Seandainya dulu pernah tersampaikan rasa sukanya, mungkin hari ini tak perlu ada rasa canggung. Viola—gadis biasa saja yang punya mimpi luar biasa menggapai lelaki famous yang pernah menghiasi harinya di masa lalu—berharap lelaki itu tiba-tiba datang untuk menyapanya. Setidaknya, hanya untuk menanyakan kabarnya selama ini.
Kini lelaki itu berdiri tepat di hadapannya sebagai ketua tim—yang pasti, Viola ada di tim itu. Meski sempat ragu bisa menjalani kegiatan dengan normal, Viola dan timnya berhasil menyelesaikan misi dengan baik. Bahkan jadi yang terbaik hari itu. Memang tak usah diragukan, lelaki itu punya pesona yang luar biasa—Dimas Arya.
"Emang dulu lo sedekat apa sama Kak Dimas?"
Viola mengangkat dua jemarinya, "Segini."
"Sedikit banget. Gak begitu dekat berarti." jawab temannya—Luna.
Viola terkekeh, ia lagi-lagi meratapi dirinya. Kenapa juga harus suka pada lelaki itu, yang jelas-jelas tak pernah menganggap keberadaannya.
"Lo tau, untuk jadi sebesar ini—" tambahnya lagi-lagi sambil mengangkat dua jemarinya yang kini berjarak lebih jauh, "—itu mustahil."
Luna mengerutkan dahinya.
"Bahkan gue bersyukur setidaknya pernah kenal sama Kak Dimas. Kalaupun dia lupa gue gak papa. Setidaknya."
"Lo cuma berandai-andai, La. Coba lo deketin Kak Dimas sekarang."
"Jangan becanda lo, Na. Lo gak tau apa pacar dia itu Aruna Shavitha?"
Luna melotot, "ARUNA?!"
"Ssshhhhh....." Viola membungkam Luna dengan telapak tangannya.
"Aruna yang seleb itu?"
Viola mengangguk. Beberapa detik setelahnya nafas Luna sepertinya tercekat. Gadis itu seperti melihat sesuatu yang mengancam.
Luna menunjuk sesuatu yang berada di belakang Viola. Sementara gadis itu asyik menyabuti rumput kecil di tanah.
"Kenapa, Na?"
Luna masih sibuk menunjuk sesuatu dengan matanya.
"Mata lo kenapa? Kelilipan? Mau gue tiup?"
Kesal temannya masih tak mengerti, Luna pasrah. Ia membiarkan lelaki itu berjalan semakin mendekat.
"Kenapa, sih, Na? Sini gue—"
"Tadi gue denger ada yang nyebut nama Aruna?"
Mendengar suara berat itu, Viola hampir saja meloncat dari tempatnya duduk. Gadis itu lantas menoleh ke arah suara itu berasal. Benar saja, Dimas tengah menatapnya.
"Eh? Kak Dim. Ada apa?"
"Lo jangan pura-pura gak tau."
Mata Viola celingukan, gadis itu mencoba mengalihkan perhatian. "Aku emang gak tau, Kak."
"Lo masih pemalu kayak dulu ternyata." tambah lelaki itu.
Viola mendelik, dalam hatinya gadis itu menggerutu.
"Gue mau meluruskan sesuatu, tentang Aruna, dan lo—" katanya sambil menunjuk gadis di hadapannya, "—Viola."
"Hng... Maksud Kakak?"
"Gue sama Aruna udah gak ada apa-apa." jawabnya, "Dan lo Viola, meski dulu kita pernah temenan, gue gak berharap sekarang kita kenal dekat lagi. Jadi jangan natap gue kayak gitu."
Luna yang mendengarnya saja merinding. Apalagi Viola yang jadi sasaran utamanya.
Viola mendengus, "Lagian aku juga ogah temenan lagi sama Kakak."
"Bagus kalo gitu."
Viola mengangkat bahunya sambil menatap sinis Dimas. Tak lama setelahnya lelaki itu meninggalkan Luna dan Viola.
Viola melepaskan lagi nafasnya, "Gila! Kok gue bisa ngomong kayak gitu! Ah bodoh!"
"Bagus, La. Lo keren tadi. Biarin aja si Dimas sombong itu ngerasa gak dibutuhin. Emang dia siapa?"
"Dia Dimas Arya, ketua geng itu."
"Ya... Whatever, lah, La. Yang penting lo gak sakit hati lagi." kata Luna menenangkan.
Setelahnya kegiatan disudahi, semua tim dipersilakan untuk beristirahat. Viola terlelap hingga petang sementara Luna sibuk cari kayu bakar untuk malam.
Kala itu, sebab ketiduran hingga jam api unggun tiba, Viola tentu dapat hukuman. Ia harus cari kayu bakar tambahan untuk api unggun. Luna dilarang menemaninya. Ia dihukum dengan tiga orang lainnya yang bahkan tak ia kenal. Persetan. Bagus juga urusannya tak lebih banyak dengan Dimas.
Namun ternyata mencari api unggun dalam gelap itu cukup sulit. Viola yang penglihatannya tak bagus terus sibuk membenahi kacamatanya yang sering menurun. Sedangkan langkahnya tak terkontrol.
Alhasil ia terperosok cukup jauh. Bukan jurang, itu adalah bukit biasa. Meski begitu Viola tentu dapat banyak luka di lengan dan kakinya, bahkan segaris luka timbul di wajahnya yang memucat.
"Ah, sialan! Gelap banget." keluhnya.
Viola mencoba berdiri, namun nihil, kakinya mati rasa. Ia bahkan tak bisa berpijak dengan benar. Gadis itu beberapa kali jatuh hingga lelah merambat di tubuhnya.
