aku bakal kesepian dong kalau nggak ada kamu", kata Meta, karena Tuti itu sahabat sekaligus teman sebangkunya.
"Kan ada Soni, biar dia yang nemenin kamu Met", kata Tuti, ia serasa punya cara untuk mendekatkan Soni dan Meta.
"Ya nggak bisa begitu dong Tut... kalau sama kamu aku kan bebas bicara apapun, cuman kamu yang paling ngertiin aku Tut"
"Walah ... kok omongan kamu kayak drama Korea yang sering aku tonton ya deket-deket ke lebay gitu .. hehehe", Tuti mencoba berkelakar.
"Tut.. aku pamit dulu ya biar kamu bisa istirahat... cepat sembuh ya" kata Meta
"Iya aku juga pamit", kata Soni.
***
Di sekolah, Soni terus melirik ke bangku kosong disamping Meta. Ia teringat terus sama Tuti. Biasanya ia suka ketemuan di jongko baso dekat sekolah hanya untuk membahas langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan untuk pdkt sama Meta. Ia selalu terlihat bersemangat dalam membahas rencana-rencananya. Apalagi kalau disogok dengan dua mangkok baso. Bisa-bisanya ia bicara banyak sambil makan. Kadang ia terlihat lucu kalau sedang makan. Soni sering memperhatikan Tuti saat makan.
"Ah, pulang sekolah nanti aku akan mampir ke rumah Tuti", pikir Soni.
***
"Bagaimana sekarang keadaanmu Tut?" tanya Soni sambil menatap wajah Tuti. Sakit sebentar saja ia sudah terlihat agak tirus wajahnya. Pasti karena ia nggak enak makan.
"Mendingan Son..."
"Ini aku bawain bubur Mang Haji yang terkenal kental itu, coba kamu makan mumpung hangat, kalau udah dingin nanti kurang enak", kata Soni sambil membuka bungkusan dan mengeluarkan cup plastik berisi bubur.
"Makasih... kamu baik sekali sama aku... beruntung Meta kalau jadian sama kamu".
"Tut, kayaknya aku baru tahu perasaanku yang sebenarnya..." ucapan Soni terputus.
"Iya aku tahu... kamu jatuh cinta sama Meta kan? Siapa sih yang nggak Meta itu cantik, badannya bagus, tinggi dan langsing .. ya kan?" Tenang deh, nanti kalau aku sudah sembuh, aku bantuin lagi kamu untuk jadi dekat dengan Meta..." Tuti bicaranya udah mulai nyerocos lagi, sambil memakan buburnya, mungkin ia sudah lebih baik keadaannya.
"Bukan begitu Tut... aku baru tahu kalau aku ternyata suka sama kamu...", kata Soni sambil menatap wajah Tuti.
"Hah?? kamu ngomong apa tadi? Aku takut salah dengar.." Tuti sampai melongo mendengarnya.
"Aku suka kamu... ketika nonton berdua sama Meta, yang aku ingat hanya kamu, aku nggak bisa fokus sama film yang aku tonton karena ingat kamu terus,... ketika di kelas nggak ada kamu, aku terus melihat ke bangku kosong tempat kamu duduk, membayangkan ada kamu sedang duduk disitu,... ketika makan, aku membayangkan melihat kamu sedang makan didepanku. Tut... aku sayang sama kamu"
"Apa??", mulut Tuti sampai menganga sampai tak sadar ada bubur yang menetes dari mulutnya.
**************************************************
terima kasih sudah membaca cerpen ini, mohon beri dukungan author dengan hati, comment n like ya 😘😘😘
**************************************************