"Nur, nanti hari Sabtu, antar aku ya ke Kepatihan. Aku pengen beli baju baru nih", Sita memang selalu terlihat fashionable. Bajunya bagus-bagus dan sering gonta-ganti.
"Oke, buat kamu sih selalu oke", Nuri mengacungkan jempol tangannya. Sebenarnya Nuri enggan bepergian jauh karena memerlukan ongkos, sedangkan uang jajannya sangat terbatas.
"Kamu memang sahabat terbaikku", Sita merengkuh bahu Nuri. "Nanti aku jemput kamu ya"
"Nanti kita mau naik bus atau...."
"Nanti aku diantar sama Pak Dudung sopirku, kalau naik motor sendiri jauh-jauh suka dilarang sama mamah"
"Baiklah nanti aku tungguin kamu".
Mereka pun berpisah di halaman sekolah karena Sita pulang ke rumahnya dengan menggunakan motor. Seringkali Sita menawarkan untuk mengantar Nuri pulang dengan dibonceng olehnya, tapi Nuri selalu menolak dengan halus. Ia tidak mau menyusahkan Sita karena memang rumah mereka itu berlawanan arah.
Ke sekolah Nuri selalu membawa bekal makanan dari rumah. Hal itu menghemat uang jajannya. Ia kadang memakai simpanan sisa uang jajannya untuk hal-hal seperti ini, seperti saat tidak bisa menolak ajakan temannya untuk jalan-jalan.
***
Nuri membuka lemari pakaiannya, cuma ada tiga gantung baju yang biasa ia pakai kalau pergi main bersama teman-temannya. Teman-temannya pasti hafal ia selalu memakai baju-baju itu secara bergiliran.
Untuk orang lain mendapatkan baju baru mungkin bukan hal luar biasa, tapi bagi Nuri itu sesuatu yang ditunggu. Seperti sebuah tradisi, ia hanya mendapatkannya setahun sekali, setiap menjelang Lebaran.
Sebagai gadis remaja, tentu saja Nuri menginginkan bisa bersolek seperti teman-temannya, bisa bergonta-ganti pakaian yang indah-indah. Apalah daya... ibunya hanya pedagang gorengan dan ayahnya pedagang sayur keliling.
"Ah... yang ini saja deh", gumam Nuri sambil mengambil satu setel pakaian, kulot hitam, baju tangan panjang motif garis-garis dan kerudung putih.
Ya... sekarang hari Sabtu, Sita berjanji akan menjemput Nuri di hari itu.
"Bu, hari ini aku minta ijin ya... untuk pergi bersama Sita" Nuri meminta ijin pada ibunya yang sedang menunggui dagangannya didepan rumah mereka.
"Memangnya mau kemana?" tanya ibunya sambil sesekali membalikkan goreng pisang didalam wajan.
"Mau nganter Sita jalan-jalan, katanya dia pengen beli baju baru".
"Boleh... tapi hati-hati ya... ini ongkos buat kamu".
"Nggak usah Bu, nanti katanya dijemput pake mobil jadi nggak perlu ongkos". Nuri nggak enak hati untuk menerima uang dari ibunya. Biasanya jatah uang jajannya hanya dari hari Senin sampai Jumat, karena itu hari sekolah, kalau hari libur sekolah, Sabtu dan Minggu, ia tidak pernah memintanya.
Nuri selalu bermuka manis didepan kedua orang tuanya. Ia tidak ingin menambah beban orang tuanya dengan berbagai permintaan demi memuaskan keinginan pribadinya.
"Ambil aja... buat jajan di sana Nur"
"Kalo buat jajan sih, masih ada sisa uang jajan dari minggu ini"
Untuk antisipasi mata ngiler lihat jajanan, baik makanan dan minuman dalam bentuk apapun, Nuri sudah sarapan sampai kenyang. Ia pun meminta goreng pisang dagangan ibunya dan memakannya sambil menunggu Sita datang menjemputnya.
"Assalamualaikum" Sita sudah berada didepan rumah Nuri.
"Wa'alaikumsalaam... Bu, aku pergi dulu ya" Nuri mencium tangan ibunya.
