Tiba-tiba sore itu di bawah hujan gerimis dengan langkah yang terburu-buru. Mama Dina baru pulang sampai di rumah. Tak seperti biasanya. Biasanya dia sudah datang sebelum pukul dua belas siang atau paling telat pukul tiga belas siang setiap harinya. Pokoknya biasanya Mama Dina selalu sempat sholat Dzuhur berjemaah di Masjid Al Falah di lingkungan tempat tinggal nya.
"Ma, mengapa mama baru datang sekarang? Ada apa, Ma?", tanya Farah dengan nada dan ekspresi penuh kecemasan. Mama Dina yang baru saja duduk di kursi makan menghirup napas dalam-dalam. Sepertinya dia sangat kelelahan. Tersirat juga dari wajah ayu mama empat puluh empat tahun ini menyimpan sebuah rahasia besar. Teka-teki yang belum terpecahkan. Mencari solusi jawaban yang entah bagaimana menyelesaikankannya.
"Ngga, ngga ada apa-apa kok. Semua baik-baik saja, Nak." , jawab Mama Dina dengan intonasi yang terdengar sangat berat dan agak lambat. Memperkuat isyarat curiga Farah anak semata wayang yang masih duduk di kelas 8 ini semakin penasaran. Persis tanda-tanda menyembunyikan sesuatu yang teramat sangat rahasia.
"Udah dulu tenangkan diri Mama. Itu mama habiskan aja dulu air hangat yang Sarah buatin tadi. Nanti keburu dingin Ma."
Pelan-pelan Mama Dina mengangkat kembali gelas yang berisi air sekitar sepertiga nya saja lagi. Dia habiskan meminumnya. Bulir-bulir keringat terlihat menetes di wajah putihnya nan bersih. Dia pun menyapu hidung mancungnya dengan tangan kanannya. Tiba-tiba tangannya berhenti seketika sampai di mulutnya. Ditutupi mulut berbibir tipis yang dipoles dengan lipstik merah maroon dengan telapak tangan kanannya tersebut. Hening seketika suasana di meja makan saat itu.
Wajah Mama Dina memang bukan tipikal ibu yang terampil menyimpan suatu masalah atau rahasia yang terbilang besar. Gesturnya, gerak-geriknya jelas terlihat secara eksplisit kalau dia sedang mempunyai suatu masalah. Secara aura ekspresi akan terlihat agak nyata dan berbeda dari wajah normal kesehariannya. Namun, dia lihai dan piawai untuk tidak menyalahkan situasi. Tidak pernah mengeluh. Sanggup menahan amarahnya. Intinya penyabar banget. Tidak bakalan mencari kambing hitam atas peristiwa sepahit apapun yang dialaminya. Ibarat kata bijak inilah takdir yang mesti kujalani dengan setulus hati. Seperti itulah karakter Mama Dina dalam menghadapi dinamika kehidupan zaman now yang penuh tantangan dan godaan ini.
Mau apalagi juga. Mama Dina sudah benar dan tidak mungkin juga disalahkan toh. Hidup akan tetap berjalan dan mesti kita syukuri apapun keadaan dan kondisi yang sesungguhnya terjadi dan dialami. Menyesali, menyalahkan keadaan, mengeluh, apalagi berputus asa tidak mungkin menyelesaikan persoalan. Hidup saja sudah harus disyukuri. Rezeki itu persoalan usaha, ikhtiar, dan tawakal yang semuanya harus kita ikhlaskan kepada Allah SWT dalam pikirannya. Sungguh terlihat sederhana cara berpikir seorang ibu dari kota kecil ini. Ibu yang dengan susah payah membesarkan dan mendidik anak semata wayangnya Farah hingga tumbuh menjadi ABG alias remaja putri yang cantik dan punya tebaran magnet pesona bagi lawan jenis yang menatapnya.
Ibu yang dengan setulus kasih sayang memberikan contoh keteladanan dalam bertutur kata dan berkarakter Mama duka dinikmati dalam kesendirian dan keseharian membangun jiwa raga putri tersayang. Maklum Mama Dina yang kesehariannya berjualan gorengan ini sudah terbiasa ditempa dengan kesabaran. Baginya sabar adalah sahabat setia.