Viola pasrah. Ia menunggu kakinya pulih sambil mencoba menghubungi temannya di tenda dan berharap seseorang menemukannya di bawah sini.
Harapannya terkabul ketika itu juga. Cahaya senter menemukannya di ujung bukit, seseorang pasti sedang mencarinya. Atau tak sengaja menemukannya.
Viola melambai-lambaikan tangannya. "TOLONG GUE JATUH! GUE GAK BISA BERDIRI"
Namun orang itu malah pergi, senternya ditujukan ke arah lain. Viola geram. Bukannya mendapat bantuan, ia malah kena PHP.
"AH! SIAL!"
Lelah jika terus mencoba, Viola diam menyender pada pohon di belakangnya. Beberapa saat kemudian cahaya senter itu menerangi tubuhnya lagi ketika Viola hampir terlelap. Senyumannya kembali merekah. Namun matanya tak berhasil menemukan sosok yang sedang mendekat itu. Mungkin itu panitia atau anggota lain yang tengah mencarinya.
"PLIS JANGAN PERGI LAGI!!"
"VIOLA?!"
Viola menyipitkan matanya. Ia menangkap sesuatu dari sana, cowok itu.
Dimas. Dimas Arya.
Hancur sudah harapannya, lelaki itu pasti akan pergi lagi dan tak membantunya.
Namun tebakannya salah, Dimas mendekat dengan senter di tangannya.
"Lo gak papa?" katanya seperti khawatir.
"Gak papa." jawab Viola singkat. "Aku gak bisa berdiri."
"Lo jatoh dari mana? Ini luka lo banyak banget. Muka lo juga banyak luka, La."
La? Bagaimana bisa lelaki itu memanggil namanya.
"Kalo Kak Dim gak mau bantu aku. Bisa tolong panggilin orang yang bisa bantu aku ke sini, gak?"
Dimas mengerutkan keningnya, "Kok gitu? Gue mau bantu lo. Makanya gue ke sini."
Viola diam mematung. Desir apa ini yang melewati dadanya? Tak mungkin rasa itu ada lagi. Gak boleh!
"Ayo naik ke punggung gue. Gue gendong."
"Kak Dim bisa bopong—"
"Naik, La. Cepet. Keburu makin malem."
Viola menurut. Dibantu Dimas ia berhasil naik ke punggung kokoh lelaki itu. Ternyata ini rasanya—wangi parfumnya.
"Kak Dim?"
"Hm.."
"Kak Dim sengaja nyari aku?"
"Enggak." jawabnya sambil menggeleng. Meski begitu Viola bisa mendeteksi kebohongannya.
"Kenapa Kak Dim harus jelasin hubungan Kak Dim sama Aruna yang udah selesai? Sepenting itu ngasih tau aku?"
"Kalo lo bawel gue tinggal di sini, ya?"
"Kak Dim. Aku kangen Kak Dim udah lama banget. Aku gak nyangka bisa sedeket ini sama Kak Dim."
Dimas menghela nafasnya, "Maaf kalo dulu gue jutek banget. Gue punya alasan yang gak masuk akal memang."
"Maksud Kak Dim?"
"Dulu, alasan gue jauhin lo adalah karena lo mudah ditipu. Gue berkali-kali bilang jangan mau dibohongin orang. Tapi lo sepolos itu. Gue merasa gak bisa temenan sama lo."
Viola malah terkekeh, "Jadi itu alasan Kak Dim bahkan gak nyapa aku?"
Dimas setengah mengangguk. "Lo berat juga, La."
"Aku udah besar sekarang, Kak."
"Gue bahkan gak bisa lihat lo karena gue ngerasa bersalah. Diem-diem gue juga suka nanyain lo ke Mama."
"Yap. Aku tau."
"Lo sekarang udah lebih kuat. Lebih hebat. Gue tau lo sekarang udah lebih pintar dan gak mudah kemakan omongan orang."
"Dan kenapa Kak Dim bisa ada di sini. Padahal, jauh sebelum hari ini Kak Dim pernah bilang gak suka kalo muncak ke gunung."
"Karena lo."
Viola mengernyit, "Aku?"
"Gue pengen tau sejauh mana lo mengenal kerasanya alam ini." katanya sambil terkekeh.
"Sejak waktu itu, aku mulai terbiasa untuk gak denger omongan orang dan masukin ke hati. Karena cuma ada Kak Dimas di sana."
Dimas menghentikan langkahnya, "Gue? Dimana?"
"Di sini." Viola menunjuk dadanya.
Meski tak melihatnya, lelaki itu bisa merasakan gerak Viola menyentuh dadanya. Dimas tersenyum tanpa Viola tau, lantas melanjutkan langkahnya.
"Patah hati terhebatku itu waktu tau Kak Dim udah gak mau dekat sama aku lagi."
Seketika senyuman Dimas luntur, "Gue udah minta maaf, La."
"Maaf aja gak cukup." balas Viola. "Kak Dim harus ngisi kekosongan itu mulai sekarang."
"Ya—" Dimas berpikir sejenak, "—gue juga punya rencana begitu. Setelah ini gue bakal memperbaiki sikap gue ke lo. Tapi lo jangan berharap lebih."
"Aku berharap lebih, Kak."
"Ya. Whatever."
Malam itu, hubungan keduanya memang membaik. Seperti tak akan ada lagi badai yang menghampiri mereka. Viola dibuat terbang begitu jauh sementara Dimas sibuk membenahi hatinya yang masih hancur. Ia menemukan jawabannya pada Viola—teman masa kecilnya.
📷 : Pinterest