Waktu itu kami sedang ada penelitian di suatu desa. Kelompok kami terdiri dari 9 orang, 4 cowok dan 5 cewek. Kami ditempatkan serumah di rumah pak kepala desa di sana. Di antara kami itu ada seseorang yang bisa merasakan keberadaan makhluk halus. Dia adalah tunanganku, sebut saja namanya Wulan. Suatu hari, entah mengapa dia merasa gelisah tak menentu. Saat kutanya, dia bilang kalau ada makhluk halus terkutuk yang selalu membayangi kemana pun kami pergi. Tak lama setelah dia bicara seperti itu, salah satu teman kami kesurupan. Mungkin tidak cukup hanya dengan menganggu satu orang saja, "mereka" juga seringkali melakukan teror menyeramkan ke teman-temanku yang lain.
Singkat cerita, kami lalu membawa teman kami yang kesurupan tadi ke tempat orang pintar yang ada di desa itu untuk diobati. Dia bilang kalau di desa ini memang banyak makhluk halus yang berkeliaran. Dulu desa ini adalah pelarian bagi gerilya, banyak orang mati di daerah ini. Setelah melakukan pengobatan itu, kami semua kembali pulang ke rumah kepala desa.
Sekitar jam 8 malam, tunanganku berteriak sangat kecang dari arah kamar mandi. Aku dan teman-temanku yang lain begegas menuju kamar mandi. Saat kutanya, lagi-lagi dia bilang kalau ada makhluk halus yang menganggunya, sosoknya kayak raksasa. Aku pun tertawa untuk mencairkan suasana. Tunanganku itu terlihat pucat, tak bersemangat dan lemas.
Aku segera mengantar Wulan ke kamarnya. Sesampainya di kamar, dia bilang, jika kami tidak pergi dua hari lagi dari desa ini, maka makhluk itu akan mengikuti kami semua tanpa kecuali. Saya ingat betul bahwa malam itu adalah malam ketiga kami di desa itu.
*****
Karena di antara kami cowoknya ada yang tidak tulen (si Rio), salah satu temanku mulailah menjahilinya.
Si Romi mengikat sebuah selimut di bagian ujungnya, persis kayak pocong. Kemudian pocongan tersebut ia taruh dengan posisi berdiri di samping jendela dekat si Rio tidur. Keadaan gelap memang mendukung untuk menjahili orang.
Ketika si Rio bangun pengen pipis, sontak dia kaget saat melihat pocongan tadi. Rio yang awalnya cuma kaget biasa, tiba-tiba berteriak histeris, dan akhirnya jatuh pingsan. Kami awalnya mengira si Rio takut dengan pocong bikinan si Romi tadi. Tapi dugaan kami salah, karena beberapa saat kemudian ada pocong beneran berdiri di samping si Romi. Aku melihat Romi yang tadinya besar hati karena sudah merasa berhasil jailin si Rio, langsung pingsan juga karena melihat pocong beneran yang cuma berjarak 5 cm darinya.
Pagi harinya, kami langsung minta ACC kepada dosen pembimbing untuk membatalkan penelitian di desa ini.
Hari berlalu dengan cepatnya ketika sore itu kami para cowok pergi lagi ke tempat orang pintar yang ada di desa ini. Di tengah perjalanan, tiba-tiba si Romi bilang, “Eh, pada nyium bau wangi gak?”. Spontan teman-teman yang ada di situ pada memonyongkan mulutnya sambil penasaran mengendus-endus bau yang ada. Benar juga sih, saat itu memang santer tercium bau wangi mirip-mirip pandan. Sadar bahwa bau pandan itu mungkin berasal dari bawah jembatan yang kami lalui, salah satu temanku si Mamat, dengan rasa sok pemberani pergi melihat ke bawah jembatan. Anehnya, pas Mamat kembali ke atas, dia tampak gembira dan lalu pergi ke ujung jembatan. Entah respon apa yang ada di diriku hingga aku menyusul dan mengikuti si Mamat. Tiba-tiba dia memanjat pagar jembatan dan hendak melompat. Refleks aku menariknya kembali turun dari atas pagar jembatan itu. Mamat pun selamat.
*****
Malam mulai datang, waktu shalat isya pun masuk. Aku dan si Romi berhenti dulu di mushala. Saat mengambil air wudhu, aku melihat seorang wanita berpakaian putih berada di dalam toilet di sisi ujung kanan. Aku berlagak berani dan memegang prinsip "beda dunia beda kepentingan dan tidak saling mengganggu". Aku meneruskan wudhu tanpa menoleh lagi ke arah toilet itu. Saat membasuh hidung dan muka, angin dingin serta-merta menerpa tengkuk dan dari kejauhan aku melihat wanita tadi melayang rendah mendekat. Posisi terakhir hantu berbaju putih itu persis di sebelahku. Dia hanya berdiri tegak mematung tanpa bersuara. Aku hanya bisa meneruskan wudhu sambil bergidik ngeri. Memang sih aku tidak dapat menyaksikan wajah seram setan itu karena posisinya sengaja kubuat terus membungkuk. Tapi yang kulihat jari-jarinya sudah kurus kering, hanya kulit berbalut tulang, warnanya hitam dengan kuku yang panjang dan runcing-runcing. Aku tetap saja terusin wudhu, sambil terus membungkuk biar tidak melihat wajahnya. Begitu selesai, aku langsung bergegas balik kiri sambil mengucapkan salam.
Setelah selesai sholat, kami melanjutkan perjalanan ke rumah orang pintar itu. Sesampainya di sana kami langsung dijamu oleh siluman berwujud harimau. Untung saja orang pintar itu keluar dan sudah tau apa tujuan kami ke sana. Tak berlama-lama kami pun pulang ke rumah pak kepala desa lagi. Sampai di sana kami melakukan ritual agar kami tidak diikuti sampai ke rumah masing-masing. Setelah ritual itu selesai, barulah rasanya hati ini agak tenang dari rasa takut.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tunanganku kebelet pipis, dia minta ditemani olehku. Dia bergegas keluar sambil manggil-manggil namaku. Ketika kuhampiri, dia malah nyeletuk, “Si pocong merayuku sayang...”, katanya sambil tertawa. Namun tiba-tiba dia terdiam sejenak. Pas kutanya ada apa, dia bilang kalau pocong itu minta tolong untuk melepaskan tali pocongnya sebelum kami pergi dari desa itu.
Keesokan harinya, amanat yang disampaikan pocong itu kami lakukan. Kami menggali sebuah kuburan sesuai petunjuk si pocong. Kuburan itu telah rata dengan tanah, dan mungkin orang tidak tau kalau di sana ada kuburan. Setelah semuanya selesai, kami menghimbau para warga desa bahwa di tempat itu ada kuburan.
Akhirnya, siang harinya aku dan teman-temanku semua pergi dari desa keramat itu.
-
-
-
-
-
****Terima kasih****
★ 8 January 2021 ★