Farah yang kini tumbuh jadi remaja yang tidak hanya cantik dan menawan. Dia tergolong anak yang brilian terbukti dengan sederet prestasi di SMPN 1 tempatnya mengenyam pendidikan. Sebuah SMP yang berkategori favorit di daerah tempat tinggalnya. Baik itu prestasi akademik maupun ekskul. Juara 1 sudah menjadi langganannya sampai semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021 ini bahkan ditetapkan sekaligus sebagai bintang sekolah. Walau kegiatan belajar dilaksanakan secara daring atau online, dia tetap semangat. Proaktif berusaha mencari bahan pelajaran baik via internet maupun "chatting" dengan guru mata pelajaran. Musim pandemi covid-19 bagi Farah bukan halangan, tetapi tantangan untuk membuktikan prestasi dan latihan kemandirian yang sesungguhnya. Sementara untuk ekskul juga aktif yang dia geluti. Mayoret drum band di sekolah dipercayakan di pundaknya dan baru saja dia terpilih melalui pemilihan daring sebagai ketua OSIS periode satu tahun ke depan.
Segudang prestasi sudah Farah sandang tidak membuatnya tinggi hati. Ibarat peribahasa semakin berisi semakin merunduk. Begitulah watak yang dimilikinya. Karakter yang memang telah ditempa dengan perhatian oleh Mama Dina. Plusnya lagi memang sudah memiliki genetik dari sang mama. Hasilnya jadi klop kaya gitu deh.
Tak heran jika Farah mempunyai banyak kawan di sekolahnya. Cewek maupun cowok baginya tidak masalah. Sikap sederhana dan selalu terbuka bila itu positif.
"Assalamualaikum Far, Gimana kabarmu?" Kata Nita via ponsel memulai pembicarannya.
"Waalaikum salam. Alhamdulillah, aku sehat dan baik-baik aja, Nit."
"Aku kangen banget kita kumpul-kumpul lagi di sekolah. Moga-moga kita boleh belajar tatap muka semester genap tahun ini ya."
"Iya, sama. Aku juga berharap banget. Kita bisa belajar bareng, latihan bareng, dan curhat-curhatan lagi deh."
"Eee...Far, Aku punya kabar gembira buat kamu nih, " sambung Nita sedikit mengubah intonasi bicaranya Farah menjadi penasaran.
"Kabar gembira apa Nit? Kok aku jadi penasaran nih. Cepat bilangin dong!"
Nita tersenyum sebab merasa sudah berhasil membangun ruang keingintahuan di hati kawan karibnya itu.
"Oke deh, tapi janji ya kamu tidak usah kaget apalagi ke-GR-an loh. Ceritanya gini Far....Ternyata diam-diam saudara sepupuku Rizal yang kelas 9 F itu ada hati sama kamu. Naksir berat sama kamu. Rizal cerita ini ke aku kemarin pas silaturahmi sama Uwa Razak sekeluarga ayahnya Rizal yang kakak ibuku itu. Kamu tahu sendiri kan siapa dan bagaimana Rizal. Terus gimana kamunya?"
"Gimana apanya?"
"Maksudku ada feel ngga sama Rizal?"
" Terus kalau pendapat kamu baiknya gimana?"
"Walau kita sahabatan lama sejak SD, tapi untuk urusan yang kaya gini aku serahin ke kamu aja. Ini privasi kamu. Hak penuh ada di kamu. Meskipun Rizal itu saudara sepupuku, terserah kamu aja. So, kamu aja yang tentuin deh," kata Nita memberikan kepercayaan penuh sebab dia paham betul sifat sahabatnya ini dalam mengambil suatu keputusan.
"Gini aja deh Nit, beri aku 3 hari untuk mengambil keputusan ya. Ngga papa kan? Ini hari Kamis. Insyaa Allah nanti pas hari Minggu agak siang dikit kita ketemuan aja langsung sekalian aku mau silaturahmi juga ke rumahmu. Karena pandemi lama juga kita tidak bertemu. Gimana Nit?"
" Yes, tapi pas ketemuan kita jangan lupa prokes alias protokol kesehatan. Emm...3M. Memakai masker, menjaga jarak, and mencuci tangan. Siap?"
"Ah, kamu Nit. Harus dong itu demi kesehata dan keselamatan....and tentunya kecamatan kita juga loh. Hahaha....Terus ada kabar gembira lagi? Kalau kabar sedih ngga usah dihubungi aku ya! " balas Farah bercanda penuh keakraban.
"Emang bisa kamu ini. Nanti aja yang lainnya kita bahas pas ketemuan di rumahku deh. Udah dulu ya. Salam kangen sama kamu dan sampaikan salamku buat mamamu ya! Daaah! Wassalamualaikum."
" Bye... Waalaikum salam" sahut Farah lembut menutup pembicaraan.