"Bu, Nurinya saya pinjam, nanti pulangnya saya antarkan lagi" Sita juga bersalaman pada ibunya Nuri.
"Emangnya aku barang gitu... pake dipinjam segala" Nuri protes pada Sita. Sita hanya tertawa.
"Hati-hati dijalan ya", Ibunya Nuri berseru sambil melambaikan tangan.
***
Seperti biasa, walaupun tergolong masih pagi, jalan menuju Kepatihan selalu macet. Disini memang pusat kota Bandung karena sangat dekat dengan Alun-alun Bandung. Disini berjejer pertokoan mulai dari yang kecil sampai yang paling besar.
"Nur, ayo kita turun disini aja, Pak Dudung biar cari tempat parkir sendiri" Sita mengajak Nuri turun dari mobil, karena lebih baik jalan kaki sedikit daripada terjebak macet didalam mobil.
"Pak Dudung nanti saya telpon kalau saya sudah selesai belanjanya", Sita berbicara pada Pak Dudung, sopirnya.
"Baik Neng Sita".
Sita menggandeng tangan Nuri, mereka menyusuri trotoar sebelum akhirnya masuk kedalam pertokoan yang paling besar yang ada disitu.
Diawal memasuki gedung, terdapat beberapa counter kosmetik dan parfum. Kemudian terlihatlah deretan baju-baju untuk wanita. Lantai satu memang dikhususkan untuk pakaian wanita. Menurut Nuri, pakaian disini bagus-bagus, sangat lengkap, tersedia sampai underwear juga.
"Gimana ada yang kamu suka Sita"
"Belum", Sita menggeleng. Nuri pikir mungkin Sita kebingungan memilih karena saking banyaknya baju yang bagus.
"Masih mau keliling disini atau mau ke toko lain?"
"Kita ke toko yang lain aja". Mereka pun keluar dari gedung itu dan menuju ke gedung besar yang ada diseberangnya.
Kalau di gedung ini, lantai satunya berisi toko-toko kecil yang berbeda pemiliknya. Dahulu gedung ini pernah terbakar habis dan sekarang baru selesai dibangun kembali.
"Kayaknya pakaian disini lebih bagus Nur" Sita tersenyum seperti sudah menunjukkan ketertarikannya.
"Kita mau mulai masuk toko yang mana nih?"
"Yang ini aja", Sita menarik tangan Nuri.
"Gimana kalau yang ini?", Sita mengangkat dress kotak-kotak model Korean style.
"Bagus banget.... tapi kalau dipakai gitu aja kayaknya kependekan deh, mesti pakai bawahan lagi, legging atau jeans", Nuri memberikan pendapatnya.
"Aku mau cobain ya... Mbak kamar pasnya sebelah mana?"
Nuri menunggu Sita mencoba pakaiannya. Ia pun melihat-lihat pakaian yang dipajang disitu... nggak berdosa kan lihat-lihat saja walau nggak jadi beli... hihihi...
"Wah ini bagus banget", Nuri bergumam sambil melihat baju yang dipakaikan di manekin. Dress-nya warna salem dipadukan dengan blazer model Korean style. Nuri menengok gantungan harganya. Wow... harganya luar biasa mahalnya menurut Nuri.
"Baju itu bagus Nur, elegan menurutku" tiba-tiba Sita berbicara dibelakang Nuri, membuat Nuri sedikit terlonjak.
"Ah kamu bikin kaget aja"
Sita malah tertawa.
"Gimana bajunya pas di kamu?"
"Iya, nyaman di badan aku... kayaknya kalau nggak pakai bawahan juga dress-nya nggak terlalu pendek menurut aku .... hanya diatas lutut sedikit".
"Tadi kan kamu nanya pendapat aku, kalau menurut aku sih... walau kamu nggak pakai kerudung tapi ada baiknya tidak memperlihatkan aurat... kan kalau dipakai tanpa bawahan lagi nanti paha kamu bakal terlihat kalau kamu duduk misalnya. Tapi ini sih sekali lagi menurut aku", kata Nuri sambil merengkuh bahu Sita, sahabatnya itu.
