"Aah sakit, kak. jangan masukan terlalu dalam!"
Kau berteriak saat itu padahal aku tidak memaksa. Bukannya ini yang kau inginkan, Tania? Bersanding denganku dan hidup bersama selamanya mengikatkan diri padaku meski kau mencintai Farhan.
"Tolong tahan sebentar aku akan selesai," ucapku berusaha mengimbangi semua gerakanmu. Kau masih merintih kesakitan.
Apakah ini pertama bagimu? Bagi gadis sepertimu yang masih awam, tentu tidak mengerti dengan semua ini. Aku tidak tahu kau berusaha mencintaiku dengan tulus atau hanya menyanggupi syarat orang tuaku karena demi melunasi hutang-hutang orang tuamu. Aku tidak akan mencoba mencari tahu, Tania...
"Aaah!"
Kau menjerit lagi, desah nafasmu membuatmu gelisah itu sangat menggangguku. Ini hanya mencoba selusin sepatu hadiah dari perkawinan kita, bukannya berlari di arena balap ranjang cinta.
Tania ... Tania, kau gadis naif dan bikin aku deg-degan padamu.
Apakah kau ingin kita bercinta?
Aku memelukmu dengan erat dan merebahkan kepalamu di bantal empuk. Kau terhenyak dan menjadi panik.
"Kita mau apa??"
"Ssh! ada mami di depan pintu, jangan berisik!"
Aku menempelkan jari telunjuk di bibirmu. Oh tidak, aku telah menyentuhmu secara langsung. Pasti kamu akan bertindak kasar lagi.
"Kita pura-pura maksudmu?"
Kau malah balas memelukku dan bilang kita harus pura-pura. Apakah bagimu cinta itu sesuatu yang harus dilakukan dengan pura-pura saja? Jangan begitu. Cinta itu tidak boleh dilakukan dengan kepura-puraan, Tania.
"Kak, benaran mamimu ada di balik pintu. Nanti dia kira kita sedang apa-apa lagi. Apakah kita harus bersandiwara lagi?"
"ya, lakukanlah. Apa saja, demi sandiwara ini berjalan dengan mulus," bisikku di telingamu. Kau mengangguk tersenyum.
Huh, dasar Tania. Lugu sekali. Dia pikir aku mau melakukan itu dengan sandiwara.
"Emm, coba cium aku perlahan," bisikku di telingamu. Kau mencoba menjauh, tapi tanganku sudah mendekapmu dengan eratnya.
"Kiss di pipi aja deh, ya," ucapmu gugup sekali. Ah, kau ini... Inilah, kenapa aku jatuh cinta padamu di awal perkenalan kita. Aku sudah memutuskan, kau akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak.
Chuu!
Kau benaran menciumi pipiku dan aku membalasnya dengan agresif. Debar di dada yang bertalu cepat ini tak kupedulikan lagi. Aku melepaskan semua sepatu itu dan membanting Tania ke ranjang dengan caraku.
"Ooh, kau nakal sekali, kak!"
Aku terkekeh jahat mendengar ucapanmu. Kali ini kau akan mengamuk dengan hebat.
Aku merengkuh pundakmu dan mulai menciumi setiap jengkal yang kusukai dari tubuh harummu ini. Di leher ... di dada dan di bagian perut. Kau merasa sangat geli, berteriak pura-pura marah dan memukul bahuku.
Aduh, gemasnya kau Tania!
Aku mulai mengecup lembut dahi, turun sedikit ke hidung, kemudian kedua kelopak matamu yang indah dan salah satu yang kusukai, kemudian bergerak cepat di kedua pipi, lalu berhenti di bibirmu. Aku menatapmu dengan kode, mengerling.
"Apa?" tanyamu.
"Bolehin ya?" tanyaku balik. Aku meminta izin darimu. Kau pun mengangguk lembut, tapi malu-malu. Ada rona pink di wajahmu.
Ah, betapa kau sangat cantik, Tania.
"Baiklah!"
Aku menyentuh kulit bibirmu dengan telunjuk. lalu bibirku mulai melumatnya dengan dalam. Lidah ini bermaksud menyapu di dalam mulut, tapi kau tidak mau mengizinkan aku masuk ke sana.
Kamu mengatupkan rapat mulutmu. Ah, sudahlah. Meski hanya kecupan ringan, kau sudah menggelinjang hebat begitu.
Rupanya bagian ini adalah sensitif bagimu, ya ... Tania?
"mmuuahh!"
"Aah!" erangmu.
Aku tersenyum. Hehehe, apakah dia menyukai kecupan kecilku, gumamku di hati.
Sejak kapan kau jadi seperti seekor singa buas?
Kamu malah membalasku dengan cepat. Napasmu terengah-engah, ini menandakan kau sedang menikmati setiap inci kecupan kecil yang kuhadiahi untukmu.
Tania, oh kau ratu tercantikku. yang menguasai seluruh hidupku, hati dan pikiran ini.
"Mmmmmhhh..."
Kau masih mengecupku dan tidak mau melepaskan. Leher ini sudah kau lilit dengan kedua lengan indahmu itu. Aku bisa apa?
Selain terus menikmati setiap pemberian gratis ini.
"Jangan berhenti," gumamku ingin selalu diperlakukan selembut ini. Kau pun mengangguk.
Tiba-tiba saja kecupanmu berhenti. Kini giliranku yang melakukannya. Aku balas membuatmu melayang.
Kukecup pucuk hidungmu. Lehermu dan buah di dadamu.
"Tolong jangan sentuh yang itu!"
"Kenapa?" tanganku berhenti meremas buahmu. Aku sedikit heran, kita kan sudah resmi?
Kau menggeleng erat. Daripada harus berdebat di malam pertama kita, aku lebih memilih diam dan main game bersamamu saja.
"Main game yuk?"
"game apa? Pasti game zombie ya, huh udah bosan," ketus dirimu. Aku tertawa. Yah, kau memang seorang gadis cepat bosan dengan sesuatu. 'Moga aja kau tidak pernah bosan denganku, ya.
"Mmh, gimana kalau game mobil, say?"
"Wah, mau! Aku mau!"
********
Tania. Kaulah kenangan terakhirku. Setiap malam aku selalu mengecup bingkai foto kita. Wajah sendumu, gaun tidurmu yang masih tertinggal aroma tubuhmu. Semua itu adalah milikku.
Namun, takdir memang terlalu kejam pada kita! Kau akhirnya menghembuskan napas yang terakhir di saat persalinan. Mengenangmu terus, tidak akan bisa membuat aku bosan, Tania. Gadisku, istri tercinta yang lugu.
"Papa, Nia lapar, mau makan..."
Si kecil Tania sudah lapar, ya? Aku memeluk gadis kecil berusia tiga tahun ini. Dia anak kita Tania.
Sengaja aku memberikan nama yang sama denganmu. Agar aku tidak pernah melupakanmu, Tania...
Lihatlah wajah cilik kita ini, imut dan cantik seperti dirimu, Tania...
Setiap malam aku selalu tersiksa oleh karena dirimu yang masih mengikat hatiku ini. Tania...
Aku mencintaimu. Awal berjumpa diri ini sudah tertarik denganmu. Arus sungai cinta yang membawa aku kepadamu. Tania...
Selamanya, aku selalu mencintaimu.
end.