"Oke,... pendapatmu aku pertimbangkan... tunggu sebentar aku ke kasir dulu ya"
Sambil menunggu Sita membayar belanjaannya di kasir, Nuri melihat-lihat lagi baju-baju yang dipajang di toko tersebut. Ahh... baju yang ditaksir sama Nuri tadi, dilepaskan dari manekin yang memakainya. Memang itu modelnya bagus pasti ada yang membelinya. Aneh... ada sedikit rasa kecewa di hati Nuri, padahal jelas-jelas ia tidak akan mampu membelinya. Nuri tersenyum sendiri.
"Udah Nur... mari kita kemon", Sita mengajak Nuri pergi dengan mengutip kalimat Si Unyil.
"Kita mau kemana lagi nih"
"Aku mau lihat-lihat sepatu Nur"
"Oke... aku siap mengawal", Nuri menjawab dengan nada berkelakar. Sita menggandeng tangan Nuri mengajak masuk ke toko yang menjual sepatu.
Yang Nuri tahu, sepatu Sita yang dipakai ke sekolah, yang warnanya harus hitam, itu saja sudah banyak, ada yang untuk olahraga, ada yang seperti sepatu ballerina, sepatu kanvas, belum lagi yang dipakai untuk main atau jalan-jalan, ada sneakers, sepatu tali, boots, sampai wedges.
Sedang Nuri hanya punya dua, ke sekolah memakai sepatu olahraga warna hitam dan untuk main atau jalan-jalan memakai sepatu sandal. Kalau rusak sedikit, pergi aja ke tukang sol sepatu biar dijahit atau dilem sama di mamangnya.
"Udah ada yang cocok Ta?"
"Bagus mana nih... yang kiri atau yang kanan?" Sita menyodorkan dua model sepatu di tangannya.
"Yang kiri kayaknya nyaman buat jalan, kalau yang kanan kayaknya lebih bagus buat ke pesta".
Kadang Nuri pengen ketawa karena dimintai terus pendapatnya. Nuri kan sangat... sangat jarang belanja, tadi dimintai pendapatnya oleh seorang yang sophaholic.
"Berarti aku pilih yang kanan aja, soalnya mau dipakai ke ulang tahunnya Winda".
"Winda ulang tahun? Kapan?" Winda itu teman sekelasnya Nuri dan Sita.
"Minggu depan katanya, tapi katanya dia memang belum mengundang secara resmi, baru ngobrol sama aku aja"
"Oh begitu..."
Setelah membayar sepatu, Sita dan Nuri meninggalkan toko itu.
"Udah laper nih, makan yuk", Sita mengusap perutnya.
"Aku sih masih kenyang, tadi di rumah makan banyak, ditambah lagi sama goreng pisang... hehehe", Nuri memberi alasan sambil terkekeh.
"Ayolah aku traktir ya", Sita menarik tangan Nuri ke arah food court di lantai tiga. Sita tahu betul keadaan Nuri, ia tidak mungkin mau makan di tempat seperti ini, ke sekolah aja ia selalu membawa bekal makanan. Sita berpikir mungkin Nuri juga lapar seperti dirinya.
"Iya... iya... ayo kita makan, tapi... bayar masing-masing ya", kata Nuri sambil mengacungkan jempolnya.
Sita lupa, Nuri tidak suka ditraktir. Suatu ketika ada temannya yang mau mentraktir, Nuri pun menolaknya, ia memilih membayar sendiri, waktu itu Sita berkomentar "Aneh!? kok kamu nggak mau ditraktir? teman-teman yang lain tuh sangat senang kalau ada yang nraktir"
Saat itu Nuri menjawabnya, "Aku takut tidak bisa membalas traktiran mereka, bagaimana kalau suatu saat, ketika ada momen tertentu, orang yang pernah nraktir itu, meminta ditraktir kembali... iya kalau aku ada rejeki lagi punya uang, tentu tidak masalah, tapi bagaimana kalau aku lagi nggak punya uang? itu pasti jadi masalah"
"Baiklah aku setuju... kita bayar masing-masing", Sita tersenyum pada Nuri.
"Kamu mau makan apa Ta?"
"Aku mau soto ayam aja minumnya es jeruk, kalau kamu?"
"Sama aja sama kamu biar nggak repot pesennya", sekali-sekali jajan diluar nggak apalah, pikir Nuri.
"Eh, Ta... nanti kamu mau ngasih kado apa sama Winda?"
"Belom tau Nur, bingung... mau ngasih boneka, kayaknya dia udah nggak pantes maen boneka... hihihi"
"Winda tuh kan senang sekali baca novel, gimana kalau kita kasih novel aja?"
"Wah, ide bagus tuh... kebetulan disini juga ada toko buku... kita lihat-lihat sekalian".
"Iya, boleh... tapi aku sih belinya nggak akan sekarang, lihat-lihat dulu aja", kata Nuri.
***
Selesai makan, Sita dan Nuri turun satu lantai ke lantai dua. Mereka hendak melihat-lihat novel di toko buku yang ada disitu.
Sesudah berkeliling beberapa lama, akhirnya Sita menjatuhkan pilihan pada dua buah novel yang sangat tebal.
"Biar puas Winda bacanya... hihihi" komentar Sita.
"Sudah semua yang mau kamu beli Ta?'
"Rasanya sudah... aku mau nelpon Pak Dudung biar dijemput", Sita pun menelpon sopirnya itu minta dijemput.
"Nur, kata Pak Dudung kita harus jalan dulu ke dekat Mesjid Agung, soalnya mobilnya parkir disitu. Kalau harus jemput kesini macet... pasti jadi lama".
"Iya, nggak apa-apa jalan sedikit, sini belanjaan kamu aku bawain sebagian".
Mereka pun jalan bersama sambil mengobrol.
"Tuh mobilnya... ternyata memang jalannya nggak jauh"
***
Sesudah duduk didalam mobil baru terasa betis mereka pegal-pegal.
"Wah... lama juga kita jalan-jalannya... nih betis kerasa pegal-pegal", kata Nuri sambil tertawa.
"Kamu capek ya? Aku tuh kalau belum keliling dari ujung ke ujung belum puas" Sita juga ikut tertawa.
"Kamu tuh memang hobi belanja... dan uang untuk belanjanya tersedia... jadi hobimu tersalurkan... ngomong-ngomong kalau belanja kayak gitu, itu pakai uang tabunganmu atau minta sama ortu?"
"Ya seringnya sih minta... tapi kadang-kadang pakai uang tabungan sendiri juga".
"Wah baju sama sepatu kamu pasti seabreg ya? Paling banyak pasti koleksi baju... ck..ck..ck", Nuri sampai berdecak membayangkan deretan baju kepunyaan Sita.
Tapi Nuri tidak iri pada Sita, rejeki tiap orang kan berbeda, kata guru ngaji juga "Harus pandai-pandai bersyukur, Insya Allah rejeki akan bertambah". Nuri bersyukur atas semua hal yang telah ia miliki.
Tak terasa saking asyiknya ngobrol, sampailah mobil yang membawa mereka di depan rumah Nuri. Meja tempat dagangan ibunya Nuri sudah dibereskan, berarti gorengannya sudah habis. Roda yang biasa dipakai Bapaknya Nuri untuk jualan sayur juga sudah terparkir disamping rumah.
"Alhamdulillaah... sudah sampai nih, Sita mau mampir dulu yuk?"
"Nggak, aku langsung pulang aja ya... Oh ya Nur, ini buat kamu..." Sita menyodorkan satu paper bag kepada Nuri.
"Apa ini Ta?" Nuri mengerutkan dahinya.
"Baju buat nanti dipakai ke ulang tahunnya Winda... sama novel buat kadonya Winda"
Nuri mengintip isi paper bag itu, "Wah ini baju yang tadi di toko itu... ini kan mahal Ta", itu baju yang Nuri suka yang dipakai sama manekin di toko baju Korean style.
"Kamu pakai nanti ya... jangan ditolak" Winda tersenyum.
Nuri terharu... matanya berkaca-kaca, ia memeluk "Makasih ya, kamu sahabatku yang sangat baik. Semoga kebaikanmu langsung dibalas oleh Allah".
**************************************************
terima kasih sudah membaca cerpen ini, mohon beri dukungan author dengan hati, comment n like ya 😘😘😘
**************************************************